Orang yang Paling Penting dalam Hidup

EtIndonesia. Kisah ini terjadi di sebuah universitas di Amerika.

Menjelang akhir kelas, seorang profesor berkata kepada para mahasiswanya: “Mari kita lakukan sebuah permainan. Siapa yang bersedia membantu saya?”

Seorang mahasiswi pun maju ke depan.

Profesor berkata:  “Tolong tuliskan di papan tulis dua puluh nama orang yang menurutmu paling penting, yang sulit kamu lepaskan.”

Mahasiswi itu menuliskan nama-nama tersebut: ada tetangganya, teman-temannya, rekan kerja, orang tua, suami, dan anaknya.

Profesor melanjutkan:  “Sekarang, coret satu nama yang menurutmu paling tidak penting.”

Mahasiswi itu pun mencoret nama salah satu tetangganya.

Profesor kembali berkata: “Tolong coret satu lagi.”

Dia mencoret nama salah satu rekannya.

“Coret satu lagi,” kata profesor.

Dia pun terus mencoret satu demi satu.

Akhirnya, hanya tersisa tiga nama di papan tulis: orang tua, suami, dan anaknya.

Suasana kelas menjadi hening. Para mahasiswa lainnya menatap serius, merasa bahwa ini bukan lagi sekadar permainan.

Profesor berkata dengan tenang: “Sekarang, coret satu nama lagi.”

Mahasiswi itu ragu, sangat sulit memilih. Dengan berat hati, dia akhirnya mencoret nama orangtuanya.

Profesor kembali berkata: “Coret satu lagi.”

Mahasiswi itu terkejut, tubuhnya bergetar. Dengan tangan gemetar, dia akhirnya mencoret nama anaknya.

Sekejap, dia menangis tersedu-sedu, menahan perasaan yang amat pedih.

Setelah dia agak tenang, profesor bertanya: “Bukankah orang yang paling dekat denganmu seharusnya adalah orangtua dan anakmu? Orangtua yang membesarkanmu, anak yang lahir dari rahimmu. Sedangkan suami, kalaupun hilang, kamu masih bisa menemukan pengganti. Mengapa justru suamimu yang paling sulit kau lepaskan?”

Seluruh kelas terdiam, menunggu jawabannya.

Dengan suara lirih, mahasiswi itu menjawab perlahan:“Seiring waktu, orangtua akan mendahuluiku. Anak-anak pun kelak akan tumbuh dewasa, lalu meninggalkan rumah untuk membangun kehidupan mereka sendiri. Satu-satunya orang yang benar-benar akan menemaniku sepanjang hidup adalah suamiku.”

Hidup, sejatinya, seperti bawang. Kulitnya kita kupas lapis demi lapis, dan selalu ada satu lapisan  yang membuat kita meneteskan air mata.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Nasib Dinasti Berutang Kesuksesannya pada Penghormatan Kaisar dan Persembahan Kurban kepada Langit

Di Tiongkok kuno, ritual persembahan kurban bukan sekadar upacara seremonial. Ritual tersebut berlandaskan sebuah prinsip yang dipetik Dinasti Zhou dari keruntuhan dua dinasti sebelumnya:...

Memahami Bersyukur: Menemukan Kembali Keindahan Hidup yang Penuh Apresiasi

Oleh Shoba Rajamani Di dunia yang semakin terhubung secara digital dan terus mendorong kita untuk meraih lebih banyak prestasi, memperoleh lebih banyak penghasilan, serta menjadi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine