Surabaya, 13 Oktober 2026 – Sampah plastik, terutama botol minuman berbahan PET, masih menjadi persoalan besar di Pulau Jawa. Bayangkan, sekitar 88,17 persen sampah plastik di Jawa berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa melalui proses daur ulang.
Padahal, botol PET punya nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan baik. Dari situ, Dr Hilyatun Nuha ST MT, lulusan Program Doktor Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), merancang model daur ulang terpadu berbasis kolaborasi.
Apa Itu PET dan Mengapa Penting?
PET atau Polyethylene Terephthalate adalah jenis plastik yang biasa digunakan untuk botol air mineral, minuman soda, dan wadah makanan. Plastik ini ringan, kuat, dan bisa didaur ulang.
Masalahnya, sistem pengumpulan sampah dari rumah tangga sering kali tidak terintegrasi. Akibatnya, botol-botol PET bercampur dengan sampah lain dan berakhir menumpuk di TPA.
“Masalah penumpukan ini dipicu oleh lemahnya integrasi pengumpulan dari skala rumah tangga,” terang Hilya, perempuan kelahiran Gresik yang kini menjadi dosen di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Tiga Skema yang Diuji
Dalam disertasinya, Hilya merancang dan membandingkan tiga skema pemodelan matematika secara bertahap:
- Model konvensional – sistem pengumpulan yang berjalan seperti biasa.
- Model integrasi masyarakat dan pemerintah – melibatkan warga dan pemerintah daerah.
- Model kolaborasi antar-kolektor sampah – menggunakan konsep endogenous cost sharing atau pembagian biaya simpan antara bank sampah dan dinas lingkungan.
Skema ketiga menjadi kebaruan riset ini. Idenya, bank sampah dan dinas lingkungan berbagi beban biaya penyimpanan, sehingga pengumpulan sampah PET menjadi lebih efisien.
Hasilnya Mencengangkan
Perbandingan antar-skema membuktikan keunggulan model kolaborasi. Pada skema integrasi tanpa kolaborasi, sampah PET yang tidak terangkut masih berada di angka 21 persen. Sementara pada skema kolaborasi, angka tersebut berhasil ditekan menjadi nol persen.
Bukan hanya soal lingkungan, model ini juga menghemat biaya. Hilya mencatat, penerapan skema kolaborasi memangkas biaya lingkungan dari Rp1,813 miliar menjadi Rp0,182 miliar.
“Penerapan skema kolaborasi ini juga memangkas biaya lingkungan dari Rp1,813 miliar menjadi Rp0,182 miliar,” tambahnya.
Diakui Jurnal Internasional
Kualitas disertasi Hilya berhasil menembus jurnal internasional bereputasi tinggi, Supply Chain Analytics terbitan Elsevier. Riset ini dibimbing oleh Prof Nurhadi Siswanto ST MSIE PhD dan Dr Eng Erwin Widodo ST MEng.
Selain dekat dengan kondisi praktis di lapangan, model matematika yang dibangun menggunakan perangkat lunak yang mudah diakses.
“Seluruh proses optimasi kami jalankan menggunakan perangkat lunak yang bisa diakses siapa saja,” bebernya.
Artinya, model ini tidak hanya berhenti di menara gading. Pemerintah daerah dan pengelola sampah bisa menggunakannya untuk merancang sistem daur ulang yang lebih baik.
Harapan untuk Masa Depan
Melalui pencapaian ini, Hilya berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terus memperbanyak fasilitas pengumpulan sampah terpadu serta memberikan insentif langsung bagi industri daur ulang.
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- Poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
- Poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim
Dari botol bekas yang sering dianggap sampah, lahir sebuah model yang bisa mengubah cara kita mengelola plastik. Jika diterapkan, bukan tidak mungkin sampah PET di Jawa tidak lagi menumpuk di TPA, melainkan kembali menjadi produk bernilai guna.


