Wawancara Eksklusif dengan Editor Epoch Times: Rezim PKT Gunakan Perusahaan Cangkang untuk Bantu Iran Produksi Senjata

EtIndonesia. Pemerintah Amerika Serikat saat ini tengah menyelidiki jalur pengiriman senjata rahasia antara Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Iran. Bagaimana rantai pasokan ini bisa menghindari sanksi internasional? Bagaimana komponen elektronik buatan AS bisa berubah menjadi rudal dan drone di medan perang Timur Tengah? Editor senior dari Epoch Times edisi bahasa Persia mengungkapkan bahwa perusahaan cangkang yang dikendalikan PKT di Tiongkok adalah bagian kunci dari skema ini.

Jurnalis NTD, Jack Bradley: “Terima kasih telah hadir di acara kami.”

Shahrzad Ghanayee, Editor Senior Epoch Times Bahasa Persia: “Terima kasih atas undangannya.”

Jack Bradley: “Saat ini, Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah 15 juta dolar untuk menangkap warga Tiongkok yang menjual teknologi senjata ke Iran. Ghanayee, bisakah Anda menjelaskan bagaimana PKT menyuplai senjata ke Iran dan mendukung aktivitas teroris?”

Shahrzad Ghanayee: “Pada dasarnya, Iran dan jaringan mereka di Tiongkok menggunakan perusahaan-perusahaan yang terlihat seperti bisnis swasta biasa. Tapi sebenarnya, itu adalah cara untuk menghindari sanksi internasional. Mereka menggunakan nama palsu untuk memesan bahan-bahan, mengklaim tujuannya adalah Tiongkok, padahal sebenarnya barang dikirim ke Iran. Banyak barang yang diekspor dari Tiongkok ke Iran memiliki label ganda: secara resmi bertuliskan ‘untuk keperluan sipil’, tapi bisa digunakan untuk keperluan militer, seperti membuat drone, rudal, dan sistem senjata. Contohnya: sensor, komponen elektronik, dan manual proses produksi.”

“Biasanya barang ini dikirim melalui perusahaan pelayaran swasta, yang akan mengemas ulang barang agar jalurnya sulit dilacak. Kadang informasi bocor ke publik, bisa jadi karena ada orang dalam yang membocorkan.”

Jack Bradley: “Produk elektronik bermuatan ganda ini bisa digunakan untuk membuat senjata. Produk-produk itu disuplai PKT ke Iran, padahal asalnya dari Amerika Serikat. Bagaimana Iran bisa melewati sanksi AS, bahkan mampu menyuplai sekutunya?”

Shahrzad Ghanayee: “Iran menggunakan perusahaan cangkang, bisa jadi di Tiongkok, Uni Emirat Arab, Turki, atau negara lain. Mereka membeli komponen buatan AS dengan kedok penggunaan sipil. Perusahaan-perusahaan ini tampaknya tidak terhubung langsung ke Iran, tapi sebenarnya mereka adalah perantara. Setelah menerima barang, mereka mengirimkan ke Teheran. Di sisi Amerika, eksportir tidak menyadari siapa pembeli sebenarnya, karena agen Iran menggunakan dokumen palsu yang menyebutkan tujuan ke Tiongkok, UEA, atau Turki, padahal sebenarnya untuk Iran.”

Jack Bradley: “Saya ingin menanyakan hal yang lebih luas. Bisakah Anda jelaskan hubungan antara PKT dan rezim Iran saat ini, dan bagaimana AS harus menanggapinya ke depan?”

Shahrzad Ghanayee: “PKT mengabaikan sanksi AS terhadap Iran, mereka terus membeli minyak Iran dan berinvestasi dalam infrastruktur dan energi di sana. Meski banyak proyek akhirnya gagal, PKT juga mendukung Iran dalam bidang teknologi militer dan diplomasi. Keduanya ingin melemahkan pengaruh Amerika dan bekerja sama melalui platform seperti BRICS dan Shanghai Cooperation Organization. Jadi, AS bisa menjatuhkan sanksi kepada perusahaan Tiongkok yang bekerja sama dengan Teheran, dan menggunakan konsekuensi ekonomi untuk menekan PKT secara diplomatis.”

Shahrzad Ghanayee: “Selama ini, Pemerintah AS biasanya hanya memberi sanksi pada perantara—seperti perusahaan pelayaran atau bisnis kecil. Tapi sekarang, ini sudah naik level. Pemerintahan Trump sedang menyusun rencana untuk memberi sanksi langsung pada kilang minyak Tiongkok yang terlibat dengan PKT. Intinya adalah memutus rantai pasokan minyak dari perusahaan Tiongkok ke Iran. Ini juga merupakan sinyal jelas kepada sekutu AS dan pasar global bahwa AS sungguh-sungguh dalam kebijakan ‘ekspor minyak Iran nol’.”

Jack Bradley: “Terima kasih banyak atas analisis Anda, Nona Ghanayee, editor senior Epoch Times edisi Persia.”

Shahrzad Ghanayee: “Terima kasih kembali.”

FOKUS DUNIA

NEWS