EtIndonesia.com Pada malam 21 Agustus, putaran terbaru negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada gagal pada saat-saat terakhir. Mulai 22 Agustus, AS akan mengenakan tarif sebesar 50% terhadap sejumlah produk Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan bahwa Kanada akan memberlakukan tarif terhadap barang-barang AS dengan nilai yang setara, atau “dolar demi dolar”.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) dalam pernyataannya pada dini hari 22 Agustus mengatakan bahwa pada malam 21 Agustus, Kanada menolak menyelesaikan kesepakatan perdagangan berdasarkan ketentuan yang telah dicapai pada awal pekan tersebut.
Sebelumnya, tak lama sebelum batas waktu berakhir, Perdana Menteri Kanada Mark Carney juga mengumumkan penghentian negosiasi dan mengatakan Kanada akan mengenakan tarif terhadap barang-barang AS secara “dolar demi dolar”.
Pada 20 Juli, Presiden AS Donald Trump menandatangani keputusan untuk mengenakan tarif 50% terhadap sejumlah produk ekspor Kanada senilai hampir US$20 miliar, yang dijadwalkan berlaku setelah 30 hari.
Pada 18 Agustus, Trump sempat menangguhkan tarif tersebut dan mengatakan kedua negara hampir mencapai kesepakatan perdagangan yang akan sangat menguntungkan kedua pihak.
Menurut pernyataan USTR pada 22 Agustus, AS berkomitmen memberikan Kanada perlakuan yang paling menguntungkan dibandingkan negara-negara eksportir utama lainnya. Namun, Kanada kemudian mengajukan tuntutan baru dan menarik kembali sejumlah komitmen yang sebelumnya telah disepakati.
Dalam sebuah pernyataan, Carney mengatakan: “Perubahan ketentuan yang diajukan AS pada saat-saat terakhir tidak adil dan tidak masuk akal secara ekonomi, serta menimbulkan keraguan terhadap keandalan kesepakatan apa pun.”
Carney mengatakan bahwa meskipun negosiasi telah mencapai “kemajuan penting”, hasilnya masih belum cukup untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah Kanada bagi rakyatnya.
Sementara itu, USTR menekankan bahwa selama beberapa dekade Kanada telah menikmati perlakuan paling menguntungkan dalam akses ke pasar AS. Pekan ini, AS bahkan menyetujui perlakuan yang lebih menguntungkan bagi Kanada dengan memangkas tarif secara signifikan terhadap baja, aluminium, kendaraan bermotor, dan kayu.
Menurut laporan, salah satu rancangan kesepakatan yang dibahas para negosiator mencakup penurunan tarif AS terhadap baja dan aluminium Kanada dari 50% menjadi 25%, serta penurunan tarif kendaraan Kanada dari 25% menjadi 15%.
USTR menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa: “Kanada telah kehilangan kesempatan untuk membangun kemitraan dengan Amerika Serikat, negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara anggota G7.”
Karena negosiasi gagal, Kanada akan menghadapi tarif baru sebesar 50% yang diberlakukan Trump dengan mengacu pada Undang-Undang Tarif 1930.
Tarif tersebut akan berlaku terhadap berbagai produk, termasuk anggur, produk susu, semen, pakaian, dan perlengkapan hoki es. Sebelumnya, AS juga telah mengenakan tarif terhadap baja, aluminium, kendaraan bermotor, dan kayu Kanada.
Selama lebih dari satu tahun, Kanada dan AS telah melakukan negosiasi perdagangan secara bertahap dalam upaya mencapai kesepakatan yang dapat membuat AS membatalkan atau menurunkan tarif terhadap sektor-sektor penting tersebut.
Pada saat yang sama, AS terus menuntut sejumlah konsesi dari Kanada, termasuk mencabut sisa tarif pembalasan terhadap kendaraan AS serta menyesuaikan kuota produk susu agar lebih banyak keju dari AS dapat masuk ke pasar Kanada.
Tahun lalu, sebagian besar provinsi di Kanada memberlakukan larangan penjualan minuman beralkohol AS sebagai tindakan pembalasan terhadap kebijakan tarif Trump. AS juga menuntut agar larangan itu dicabut.


