Wabah COVID-19 Terus Merebak di Tiongkok, Imunitas Menurun Drastis, Penyakit X Dikhawatirkan Memicu Pandemi Besar

Wabah COVID-19 terus merebak di Tiongkok, sementara jumlah kasus berat meningkat dengan cepat. Menurut informasi internal, banyak orang meninggal dunia akibat komplikasi yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. 

Seorang ahli virologi Tiongkok mengungkapkan bahwa penelitian terbaru menunjukkan sel-sel kekebalan tubuh masyarakat Tiongkok secara bertahap mengalami kelelahan, sehingga daya tahan tubuh menurun drastis. Pandemi besar akibat “Penyakit X” yang pernah diperingatkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikhawatirkan akan segera terjadi.

EtIndonesia.com Seorang ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang (nama samaran) menjelaskan bahwa ketika tubuh manusia terinfeksi virus, “sel B naif” (Naive B Cell), yaitu sel B yang belum matang atau belum pernah terpapar antigen, dalam sistem kekebalan tubuh akan diaktifkan dan berubah menjadi “sel B memori” (Memory B Cell/MBC). 

Ketika virus yang sama kembali menyerang, sel-sel tersebut dapat dengan cepat melepaskan antibodi untuk membasmi virus. Proses ini merupakan kunci terbentuknya kekebalan jangka panjang pada tubuh manusia.

Namun demikian, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga sel B naif pada masyarakat Tiongkok secara keseluruhan sudah sulit diaktifkan. Zhang khawatir pandemi besar akibat “Penyakit X”, yang sebelumnya telah diperingatkan oleh WHO, akan segera datang.

“Pada akhir 2022, ketika pembatasan dibuka, banyak orang mengalami infeksi COVID-19 untuk pertama kalinya. Sekarang sudah empat tahun berlalu. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dua pertiga sel B naif sulit diaktifkan dan sulit membentuk antibodi. Artinya, saat ini hanya tersisa sepertiga sel B naif yang masih aktif. Secara keseluruhan, kita sudah memasuki hitung mundur. Ini berarti pandemi besar akan segera dimulai,” ujar Ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang (nama samaran). 

Zhang mengungkapkan bahwa jumlah kasus berat yang ditangani laboratorium semakin meningkat. Karena virus COVID-19 bermutasi terlalu cepat dan belum tersedia obat yang benar-benar efektif, meskipun rumah sakit menggunakan terapi antibodi monoklonal, pada akhirnya tubuh tetap harus mengandalkan sistem kekebalannya sendiri untuk melawan virus.

“Data kasus berat meningkat dengan cepat. Orang-orang yang tidak berhasil diselamatkan semuanya mengalami komplikasi sistem kekebalan tubuh. Pada akhirnya, tubuh mereka bahkan tidak mampu bertahan menghadapi bakteri biasa. Perkembangan resistansi terhadap obat juga semakin cepat. Di laboratorium, kondisi ini sudah masuk ke kategori peringatan merah,” ujarnya. 

Zhang juga mengatakan bahwa banyak orang merasa berbagai virus dan bakteri kini menjadi lebih ganas. Padahal, menurutnya, hal itu sebenarnya disebabkan oleh infeksi COVID-19 yang berulang kali, sehingga respons sistem kekebalan tubuh menjadi tumpul. Ketika patogen menyerang, tubuh tidak mampu mengaktifkan mekanisme pertahanan secara tepat waktu.

“Sebelumnya, mikoplasma merupakan patogen yang sangat lemah, bahkan tidak menyebabkan penyakit. Mengapa sekarang mikoplasma menjadi begitu berbahaya? Karena COVID-19 telah mengubah pola respons darurat sistem kekebalan tubuh Anda,” katanya. 

“Sistem kekebalan bawaan tidak segera aktif. Ketika jumlah replikasi patogen mencapai tingkat tertentu dan sistem kekebalan bawaan akhirnya mulai bekerja, bagi sebagian orang semuanya sudah terlambat,” ujarnya. 

Menurut informasi yang diperoleh, rumah sakit menangani penyakit yang berkaitan dengan gangguan kekebalan tubuh dengan menyuntikkan imunoglobulin dalam jumlah besar, yang secara umum dikenal sebagai “antibodi”. 

Sejumlah warganet mengungkapkan bahwa tidak sedikit pasien yang harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu yuan untuk pengobatan tersebut. Seorang warganet bahkan mengeluh, “Orang yang tidak punya uang bahkan tidak berhak untuk sakit.”

“Virus COVID-19 sedang merebak dan merenggut nyawa banyak orang. Kami benar-benar tidak berdaya. Kami juga sedang menutup-nutupi informasi. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah imunoglobulin dari tubuh kalian sendiri,” ujar Seorang pegawai Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok bermarga Li (nama samaran). 

“Setiap orang yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU) harus menggunakan imunoglobulin. Delapan botol setiap hari, dan biayanya tidak ditanggung asuransi. Semuanya bergantung pada apakah keluarga kalian punya uang atau tidak,” jelasnya. 

Laporan wawancara Xiong Bin dan Bai Ni, NTD.

INSPIRASI ERABARU

Nasib Dinasti Berutang Kesuksesannya pada Penghormatan Kaisar dan Persembahan Kurban kepada Langit

Di Tiongkok kuno, ritual persembahan kurban bukan sekadar upacara seremonial. Ritual tersebut berlandaskan sebuah prinsip yang dipetik Dinasti Zhou dari keruntuhan dua dinasti sebelumnya:...

Memahami Bersyukur: Menemukan Kembali Keindahan Hidup yang Penuh Apresiasi

Oleh Shoba RajamaniDi dunia yang semakin terhubung secara digital dan terus mendorong kita untuk meraih lebih banyak prestasi, memperoleh lebih banyak penghasilan, serta menjadi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine