Dalam 12 Jam, Militer AS Luncurkan 900 Serangan ke Iran; Rekaman Video Dipublikasikan

EtIndonesia. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel memulai operasi militer gabungan terhadap Iran dengan sandi “Operation Epic Fury” (Operasi Amarah Epik). Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) merilis rekaman video yang memperlihatkan langsung momen serangan udara terhadap Iran. Pejabat militer AS menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 12 jam, militer AS melancarkan sekitar 900 serangan.

Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan kepada Fox News bahwa selama 12 jam pertama serangan udara terhadap Iran, hampir 900 aksi militer dilakukan dari darat, udara, dan laut, termasuk penggunaan pesawat nirawak (drone). Selain menyerang target militer Iran, pasukan AS juga harus menghadapi ratusan rudal balasan yang ditembakkan Iran.

Video yang dirilis CENTCOM di media sosial memperlihatkan kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Spruance, meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. Selain itu, jet tempur siluman F-35C Angkatan Laut AS yang berbasis di kapal induk USS Abraham Lincoln, serta jet tempur F/A-18E/F Super Hornet yang dipersenjatai bom berpemandu presisi 500 pon Joint Direct Attack Munition (JDAM), rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 AMRAAM, dan rudal AIM-9X, terlihat menyerang target darat Iran, termasuk drone, rudal, dan sistem radar.

CENTCOM menyatakan bahwa pada jam-jam awal operasi, militer AS secara serentak meluncurkan amunisi dari udara, darat, dan laut untuk melakukan serangan presisi terhadap target-target Iran.

Selain itu, satuan khusus CENTCOM yang dikenal sebagai Task Force Scorpion Strike untuk pertama kalinya menggunakan drone bunuh diri berbiaya rendah dalam operasi tempur nyata.

Serangan Balasan Iran dan Respons AS

Setelah gelombang serangan awal dilancarkan oleh pasukan gabungan AS–Israel, Iran dilaporkan menembakkan rudal ke markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Namun, pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa pasukan di bawah CENTCOM berhasil menangkis ratusan serangan rudal dan drone Iran. Kerusakan pada fasilitas militer AS disebut relatif ringan dan tidak mengganggu jalannya operasi.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa tujuan akhir militer AS adalah membuat Iran “tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyerang negara tetangganya,” serta memastikan Iran “tidak memiliki drone, tidak memiliki rudal, dan tidak memiliki angkatan laut.”

Klaim Penargetan Kepemimpinan Iran

Dalam beberapa jam setelah operasi dimulai, pasukan gabungan AS–Israel berhasil melakukan serangan yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Presiden Trump kemudian mengumumkan kabar kematian Khamenei melalui media sosial dan menyerukan agar rakyat Iran mengambil alih pemerintahan serta menggulingkan rezim yang berkuasa.

Trump dengan nada tegas menyatakan bahwa operasi militer AS akan terus berlanjut sepanjang pekan, bahkan lebih lama jika diperlukan, “hingga tujuan kita untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah dan di seluruh dunia tercapai.” (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine