Shoba Rajamani
Jika seseorang ditanya apa yang mereka makan siang dua hari lalu, kemungkinan besar mereka hanya akan menatap dengan pandangan kosong. Namun, jika orang yang sama ditanya tentang kencan pertama mereka, lagu yang diputar saat mengalami perpisahan yang menyakitkan, atau keberadaan mereka ketika sebuah bencana besar terjadi, kenangan itu mungkin akan kembali dengan kejelasan yang luar biasa.
Mengapa beberapa momen tetap melekat dalam ingatan selama puluhan tahun, sementara yang lain menghilang tak lama setelah terjadi?
Otak kita tidak sekadar merekam segala sesuatu yang kita alami. Otak terus-menerus memproses informasi, memperkuat sebagian ingatan sekaligus membiarkan ingatan lainnya memudar. Emosi, perhatian, pengalaman indrawi, dan tidur semuanya memengaruhi apa yang kita ingat. Namun, bahkan ingatan kita yang paling jelas sekalipun tidak selalu akurat, dan perasaan yang melekat padanya dapat berubah seiring waktu.
Memahami proses-proses ini membantu menjelaskan mengapa momen tertentu menjadi bagian yang bertahan lama dalam perjalanan hidup kita.
Penanda Emosional di Otak
Setiap hari, indra kita menerima begitu banyak informasi. Kita memperhatikan lampu lalu lintas, membaca surel, minum kopi, dan menjalani berbagai momen biasa yang tak terhitung jumlahnya. Jika otak menyimpan setiap detail dengan intensitas yang sama, akan sangat sulit bagi kita untuk mengingat hal-hal yang benar-benar penting.
Sebaliknya, pengalaman tertentu mendapatkan perhatian lebih besar. Momen yang menghadirkan kebahagiaan, ketakutan, keterkejutan, atau kasih sayang yang mendalam dapat meninggalkan kesan lebih kuat dibandingkan sore hari yang biasa-biasa saja.
Salah satu bagian penting dalam proses ini adalah amigdala, wilayah otak yang membantu memproses makna emosional, serta hipokampus, yang berperan penting dalam pembentukan dan pemanggilan kembali ingatan. Gairah emosional dapat memengaruhi cara kedua wilayah ini bekerja sama sehingga pengalaman tertentu menjadi lebih mudah diingat.
Emosi dapat bertindak seperti penanda biologis yang menyoroti pengalaman istimewa dan menarik perhatian otak kepadanya. Dengan demikian, hari-hari rutin mungkin hanya meninggalkan goresan pensil samar dalam pikiran kita, sedangkan momen yang sangat menyentuh perasaan meninggalkan kesan yang jauh lebih membekas.
Namun, emosi hanyalah sebagian dari cerita. Terkadang, ingatan diperkuat oleh indra penciuman kita.
Aroma yang Membangkitkan Nostalgia
Pernahkah Anda mencium samar aroma tabir surya beraroma kelapa, daun pinus kering, atau detergen pakaian yang familier, lalu tiba-tiba merasa seolah-olah dibawa kembali ke masa puluhan tahun silam?
Ada penjelasan ilmiah mengapa aroma dapat membangkitkan ingatan dengan begitu jelas. Sebagian besar informasi indrawi melewati talamus, pusat penerus utama informasi sensorik di otak, sebelum mencapai area pemrosesan yang lebih tinggi. Indra penciuman menempuh jalur berbeda, yakni langsung menuju korteks olfaktori primer tanpa terlebih dahulu melewati pusat penerus tersebut.
Dalam arti tertentu, indra penciuman memiliki akses langsung ke balik layar.
Dari bulbus olfaktorius, yang menerima sinyal dari hidung, informasi bergerak melalui jalur-jalur yang terhubung dengan amigdala dan hipokampus.
Penelitian memberikan bukti mengenai hubungan ini. Dalam sebuah studi pencitraan otak pada 2004, psikolog Rachel Herz dan rekan-rekannya menemukan bahwa aroma yang memiliki makna pribadi memicu aktivitas lebih kuat di amigdala dan wilayah hipokampus saat seseorang mengingat kembali kenangan, dibandingkan dengan isyarat indrawi lain yang diuji.
Hal ini membantu menjelaskan mengapa aroma yang familier dapat melakukan lebih dari sekadar mengingatkan kita pada suatu tempat. Aroma itu mungkin menghadirkan kembali suasana rumah masa kecil, kehangatan sebuah pertemuan, atau kepedihan saat mengucapkan selamat tinggal.
Untuk sesaat, masa lalu terasa begitu dekat.
Buku Cerita yang Terus Hidup
Salah satu temuan paling mengejutkan dalam penelitian tentang ingatan adalah bahwa kenangan kita yang paling jelas belum tentu merupakan kenangan yang paling akurat.
Coba ingat sebuah acara keluarga atau pertengkaran dengan saudara kandung. Bertahun-tahun kemudian, Anda mungkin mendapati bahwa orang-orang yang terlibat mengingat peristiwa yang sama dengan cara yang sangat berbeda. Namun, setiap orang bisa saja merasa yakin bahwa versi ingatannya adalah yang benar.
Para psikolog menyebut ingatan yang sangat jelas mengenai keadaan ketika seseorang mengetahui peristiwa mengejutkan atau bermakna secara emosional sebagai flashbulb memories atau ingatan kilat. Ingatan ini dapat terasa seolah-olah foto suatu momen telah dicapkan secara permanen ke dalam pikiran. Namun, kejelasan ingatan tidak menjamin keakuratannya.
Setelah bencana pesawat ulang-alik Challenger pada 1986, psikolog Ulric Neisser dan rekan-rekannya meneliti bagaimana orang mengingat keadaan ketika mereka mengetahui tragedi tersebut. Penelitian mereka menunjukkan bahwa bahkan ingatan yang berkaitan dengan peristiwa yang sangat bermakna secara emosional dapat berubah seiring waktu.
Pola serupa muncul setelah serangan 11 September di Amerika Serikat. Dalam penelitian selama sepuluh tahun yang dipimpin William Hirst dan Elizabeth Phelps bersama rekan-rekan mereka, para peneliti menemukan bahwa ingatan orang tentang bagaimana mereka mengetahui serangan tersebut menjadi semakin tidak konsisten seiring berjalannya waktu. Meskipun demikian, tingkat keyakinan mereka terhadap ingatan tersebut tetap tinggi.
Temuan ini mengungkap sebuah kontradiksi yang menarik: kita dapat merasa sangat yakin terhadap suatu ingatan, bahkan ketika detail-detail penting di dalamnya telah berubah.
Mengapa hal ini terjadi?
Ingatan bukanlah rekaman yang tinggal kita putar kembali. Mengingat melibatkan proses merekonstruksi pengalaman berdasarkan informasi yang tersimpan, yang terkadang dipengaruhi oleh percakapan setelah peristiwa terjadi, pengetahuan baru, dan sudut pandang kita saat ini.
Proses terkait yang dikenal sebagai memory reconsolidation atau rekonsolidasi memori menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, ketika sebuah ingatan yang tersimpan dipanggil kembali, ingatan tersebut dapat menjadi sementara rentan terhadap perubahan sebelum distabilkan kembali. Tidak setiap tindakan mengingat akan menimbulkan efek ini, tetapi proses tersebut membantu para ilmuwan memahami bagaimana sebagian ingatan dapat berubah.
Ingatan ibarat buku cerita yang terus hidup. Halaman-halamannya dapat memperoleh detail dan penafsiran baru setiap kali kita membacanya kembali.
Jika ingatan dapat berubah, muncul pertanyaan lain: dapatkah perasaan kita terhadap ingatan tersebut juga berubah?
Sifat Dinamis dari Kenangan yang Tak Memudar
Sebuah ingatan dapat tetap jelas tanpa selalu membawa beban emosional yang sama. Pengalaman yang dahulu menimbulkan kepedihan mungkin, seiring waktu dan dengan sudut pandang berbeda, menjadi lebih mudah untuk dikenang. Meskipun kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, hubungan kita dengan masa lalu dapat berkembang.
Penelitian mengenai rekonsolidasi memori memberikan salah satu kemungkinan penjelasan untuk proses ini. Dalam kondisi tertentu, memanggil kembali sebuah ingatan dapat membuatnya terbuka terhadap perubahan. Informasi baru dan pengalaman emosional dapat memengaruhi bagaimana ingatan tersebut direpresentasikan setelahnya.
Ini bukan berarti bahwa mengingat kembali peristiwa menyakitkan secara otomatis akan mengurangi kepedihannya. Namun, hubungan yang suportif dan intervensi psikologis yang tepat dapat membantu seseorang mengembangkan sudut pandang baru terhadap pengalaman sulit dan mengubah cara mereka meresponsnya.
Peristiwa tersebut mungkin tetap menjadi bagian dari sejarah hidup mereka, meskipun beban emosionalnya menjadi lebih mudah ditanggung.
Masa lalu tidak selalu dapat ditulis ulang, tetapi hubungan kita dengannya tidak harus selalu sama.
Ingatan yang paling bertahan lama menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup kita. Ingatan itu mengingatkan kita tentang tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, pengalaman yang pernah kita alami, dan perubahan yang telah kita lalui. Sebagian menghadirkan kebahagiaan, sedangkan yang lain mengingatkan kita pada tantangan yang berhasil kita atasi. Maknanya dapat berkembang, meskipun ingatan itu sendiri tetap bertahan.
Memahami sifat ingatan yang dinamis ini juga memunculkan pertanyaan praktis: dapatkah kita membuat momen-momen yang berarti bagi kita menjadi lebih mudah diingat?
Cara Menciptakan Kenangan yang Bertahan Lama
Kita tidak dapat sepenuhnya mengendalikan apa yang akan disimpan oleh otak, tetapi kita dapat memberikan perhatian lebih besar pada pengalaman yang ingin kita kenang.
Keluar dari Rutinitas Sehari-hari
Rutinitas yang sudah familier dapat membuat hari-hari terasa bercampur dan sulit dibedakan, sedangkan pengalaman baru menarik perhatian dan berpotensi memperkuat pembentukan ingatan. Cobalah melewati rute yang belum pernah dilalui, mencicipi hidangan baru, atau menjelajahi tempat yang belum pernah dikunjungi. Terkadang, perubahan kecil saja sudah cukup untuk membuat hari biasa terasa istimewa.
Libatkan Indra Anda
Saat berkumpul bersama keluarga, berhentilah sejenak sebelum meraih ponsel. Perhatikan aroma makanan, hangatnya sinar matahari sore, dan tawa orang-orang di sekeliling meja. Detail indrawi ini dapat menjadi petunjuk yang membantu kita memanggil kembali pengalaman tersebut ke dalam ingatan.
Lindungi Waktu Tidur
Tidur membantu otak mengonsolidasikan ingatan. Selama tidur, pola aktivitas otak yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya dapat diaktifkan kembali sehingga mendukung pengorganisasian dan penyimpanan informasi. Tidur malam yang cukup tidak menjamin suatu pengalaman akan selalu diingat, tetapi kebiasaan terus-menerus mengorbankan waktu tidur dapat mengganggu pembentukan ingatan.
Kesimpulan
Otak kita bukanlah perangkat perekam pasif, melainkan pemahat aktif yang membentuk realitas kita. Meskipun kita tidak selalu dapat mengendalikan ingatan mana yang dipilih pikiran untuk diukir seolah-olah pada batu, pikiran kita bersifat dinamis.
Dengan memahami bagaimana ingatan terbentuk, kita dapat belajar mengubah perasaan yang muncul ketika mengenang masa lalu dan membangun ketangguhan dari penyesalan yang pernah kita alami.
Sumber : Visiontimes.com


