EtIndonesia.com Pada 26 Agustus, terjadi longsor besar di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Seorang kepala sekolah menengah segera bertindak setelah menerima telepon peringatan dan langsung memimpin seluruh siswa untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, sehingga menyelamatkan lebih dari 1.000 nyawa. Ia dipuji oleh berbagai pihak sebagai pahlawan.
Sekolah tersebut adalah Tribhuvan Trishuli Secondary School, yang terletak di Lembah Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, hanya sekitar 100 meter dari sungai. Pada hari bencana terjadi, kepala sekolah sekaligus guru bahasa Inggris, Rajendra Dawadi, menerima telepon peringatan dari seorang teman yang memintanya segera melarikan diri. Saat itu, terdapat 1.643 siswa di lingkungan sekolah dan sekitarnya.
Awalnya, Dawadi mengira sekolah tersebut berada di lokasi yang aman. Menurut laporan The Times, gedung sekolah beton tiga lantai itu berada sekitar 60 meter di atas permukaan sungai dan sejajar dengan jembatan baja yang menghubungkan desa dengan kawasan di tepi timur sungai. Namun, tak lama kemudian, seorang orang tua siswa berlari masuk ke sekolah dan mengatakan bahwa permukaan air sedang naik dengan sangat cepat.
Dawadi mengatakan kepada BBC bahwa dalam waktu hanya beberapa menit, ia menerima peringatan dari empat orang berbeda. Salah satu panggilan bahkan memberitahukan bahwa Desa Betrawati di bagian hulu telah ditelan banjir.
Dawadi kemudian mengambil keputusan tegas: “Tidak boleh menunda lagi. Kalaupun banjir tidak datang, paling buruk kami hanya kehilangan satu hari kegiatan belajar.”
Ia segera membunyikan lonceng sekolah dan meminta para guru membawa siswa keluar dari ruang kelas. Ia juga menelepon para pengemudi bus sekolah dan meminta mereka kembali. Namun, satu bus sekolah tidak dapat dihubungi. Tak lama kemudian, ia melihat sendiri bus tersebut sedang melintasi jembatan.
Para siswa mulai bergerak menuju daerah yang lebih tinggi. Di tengah proses evakuasi, seorang siswi mengalami serangan panik dan dibawa menggunakan sepeda motor menuju sebuah bukit. Siswa lainnya berlari meninggalkan lokasi dengan berjalan kaki. Dawadi kemudian menyusul mereka, dan akhirnya seluruh siswa berlindung di bawah sebuah pohon bodhi.
Tak lama kemudian, banjir menerjang kawasan tersebut. Lumpur, bebatuan, bongkahan es, dan puing-puing menghancurkan bangunan, jembatan, serta berbagai struktur lainnya. Para guru dan siswa menyaksikan langsung asrama di dekat sekolah tersapu banjir.
Beruntung, seluruh 1.643 siswa berhasil selamat secara ajaib. Sebagian besar staf sekolah juga berhasil melarikan diri, meskipun dua orang staf sekolah meninggal dunia.
Salah satunya adalah Santos Pariyar, guru sejarah dan ilmu sosial berusia 32 tahun. Ia tersapu banjir ketika kembali ke rumah kontrakannya di dekat sungai untuk menyiapkan sarapan.
Sementara itu, petugas administrasi sekolah Sultan Lama meninggal ketika kembali ke sekolah untuk menutup gerbang.
Dawadi menegaskan: “Jika kami terlambat 10 menit dalam mengambil keputusan untuk mengungsi, semua orang—termasuk para siswa dan saya sendiri—mungkin tidak akan bisa berdiri di sini dan berbicara kepada kalian hari ini.”
Editor Li Qing


