Layanan “Anak Berbagi” Bermunculan, Krisis Perawatan Lansia di Tiongkok Kian Terungkap

Seiring dengan semakin parahnya penuaan penduduk, menurunnya angka kelahiran, dan perpindahan penduduk antardaerah di Tiongkok, jumlah lansia yang ditinggalkan anak-anaknya di rumah serta lansia yang hidup sendirian meningkat tajam. 

Layanan yang disebut “anak berbagi” pun muncul untuk memenuhi kebutuhan perawatan sebagian lansia melalui pendampingan berbayar. Namun, pasar layanan ini masih terbatas, sementara banyak lansia biasa tidak mampu membayarnya karena keterbatasan ekonomi. 

Para analis menilai fenomena ini mencerminkan persoalan struktural, seperti menyusutnya ukuran keluarga, beratnya beban perawatan lansia, serta ketidakmampuan layanan perawatan lansia publik untuk mengisi kekosongan yang ada.

EtIndonesia.com Saat ini, jumlah penduduk Tiongkok berusia 60 tahun ke atas telah melampaui 320 juta jiwa. Di tengah tingginya biaya hidup, perpindahan penduduk antardaerah, dan menurunnya angka kelahiran, banyak anak tunggal kewalahan membagi waktu dan tenaga untuk mengurus orang tua mereka. Dalam kondisi tersebut, muncullah layanan yang disebut “anak berbagi”.

“Anak berbagi” juga dikenal sebagai “anak alih daya”. Layanan ini ditujukan bagi lansia yang anak-anaknya tidak tinggal bersama mereka. Para lansia membayar anak muda untuk datang ke rumah, menemani mengobrol, bermain catur, merayakan hari raya, atau mendampingi mereka berobat. Tarif untuk satu kali layanan berkisar antara 200 hingga 2.000 yuan. 

Di sejumlah kota, seperti Nanjing di Provinsi Jiangsu dan Dalian di Provinsi Liaoning, sudah terdapat tim usaha rintisan yang menyediakan layanan pendampingan emosional dan kekeluargaan semacam ini.

Namun, layanan “alih daya kasih sayang keluarga” ini bukan hanya belum memiliki standar dan regulasi yang seragam, tetapi juga menyimpan risiko terkait keamanan harta benda para lansia. Bagi banyak lansia biasa yang hanya memiliki uang pensiun terbatas, biaya layanan ini menjadi hambatan tersendiri. Sebuah tim usaha di Suzhou telah menjalankan bisnis tersebut selama enam bulan, tetapi hanya berhasil menyelesaikan belasan pesanan dengan total pendapatan beberapa ribu yuan. Usaha itu masih jauh dari menghasilkan keuntungan.

Huang David (Davy J. Wong), seorang ekonom asal Amerika Serikat, menunjukkan bahwa hakikat layanan “anak berbagi” bukan sekadar lansia membayar untuk mendapatkan teman. Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana fungsi tradisional keluarga Tiongkok dalam merawat orang tua terpaksa mengalami kehancuran akibat tekanan kehidupan nyata.

“Ada tiga penyebab struktural di balik fenomena ini. Pertama, perpindahan penduduk telah mengubah struktur keluarga. Kedua, ukuran keluarga semakin kecil sehingga beban perawatan lansia terkonsentrasi pada semakin sedikit anggota keluarga. Ketiga, masyarakat membutuhkan layanan perawatan lansia yang profesional, tetapi sebagian besar keluarga tidak memiliki kemampuan finansial untuk membayarnya, sementara layanan publik yang disediakan pemerintah belum mampu mengisi kekosongan tersebut secara memada,” katanya. 

“Layanan ‘anak berbagi’ tampaknya melengkapi perawatan keluarga, tetapi layanan ini tidak dapat menggantikan kewajiban jaminan sosial bagi lansia yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dan negara.”

Huang David menganalisis bahwa inti krisis perawatan lansia di Tiongkok terletak pada kondisi ketika perekonomian di permukaan tampak modern, tetapi sistem jaminan sosialnya masih berada dalam keadaan yang sangat tertinggal.

“Kaum muda harus menanggung biaya perumahan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Mereka juga harus menanggung beban menghidupi ratusan juta orang dari kelompok berprivilege yang berada di dalam sistem pemerintahan, sekaligus memikul sendiri tanggung jawab merawat orang tua mereka,” katanya. 

“Ini merupakan bentuk eksploitasi yang bahkan lebih sulit diterima daripada masyarakat perbudakan. Dampaknya bukan hanya terhadap perawatan lansia, tetapi juga terhadap konsumsi masyarakat, angka kelahiran, dan perekonomian secara keseluruhan. Kondisi seperti ini jelas bukan ciri masyarakat yang adil dan modern,” ujarnya. 

Huang David menunjukkan bahwa layanan “anak berbagi” di permukaan merupakan sebuah layanan komersial. Namun, di baliknya terdapat kenyataan bahwa banyak sumber daya sosial lebih banyak dialirkan kepada lembaga pemerintahan dan kelompok yang berada di dalam sistem kekuasaan. Sementara itu, para pekerja biasa tidak memperoleh jaminan sosial dan kesejahteraan yang semestinya. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan antara hak dan kewajiban.

Sejarawan sekaligus penulis Tiongkok, Yu Luowen, mengatakan, “Tiongkok menganut sistem yang berorientasi pada pejabat. Jika seseorang menjadi pejabat atau pegawai negeri dengan jabatan tertentu, misalnya kepala biro, gajinya bisa meningkat berkali-kali lipat. Uang pensiunnya pun meningkat berkali-kali lipat. Karena itu, menurut saya, keadaan ini sangat tidak masuk akal.”

Yu Luowen menunjukkan bahwa kurangnya perlindungan publik dalam sistem PKT telah menciptakan sistem pensiun ganda yang sangat tidak adil, sehingga petani dan pekerja biasa menjadi kelompok yang sangat terpinggirkan.

“Yang paling menderita adalah para petani. Tiongkok sejak dahulu merupakan negara agraris, dan sebagian besar penduduknya adalah petani. Mereka bekerja keras untuk menghidupi seluruh penduduk negeri ini, tetapi ketika mereka tua, mereka justru tidak mendapatkan uang pensiun,” ujarnya. 

“Lihat saja, uang pensiun petani hanya sedikit di atas 100 yuan per bulan. Sementara itu, para pensiunan pegawai negeri bisa menerima lebih dari 10.000 yuan per bulan, bahkan jauh lebih banyak. Kesenjangannya hampir mencapai seratus kali lipat! Karena itu, sistem pensiun dan jaminan hari tua Tiongkok dapat dikatakan sebagai salah satu kebijakan yang paling tidak adil, tidak masuk akal, dan gagal,” katanya. 

Yu Luowen menyatakan bahwa ketika PKT memberlakukan kebijakan satu anak secara paksa, pemerintah mempromosikan slogan “pemerintah akan menanggung perawatan lansia”. Namun, sekarang slogannya berubah menjadi “perawatan lansia bergantung pada diri sendiri”. Akibatnya, seluruh tanggung jawab perawatan lansia dari sektor publik dialihkan kepada anak-anak yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk menanggungnya. Hal ini bukan hanya membuat kaum muda kewalahan, tetapi juga menjerumuskan lansia miskin ke dalam situasi yang sangat sulit.

“Jika uang pensiun lansia sangat sedikit dan anak-anak mereka juga tidak memiliki pekerjaan, keadaan akan menjadi sangat sulit. Terutama di pedesaan, para lansia hampir tidak memiliki uang pensiun. Anak-anak mereka harus merawat orang tua, sehingga mereka praktis tidak bisa meninggalkan keluarga untuk bekerja karena orang tua membutuhkan perawatan. Menurut saya, ini adalah bencana yang diciptakan oleh pemerintah,” ujarnya. 

Yu Luowen juga menyatakan bahwa di Amerika Serikat, lansia berpenghasilan rendah dapat memperoleh dukungan hidup melalui program bantuan pemerintah, sehingga perawatan di hari tua tidak harus sepenuhnya bergantung pada anak-anak mereka.

“Bukan hanya itu. Jika Anda tinggal di pusat perawatan lansia, pemerintah menyediakan makanan, dan ada banyak pengasuh yang melayani Anda. Pemerintah menanggung biaya sekitar 140 dolar AS per orang per hari,” ujarnya. 

“Coba bayangkan berapa jumlahnya dalam sebulan. Meskipun Anda sudah menerima uang pensiun hampir 1.500 dolar AS, Anda tetap bisa menikmati berbagai fasilitas di pusat perawatan lansia. Karena itu, para lansia di Amerika Serikat hidup dengan cukup bahagia,” katanya. 

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa banyak lansia di Tiongkok hidup tanpa jaminan kesejahteraan yang memadai. Sementara itu, layanan “anak berbagi” hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mampu membayar. Layanan ini tidak mampu menyelesaikan persoalan perawatan lansia yang begitu besar. 

Sebaliknya, fenomena tersebut menjadi cermin yang memperlihatkan kesedihan dan ketidakberdayaan jutaan keluarga biasa akibat tidak adanya perlindungan sosial yang memadai secara struktural.

Editor/Wawancara: Li Yun/Zhong Yuan – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menguak Mekanisme Otak dalam Melindungi Ingatan Tertentu

Shoba Rajamani Jika seseorang ditanya apa yang mereka makan siang dua hari lalu, kemungkinan besar mereka hanya akan menatap dengan pandangan kosong. Namun, jika orang...

Jangan Menunda untuk Memaafkan

Setiap hari kita menunda memberikan maaf akan memperdalam lingkaran kebencian dan luka batin yang semakin sulit untuk dilepaskan Mike Donghia Ada kalanya penulis berharap suatu hubungan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine