Siswa Sekolah Wushu Shaolin Dipaksa Memakan Kotoran, Ratusan Lulusan Menuntut Hak Mereka

EtIndonesia.com Ratusan lulusan Sekolah Wushu Songshan Shaolin Tagou selama beberapa hari berturut-turut berkumpul di sekolah untuk menuntut hak mereka. Mereka sempat mendapat perlakuan kasar. Sekolah tersebut juga dituding memiliki masalah perundungan terhadap siswa yang berlangsung berulang kali. Bahkan, ada siswa yang disebut dipaksa memakan kotoran manusia.

Menurut pemberitaan dari akun media mandiri daratan Tiongkok yang mengikuti berbagai aksi massa, pada 21 hingga 23 Agustus, ratusan lulusan sekolah tersebut berkumpul selama beberapa hari di sekolah yang berada di Kota Dengfeng, Kota Zhengzhou, Provinsi Henan, untuk menuntut pengembalian uang jaminan yang telah lama ditahan pihak sekolah.

Para siswa mengatakan uang jaminan yang dipotong berkisar antara 3.000 hingga 5.000 yuan RMB, dan dalam beberapa kasus telah ditahan selama lebih dari 10 tahun. Meskipun disebut sebagai “uang jaminan”, uang tersebut menurut para siswa tidak dikembalikan setelah mereka lulus.

Selama aksi protes, beberapa kali terjadi bentrokan antara siswa dan pihak sekolah. Sejumlah siswa dilaporkan dipukuli hingga terluka oleh staf dan guru sekolah. Otoritas Partai Komunis Tiongkok juga disebut mengerahkan sejumlah besar aparat keamanan untuk “menjaga stabilitas”. Pada akhirnya, pihak sekolah terpaksa mengembalikan uang jaminan para siswa.

Namun, sebenarnya tuntutan para lulusan kali ini bukan semata-mata untuk mendapatkan kembali uang jaminan, melainkan juga untuk memprotes berbagai perlakuan tidak adil yang mereka klaim telah dialami selama bertahun-tahun di sekolah tersebut.

Dugaan perundungan dan penghinaan terhadap siswa

Menurut informasi yang beredar, kasus ini bermula dari pengungkapan oleh seorang influencer asal daratan Tiongkok. Influencer tersebut mengaku menggunakan koneksi pribadi untuk memasukkan adiknya ke sekolah tersebut. Namun, menurut pengakuannya, sang adik bukan hanya tidak mempelajari ilmu bela diri yang sebenarnya, tetapi justru mengalami tekanan dan perundungan.

Pengungkapan tersebut dengan cepat memicu perhatian publik. Banyak lulusan dan orang yang mengetahui kondisi di sekolah itu kemudian ikut bersuara dan mengungkap berbagai dugaan masalah internal sekolah.

Sejumlah informasi yang beredar menyebutkan bahwa perundungan terhadap siswa telah menjadi hal yang umum di sekolah itu.

Beberapa video yang beredar di internet juga disebut memperlihatkan siswa dipukuli dan dipermalukan, dipaksa berlutut, bahkan dipaksa menelan kotoran dari toilet. Namun, video-video tersebut dilaporkan segera dihapus dari platform media sosial di daratan Tiongkok.

Aksi protes terjadi setelah kasus mencuat

Kasus ini terjadi setelah Shi Yongxin (释永信), kepala biara Shaolin Songshan, tersandung kasus pada Juli tahun lalu dan diperiksa. Pada Mei tahun ini, ia disebut telah dijatuhi hukuman.

Sebelum tersandung kasus, Shi Yongxin pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Buddhis Provinsi Henan dan Wakil Ketua Asosiasi Buddhis Tiongkok. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan sistem pemerintahan Partai Komunis Tiongkok serta mengelola aset bernilai sangat besar. Karena itu, kompleks Shaolin Songshan disebut-sebut memiliki kekuatan finansial dan pengaruh yang besar. (***)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine