Video: Gantung Kepala Babi, Jual Daging Kucing? Pabrik Pengolahan Daging di Sichuan Ditemukan Simpan Ratusan Kucing Liar

EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah tempat pengolahan daging kepala babi di Chengdu, Sichuan, digerebek dan ditemukan menyimpan lebih dari 130 ekor kucing liar, memicu kekhawatiran publik. Banyak warganet menduga bahwa tempat ini menyembelih kucing liar untuk dijual sebagai daging babi atau jenis daging lainnya.

Akun media sosial “Lao Hu Chi Cai Ye” memposting video pada dini hari tanggal 2 April, memperlihatkan banyak kucing liar dikurung dalam kandang di sebuah lokasi pengolahan kepala babi di Distrik Wenjiang, Chengdu.

Dalam video tersebut, tempat pengolahan tampak gelap dan kotor, dengan beberapa kandang besi di lantai, penuh sesak dengan anak kucing yang menangis memilukan dan hampir tak bisa bergerak.

Setelah video tersebut viral, lokasi itu disegel, dan seluruh 131 ekor kucing dipindahkan ke pusat perlindungan hewan lokal.

Dalam keterangan, akun “Lao Hu Chi Cai Ye” menulis: “Ini ada 131 kucing yang kami selamatkan dari tangan pedagang kucing pada pukul 2 dini hari. Ini baru kiriman dalam tiga hari. Setiap tiga hari sekali mereka kirim satu truk penuh.”

Penemuan ini menimbulkan kecurigaan besar dari publik. Banyak yang menduga jika kucing-kucing tersebut tidak segera diselamatkan, kemungkinan besar akan disembelih dan dijual sebagai daging lain di pasaran.

Beberapa komentar netizen:

“Daging di warung kaki lima atau di tempat sate kecil bisa jadi berasal dari kucing atau anjing liar.”

“Ternak ayam dan babi butuh biaya, tapi kucing dan anjing liar gratis. Itu alasan utamanya mereka lakukan ini.”

“Dulu pernah ada berita daging tikus pun dipakai.”

“Babi mati, ayam mati, kucing liar—semua tanpa biaya. Hanya imajinasi yang membatasi.”

“Dagingnya kadang memang terasa aneh.”

“Satu kucing mungkin sedikit, tapi sepuluh bisa jadi banyak. Dulu pernah terbongkar sosis yang mengandung gigi susu anak kucing.”

“Di Jiangmen pernah terbongkar pakai kucing liar buat isi sosis.”

“Kalau sebanyak itu, besar kemungkinan untuk diproses jadi produk olahan: sate beku, sosis, irisan daging hotpot… siapa tahu itu daging apa?”

“Sering juga dipalsukan jadi daging kelinci.”

“Setiap kali makan daging di luar, saya selalu berpikir, ‘Jangan-jangan ini daging kucing…’ Sungguh gelap dunia ini.”

Pada malam 2 April, pejabat dari Biro Pertanian dan Pedesaan Distrik Wenjiang menyatakan bahwa lokasi tersebut adalah kandang babi kosong yang disewa oleh dua orang dari luar kota (bernama Gao dan Zhang) sejak 20 Maret, untuk tempat penampungan sementara dan distribusi kucing liar. Sebanyak 131 ekor kucing ditemukan, namun tidak ada bukti penyembelihan atau kekerasan yang terlihat.

Namun, karena tingkat kepercayaan terhadap Pemerintah Tiongkok sangat rendah, banyak masyarakat meragukan pernyataan resmi tersebut.

Wabah Daging Palsu di Tiongkok

Pada Maret 2025, media daratan mengungkap bahwa di Tangshan (Hebei), Weifang dan Linyi (Shandong), pedagang nakal menggunakan rubah dan rakun yang dilarang untuk dikonsumsi, lalu memalsukannya sebagai daging sapi, kambing, kelinci, dan anjing, yang kemudian dijual ke berbagai restoran di seluruh Tiongkok demi keuntungan. Hewan-hewan tersebut mengandung hormon dan patogen, yang berisiko tinggi menularkan penyakit zoonosis (dari hewan ke manusia).

Sebelumnya, media juga melaporkan bahwa banyak platform e-commerce di Tiongkok menjual produk olahan seperti gulungan daging hotpot dan BBQ yang seharusnya daging sapi/kambing, namun ternyata terbuat dari daging bebek, dan sering dijual untuk konsumsi di restoran buffet dan BBQ.

Akun terkenal di Weibo, Li Lei, menulis:

“Sejak penemuan daging bebek yang disamarkan sebagai daging kambing, sangat sulit menemukan daging asli. Menjual daging palsu seperti ini sudah jadi praktik industri. Bahkan harga mahal pun tidak menjamin keaslian daging.”

FOKUS DUNIA

NEWS