Ribuan Warga di Zhenxiong, Yunnan, Tiongkok Berhari-hari Menolak Kremasi Paksa yang Diterapkan Pemerintah 

Peristiwa kremasi paksa jenazah oleh pemerintah kembali terjadi di Kabupaten Zhenxiong, Kota Zhaotong, Provinsi Yunnan, Tiongkok. Hal ini memicu aksi protes warga. Seorang remaja berusia 16 tahun hendak dimakamkan, tetapi pemerintah setempat berusaha merebut jenazahnya dan memaksanya untuk dikremasi. 

Tindakan itu memicu kemarahan publik. Ribuan warga dari desa-desa dan kecamatan di sekitar lokasi secara sukarela datang untuk mendukung keluarga almarhum. Pada 12 September, ribuan orang bersama-sama mengantarkan peti jenazah ke gunung untuk dimakamkan.

EtIndonesia.com  Seorang remaja berusia 16 tahun, He Guoqiang, yang menderita leukemia dan mendapat perhatian luas di media sosial, meninggal dunia pada 6 September. Ia semula dijadwalkan dimakamkan pada 12 September. Namun, sehari sebelumnya, warga desa dan kecamatan di sekitar lokasi mengetahui bahwa pemerintah setempat akan mengerahkan sekitar 200 orang untuk merebut jenazah dan membawanya untuk dikremasi. Warga pun berdatangan untuk menolak tindakan tersebut. 

Pada 12 September, ribuan orang mengawal peti jenazah menuju lokasi pemakaman. Karena jumlah warga yang memberikan dukungan sangat besar, pihak berwenang tidak berani bertindak gegabah.

Seorang warga setempat bermarga Wang yang datang memberikan dukungan mengatakan bahwa sejak 1 September, pemerintah setempat telah menetapkan 14 kecamatan sebagai “wilayah kremasi”. 

Menurutnya, He Guoqiang dijadikan sasaran pertama sebagai upaya “membunuh ayam untuk menakut-nakuti monyet”, atau memberikan contoh agar warga lain takut menolak.

Saat ini, warga secara sukarela berjaga di makam, baik siang maupun malam. Pada malam hari, Wang membawa tenda untuk berjaga karena pemerintah setempat sewaktu-waktu dapat mengirim orang untuk menggali makam tersebut.

Wang, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Pihak atas ingin membawanya untuk dikremasi. Malam itu ada sekitar 4.000–5.000 orang. Kami semua sangat kompak dan berjaga di sana. Xiao Qiang adalah yang pertama pada bulan September. Di tempat kami, jenazah sudah dimakamkan ke tanah, tetapi kemudian digali lagi untuk dikremasi. Saya benar-benar merasa itu sangat kejam.”

Warga yang memberikan dukungan mengungkapkan bahwa pemerintah setempat menggunakan cara-cara yang mereka sebut sebagai “perampasan jenazah” dan “menggali jenazah secara diam-diam” untuk memaksakan kremasi. 

Bahkan, ada jenazah yang sudah dimakamkan selama satu hingga dua bulan tetapi kemudian digali kembali untuk dikremasi. Hal ini memicu kemarahan kuat di kalangan warga. Namun, pihak berwenang berusaha memblokir informasi mengenai kejadian tersebut. Sejumlah influencer dan streamer yang datang ke lokasi untuk melakukan siaran langsung kemudian diblokir, sementara sinyal komunikasi juga diduga terganggu.


“Banyak orang menjaga Xiao Qiang. Setidaknya ada beberapa ribu orang. Desa ini sendiri tidak memiliki banyak kerabatnya. Mereka datang dari berbagai kecamatan dan merupakan warga dari daerah yang sama. Orang-orang ini bahkan tidak saling mengenal, tetapi semuanya datang secara sukarela. Di dalam maupun di luar lokasi, orang berdesak-desakan sampai penuh. Banyak video yang tidak bisa dipublikasikan,” kata Li, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan. 

Warga yang memberikan dukungan mengatakan bahwa pemakaman dengan cara dikuburkan merupakan tradisi setempat, sedangkan kremasi paksa dilakukan pemerintah untuk mengeruk uang dari masyarakat. 

He Guoqiang telah menjalani pengobatan selama dua tahun, menghabiskan seluruh tabungan keluarganya dan bahkan berhutang ratusan ribu yuan kepada kerabat serta teman. Karena itu, keluarganya sama sekali tidak mampu menanggung biaya kremasi.

“Setelah dibawa untuk dibakar, mereka masih harus membeli lahan pemakaman. Mobil pengangkut juga harus diberi uang tip. Satu mobil 120 yuan, kalau ada 10 mobil berarti 1.200 yuan,” kata Wang. 

“Selain itu, mereka juga harus membeli bunga putih. Bagi masyarakat pedesaan, mencari uang itu tidak mudah. Mereka menyediakan seluruh paket layanan untuk Anda, dan berapa pun yang mereka minta, Anda harus membayarnya. Tidak ada seorang pun yang sanggup menanggung semuanya,” Jelasnya. 

Kabupaten Zhenxiong, Kota Zhaotong, Yunnan, membagi seluruh wilayahnya menjadi wilayah kremasi dan wilayah reformasi pemakaman tradisional. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah setempat telah memaksakan kremasi di sejumlah kecamatan. Cara-cara yang oleh warga dianggap sebagai tindakan keras dan sewenang-wenang tersebut telah memicu penolakan. Di Zhongtun dan Linkou, antara lain, juga pernah terjadi aksi protes massal warga.

Laporan wartawan NTDTV Xiong Bin dan Bai Ni.

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine