YOGYAKARTA – Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, berhasil menekan aktivitas rentenir hingga mendekati nol persen melalui kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kepolisian, Bank Indonesia (BI), serta pemangku kepentingan desa. Kini, pembangunan ekonomi wilayah tersebut difokuskan pada sektor pertanian untuk memperkuat kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Lurah Kalurahan Bendung, Didik Rubiyanto, menjelaskan bahwa pada 2016–2017 wilayahnya sempat menghadapi maraknya praktik rentenir yang berdampak buruk terhadap perekonomian masyarakat.
Upaya penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan OJK, Polda, BI, serta perangkat desa mulai tingkat RT dan RW. Komitmen bersama untuk menolak praktik rentenir menjadi salah satu langkah yang dinilai berhasil menekan aktivitas tersebut hingga mendekati nol persen.
Transformasi ekonomi kemudian diarahkan pada sektor pertanian, mengingat keterbatasan sumber daya alam dan belum optimalnya potensi industri maupun pariwisata di wilayah tersebut.
“Kalurahan Bendung berupaya membangun kemandirian ekonomi melalui sektor pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat,” demikian pokok penjelasan Didik dalam kegiatan gathering bersama OJK DIY, OJK Jawa Timur, dan rekan-rekan media di Pendopo Budaya Kalurahan Bendung.
Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah Lumbung Mataraman, yakni model pertanian terpadu atau integrated farming yang menggabungkan tanaman hortikultura, tanaman pangan, serta peternakan ayam petelur dan domba.
Program tersebut dikembangkan di atas lahan kas desa seluas sekitar 1,4 hektare. Dukungan sarana dan prasarana turut diberikan untuk menunjang produktivitas, antara lain pembangunan greenhouse sayuran dan mesin pengolahan sampah melalui kolaborasi dengan lembaga jasa keuangan.
Meski Gunungkidul dikenal sebagai wilayah yang relatif kering dan memiliki keterbatasan air, kawasan Kapanewon Semin, termasuk Kalurahan Bendung, didukung sejumlah sumber air dari sumur bor. Keberadaan sekitar empat titik sumber bor membantu menunjang kegiatan pertanian di kawasan Lumbung Mataraman.
Selain pengembangan sektor pertanian, pemerintah kalurahan juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair, biopestisida, serta kegiatan pemanfaatan pekarangan.
Kalurahan Bendung saat ini telah menyandang status Desa Mandiri Budaya. Status tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi lokal melalui penguatan budaya sekaligus pembangunan ekonomi masyarakat.
Dalam keterangannya, Didik juga menyebut dukungan Dana Keistimewaan DIY menjadi salah satu penopang program desa. Kalurahan Bendung memperoleh bantuan sebesar Rp750 juta untuk program ketahanan pangan, sementara desa berstatus Mandiri Budaya memiliki alokasi anggaran tahunan hingga Rp1 miliar.
OJK Dorong Akses Keuangan Inklusif di Desa
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala OJK Jawa Timur, Horas Tarihoran, mengapresiasi upaya Kalurahan Bendung dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis pertanian dan semangat gotong royong.
Menurutnya, pengembangan ekonomi produktif di desa perlu diiringi dengan perluasan akses keuangan yang inklusif agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan formal untuk mendukung kegiatan usaha.
Penguatan ekosistem keuangan inklusif menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi produktif di tingkat desa.
Sementara itu, Kepala OJK DIY, Eko Yunianto, mengapresiasi inovasi Kalurahan Bendung dalam mengembangkan Lumbung Mataraman dan membangun kolaborasi dengan lembaga jasa keuangan, termasuk dukungan untuk pengolahan sampah dan pengembangan greenhouse sayuran.
Eko berharap pengalaman Kalurahan Bendung dapat menjadi praktik baik yang menginspirasi wilayah lain, khususnya di Jawa Timur, dalam mengembangkan ekonomi desa melalui kolaborasi lintas sektor.
Sinergi antara pemerintah desa, OJK, lembaga jasa keuangan, dan masyarakat juga diharapkan dapat memperkuat literasi keuangan serta meningkatkan kewaspadaan warga terhadap penipuan dan aktivitas keuangan ilegal.
Kegiatan tersebut turut menampilkan Tari Widhiastra, tarian khas Kalurahan Bendung yang dibawakan oleh Ayu Wandira. Pertunjukan ini menjadi bagian dari pengenalan potensi budaya lokal dalam rangkaian kegiatan bersama OJK dan media.
Melalui penguatan sektor pertanian, pelestarian budaya, serta perluasan akses keuangan, Kalurahan Bendung berupaya membangun fondasi ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.


