EtIndonesia.com Anggota kelompok perlawanan pro-demokrasi Myanmar mengatakan bahwa sekitar pukul 09.00 waktu setempat pada 21 Agustus, aula utama sebuah kuil di Myaung Township, Wilayah Sagaing, Myanmar bagian tengah, diserang dari udara oleh junta militer. Sebanyak 14 orang tewas. Saat itu, warga sipil sedang berkumpul di kuil untuk mengikuti kegiatan meditasi dalam rangka Vassa.
Menurut laporan AFP, seorang anggota kelompok perlawanan pro-demokrasi yang menyaksikan kondisi setelah serangan, Nway Oo Myaung, mengatakan bahwa para warga lanjut usia datang ke pusat meditasi untuk menjalani masa praktik keagamaan selama sekitar tiga bulan dalam rangka Vassa atau masa Prapaskah Buddhis. Periode tersebut pada umumnya bertepatan dengan musim hujan di Myanmar.
“Para korban berusia antara 50 hingga 70 tahun. Ini bukan salah sasaran. Mereka sengaja menyerang kuil,” ujarnya.
Seorang pejuang perlawanan setempat yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan pada 22 Agustus: “Lima korban berasal dari desa kami, sementara sembilan lainnya berasal dari desa-desa lain. Ketika kami berusaha melakukan penyelamatan, pesawat kembali menjatuhkan bom.”
Sejak militer Myanmar melakukan kudeta pada 2021, menggulingkan pemerintahan terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi dan menahan penerima Nobel Perdamaian tersebut, Myanmar telah terjerumus ke dalam konflik bersenjata yang berkepanjangan.
Selama sekitar lima tahun, militer Myanmar bertempur dengan berbagai kelompok perlawanan yang mendukung demokrasi serta kelompok etnis minoritas. Diperkirakan lebih dari 100.000 orang telah tewas dalam konflik tersebut.
Para analis juga mengatakan bahwa militer Myanmar kerap mengandalkan jet tempur yang dipasok oleh Tiongkok dan Rusia untuk menghadapi kelompok-kelompok perlawanan.


