EtIndonesia. Kita sering menganggap keajaiban sebagai sekadar kebetulan atau peristiwa luar biasa. Banyak orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan menganggap hal-hal ini tidak masuk akal, lalu mengelompokkannya sebagai “kebetulan belaka”. Tapi, benarkah di dunia ini ada begitu banyak “kebetulan”?
Menurut catatan dalam kitab kuno Yi Jian Zhi, pada masa Dinasti Song, hiduplah seorang pria jujur dan polos bernama Shen Chiyao, yang tinggal di Anji, Huzhou (sekarang masuk wilayah Provinsi Zhejiang). Pada tahun ke-14 era Shaoxing (1144 M), Shen Chiyao pergi ke ibu kota Lin’an untuk menjenguk sanak keluarganya, Fan Yanhui, yang saat itu menjabat sebagai pejabat di Lembaga Pendidikan Nasional (Guozi Jian).
Keluarga Fan mengetahui bahwa Shen Chiyao adalah orang yang jujur, tulus, dan berbakat, maka mereka ingin membantunya agar mengikuti ujian negara musim gugur tahun itu.
Namun, Shen Chiyao adalah orang yang sederhana dan tidak mengejar ketenaran atau kekuasaan. Awalnya, dia sama sekali tidak berniat ikut ujian. Tetapi para kerabat di keluarga Fan bersikeras ingin membantu. Tanpa sepengetahuannya, mereka bahkan telah menyiapkan semua dokumen dan biaya yang dibutuhkan agar dia bisa mengikuti ujian awal di Huzhou.
Shen Chiyao tetap menolak. Dia berkata: “Saya benar-benar tidak ingin ikut ujian. Lagipula, ujian dimulai tanggal 15 Agustus, hanya tinggal dua hari lagi. Meski saya mau pulang ke Huzhou sekarang, tetap saja sudah terlambat.” Keluarga Fan kehabisan cara untuk membujuknya.
Malam itu juga, ketika Shen Chiyao tertidur, dia bermimpi. Dalam mimpi itu datang beberapa sosok dewa besar dan tinggi, yang membentaknya: “Tempat ini bukan untukmu! Segera pulang, kalau tidak, akan membawa bencana bagimu!”
Shen Chiyao pun terbangun dari tidurnya dengan tubuh terasa sangat sakit seperti sedang terserang penyakit berat. Dia segera memerintahkan pelayannya untuk mencari perahu dan kembali ke kampung halaman.
Saat itu, sangat sulit menemukan perahu. Tapi kebetulan, seorang tukang perahu yang berasal dari kampung halaman yang sama, yaitu Anji, bersedia mengantarkannya pulang segera. Ajaibnya, begitu perahu berangkat, penyakit Shen Chiyao langsung sembuh total.
Mimpi Jadi Petunjuk: Ternyata Waktu Ujian Diundur
Pada pagi tanggal 16, perahu yang ditumpangi Shen Chiyao singgah di dermaga Wuxing, daerah yang berada di tengah perjalanan menuju Huzhou. Dia melihat banyak calon peserta ujian yang mengenakan jubah putih lalu-lalang di pinggir jalan. Setelah bertanya-tanya, ternyata para peserta ujian yang seharusnya mengikuti tes pada hari sebelumnya tidak jadi diuji karena naskah soal rusak akibat hujan deras. Maka, ujian pun diundur ke tanggal 17. Lokasi ujian wilayah Huzhou sendiri memang terletak di Kota Wuxing.
Keluarga Fan yang mengantarnya sangat gembira: “Penundaan ujian ini adalah pertolongan khusus dari para dewa untukmu. Kamu pasti akan lulus!”
Akhirnya Shen Chiyao pun masuk ke ruang ujian di Huzhou, dan benar saja — dia berhasil meraih peringkat pertama dalam ujian tersebut.
Dibimbing Hingga Jadi Sarjana Negara
Setelah urusan rumah selesai, Shen Chiyao melanjutkan perjalanannya kembali ke ibu kota Lin’an untuk mengikuti ujian tingkat lanjut (ujian Jinshi).
Saat tiba di sana, dia mengetahui bahwa Fan Yanhui—kerabatnya—akan menjadi salah satu pejabat penguji di satu ruang ujian. Maka dia mengajukan permohonan untuk ditempatkan di ruang ujian yang berbeda agar menghindari konflik kepentingan, dan permohonan itu dikabulkan.
Ujian berlangsung selama beberapa hari. Saat dia memasuki ruang ujian, dia melihat para pengawas sangat ketat dan serius. Namun, ada satu orang pengawas yang bersikap sangat ramah padanya. Orang itu menasihatinya dengan hangat: “Ujian seperti ini hanya digelar tiga tahun sekali, jadi menulislah dengan serius dan teliti.”
Ucapan itu membuat Shen Chiyao merasa tenang dan semangat, sehingga dia dapat fokus menulis dengan sebaik-baiknya.
Ketika dia hendak menyerahkan naskah, pengawas itu kembali menghampirinya dan berkata: “Periksa sekali lagi sebelum dikumpulkan.”
Shen pun duduk kembali dan memeriksa ulang kertas jawabannya, ternyata benar — dia menemukan dua kesalahan dan segera memperbaikinya sebelum mengumpulkan jawaban.
Setelah hasil ujian keluar, Shen Chiyao dinyatakan lulus dan meraih gelar Jinshi — salah satu gelar tertinggi dalam sistem pendidikan Kekaisaran.
Dengan penuh rasa syukur, dia berusaha mencari pengawas yang telah menolongnya. Namun saat bertanya kepada staf penguji, mereka semua menjawab: “Kami tidak pernah punya pengawas dengan penampilan seperti yang kamu gambarkan.”
Saat itulah Shen Chiyao sadar — pengawas itu adalah dewa penyamar yang diutus untuk membantunya.
Kombinasi antara Bantuan Manusia dan Petunjuk Ilahi
Jika kita melihat kembali seluruh proses yang dialami Shen Chiyao, semuanya seperti sudah diatur oleh kekuatan yang lebih tinggi:
- Kerabat keluarga Fan membantunya dengan sepenuh hati — pertolongan manusia, namun juga bagian dari petunjuk ilahi.
- Dewa dalam mimpi yang menyuruhnya segera pulang — agar dia bisa tepat waktu sampai ke lokasi ujian yang sudah diundur.
- Tukang perahu yang baik hati — bantuan yang datang pada saat tepat.
- Para peserta ujian yang lalu-lalang dengan jubah putih — pertanda bahwa ujian diundur.
- Pengawas ramah yang memberinya nasihat dan menyelamatkannya dari kesalahan — jelas bantuan dari makhluk gaib.
Semua ini membuat Shen Chiyao terus mengingat dan bersyukur seumur hidupnya.
Kisah Lain: Dewa Memberi Petunjuk, Dewa Menyelamatkan
Dalam kitab kuno lainnya, Bei Meng Suo Yan, juga terdapat kisah serupa:
Disebutkan bahwa ada seorang pejabat dari Fujian bermarga Cui, yang dikenal sebagai orang jujur dan teliti. Dia sangat dihargai oleh pimpinan militer tempat dia bekerja. Suatu hari, dia ditugaskan ke wilayah Hunan. Dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan tugas, dia disergap oleh perampok. Semua rekannya terbunuh, tetapi Cui berhasil selamat karena tiba-tiba muncul seseorang yang menunjukkan jalan kabur.
Di perjalanan pulang, dia terserang malaria dan tidak menemukan tempat untuk berobat. Dia pun menginap di kuil dewa sungai di Yanping. Di malam hari, dalam mimpi, dewa pengobatan memberinya tiga butir pil, dan setelah diminum, dia pun sembuh total.
Dewa Bumi Selamatkan Rumah dari Banjir
Seorang tokoh bernama Liu Shanfu dari Pengcheng pernah bercerita bahwa saudaranya, Li Jingyi, tinggal di lingkungan Yucai Fang di ibu kota timur. Di tempat itu, dewa penjaga tanah sangat terkenal akan keampuhannya.
Seorang pelayan keluarga mereka bernama Zhang Xingzhou selalu mendapat jawaban saat memohon kepada Dewa Bumi.
Suatu hari, sebelum terjadi banjir besar, Dewa Bumi terlebih dahulu datang ke mimpi Zhang dan meminta makanan. Ketika banjir datang, Dewa Bumi bersama para roh lainnya membendung arus air, sehingga rumah keluarga Li tidak tersapu banjir.
Keajaiban Adalah Bukti Kehadiran Tuhan
Keajaiban atau “mukjizat” bisa kita pahami sebagai kekuatan supranatural. Jika “alam” adalah batas kemampuan manusia, maka “supranatural” secara tidak langsung adalah kekuatan dari makhluk ilahi atau Tuhan.Dari sudut pandang mana pun, semua ini menunjukkan bahwa Tuhan memang ada. Dan standar Tuhan dalam menolong manusia kemungkinan besar adalah moral dan tingkah laku seseorang. (jhn/yn)