Surabaya, 14 Oktober 2026 – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menambah deretan ilmuwan berpengaruhnya di kancah dunia. Sebanyak lima profesor dan satu adjunct professor ITS tercatat dalam World’s Top 2% Scientist 2026, daftar bergengsi yang disusun tim Stanford University dan Elsevier.
Bagi yang belum familiar, World’s Top 2% Scientist adalah daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Penilaiannya berbasis data sitasi—yakni seberapa sering karya seorang peneliti dirujuk oleh ilmuwan lain. Semakin sering dirujuk, semakin besar pengaruhnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Siapa Saja Mereka?
Kelima profesor ITS yang masuk daftar tersebut adalah:
- Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD – Departemen Teknik Informatika
- Prof Tohari Ahmad SKom MIT PhD – Departemen Teknik Informatika
- Prof Adi Setyo Purnomo SSi MSc PhD – Departemen Kimia
- Prof Suprapto SSi MSi PhD – Departemen Kimia
- Prof Dr Ir Mahfud DEA – Departemen Teknik Kimia
Selain itu, ada satu adjunct professor yang tercatat sebagai akademisi di University of Kitakyushu, Jepang, namun berafiliasi dengan ITS, yakni Prof Weijun Gao.
Pada kolom afiliasi, basis data Stanford mengacu pada institusi terakhir yang tercatat. Karena itu, Prof Weijun Gao membawa dua nama institusi sekaligus. Sementara lima nama lainnya merupakan akademisi dengan afiliasi utama di ITS.
Sitasi Tinggi di Bidang AI hingga Fisika
Dalam daftar career-long 2026, Prof Riyanarto Sarno menjadi satu-satunya nama ITS yang tercatat dalam dua kategori sekaligus. Sepanjang 2025, dosen dengan peringkat career-long tertinggi di ITS ini memperoleh 841 sitasi di bidang Artificial Intelligence dan Image Processing.
Dari departemen yang sama, Prof Tohari Ahmad mencatatkan 660 sitasi pada tahun yang sama melalui kontribusinya di bidang Artificial Intelligence dan Image Processing.
Dari kelompok ilmu murni, Prof Adi Setyo Purnomo dan Prof Suprapto masing-masing memperoleh 473 dan 338 sitasi. Sementara Prof Mahfud dari Departemen Teknik Kimia mencatatkan 475 sitasi. Ketiganya tercatat dalam bidang keilmuan General Physics berdasarkan data rekapan sitasi tahun 2025.
Kunci: Rutin Publikasi di Jurnal Terpercaya
Salah satu ilmuwan ITS yang masuk daftar, Prof Riyanarto Sarno, menyebut bahwa kontribusi keilmuan pada bidang publikasi bersifat fluktuatif. Menurutnya, kunci agar tetap masuk World’s Top 2% Scientist adalah rutin mengirimkan publikasi pada jurnal yang terpercaya.
“Banyak peneliti yang menggunakan jurnal predator hanya untuk sekadar bisa publikasi tanpa adanya peer-review yang ketat,” papar pria kelahiran Surabaya ini.
Ia juga menekankan bahwa ilmuwan harus rutin mengirimkan publikasi untuk kebermanfaatan masyarakat. Bentuk pengabdian yang dimaksud adalah menjadikan riset sebagai fondasi inovasi yang dapat dipatenkan dan diproduksi massal.
Dengan begitu, orientasi publikasi tidak hanya terpaku pada capaian prestasi, tetapi juga pada manfaat nyata bagi masyarakat.
Apresiasi DRPM ITS
Menanggapi pencapaian ini, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany ST PhD, menyampaikan apresiasinya. Ia percaya prestasi ini merupakan hasil dari proses penelitian yang panjang, konsisten, dan membutuhkan komitmen besar.
“Melalui pencapaian tersebut, kami mendorong agar kolaborasi internasional perlu diperluas agar capaian ini dapat memberikan multiplier effect bagi ekosistem riset ITS secara keseluruhan,” ujar dosen Departemen Teknik Kimia ITS tersebut.
Mendukung Pendidikan Berkualitas
Prestasi ini menjadi bukti bahwa kontribusi ITS terhadap pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) masih berlanjut, khususnya pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas.
“Pencapaian ini tidak berhenti sebagai penghargaan personal, tetapi dapat menjadi motivasi untuk terus menghasilkan riset yang semakin berkualitas dan berdampak,” tutup Taufany penuh harap.
Dengan enam nama yang masuk daftar bergengsi ini, ITS kembali menunjukkan bahwa riset bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan jalan untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat dan dunia.


