Penelitian Menyebutkan Menyeduh Teh Celup dengan Air Panas Ternyata Melepaskan Ribuan Partikel Mikroplastik

EtIndonesia.com Sebuah tim peneliti dari universitas di Turkiye menemukan bahwa beberapa jenis kantong teh celup berbahan plastik dapat melepaskan ratusan hingga ribuan partikel mikroplastik ketika diseduh dengan air panas. Jumlah tersebut jauh lebih rendah pada teh daun lepas (teh tanpa kantong). Selain itu, sejumlah senyawa kimia berbahaya yang terkandung dalam kantong teh plastik juga dapat larut ke dalam air teh.

Pengujian ini dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Recep Tayyip Erdoğan di Turkiye. Mereka menggunakan empat jenis kantong teh celup berbahan plastik poliamida (nilon) dan 14 jenis teh daun lepas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika kantong teh plastik diseduh selama tiga menit menggunakan air panas bersuhu 203 derajat Fahrenheit (95 derajat Celsius), setiap cangkir teh mengandung sekitar 555 hingga 2.498 partikel mikroplastik.

Sebagai perbandingan, para peneliti melarutkan daun teh dalam larutan kimia untuk memperkirakan kandungan mikroplastiknya. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap kilogram teh daun lepas mengandung sekitar 146 hingga 1.178 partikel mikroplastik.

Dengan kata lain, diperlukan hampir tiga kilogram teh daun lepas untuk mencapai jumlah mikroplastik yang terkandung dalam satu kantong teh plastik. 

Para peneliti juga menunjukkan bahwa rendahnya kandungan mikroplastik tersebut mengindikasikan bahwa kontaminasi pada teh daun lepas kemungkinan berasal dari paparan lingkungan atau proses pengolahan.

Perlu diperhatikan bahwa alat yang digunakan para peneliti hanya mampu mendeteksi partikel berukuran lebih dari 100 mikrometer. Artinya, partikel plastik yang lebih kecil mungkin tidak terdeteksi dalam analisis mereka.

Para peneliti juga menganalisis air teh hasil seduhan untuk mengetahui senyawa kimia apa saja yang larut ke dalamnya. Mereka menemukan bisfenol A (BPA) dan beberapa jenis bahan pemlastis yang dikenal sebagai ftalat (phthalates). Zat-zat tersebut diduga berkaitan dengan gangguan hormon dan sistem endokrin.

Para peneliti menyatakan bahwa meskipun kandungan zat-zat tersebut cukup mengkhawatirkan, pada dosis yang ditemukan dalam penelitian ini, risiko terjadinya gangguan hormon, gangguan sistem endokrin, maupun toksisitas reproduksi dinilai “dapat diabaikan”.

Namun, mereka juga menunjukkan bahwa salah satu jenis bahan pemlastis, yaitu diester ftalat, memang memiliki risiko karsinogenik dalam jangka panjang. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau secara terus-menerus dalam waktu lama, zat tersebut berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat yang gemar minum teh.

Penelitian ini merupakan salah satu studi terbaru mengenai masalah pencemaran mikroplastik. Temuan tersebut juga memunculkan perhatian terhadap perlunya pengawasan mengenai stabilitas bahan polimer dan perekat yang memenuhi standar keamanan pangan, yang digunakan dalam pembuatan kantong teh ketika terkena suhu tinggi. Penelitian ini menggunakan sampel teh asal Turkiye.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan secara daring pada bulan ini. Versi final yang telah direvisi akan diterbitkan dalam jurnal npj Food Science.

Dilaporkan oleh Jin Jing, reporter New Tang Dynasty

INSPIRASI ERABARU

Cara Menaklukkan Rasa Takut

Menghadapi ketakutan secara langsung, berulang kali, dapat menguranginya hingga ke tingkat yang bisa dikendalikan atau bahkan menghilangkannya. Mike Donghia Tidak ada yang salah dengan merasa takut....

Jangan Biarkan Hal Sepele Merusak Harimu

Tiga perubahan sudut pandang untuk menyikapi kembali situasi yang berpotensi menjengkelkan. Mike Donghia Salah satu keyakinan saya yang mungkin cukup kontroversial adalah bahwa rasa kesal merupakan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine