Baru-baru ini, seorang wanita berusia 29 tahun dari Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, digigit kutu caplak saat berwisata di alam terbuka. Ia kemudian terinfeksi ensefalitis hutan dan menjalani perawatan intensif di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit selama 28 hari. Kini, ia mengalami kelumpuhan pada keempat anggota tubuhnya, tidak mampu merawat dirinya sendiri, dan harus bergantung pada alat bantu pernapasan untuk bertahan hidup.
EtIndonesia.com Menurut laporan The Beijing News pada 28 Oktober, seorang pria bermarga Sun dari Harbin menceritakan bahwa pada 17 Juni lalu, ia dan istrinya, Chang, membawa anjing peliharaan mereka berwisata ke Yichun. Setelah pulang, mereka mendapati bahwa perut istrinya telah digigit kutu caplak. Mereka segera pergi ke rumah sakit di Harbin untuk mengeluarkan kutu tersebut.
Sun mengatakan, “Setelah digigit kutu, istri saya tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ada masa inkubasi. Ketika pakaian diangkat, tanpa sengaja terlihat sebuah titik kecil. Awalnya saya mengira itu hanya sedikit lumpur. Namun, ketika diperhatikan lebih dekat, ternyata benda itu bisa bergerak dan masih hidup.”
Sekitar setengah bulan kemudian, istrinya tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan dan dilarikan ke rumah sakit. Ia didiagnosis menderita ensefalitis hutan.
“Waktu itu, dia sedang menunggu perawatan di ruang rawat inap. Dokter mengatakan bahwa istri saya sudah mengalami kejang sebanyak tiga kali. Kondisi seperti ini sangat berbahaya. Kejang epileptik tersebut bisa jadi merupakan tanda ensefalitis hutan,” kata Sun.
Menurut Sun, istrinya kemudian segera dipindahkan ke ICU dan dirawat selama 28 hari. Setelah itu, ia menjalani terapi rehabilitasi. Namun, lebih dari empat bulan sejak kejadian tersebut, Chang yang berusia 29 tahun masih terbaring di tempat tidur dalam kondisi lumpuh.
Sun mengatakan, “Sekarang istri saya lumpuh, keempat anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan dia tidak mampu merawat dirinya sendiri. Alat bantu pernapasannya juga belum bisa dilepas. Biaya pengobatan sejauh ini sudah mencapai sekitar 400.000 yuan.”
Peristiwa ini menarik perhatian publik. Sejumlah warganet Tiongkok menduga bahwa kutu tersebut membawa virus yang kemudian menginfeksi korban.
Ada pula warganet yang berkomentar, “Yang paling penting adalah kutunya tidak ditemukan tepat waktu. Di kampung halaman kami, beberapa tahun lalu ada seseorang yang meninggal setelah digigit kutu. Awalnya, penyakitnya diobati seperti flu biasa. Ketika kondisinya memburuk, semuanya sudah terlambat! Ada orang lain yang kutunya ditemukan lebih awal dan berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan di Nanjing dengan biaya lebih dari 100.000 yuan.”
Warganet lainnya mengatakan, “Di kawasan hutan timur laut Tiongkok, ensefalitis hutan merupakan penyakit musiman yang dikenal masyarakat. Setiap tahun ada kasus di Heilongjiang, terutama di kalangan pekerja kehutanan. Namun, karena wisata hutan kini semakin populer, wisatawan juga mulai terdampak.
“Ketika saya berwisata ke timur laut Tiongkok, saya biasanya pergi pada musim dingin untuk bermain ski dan melewati kawasan hutan. Pemandu rombongan pernah mengatakan bahwa jika berkunjung pada musim panas, sebaiknya mendapatkan vaksinasi dua dosis.”
“Gigitan kutu tidak hanya dapat menyebabkan ensefalitis, tetapi juga penyakit Lyme dan penyakit lainnya. Kutu kecil ini cukup berbahaya. Saya berharap pemerintah Yichun juga memberikan edukasi kepada wisatawan mengenai bahaya dan langkah pencegahan saat mempromosikan pariwisata di kawasan hutan.”
Di Tiongkok, kutu caplak juga dikenal masyarakat dengan sebutan cao paozi. Kutu ini aktif di semak-semak dan rerumputan kawasan hutan setiap tahun, terutama dari April hingga Oktober.
Masa inkubasi ensefalitis hutan berkisar antara 7 hingga 14 hari. Gejala awalnya menyerupai flu biasa, sedangkan kasus yang parah dapat merusak sistem saraf pusat dan meninggalkan dampak jangka panjang.
Setiap tahun, sejumlah kasus kematian akibat gigitan kutu caplak dilaporkan di Tiongkok, sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Menurut laporan, pada pagi hari tanggal 22 Mei, seorang perempuan petani berusia 64 tahun dari Provinsi Anhui meninggal dunia setelah digigit kutu caplak di alam terbuka.
Pada awalnya, perempuan tersebut hanya mengalami sakit kepala ringan, demam ringan, dan tubuh lemas. Gejalanya hampir tidak berbeda dari flu biasa. Ia membeli obat flu sendiri, tetapi gejalanya sama sekali tidak membaik dan justru semakin parah.
Beberapa hari kemudian, ia mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun, muntah, diare, serta nyeri otot di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur. Wajahnya berubah menjadi merah kehitaman dan kondisi mentalnya tampak sangat lemah.
Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit pada malam hari. Dokter memastikan bahwa penyakitnya berkaitan dengan gigitan kutu caplak, tetapi nyawanya akhirnya tidak tertolong.
Menurut informasi yang diumumkan oleh Biro Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Anhui, pada Mei tahun ini, provinsi tersebut melaporkan 280 kasus penyakit yang disebut “penyakit akibat kutu caplak”, dengan tujuh kematian.
Dokter menyarankan langkah pencegahan dan penanganan gigitan kutu
Dokter menyarankan masyarakat untuk mengenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi risiko gigitan kutu caplak.
Jika digigit, jangan mencabut kutu secara paksa dan jangan menggunakan api untuk mengusir atau membakarnya. Berikut langkah penanganan yang dianjurkan:
- Gunakan pinset berujung runcing untuk menjepit bagian kepala kutu yang paling dekat dengan permukaan kulit.
- Tarik kutu secara perlahan dan tegak lurus ke atas. Hindari agar bagian mulut kutu tidak tertinggal di dalam kulit.
- Bersihkan dan disinfeksi luka secara menyeluruh menggunakan povidone-iodine atau alkohol yang sesuai untuk perawatan luka.
- Jika kemudian muncul demam atau ruam kulit, segera cari pertolongan medis dan beritahu dokter bahwa Anda pernah digigit kutu.
Luo Tingting. Editor: Wen Hui – NTDTV.com


