Tolak Perundingan Damai, Rusia Kembali Gempur Ukraina – AS Pertimbangkan Kirim Rudal Tomahawk

Pada 28 September 2025 dini hari, Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran dengan drone dan rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan udara berlangsung selama 12 jam, menewaskan sedikitnya 4 orang dan melukai 70 orang. Pada hari yang sama, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyatakan bahwa karena Rusia menolak perundingan damai, Washington sedang mempertimbangkan untuk mengirim rudal jelajah Tomahawk ke Ukraina.

EtIndonesia. Kebakaran melanda gedung-gedung di Ukraina, asap tebal mengepul, dan petugas pemadam kebakaran bergegas masuk untuk menyelamatkan warga yang terjebak.

Sejak 27 September malam hingga 28 September dini hari, Ukraina mengalami salah satu serangan paling dahsyat dalam beberapa bulan terakhir. Militer Rusia meluncurkan lebih dari 600 drone dan hampir 50 rudal, termasuk rudal hipersonik “Kinzhal”.

Serangan ini membuat Polandia, negara tetangga Ukraina, menutup wilayah udaranya di perbatasan dan segera mengerahkan jet tempur demi menjamin keamanan udara.

Serangan udara Rusia berlangsung 12 jam, menghantam banyak wilayah, termasuk kota Zaporizhzhia di Ukraina selatan. Namun, kerusakan terparah terjadi di ibu kota Kyiv.

Seorang warga Kyiv berkata: “Kami tidur di sebelah sana, dan di sisi sini jendela-jendela beterbangan karena ledakan.”

Seorang ayah tiga anak bernama Serhiy Shelieiev bercerita bahwa keluarganya baru pindah ke rumah tersebut pada 2024. Kini rumahnya kembali hancur untuk kedua kalinya. Meski begitu, ia bersyukur keluarganya selamat.

Shelieiev: “Anak bungsu saya terjebak di bawah reruntuhan. Saya menariknya keluar, lalu membawa semua anak ke lantai bawah. Syukurlah, mereka masih hidup.”

Sebuah rumah sakit jantung di Kyiv mengalami kerusakan parah. Seorang perawat dan seorang pasien tewas dalam serangan itu. Banyak apartemen dan infrastruktur sipil juga hancur.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menulis di media sosial, mengecam serangan keji tersebut. Ia mengatakan, serangan ini terjadi tepat setelah sidang Majelis Umum PBB berakhir. Menurutnya, Rusia dengan jelas menunjukkan sikap aslinya: Moskow ingin terus berperang dan membunuh. Karena itu, Rusia layak mendapat tekanan paling keras dari dunia internasional.

Pada 28 September, Wakil Presiden AS Vance dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa karena Moskow tetap menolak perundingan damai—baik bilateral maupun trilateral—yang diupayakan Presiden Donald Trump, AS sedang mempertimbangkan untuk mengirim rudal jelajah Tomahawk ke NATO untuk kemudian dipasok ke Ukraina.

Analis menilai, rudal Tomahawk dengan jangkauan hingga 2.500 km bisa sangat meningkatkan kemampuan tempur Ukraina dalam menghadapi serangan rudal dan drone Rusia yang semakin rutin. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan Presiden Trump.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine