Home Blog

33 Tahun Kemudian, Pembantaian di Lapangan Tiananmen Masih Penting bagi Dunia

Dorothy Li

Tanggal 3 Juni 1989, adalah malam berdarah bagi para pengunjuk rasa mahasiswa pro-demokrasi. Kala itu, tank-tank meluncur menuju ke Lapangan Tiananmen, Beijing untuk memusnahkan orang-orang dan apapun di jalanan. Gas air mata dan peluru tajam membanjiri alun-alun.

Para pengunjuk rasa yang panik menyandarkan tubuh-tubuh yang lemas ke sepeda, bus, dan ambulans untuk mengangkut mereka pergi. Ribuan pengunjuk rasa tak bersenjata diperkirakan tewas.

Pembunuhan massal tersebut mengejutkan dunia. Sebagai tanggapan, kala itu Presiden AS George H.W. Bush mengutuk pembantaian tersebut. Kemudian menangguhkan pengiriman senjata ke Tiongkok dan memberlakukan beberapa sanksi.

“Tapi mereka segera beralih,” kata Li Hengqing, mantan pemimpin mahasiswa 1989 yang sekarang tinggal di Washington. Li menunjukkan bahwa sebagian besar sanksi langsung dicabut dan hubungan ekonomi kembali dilanjutkan.

“Kebetulan saya percaya bahwa kontak komersial telah memimpin, pada esensinya adalah pencarian lebih banyak terhadap kebebasan ini,” kata Bush pada konferensi pers yang diadakan sehari setelah pembantaian Tiananmen. 

“Saya pikir karena orang memiliki insentif komersial, apakah itu di Tiongkok atau  sistem totaliter lainnya, langkah menuju demokrasi menjadi lebih tak terhindarkan,” katanya. 

Teori itu digambarkan  “sangat konyol,” kata Yuan Hongbing, seorang cendikiawan Tiongkok yang kemudian diskors dari tugasnya karena berpartisipasi dalam aksi protes Tiananmen. Ia mengatakan kebijakan keterlibatan Washington dengan Tiongkok menguntungkan PKT. Bahkan, membantu rezim komunis mengumpulkan kekuatan ekonomi selama tiga dekade. 

“[Respon] Barat menguatkan PKT,” kata Chen Weijian, seorang komentator Tiongkok yang meninggalkan daratan Tiongkok ke Selandia Baru dua tahun setelah tindakan keras Tiananmen.

Setelah 33 tahun, “pembangunan ekonomi tak mengarah ke Tiongkok yang bebas,” kata Chen, yang merupakan pendiri majalah pro-demokrasi Tiongkok dan diselidiki karena mendukung demonstrasi 1989. Sebaliknya, PKT berusaha menggunakan kekuatan ekonomi untuk “mengubah aturan komunitas internasional” dan mengekspor model kontrol penindasannya ke seluruh dunia.

Chen mengutip percakapan antara Xi Jinping dan Presiden AS Joe Biden.

Selama pidato baru-baru ini di kelas kelulusan Akademi Angkatan Laut, Biden mengatakan bahwa Xi mengatakan kepadanya bahwa demokrasi akan jatuh dan “otokrasi akan menjalankan dunia.”

“Ketika dia menelepon saya untuk memberi selamat kepada saya pada malam pemilihan, dia mengatakan kepada saya apa yang dia katakan berkali-kali sebelumnya,” kata Biden pada 27 Mei, merujuk pada Xi. 

“Dia berkata, ‘Demokrasi tidak dapat dipertahankan di abad ke-21. Otokrasi akan menjalankan dunia. Mengapa? Hal-hal berubah begitu cepat. Demokrasi membutuhkan konsensus, dan itu membutuhkan waktu, dan Anda tidak punya waktu.’

“Dia salah,” kata Biden.

Disensor di Tiongkok

Hong Kong, sebagai tempat terakhir untuk memperingati para korban pembantaian 1989 di pulau yang dikuasai PKT, melarang peringatan massal sejak tiga tahun lalu, dengan alasan pandemi, di tengah pengekangan kebebasan Hong Kong yang lebih luas di tangan rezim komunis.

Para pemimpin kelompok di balik acara nyala lilin tahunan  ditahan setelah didakwa melakukan subversi di bawah undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan PKT. Mereka termasuk di antara lebih dari 150 orang yang  didakwa atau dihukum berdasarkan Undang-Undang kejam yang telah digunakan untuk menghapus perbedaan pendapat di pusat demokrasi yang pernah berkembang pesat.

Pada peringatan tahun ini, puluhan polisi berpatroli di Victoria Park, tempat acara penyalaan lilin tahunan  yang pernah digelar sebelumnya.

Di daratan Tiongkok, aksi protes Lapangan Tiananmen, sebuah gerakan dipimpin oleh pemuda yang mengadvokasi reformasi demokrasi, masih merupakan topik yang tabu. Sampai hari ini, rezim partai komunis Tiongkok tidak akan mengungkapkan jumlah atau nama mereka yang terbunuh akibat kekejamannya. 

Rezim mencoba untuk menghapus semua kenangan pembantaian berdarah dengan menghapus setiap penyebutan peristiwa dari internet negara. Lebih parah lagi, kerap menekan para kerabat korban untuk memastikan agar mereka tetap bungkam. Akibatnya, generasi muda Tionghoa tidak menyadari apa yang terjadi pada malam itu.

Meskipun rezim terus menekan kenangan pada hari itu, Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan Amerika Serikat akan “terus berbicara dan mempromosikan akuntabilitas atas kekejaman rezim Tiongkok dan pelanggaran hak asasi manusianya termasuk yang terjadi di Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet.”

“Kepada rakyat Tiongkok dan mereka yang terus menentang ketidakadilan dan mencari kebebasan, kami tidak akan melupakan 4 Juni,” katanya dalam pernyataan 3 Juni.

Pandemi

Tahun ini, Lapangan Tiananmen dilockdown beberapa minggu sebelum 4 Juni, sebagai  langkah pencegahan pandemi di bawah kebijakan “nol-COVID” rezim. 

Pendekatan kejam, yang dimaksudkan untuk menghilangkan setiap kasus infeksi dalam komunitas dengan memberlakukan lockdown dan karantina wajib, menyebabkan terjadinya kekurangan makanan dan penundaan perawatan medis bagi jutaan orang yang dilockdown di seluruh Tiongkok. 

“[PKT] ingin mengendalikan virus melalui pendekatan yang tidak menghormati hak asasi manusia, yang sama seperti yang dilakukan pada 4 Juni,” kata Chen.

Bagi Chen, kasus Li Wenliang, seorang dokter yang termasuk orang pertama memperingatkan tentang wabah COVID-19 awal di Wuhan, adalah alarm bagi dunia tentang bagaimana penindasan PKT dapat mempengaruhi mereka. Dokter tersebut ditegur oleh polisi pada Januari 2020 ketika pihak berwenang meremehkan tingkat keparahan wabah. Li kemudian meninggal dunia karena virus.

Chen mengatakan pandemi saat ini akan berbeda jika rezim tidak menyensor whistleblower dan pihak lain yang mencoba membunyikan alarm. “Akhirnya dunia mulai memahami PKT sekarang.”

Luo Ya dan Eva Fu berkontribusi pada laporan ini.

2 Anjing dan Seekor Kucing Diselamatkan Setelah Bersatu di Jalanan

EtIndonesia. Kisah penyelamatan yang mengharukan seperti dalam film telah terungkap di Vermont, tempat tiga serangkai yang tak terpisahkan—sepasang anjing dan seekor kucing—telah menemukan jalan mereka dari jalanan menuju rumah yang penuh kasih sayang.

Central Vermont Humane Society membagikan kisah mengharukan tentang River, Rain, dan Reed, tiga hewan yang ditemukan berkeliaran di jalanan pada suatu malam, dan tidak pernah menjauh satu sama lain.

“Apakah Anda salah satu dari banyak orang yang menyukai film Homeward Bound? Temui tiga serangkai kecil kami yang bahagia yang mengingatkan kita pada kisah tentang ketahanan dan komitmen terhadap teman,” kata penampungan itu di media sosial.

Setelah diselamatkan, penampungan itu segera menyadari bahwa ketiganya tidak menerima perawatan yang layak selama beberapa waktu. Dengan cinta dan perhatian medis, River dan Rain, dua anjing itu, mulai berkembang pesat. Reed, si kucing, tetap menjaga jarak—sampai penampungan itu mempertemukannya kembali dengan teman-teman anjingnya.

“Sementara River dan Rain keluar dari cangkangnya dengan cepat, Reed si kucing tetap pemalu, dan tidak ingin berinteraksi dengan kami atau kucing lainnya,” tulis penampungan tersebut. “Sampai…kami membawa River dan Rain ke kamar koloninya untuk berkunjung, dan dia berseri-seri seperti anak laki-laki yang gembira!! Ketiganya saling memijat kepala, mengusap moncong, mendengkur, dan berpelukan!!”

Permohonan penampungan tersebut agar ada keluarga yang bersedia mengadopsi ketiganya menyentuh hati banyak orang. Tidak lama setelah penampungan tersebut membagikan kisah ketiganya di media sosial, sepasang suami istri menghubungi Central Vermont Humane Society, yang ingin mengadopsi ketiga hewan tersebut.

“Ketiganya telah bertemu dengan pasangan yang sangat istimewa, dan hari ini mereka akan memulai uji coba pengasuhan-untuk-adopsi di rumah!” penampungan tersebut berbagi dalam sebuah pembaruan. “Penting bagi semua orang agar jiwa-jiwa yang manis ini berada di lingkungan terbaik untuk kebutuhan mereka, jadi kami akan memberinya sedikit waktu untuk memastikan bahwa mereka telah menemukan kebahagiaan mereka, dan kemudian kami akan merayakannya dengan kalian semua!! Nantikan!!”(yn)

Sumber: sunnyskyz

Bagaimana Tarif ‘Liberation Day’ Trump Akan Membentuk Kembali Perdagangan Global

Presiden Trump akan mengungkapkan rincian yang telah lama dinantikan dari rencana tarifnya dalam sebuah acara di Rose Garden Gedung Putih, yang dijadwalkan berlangsung setelah pasar saham tutup.

EtIndonesia.  WASHINGTON—Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengumumkan penerapan tarif timbal balik untuk semua negara mulai 2 April 2025, tanggal yang ia sebut sebagai  ‘Liberation Day’. 

Perusahaan, pasar, dan pemerintah berada dalam ketegangan, mengantisipasi langkah ini yang diperkirakan akan mengguncang ekonomi global.

“Hari Pembebasan akan berdampak pada semua negara,” kata Trump kepada wartawan selama akhir pekan di dalam Air Force One. Namun, beberapa negara akan lebih rentan karena memiliki ketidakseimbangan perdagangan yang tinggi dengan Amerika Serikat serta hambatan perdagangan yang signifikan terhadap barang-barang Amerika, termasuk Tiongkok, India, Uni Eropa, Kanada, Meksiko, Inggris, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan.

Presiden akan mengungkapkan rincian rencana tarifnya dalam acara di Rose Garden Gedung Putih pada Rabu sore setelah pasar saham tutup.

Berbicara kepada wartawan dari Ruang Oval pada 31 Maret, Trump menyatakan bahwa tarifnya akan lebih rendah—dan dalam beberapa kasus, “jauh lebih rendah”—dibandingkan dengan tarif yang dikenakan negara lain terhadap Amerika Serikat.

“Kami akan sangat baik dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan,” kata presiden. “Mungkin kami punya kewajiban terhadap dunia, tapi kami akan bersikap sangat baik, secara relatif. Kami akan sangat baik hati.”

Pada 13 Februari, presiden mengungkapkan konsep ini, menggambarkannya sebagai rencana perdagangan yang “adil dan timbal balik” dengan menaikkan tarif AS agar setara dengan tarif yang dikenakan negara lain terhadap produk Amerika.

Dia menginstruksikan timnya untuk menilai dan merekomendasikan tarif bagi negara-negara yang memberlakukan hambatan perdagangan signifikan terhadap produk AS, termasuk tarif, pajak pertambahan nilai, dan pembatasan non-tarif lainnya. Penilaian ini juga akan mempertimbangkan kebijakan nilai tukar negara mitra dagang Amerika.

Kebijakan tarif Trump diperkirakan akan berdampak lebih luas pada produk, industri, dan negara dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Menurut perkiraan perusahaan konsultan PwC, langkah ini dapat meningkatkan pendapatan tarif AS dari $76 miliar per tahun menjadi hampir $697 miliar.

Salah satu tujuan utama di balik kebijakan tarif ini adalah membalikkan defisit perdagangan Amerika yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Amerika Serikat telah mencatat defisit perdagangan setiap tahun sejak 1976. Tahun lalu, kesenjangan perdagangan barang dan jasa AS melampaui $918 miliar—naik 17 persen dari tahun 2023.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap tren ini selama beberapa dekade. Misalnya, tingkat tabungan nasional yang rendah menyebabkan ketergantungan yang lebih besar pada modal asing untuk mendanai investasi. Keunggulan komparatif pasar luar negeri, terutama dalam bentuk biaya tenaga kerja yang lebih rendah, juga telah menyebabkan impor yang lebih murah untuk memenuhi konsumsi domestik yang tinggi.

Pejabat Gedung Putih, termasuk Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, percaya bahwa tarif dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi defisit perdagangan yang terus berlangsung.

“Salah satu pertanyaannya adalah seberapa besar defisit perdagangan yang kita inginkan, karena defisit perdagangan sebagian besar mewakili pekerjaan manufaktur yang telah berpindah ke luar negeri,” kata Greer kepada Komite Keuangan Senat pada Februari.

Dia juga mencatat bahwa ketidakseimbangan perdagangan yang semakin memburuk dengan negara-negara tertentu adalah “masalah besar.”

Pada tahun 2024, Tiongkok menempati peringkat pertama dengan defisit perdagangan AS mencapai $295 miliar, diikuti oleh Uni Eropa ($236 miliar), Meksiko ($172 miliar), Vietnam ($124 miliar), Taiwan ($74 miliar), dan Jepang ($69 miliar).

Para ekonom berpendapat bahwa perubahan kebijakan perdagangan yang luas dari pemerintahan ini akan berdampak besar pada industri yang selama ini menikmati tarif rendah atau nol. Akibatnya, industri-industri tersebut harus mengevaluasi kembali biaya dan manfaat—seperti logistik, tarif pajak, dan tarif impor—untuk memindahkan produksi ke Amerika Serikat.

Tahun lalu, negara yang paling banyak mengekspor ke AS adalah Meksiko, Tiongkok, Kanada, Jerman, dan Jepang.

Sektor yang Paling Terpengaruh oleh Tarif Baru

Kenaikan tarif akan berdampak pada berbagai sektor dan negara.

Industri manufaktur otomotif di Kanada, Jerman, Jepang, dan Meksiko diperkirakan akan terkena dampak paling besar. Industri otomotif harus menghadapi potensi gangguan akibat tarif timbal balik dan tarif impor yang lebih tinggi dari Trump terhadap baja, aluminium, kendaraan asing, dan suku cadang mobil.

Sektor minyak dan gas Kanada juga diperkirakan akan terpukul keras. Amerika Serikat mengimpor lebih dari 4 juta barel minyak mentah per hari—jumlah yang meningkat drastis dibandingkan 15 tahun lalu.

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump telah memberlakukan tarif terhadap Tiongkok atas kegagalannya menangani perannya dalam penyelundupan fentanyl ilegal ke Amerika Serikat. Sekarang, dengan diperkenalkannya tarif timbal balik, Tiongkok bisa menghadapi gangguan besar dalam ekspor teknologi ponsel pintar dan baterai lithium-ion, dua produk yang paling banyak dikirim ke Amerika Serikat.

Industri lain yang menghadapi dampak signifikan termasuk obat-obatan penting dan peralatan kesehatan, yang sebagian besar berasal dari India, Irlandia, dan Swiss.

Dampak pada Uni Eropa dan Pasar Negara Berkembang

Uni Eropa dan pasar negara berkembang bisa terkena dampak dari tarif timbal balik, kata Mary Park Durham, analis riset di JPMorgan Chase.

Pertama, Uni Eropa menyumbang sekitar seperlima dari total impor AS dan mencatat surplus perdagangan.

“Meskipun AS dan UE memiliki tarif rata-rata yang hampir sama, masing-masing 3,4% dan 4,1% untuk impor satu sama lain, perbedaan muncul pada tingkat produk tertentu,” katanya dalam sebuah catatan.

Pemerintah AS sudah  menyoroti pajak pertambahan nilai (VAT) Uni Eropa, yang dianggap sebagai bentuk tarif terselubung. VAT adalah pajak konsumsi yang dibebankan pada produsen di setiap tahap rantai pasokan dan konsumen di titik penjualan. Tarif rata-rata VAT di Uni Eropa adalah 20 persen, jauh lebih tinggi dari pajak penjualan rata-rata di AS yang hanya 6,6 persen.

Meskipun Laporan Perkiraan Perdagangan Nasional 2025 dari Perwakilan Dagang AS tidak secara khusus menyebutkan VAT Uni Eropa, pejabat Gedung Putih mengkritik kebijakan ini sebagai “pukulan ganda.”

“Tidak heran Jerman menjual delapan kali lebih banyak mobil kepada kami dibandingkan yang kami jual ke mereka, dan Presiden Trump tidak akan mentoleransi itu lagi,” kata seorang pejabat kepada wartawan pada Februari.

Kedua, pasar negara berkembang seperti Brasil dan India menerapkan tarif rata-rata yang tinggi pada semua impor. Negara-negara ini umumnya memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi untuk melindungi industri domestik yang rentan dari persaingan asing.

“Perbedaan tarif antara pasar negara berkembang dan AS dalam perdagangan bilateral cenderung lebih besar dibandingkan dengan pasar negara maju,” kata Brian Coulton, kepala ekonom di Fitch Ratings, dalam sebuah laporan.

Brasil dan India menjadi sorotan sebagai contoh praktik perdagangan yang tidak adil dalam lembar fakta Gedung Putih.

Brasil mengenakan pajak 18 persen pada ekspor etanol AS, sementara AS hanya mengenakan tarif 2,5 persen untuk etanol Brasil. “Akibatnya, pada 2024, AS mengimpor lebih dari $200 juta etanol dari Brasil, sementara hanya mengekspor $52 juta ke Brasil,” menurut dokumen tersebut.

Sementara itu, India menerapkan tarif 100 persen pada sepeda motor AS, sedangkan AS hanya mengenakan pajak 2,4 persen pada sepeda motor India, menurut Gedung Putih.

Negara yang Memberikan Konsesi

Sebuah laporan dari Bank of America menunjukkan bahwa Amerika Serikat memiliki hambatan perdagangan terendah di antara negara-negara G20, kelompok ekonomi terbesar dunia.

“Kami telah dieksploitasi selama 40 tahun, mungkin lebih, dan itu tidak akan terjadi lagi,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One pada 28 Maret.

Namun, ia mengatakan banyak negara bersedia memberikan konsesi dan tidak menutup kemungkinan untuk membuat kesepakatan dengan mereka.

“Itu mungkin, jika kami bisa mendapatkan sesuatu dari kesepakatan itu,” kata Trump. “Saya tentu saja terbuka untuk itu.”

Beberapa negara sudah mulai menawarkan konsesi. Pada 1 April, Israel mengumumkan akan menghapus semua tarif yang tersisa pada produk Amerika.

Sebelum meluncurkan tarif timbal balik yang telah lama dinanti, Trump telah mengancam akan memberlakukan bea masuk terhadap sekutu maupun musuh.

Selama kampanye dan tak lama setelah memenangkan pemilihan, presiden menyatakan bahwa ia akan mengenakan tarif 100 persen pada negara-negara yang terlibat dalam aktivitas anti-dolar.

Ia juga mengancam akan memberlakukan tarif 25 persen pada produk pertanian Kolombia akibat perselisihan singkat dengan Presiden Gustavo Petro, yang menolak menerima warganya yang dideportasi dari Amerika Serikat. Trump membatalkan tarif setelah Petro setuju menerima kembali warganya.

Setelah Perdana Menteri Ontario Doug Ford mengancam akan memutus pasokan listrik dari provinsi Kanada itu ke beberapa negara bagian AS, Trump menyatakan akan menggandakan tarif terhadap Kanada. Namun, ia membatalkan keputusan itu setelah Ford mengonfirmasi tidak akan menghentikan pasokan listrik atau menambahkan pajak pada ekspor listrik.

Tarif Baru yang Akan Diumumkan

Trump baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia berencana mengumumkan tarif pada kayu, obat-obatan, dan semikonduktor.

Beberapa hari setelah menerapkan tarif 25 persen pada mobil dan truk ringan yang diproduksi di luar AS, presiden menyatakan bahwa ia tidak peduli jika produsen mobil menaikkan harga kendaraan bagi konsumen Amerika.

Jika harga mobil asing meningkat, pelanggan akan beralih membeli kendaraan buatan Amerika, katanya.

“Saya tidak peduli. Saya berharap mereka menaikkan harga karena jika itu terjadi, orang-orang akan membeli mobil buatan Amerika. Kami punya banyak,” kata Trump dalam wawancara dengan Kristen Welker dari NBC.

Ia menambahkan bahwa harga yang lebih tinggi akan menguntungkan produsen berbasis di AS.

“Jika Anda membuat mobil di Amerika Serikat, Anda akan menghasilkan banyak uang,” kata presiden. “Jika tidak, Anda mungkin harus pindah ke AS, karena jika Anda membuat mobil di sini, tidak ada tarif.”

Tarif otomotif ini dijadwalkan berlaku mulai 3 April dan akan bersifat permanen.

Tim di Balik Kebijakan Tarif Trump

Beberapa tokoh kunci telah berperan dalam merancang kebijakan tarif presiden.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kepada wartawan pada 31 Maret bahwa Wakil Presiden JD Vance  “sangat terlibat” dalam diskusi perdagangan.

Menteri Keuangan Scott Bessent, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, ekonom Gedung Putih Kevin Hassett, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, serta penasihat senior untuk perdagangan dan manufaktur Peter Navarro, semuanya berkontribusi dalam membentuk kebijakan tarif ini.

“Semua individu ini telah menyusun rencana untuk presiden tentang bagaimana mewujudkannya, dan keputusan akhirnya ada di tangan presiden,” kata Leavitt.

Tarif Memicu Volatilitas Pasar

Pasar keuangan telah menghapus nilai triliunan dolar dalam beberapa minggu terakhir. Investor khawatir bahwa tarif akan menghidupkan kembali inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi—survei menunjukkan bahwa Amerika Serikat bisa jatuh ke dalam resesi.

Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 5 persen pada bulan Maret. Indeks Dow Jones Industrial Average, yang berisi saham unggulan, turun sekitar 1 persen bulan lalu. Sementara itu, indeks S&P 500 yang lebih luas berkurang 3 persen untuk menutup kuartal pertama.

Harga emas terus meningkat sejak tahun lalu, mencapai rekor tertinggi $3.100 per ons. Logam mulia ini naik 19 persen pada kuartal pertama, didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah gejolak pasar.

Imbal hasil (yield) obligasi AS telah anjlok sejak mencapai puncaknya pada pertengahan Januari karena para pedagang mulai fokus pada prospek jangka panjang ekonomi.

Imbal hasil obligasi acuan 10 tahun turun sekitar 65 basis poin menjadi di bawah 4,16 persen.

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, telah melemah 4 persen sepanjang tahun ini. Tarif dan perubahan struktural telah menjadi faktor utama di balik pelemahan tersebut.

Ketidakpastian telah menjadi faktor utama di balik volatilitas besar-besaran di pasar. Namun, tanggal 2 April diperkirakan akan memberikan kejelasan bagi investor, menurut Jeffrey Buchbinder, kepala strategi ekuitas di LPL Financial.

“2 April adalah hari besar bagi pasar saham,” kata Buchbinder dalam sebuah catatan yang dikirim melalui email ke The Epoch Times

“Masih akan ada ketidakpastian dalam kebijakan perdagangan setelah tanggal tersebut, tetapi pemerintahan Trump diperkirakan akan menjawab beberapa pertanyaan terbesar yang saat ini mengkhawatirkan investor,” tambahnya. (***)

Sumber : Theepochtimes.com

Militer PKT Kembali Gelar Latihan di Sekitar Taiwan, Taiwan Bersiap Hingga AS Mengecam

Pada 1 April, Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara sepihak mengumumkan latihan militer gabungan di sekitar Taiwan. Militer Taiwan segera meningkatkan kewaspadaan, sementara Amerika Serikat mengecam intimidasi militer yang dilakukan oleh PKT

EtIndonesia. Pada Selasa (1 April), militer PKT menggelar latihan berskala besar di perairan sekitar Taiwan. Sebagai tanggapan, Taiwan segera mengambil langkah-langkah pertahanan dengan mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, serta sistem rudal pertahanan pantai untuk memantau dan menghadapi situasi dengan ketat.


“Kementerian Pertahanan dan semua unit terkait segera membentuk pusat tanggap darurat gabungan,” ujar Mayor Jenderal Dong Jixing, Direktur Departemen Perencanaan Operasi Gabungan, Kementerian Pertahanan Taiwan. 

Pada 1 April, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengecam ancaman dan tekanan militer yang dilakukan PKT terhadap Taiwan, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak memiliki justifikasi yang sah. AS juga menyatakan bahwa mereka terus memantau secara ketat pergerakan militer PKT.


“Presiden menegaskan pentingnya menjaga perdamaian di Selat Taiwan dan mendorong penyelesaian isu lintas selat secara damai. Kami menentang segala upaya untuk secara sepihak mengubah status quo dengan kekuatan atau paksaan,” ujar Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt. 

Hingga Selasa sore waktu setempat, Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa mereka telah mendeteksi 71 pesawat tempur, 21 kapal perang, dan 4 kapal penjaga pantai milik PKT yang melakukan latihan di sekitar Selat Taiwan dan Pasifik Barat. Kapal induk Shandong terpantau berada sekitar 220 mil laut tenggara Taiwan. Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Taiwan segera melakukan latihan kesiapan tempur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan dari militer PKT.


“Tindakan seperti ini dari PKT jelas menunjukkan bahwa mereka adalah pengganggu utama dalam perdamaian dan stabilitas kawasan,” kata Menteri Pertahanan Taiwan, Koo Li-hsiung. 

Sementara itu, menjelang latihan militer PKT, Penjaga Pantai Taiwan menemukan seorang pria asal Tiongkok yang mencoba menyusup ke wilayah Taiwan melalui perairan Kinmen. Pria tersebut telah diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut, meskipun belum jelas apakah insiden ini terkait dengan latihan militer PKT. (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

Terbesar Sejak 2011! Langkah Besar Putin Tampar Keras Trump

EtIndonesia. Meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah berupaya mendorong kesepakatan gencatan senjata, dan pihak Ukraina juga telah menunjukkan niat baik untuk bekerja sama, Presiden Rusia, Vladimir Putin justru terus memperbesar skala militer Rusia. Tampaknya, tidak ada tanda-tanda bahwa dia ingin segera mengakhiri perang. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah wajib militer Rusia musim semi tahun ini mencapai 160.000 orang — jumlah terbesar sejak tahun 2011. Selain itu, total personel militer Rusia telah meningkat sebanyak 180.000 dalam tiga tahun terakhir.

Menurut laporan BBC, setelah Putin tahun lalu menyatakan niatnya untuk terus memperluas militer Rusia, otoritas Moskow langsung merekrut 160.000 pria berusia 18 hingga 30 tahun pada musim semi ini. Ini merupakan jumlah wajib militer terbesar sejak tahun 2011. Dengan langkah ini, jumlah total personel militer Rusia terus mendekati target Putin, yaitu 2,39 juta personel, termasuk 1,5 juta tentara aktif. Selama tiga tahun berturut-turut, jumlah personel militer Rusia terus meningkat.

Meskipun Wakil Laksamana Vladimir Tsimlyansky, Kepala Kantor Wajib Militer Rusia, menyatakan bahwa para wajib militer baru tahun ini tidak akan dikirim ke garis depan perang Rusia-Ukraina, kenyataannya menunjukkan hal berbeda. Pada bulan-bulan awal pecahnya perang, banyak tentara Rusia yang baru direkrut langsung tewas di medan pertempuran, bahkan di wilayah perbatasan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa perekrutan musim semi akan berlangsung mulai April hingga Juli. Dari sini terlihat bahwa Putin tampaknya tidak memiliki rencana untuk mengakhiri perang dalam waktu dekat. 

Berdasarkan perkiraan BBC dan media independen Rusia, Mediazona, sejak perang dimulai, jumlah tentara Rusia yang tewas diperkirakan telah mencapai sedikitnya 100.000 orang. Karena itu, Rusia harus terus merekrut tentara secara musiman (musim semi dan gugur), memperluas rekrutmen tentara sukarela, bahkan mengandalkan militer reguler Korea Utara untuk menutup kekurangan pasukan. Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya bisa dua kali lipat dari angka resmi.

Sejak perang dimulai pada 2022, Putin telah tiga kali memperluas jumlah personel militer Rusia. Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa operasi militer di Ukraina dan ekspansi berkelanjutan NATO dianggap sebagai ancaman keamanan yang serius bagi Rusia. Oleh karena itu, perluasan kekuatan militer dianggap penting untuk menghadapi ancaman eksternal. (jhn/yn)

Ramalan Gempa Besar Benar-Benar Terjadi! Peramal Thailand Buktikan Prediksi 2024-nya


EtIndonesia. Ramalan dan astrologi selalu menjadi topik yang menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia. Baik itu astrologi Barat, Empat Pilar Takdir, juga dikenal sebagai “Ba-Zi”, yang berarti “delapan karakter” atau “delapan kata” dalam bahasa Mandarin (Tiongkok), maupun fengshui dan ramalan yang populer di Asia Selatan—setiap budaya punya caranya sendiri untuk menjelajahi hal-hal yang belum diketahui. 

Pada 28 Maret 2025, gempa bumi kuat mengguncang Myanmar, dan bahkan Thailand sebagai negara tetangga turut merasakan getarannya, termasuk hingga ke Bangkok. Setelah kejadian itu, media sosial dipenuhi cuplikan video dari seorang peramal asal Thailand bernama Mor Plai, yang sebelumnya telah memprediksi bencana tersebut.

Ramalan Mor Plai tentang Masa Depan

Mor Plai sudah menyebutkan dalam sebuah acara televisi Golfbenjaphon pada tanggal 24 Desember 2024 bahwa akan ada gempa bumi besar yang terjadi di paruh pertama tahun 2025. Dalam cuplikan video menit ke-48:14, dia menyebutkan bahwa gempa tersebut bisa berdampak ke Bangkok dan menyebabkan runtuhnya beberapa bangunan. Waktu itu, banyak orang merasa skeptis terhadap prediksinya, bahkan pembawa acara pun terkejut dan berkata: “Masa sih?” Karena memang, Thailand bukanlah negara yang dikenal sering mengalami gempa bumi.

Mor Plai juga menyebutkan bahwa gempa kemungkinan besar akan terjadi antara bulan Maret dan April, dan akan menimbulkan banyak masalah pada struktur bangunan seperti tanah, pusat perbelanjaan, hotel, dan gedung-gedung lainnya. 

Dia berkata: “Setelah gempa susulan, banyak tempat tak layak huni, masyarakat akan menggugat pengembang properti. Rumah semahal apa pun bisa bermasalah, semua bangunan perlu diperiksa kembali.” 

Saat itu, wawancara ini tidak terlalu menarik perhatian dan banyak yang menganggapnya sebagai omong kosong. Namun ketika gempa benar-benar terjadi pada 28 Maret dan getarannya terasa hingga Bangkok, banyak netizen yang kaget saat menonton ulang video tersebut dan menyadari bahwa prediksi Mor Plai ternyata sangat tepat. 

Kini, beberapa pusat perbelanjaan dan gedung tinggi di Bangkok ditutup sementara karena alasan keamanan, dan banyak pemilik bangunan mulai mempertanyakan ketahanan struktur bangunan mereka serta menuntut pertanggungjawaban pengembang properti. Semua terjadi persis seperti yang Mor Plai katakan.

Fenomena Ini Picu Kembali Diskusi tentang “Ramalan Masa Depan”

Gempa bumi ini membuat banyak orang kembali mempertimbangkan kemungkinan apakah masa depan memang bisa diramalkan. Para ilmuwan menegaskan bahwa risiko gempa di kawasan Asia Tenggara tidak bisa dianggap remeh, terutama di wilayah yang berbatasan dengan Myanmar, yang harus lebih serius dalam melakukan pemantauan serta membangun struktur bangunan tahan gempa.

Menurut para ahli geologi, gempa yang berdampak hingga Bangkok berasal dari Patahan Sagaing (Sagaing Fault), yang membentang sepanjang 1.200 kilometer di Myanmar, dan merupakan salah satu patahan paling aktif di Asia Tenggara. Karena pergerakan lempeng bumi, tekanan di sekitar patahan ini bisa menumpuk dan saat dilepaskan akan memicu gempa. Namun, waktu pasti terjadinya gempa masih sangat sulit untuk diprediksi. Meskipun para ilmuwan bisa memantau aktivitas seismik, teknologi saat ini belum mampu meramalkan secara akurat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.

Ramalan dari Peramal Thailand Lain

Peramal Thailand lainnya, Ajarn Sorajja Nuanyu, menggunakan metode astrologi tradisional Thailand dan fengshui dalam ramalannya. Dia menyebutkan bahwa tahun 2024 hingga 2025 merupakan periode yang penuh tantangan, bukan hanya karena bencana alam tetapi juga karena potensi munculnya penyakit mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dia juga menekankan, “68-69-70 sangat berat.” Namun, makna dari angka-angka tersebut masih menjadi teka-teki hingga kini.

Beberapa orang percaya bahwa ilmu ramalan mungkin memiliki cara memahami hukum alam yang belum bisa dijelaskan oleh sains. Dalam sejarah Tiongkok kuno, ada banyak catatan yang menunjukkan hubungan antara fenomena alam yang aneh dan bencana. Beberapa catatan bahkan mencatat tanda-tanda sebelum terjadinya gempa besar, seperti terlihatnya bintang Venus di siang hari, langit tertutup kabut dan awan, hujan deras berkepanjangan, kekeringan tak wajar, hingga perubahan musim yang aneh. Bahkan, banyak laporan sejarah menyebut bahwa hewan menunjukkan perilaku aneh sebelum gempa. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mungkinkah ilmu ramalan tradisional benar-benar bisa membaca tanda-tanda alam dan memprediksi masa depan?(jhn/yn)

Wanita Memanggil Tukang Kunci untuk Pintu Kamar Mandinya yang Tak Bisa Dibuka, Anak 10 Tahun Menyelesaikannya dalam Sekejap

0

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang wanita di Hebei mengalami masalah dengan kunci pintu kamar mandinya yang tidak bisa dibuka. Ia pun menelepon tukang kunci untuk meminta bantuan. Namun, yang datang bukanlah seorang tukang kunci dewasa, melainkan seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun. Anak tersebut mengaku memiliki keterampilan membuka kunci yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya. Ia berhasil membuka kunci hanya dalam satu detik, membuat wanita itu terkejut. Video kejadian ini pun viral di internet.

Dalam video yang beredar di internet, pada 31 Maret, seorang wanita di Hebei mengalami kerusakan pada kunci pintu kamar mandinya sehingga tidak bisa dibuka. Karena tidak ada pilihan lain, ia pun menelepon tukang kunci untuk meminta bantuan.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. Saat wanita itu membukanya, ia terkejut mendapati bahwa yang datang adalah seorang bocah laki-laki.

 Wanita itu bertanya: “Ada perlu apa, Nak?”

Bocah itu menjawab: “Saya datang untuk membuka kunci.”

Wanita itu terkejut: “Hah? Tapi saya memanggil tukang kunci!”

Bocah itu menjawab: “Saya mewarisi keterampilan ini dari keluarga saya. Ayah saya sedang keluar minum.”

Wanita itu bertanya lagi: “Kamu bisa membukanya?”

Bocah itu dengan yakin menjawab: “Bisa.”

Wanita itu lalu mengantarnya ke kamar mandi dan menunjukkan kunci yang bermasalah. Bocah itu pun langsung mengambil alat khusus untuk mulai bekerja.

Wanita itu bertanya dengan penasaran: “Kamu umur berapa, Nak?”

Bocah itu menjawab: “Saya 10 tahun. Sudah selesai, kuncinya sudah terbuka.”

Ternyata, bocah itu hanya butuh satu detik untuk membuka kunci pintu.

Wanita itu sangat terkejut: “Wah, benar-benar keterampilan turun-temurun! Hebat sekali! Terima kasih ya, Nak. Berapa bayarannya?”

Bocah itu dengan malu-malu menjawab: “Kalau ayah saya yang membuka, biayanya 100 yuan. Kalau saya yang membuka, setengah harga saja.”

Wanita itu tertawa: “Baiklah, kamu hebat sekali. Lain kali kalau ada masalah, aku akan panggil kamu lagi.”

Video bocah 10 tahun yang bisa membuka kunci dalam sekejap ini langsung menjadi viral dan mengundang banyak komentar dari netizen:

  • “Usia 10 tahun sudah mulai cari nafkah untuk keluarga.”
  • “Ini bisnis sampingan yang diambil alih si bocah untuk uang jajan!”
  • “Wah, dia cari uang tambahan tapi malah jadi viral di internet.”
  • “Anak ini menawarkan setengah harga, ayahnya bisa kehilangan pekerjaan!”

Selain itu, video serupa dari Shandong, Yantai juga beredar di internet. Dalam video tersebut, seorang bocah perempuan berusia 4 tahun terlihat mengikuti ayahnya dan belajar membuka kunci. Ia bahkan memiliki alat khususnya sendiri dan sering membantu warga di kompleks perumahan dengan biaya setengah harga. Kadang-kadang, ia hanya meminta dua permen lolipop sebagai bayaran.

Netizen pun ramai berkomentar:

  • “Tukang kunci sekecil ini setidaknya harus diberi susu botol!”
  • “Serius, umur 4 tahun sudah banting harga jadi 50%? Gimana nasib kami?”

Sumber : NTDTV.com

Korban Kecelakaan Xiaomi SU7 Terbakar Hingga Menjadi Abu, Publik Meragukan Pernyataan Xiaomi

0

Pada 29 Maret 2025, sebuah mobil listrik Xiaomi SU7 terbakar hebat di jalan tol di Tiongkok, menyebabkan tiga orang tewas. Keluarga korban menyatakan bahwa jasad putri mereka hangus terbakar hingga hanya tersisa kerangka. Tiga hari setelah kejadian, Xiaomi merilis pernyataan resmi terkait kecelakaan tersebut, tetapi mendapat banyak kritik dari publik.

EtIndonesia. Pada 29 Maret, sebuah Xiaomi SU7 versi standar mengalami kecelakaan serius di ruas jalan tol De-Shang di Anhui, yang mengakibatkan tiga korban jiwa.

Pada 1 April, menurut laporan Southern Metropolis Daily, ayah salah satu korban, Tuan Luo, mengungkapkan bahwa putrinya dan temannya tewas terbakar hidup-hidup, sementara satu korban lainnya sempat dilarikan ke rumah sakit tetapi tidak selamat.

Dengan penuh kesedihan, Luo berkata bahwa ketika ia pergi ke rumah duka untuk tes DNA, ia mendapati jasad putrinya sudah terbakar hingga karbonisasi, “Kamu tahu apa itu karbonisasi? Itu berarti hanya tersisa kerangka tulang.”

Luo juga menyebut bahwa keluarga dari ketiga korban telah berkumpul bersama, sementara pemerintah Kota Tongling telah membentuk tim investigasi khusus. Namun, ia mengungkapkan bahwa Xiaomi belum pernah menghubungi mereka.

“Xiaomi mengatakan telah membentuk tim kerja untuk menangani insiden ini, tetapi sampai sekarang, mereka tidak pernah berkomunikasi dengan kami. Mereka hanya diam dan tidak ada perkembangan sama sekali,” katanya.

Selain itu, setelah kecelakaan terjadi, pada 30 dan 31 Maret, semua video dan informasi terkait insiden ini dihapus dari platform Douyin dan Weibo di Tiongkok. 

Menurut tangkapan layar yang beredar di internet, seorang wartawan Hubei Daily mengungkap bahwa media di bawah pemerintah telah menerima instruksi dari atasan untuk tidak melaporkan kecelakaan ini.

Pada 1 April siang, akun resmi Xiaomi di Weibo mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa mobil tersebut sedang menggunakan fitur NOA (Navigasi dengan Bantuan Otonom) dengan kecepatan 116 km/jam sebelum beralih ke mode manual. Dua detik setelahnya, mobil menabrak pembatas beton dengan kecepatan 97 km/jam dan terbakar.

Namun, pernyataan tersebut justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan kritik dari publik, yang menilai Xiaomi “menghindari inti permasalahan.” Beberapa poin utama yang dipertanyakan adalah:

  1. Apakah pintu mobil otomatis terkunci setelah kecelakaan?
    • Keluarga korban menulis di media sosial: “Setelah menabrak pembatas, mobil langsung terbakar hebat. Pintu mobil terkunci secara otomatis. Anak-anak saya terbakar hidup-hidup di dalamnya.”
    • Xiaomi sama sekali tidak menyebutkan dalam pernyataannya apakah pintu mobil terkunci atau tidak setelah tabrakan.
  2. Mengapa sistem AEB (Autonomous Emergency Braking) tidak berfungsi?
    • Xiaomi sebelumnya mengklaim bahwa mobil pintar mereka memiliki fitur AEB, yang seharusnya secara otomatis mengerem ketika mendeteksi adanya hambatan di depan. Namun, dalam pernyataan resmi, Xiaomi tidak menjelaskan apakah fitur ini berfungsi atau tidak saat kecelakaan terjadi.
  3. Mengapa Xiaomi tidak mengungkapkan jumlah korban jiwa dalam pernyataan mereka?
    • Meskipun Xiaomi mengaku “sangat berduka atas kecelakaan ini,” mereka tidak memberikan rincian mengenai korban jiwa.

Pihak Xiaomi juga mengatakan bahwa mereka akan “menghubungi keluarga korban secepat mungkin, membantu menangani dampak insiden, serta memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan.” Namun, pada sore harinya, ibu salah satu korban membantah klaim ini di media sosial:

“Sejak kejadian ini terjadi, tidak satu pun orang dari Xiaomi yang menghubungi saya. Tidak ada satu pun telepon dari mereka.”

Dalam wawancara dengan The Paper, ibu korban juga mengungkapkan bahwa pernyataan Xiaomi tidak menjelaskan mengapa pintu mobil tidak bisa dibuka, apa yang menyebabkan mobil terbakar setelah menabrak pembatas, serta mengapa transisi dari mode otomatis ke manual hanya berlangsung selama dua detik.

“Saya hanya ingin mengetahui kebenaran sesegera mungkin,” katanya.

Seorang netizen menulis: “Xiaomi hanya mengeluarkan pernyataan ini karena tekanan publik yang semakin besar. Ini bukan kepedulian, ini hanya cara untuk menenangkan opini publik.” (Hui)

Mahasiswa Tiongkok : PKT Tidak Sama dengan Tiongkok, Menyerukan untuk Keluar dari Partai Komunis Tiongkok

0

Baru-baru ini, seorang mahasiswa asal Tiongkok bernama Ze Guo mengatakan dalam sebuah wawancara dengan wartawan NTD  bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak sama dengan Tiongkok, dan ia menyerukan kepada masyarakat Tiongkok untuk segera menjauh dari PKT.

EtIndonesia. Ze Guo, seorang mahasiswa asal Shandong, Tiongkok, mengatakan bahwa dibandingkan dengan sejarah panjang budaya Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok baru berdiri lebih dari seratus tahun. Namun, banyak orang masih bingung membedakan antara PKT dan Tiongkok.


“Tiongkok memiliki banyak budaya dan tradisi yang luar biasa, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kebrutalan dan otoritarianisme Partai Komunis Tiongkok. Namun, PKT secara paksa menghubungkan budaya Tiongkok dengan partai mereka, serta mencuci otak anak-anak sejak taman kanak-kanak melalui sistem pendidikan,” ujarnya. 

Ia menyatakan bahwa sejarah Partai Komunis Tiongkok adalah sejarah penuh pembunuhan dan bahwa PKT adalah organisasi jahat yang mempertahankan kekuasaannya melalui kekerasan dan kebohongan.


“PKT adalah organisasi yang sangat munafik, otoriter, dan tirani. Dalam arti yang lebih dalam, ia lebih mirip dengan organisasi teroris,” ujarnya. 

Menurutnya, di bawah kekuasaan PKT, anak-anak di Tiongkok sejak kecil sudah dicekoki ajaran tentang perlawanan dan kebencian.


“Sejak sekolah dasar, semua anak diharuskan mengenakan syal merah dan mengikuti upacara pengibaran bendera. Semua orang mengalami proses pencucian otak oleh PKT. Namun, sejak usia belasan tahun, saya mulai sadar dan tidak ingin mengikuti mereka. Saya memutuskan untuk sepenuhnya memutus hubungan dengan PKT,” katanya. 

Ia menyerukan kepada para pemuda Tiongkok untuk melepaskan diri dari kebohongan Partai Komunis Tiongkok dan tidak lagi dikendalikan oleh rezim jahat tersebut.

Laporan oleh wartawan NTDTV Yang Yang dan Lin Yongfeng dari Los Angeles

Putin Rekrut 160 Ribu Tentara Musim Semi Ini, Rusia Tegaskan: Tak Ada Hubungannya dengan Perang Ukraina

EtIndonesia. Presiden Rusia, Vladimir Putin menandatangani perintah wajib militer yang berlaku mulai 1 April, yang merekrut warga Rusia berusia 18 hingga 30 tahun untuk menjalani dinas militer. Jumlah wajib militer pada musim semi 2025 ini mencapai 160.000 orang—angka terbesar sejak tahun 2011. Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa rekrutmen ini tidak ada kaitannya dengan “operasi militer khusus” di Ukraina.

Rusia: Rekrutmen Ini Tidak Terkait Perang Ukraina

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan: “Rekrutmen yang akan berlangsung ini tidak terkait dengan operasi militer khusus di Ukraina. Perekrutan akan dilakukan sesuai dengan jadwal dan ketentuan undang-undang Federasi Rusia.”

Menurut laporan BBC pada 1 April, sebelumnya Putin mengatakan niatnya untuk memperbesar total kekuatan militer Rusia menjadi sekitar 2,39 juta personel, termasuk 1,5 juta tentara aktif. Rekrutmen musim semi ini berlaku selama satu tahun, dan dalam tiga tahun ke depan, Rusia berencana menambah 180.000 personel militer lagi.

Kepala Kantor Wajib Militer Rusia, Vladimir Tsimlyansky, juga menyampaikan bahwa para wajib militer baru tidak akan dikirim ke Ukraina untuk berpartisipasi dalam operasi militer khusus. Rusia secara rutin melakukan rekrutmen militer pada musim semi dan gugur. Rekrutmen tahun ini mencatat peningkatan 10.000 orang dibanding musim semi 2024. Sejak tahun lalu, batas usia maksimum untuk wajib militer telah dinaikkan dari 27 menjadi 30 tahun guna memperluas cakupan.

BBC juga melaporkan bahwa meskipun Rusia sedang menyusun proposal damai untuk menghentikan konflik, rekrutmen tetap dilanjutkan. Tsimlyansky mengatakan bahwa para tentara wajib militer tidak akan dikirim ke wilayah-wilayah baru Rusia—Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia—dan tidak akan dilibatkan dalam operasi tempur di sana. Namun, sejumlah laporan menyebutkan bahwa beberapa tentara muda yang baru direkrut pernah dikirim ke garis depan Ukraina pada tahap awal perang dan gugur dalam pertempuran di wilayah perbatasan.

Rusia Tolak Proposal Damai AS, Ajukan Daftar Dugaan Pelanggaran Ukraina

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengatakan bahwa Rusia tidak dapat menerima usulan penyelesaian konflik yang diajukan Amerika Serikat, karena proposal itu tidak menyentuh akar permasalahan konflik dari sudut pandang Rusia.

Dalam wawancara dengan majalah International Affairs yang dikutip media Rusia pada 2 April, Ryabkov mengatakan: “Kami menghargai upaya AS dan gagasan mereka, tetapi kami tidak bisa menerima format yang mereka tawarkan saat ini.”


“Proposal tersebut sama sekali tidak memenuhi tuntutan utama kami—yakni penyelesaian terhadap akar konflik ini. Tanpa itu, masalah ini tidak bisa dianggap selesai,” tambahnya.

Sekitar dua minggu lalu, Presiden Putin juga menekankan bahwa Ukraina harus melepaskan ambisinya untuk bergabung dengan NATO, mengakui klaim kedaulatan Rusia atas empat wilayah Ukraina, dan membatasi kekuatan militernya. Namun, Ukraina menilai bahwa syarat-syarat tersebut setara dengan tuntutan agar mereka menyerah.

Menariknya, Rusia mengklaim telah menyetujui penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina, namun menuduh Ukraina tetap menyerang menggunakan drone. Tidak ada tanda-tanda konkret dari kedua belah pihak untuk benar-benar mewujudkan gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan kepada televisi nasional bahwa Menteri Pertahanan Rusia, Andrei Belousov, telah memberi pengarahan kepada Putin mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan Ukraina dalam rapat Dewan Keamanan Nasional pada 1 April. Lavrov juga mengungkapkan bahwa daftar dugaan pelanggaran Ukraina telah dikirimkan kepada Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Waltz dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.(jhn/yn)

Negara Ini Kuras Habis Sumber Daya Demi 5.000 Tentara Bayaran Turki! Pakar: Bisa Ubah Peta Masa Depan Afrika Secara Drastis

EtIndonesia. Akibat terus-menerus diganggu oleh kelompok ekstremis Al-Shabaab, Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud baru-baru ini melakukan kunjungan ke Ankara, ibu kota Turki, dan bertemu Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dalam pertemuan itu, mereka menandatangani perjanjian yang mengizinkan Turki mengirimkan 5.000 tentara bayaran ke Somalia. Sebagai imbalannya, Somalia membuka akses terhadap eksplorasi sumber daya alam mereka untuk Turki. Seorang pakar militer Tiongkok menilai, langkah “menguras habis aset nasional” ini berpotensi mengubah peta geopolitik Afrika di masa depan secara drastis.

Dalam pertemuan 27 Maret itu, Turki sepakat mengirimkan 5.000 tentara bayaran dari perusahaan kontraktor militer swasta Turki “SADAT” ke ibu kota Somalia, Mogadishu. Tujuannya adalah membantu Pemerintah Somalia memerangi kelompok ekstremis Al-Shabaab. Sebagai timbal balik, Somalia memberikan hak eksplorasi sumber daya alam seperti minyak dan gas di kawasan pesisir kepada Turki, serta mengizinkan Turki membangun pangkalan militer di wilayahnya.

Sebenarnya, sejak tahun 2020, Somalia dan Turki sudah melakukan negosiasi terkait kerja sama ini. Sekitar 5.000 prajurit Somalia sudah pernah dikirim ke Turki untuk menjalani pelatihan militer. Diperkirakan lebih dari sepertiga tentara Pemerintah Somalia nantinya akan mendapatkan pelatihan di Turki. Terkait pertukaran sumber daya alam demi keberadaan militer Turki ini, penulis menilai bahwa kedua negara mungkin sedang menjalankan permainan strategi yang sangat kompleks, mencakup sumber daya, kedaulatan, dan geopolitik.

Adapun alasan Turki bersedia terlibat secara militer di Somalia kemungkinan besar adalah untuk mengisi kekosongan pengaruh yang ditinggalkan AS, Rusia, dan negara-negara lain di Afrika. Turki diduga ingin memperkuat pengaruhnya di kawasan tersebut. Dengan memiliki hak eksplorasi dan pangkalan militer di Somalia, Turki bisa membangun pondasi untuk pengaruh geopolitik jangka panjang di Afrika.

Di sisi lain, Somalia selama ini dilanda perang saudara dan serangan teror tanpa henti. Negara itu memiliki keterbatasan besar dalam hal anggaran dan kemampuan militer, sehingga hampir tidak mampu mempertahankan ibu kota Mogadishu dari tekanan kelompok-kelompok bersenjata seperti Al-Shabaab. 

Menurut “Jungge’s Military Talk”, Somalia berupaya mendapatkan perlindungan militer dari Turki dengan menawarkan konsesi seperti hak eksplorasi sumber daya dan pembangunan pangkalan militer.

Namun, kehadiran perusahaan militer swasta SADAT dan 5.000 tentara bayaran ini dikhawatirkan justru memperparah situasi. Jika terjadi konflik antara tentara bayaran Turki dengan kelompok bersenjata lokal, bisa jadi akan memicu eskalasi yang melibatkan kekuatan-kekuatan asing lainnya. Selain itu, menyerahkan hak eksplorasi sumber daya alam kepada negara lain juga dikhawatirkan bisa membuat Somalia kehilangan kendali atas sektor ekonomi vital mereka. Ini bisa merusak kedaulatan negara dan memperdalam krisis ekonomi serta sosial.

Penulis menganggap bahwa undangan Somalia kepada Turki ini merupakan “langkah berani” dalam menghadapi krisis nasional mereka. Namun, belum ada jaminan bahwa kerja sama ini akan berhasil menstabilkan kondisi negara. Di sisi lain, keterlibatan Turki sendiri juga mengandung risiko besar. Jika misi ini gagal, bukan hanya reputasi internasional Turki yang bisa hancur, tetapi kekacauan di Somalia bisa semakin dalam. (jhn/yn)

Hitler Selamat dari Perang Dunia II dan Hidup 20 Tahun di Argentina? Dokumen Nazi yang Dideklasifikasi Picu Kehebohan

EtIdndonesia. Terkait pertanyaan apakah Adolf Hitler benar-benar bunuh diri di akhir Perang Dunia II kembali mencuat setelah Presiden Argentina, Javier Milei membuka sejumlah dokumen rahasia yang berkaitan dengan Nazi. Salah satu temuan paling mengejutkan adalah klaim bahwa Hitler sebenarnya melarikan diri ke Argentina dan hidup selama 20 tahun setelah perang, bahkan memiliki dua orang anak perempuan.

Presiden Argentina Dideklasifikasi Dokumen Mengejutkan

Pada 31 Maret, sejumlah akun media sosial di platform X (sebelumnya Twitter) mengabarkan bahwa Presiden Javier Milei telah membuka arsip rahasia Pemerintah Argentina yang berkaitan dengan Nazi. Di antara dokumen tersebut, terdapat catatan bahwa Hitler selamat dari Perang Dunia II dan melarikan diri ke Argentina dengan bantuan Amerika Serikat dan “sekutunya”. Dia dikabarkan hidup selama dua dekade lagi dan memiliki dua anak perempuan di sana.

Namun perlu dicatat, media terkait tidak dapat memverifikasi secara langsung isi asli dari dokumen yang dideklasifikasi tersebut, sehingga keasliannya masih belum bisa dipastikan.

Dokumen Juga Mengungkap 300 Ribu Warga Jerman Melarikan Diri ke Amerika Selatan

Presiden Milei memerintahkan pembukaan semua dokumen rahasia yang terkait dengan pelarian para anggota Nazi ke Argentina setelah Perang Dunia II. Langkah ini bertujuan untuk mengungkap kebenaran sejarah dan menjawab tuntutan masyarakat internasional mengenai keberadaan penjahat perang Nazi.

Berdasarkan penyelidikan jaksa Jerman, sekitar 300.000 warga Jerman melarikan diri ke Amerika Selatan setelah perang berakhir. Dari lebih dari 20 republik merdeka di kawasan tersebut, hanya Argentina yang tetap menjalin hubungan diplomatik dengan Jerman, membuatnya menjadi tempat pelarian utama bagi para anggota Nazi.

Jaringan pelarian terkenal bernama Rattenlinien (jalur tikus) mulai beroperasi pada tahun 1945, yang membantu Nazi dan fasis lainnya kabur dari Eropa ke Benua Amerika, terutama ke Argentina, juga ke Paraguay, Kolombia, dan Brasil.

Jalur pelarian ini didukung oleh sejumlah rohaniwan Katolik, termasuk tokoh gereja ternama. Selain itu, Amerika Serikat melalui Proyek Paperclip pada tahun 1947 juga memanfaatkan jaringan ini untuk membawa sekitar 1.600 ilmuwan Jerman, termasuk yang bekerja untuk Hitler, ke Amerika.

Langkah Milei Didukung Pusat Simon Wiesenthal

Keputusan deklasifikasi dokumen ini dibuat setelah pertemuan antara Presiden Milei dan Simon Wiesenthal Center, lembaga yang memantau penjahat perang Nazi. Kepala Kabinet Guillermo Francos mengatakan bahwa pengungkapan dokumen ini akan membantu dunia memahami sejauh mana Argentina pernah menjadi tempat perlindungan bagi Nazi.

Menurut sejarawan, Argentina pernah menampung sekitar 5.000 anggota Nazi yang melarikan diri, termasuk tokoh besar seperti Adolf Eichmann dan Josef Mengele. Arsip yang dibuka ini diperkirakan akan membawa informasi dan petunjuk baru terkait periode gelap sejarah tersebut.

Sejak menjabat, Milei dikenal dekat dengan kebijakan luar negeri AS dan Israel, bahkan saat ini tengah menjalani proses konversi agama menjadi Yahudi.

Pengakuan Mengejutkan dari Pria 128 Tahun

Teori konspirasi tentang Hitler masih hidup setelah perang bukanlah hal baru. Pada tahun 2017, seorang pria di Argentina berusia 128 tahun mengaku kepada media bahwa dirinya adalah Adolf Hitler dan bahwa dia “sudah bersembunyi selama 72 tahun dan tak ingin bersembunyi lagi.”

Pria itu, bernama Herman Guntherberg, tinggal di Kota Salta, Argentina. Dia mengaku tiba di Argentina menggunakan paspor palsu yang dikeluarkan oleh Gestapo setelah Perang Dunia II. Untuk membuktikan identitasnya, dia menunjukkan 75 barang bukti.

Sejarah atau Konspirasi?

Menjelang akhir Perang Dunia II, pasukan Soviet mendekati Berlin, sementara pasukan Sekutu dari Inggris, Amerika, dan Kanada juga menghancurkan pertahanan Jerman dari arah barat dan selatan. Pada Januari 1945, Hitler mundur ke bunker bawah tanah di Berlin, tempat dia menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Pada 20 April, dia merayakan ulang tahunnya yang terakhir di bawah gempuran meriam Soviet. Dua hari kemudian, dia mulai menyadari bahwa kekalahan tidak bisa dihindari. Pada 29 April dini hari, dia menikah dengan Eva Braun, kekasih lamanya. Keesokan harinya, pada 30 April 1945, mereka bunuh diri bersama di dalam bunker.

Namun, banyak pihak masih meragukan kebenaran kisah kematiannya. Terbukanya arsip rahasia oleh Pemerintah Argentina berpotensi memicu lebih banyak penyelidikan dan mungkin mengungkap fakta yang selama ini tersembunyi.(jhn/yn)

Val Kilmer, Bintang ‘Top Gun’ dan ‘Batman,’ Meninggal Dunia di Usia 65 Tahun

Aktor Kilmer meninggal dunia karena pneumonia, demikian dikonfirmasi oleh keluarganya.

EtIndonesia. Aktor Val Kilmer, yang dikenal luas melalui perannya dalam film seperti Top Gun, The Doors, dan Batman Forever, meninggal pada 1 April di usia 65 tahun, seperti yang dikonfirmasi oleh putrinya kepada media.

Kilmer meninggal karena pneumonia, menurut putrinya, Mercedes Kilmer, dalam sebuah email kepada The Associated Press. Ia berada di Los Angeles dan dikelilingi oleh keluarga serta teman-temannya saat menghembuskan napas terakhir.

Aktor kelahiran California ini didiagnosis menderita kanker tenggorokan pada tahun 2014 tetapi kemudian sembuh, menurut pernyataan putrinya.

Pada usia 17 tahun, Kilmer menjadi aktor termuda yang pernah diterima di divisi drama Sekolah Juilliard yang bergengsi di New York pada tahun 1981. Ia memulai karier akting profesionalnya di atas panggung sebelum akhirnya melakukan debut film layar lebar dalam film komedi mata-mata Top Secret! (1984), diikuti oleh film Real Genius (1985).

Namun, perannya sebagai Iceman dalam Top Gun (1986) yang disutradarai oleh Tony Scott—di mana ia beradu akting dengan Tom Cruise—yang membuat namanya dikenal secara luas.

Setelah kesuksesan tersebut, Kilmer membintangi banyak film dalam karier yang berlangsung selama beberapa dekade, termasuk drama The Doors (1991) yang disutradarai oleh Oliver Stone, di mana ia berperan sebagai Jim Morrison, vokalis karismatik tetapi tragis dari band rock legendaris The Doors.

Ia juga tampil sebagai penembak legendaris Old West, Doc Holliday, dalam film Tombstone (1993), serta beradu akting dengan Al Pacino dan Robert De Niro sebagai pencuri ulung Chris Shiherlis dalam film perampokan bank Heat (1995) yang disutradarai oleh Michael Mann.

Pada tahun 1995, Kilmer menggantikan Michael Keaton sebagai Batman dalam Batman Forever, di mana ia bermain bersama Jim Carrey, Nicole Kidman, dan Tommy Lee Jones.

Sutradara Batman Forever, Joel Schumacher, kemudian menyebut Kilmer sebagai “manusia dengan masalah psikologis paling rumit yang pernah saya ajak bekerja sama.”

Konflik di Balik Layar dan Karier yang Berliku

Masalah tampaknya semakin memburuk saat Kilmer membintangi film The Island of Dr. Moreau (1996), di mana ia dikabarkan berselisih dengan lawan mainnya, Marlon Brando. Produksi film tersebut mengalami banyak kendala dan akhirnya gagal di pasaran.

John Frankenheimer, sutradara film tersebut, pernah mengatakan kepada majalah Premiere pada tahun 1997 bahwa ada dua hal yang tidak akan pernah ia lakukan lagi dalam hidupnya: “Saya tidak akan pernah mendaki Gunung Everest dan saya tidak akan pernah bekerja dengan Val Kilmer lagi. Tidak ada jumlah uang yang cukup di dunia ini untuk itu.”

Dalam memoarnya tahun 2020 berjudul I’m Your Huckleberry, Kilmer mengungkapkan bahwa ia merasa “sesedih yang pernah saya rasakan” saat berada di lokasi syuting film yang menuai banyak kritik tersebut.

Setelah The Island of Dr. Moreau, Kilmer membintangi beberapa film lain, termasuk The Ghost and the Darkness (1996) bersama Michael Douglas, The Saint (1997), Joe the King (1999), Wonderland (2003), Spartan (2004), Kiss Kiss Bang Bang (2005), MacGruber (2010), dan Cinema Twain (2019), di mana ia memerankan Mark Twain.

Diagnosis Kanker dan Perjuangan Melawan Penyakit

Pada tahun 2014, Kilmer menjalani serangkaian perawatan termasuk radiasi, kemoterapi, dan trakeostomi yang menyebabkan suaranya menjadi serak secara permanen.

Setelah sembuh dari kanker, ia tetap aktif di dunia akting, tampil dalam film The Snowman (2017) dan Paydirt (2020), yang juga dibintangi oleh putrinya. Ia juga kembali memerankan karakternya dalam sekuel Top Gun: Maverick (2022).

Dalam film dokumenter Val (2021), yang mengisahkan perjalanan kariernya, Kilmer berkata:

“Saya pernah berperilaku buruk. Saya pernah berperilaku berani. Saya pernah berperilaku aneh bagi sebagian orang. Saya tidak menyangkalnya dan saya tidak menyesalinya karena saya telah kehilangan dan menemukan bagian dari diri saya yang sebelumnya tidak saya ketahui. Dan saya merasa diberkati.”

Kilmer menikah dengan aktris Joanne Whalley pada tahun 1988 setelah bertemu di lokasi syuting film fantasi Willow yang disutradarai oleh Ron Howard. Pasangan ini memiliki dua anak sebelum bercerai pada tahun 1996.

Ia meninggalkan dua anaknya, Mercedes dan Jack.

Pihak The Epoch Times telah menghubungi perwakilan Kilmer untuk memberikan komentar.

Laporan ini juga melibatkan kontribusi dari Reuters dan The Associated Press

Sumber : Theepochtimes.com

Rekonfigurasi Konflik Global oleh Trump: Implikasinya bagi Asia dan Eropa

 Joseph Yizheng Lian

Dua bulan setelah memulai masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump dituduh oleh beberapa politisi di Barat  dengan meninggalkan sekutu lama Washington akibat sikapnya terhadap perang di Ukraina. Namun, kita tidak perlu melihat terlalu jauh ke belakang dalam sejarah untuk menyadari bahwa tindakan “memutus hubungan” semacam itu pernah terjadi sebelumnya di Eropa kontinental dan bukan tanpa alasan.

Pada tahun 1988, Perdana Menteri Inggris yang telah wafat, Lady Margaret Thatcher, dalam pidatonya di College of Europe di Bruges, Belgia, memberikan nasihat berikut kepada audiensnya:

 “Kita harus berusaha menjaga komitmen Amerika Serikat terhadap pertahanan Eropa. Dan itu berarti kita harus mengakui beban yang mereka tanggung akibat peran global mereka serta memahami bahwa sekutu mereka seharusnya turut serta dalam pembelaan kebebasan, terutama ketika Eropa semakin makmur.”

Sayangnya, kata-kata bijak dari Iron Lady itu tidak digubris.

Sebelas tahun kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lebih tajam dan penuh cemoohan. Dalam sebuah konferensi Partai Konservatif di Blackpool, ia secara mengejutkan menyatakan, “Sepanjang hidup saya, semua masalah berasal dari daratan Eropa, sementara semua solusi datang dari negara-negara berbahasa Inggris di seluruh dunia.”

Antara pidatonya di Bruges dan Blackpool, Thatcher berubah dari seorang pendukung integrasi Eropa selama 30 tahun menjadi penentangnya yang paling vokal. Ia mengecam apa yang disebut sebagai “British malaise”—istilah yang digunakan oleh politisi dan sejarawan Konservatif Sir Ian Gilmour dalam bukunya tahun 1969, The Body Politic—untuk menggambarkan stagnasi ekonomi, kemerosotan sosial, serta perasaan putus asa yang melanda masyarakat Inggris.

Thatcher membenci sistem kesejahteraan Eropa, mengkritik serikat pekerja yang kaku, serta mengecam kekuasaan birokrat Brussels yang tidak terpilih, yang pada pertengahan 1990-an tampaknya telah melupakan NATO, meskipun Eropa telah menjadi kaya. Pertempurannya dimenangkan secara anumerta pada tahun 2020 dengan terjadinya Brexit.

Sejak saat itu, terutama secara default, Inggris keluar dari Eropa dan membangun kemitraan di kawasan Indo-Pasifik, wilayah yang telah dikenal secara historis. Inggris telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru, serta sedang dalam pembicaraan untuk perjanjian baru dengan Amerika Serikat dan India. Inggris juga baru saja bergabung dengan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Pemerintahan Partai Buruh yang baru tidak berusaha membalikkan arah ini.

Amerika Serikat berada dalam lintasan yang serupa. Trump menolak konsep Big Government dan badan-badan multinasional yang birokratis. Seperti Thatcher hampir 40 tahun lalu—tetapi dengan cara yang jauh lebih agresif—Trump mengkritik negara-negara NATO lainnya karena mengalokasikan anggaran pertahanan yang terlalu kecil, keluhan yang juga sering disampaikan oleh presiden-presiden AS sebelumnya, terutama Dwight Eisenhower dan Ronald Reagan.

Orang-orang dekat Trump dengan cepat mengkritik beberapa negara Eropa karena dianggap telah meninggalkan nilai-nilai dasar Barat, seperti kebebasan berbicara, penghapusan perbatasan nasional yang aman, serta membiarkan masuknya kelompok kriminal dan jihadis fanatik yang melancarkan serangan teroris terhadap warga sipil tak berdosa. Trump juga percaya bahwa semua ini sedang terjadi di Amerika Serikat.

Perang Rusia–Ukraina telah menciptakan perpecahan antara Trump dan anggota NATO lainnya. Ia ingin perang ini segera berakhir agar Washington bisa “beralih” ke Indo-Pasifik dan menghadapi ancaman utama dari Tiongkok komunis, yang sejak masa jabatan pertamanya ia anggap sebagai musuh utama Amerika.

Sebagai contoh, sebuah artikel terbaru dari BBC menuduh presiden AS telah “meledakkan tatanan dunia”. Namun, tuduhan itu hanyalah bentuk Eurocentrisme, karena yang sebenarnya dilakukan Trump hanyalah mereset hubungan Washington dengan Eropa—dan Eropa bukanlah seluruh dunia.

Faktanya, ada tanda-tanda positif bahwa Eropa mulai bereaksi dengan cara yang sehat terhadap Trump. Misalnya, pemimpin Jerman yang baru terpilih telah memutuskan bahwa negaranya harus mengalokasikan dana besar untuk meningkatkan kekuatan militernya, meskipun hal itu berarti harus memangkas belanja kesejahteraan dan menyesuaikan kembali model pertumbuhannya.

Seperti yang diharapkan, ketika Eropa kembali kuat dan stabil, Trump akan meninggalkan panggung politik, dan para penerusnya dapat memperbaiki hubungan tanpa hambatan yang ada saat ini. Pada saat itu, dunia akan tetap bersifat bipolar: kubu masyarakat terbuka melawan kubu otoriter—atau lebih buruk lagi.

Akan ada dua medan utama di mana konflik antara kedua kubu ini akan berlangsung. Yang pertama adalah Asia, di mana Amerika Serikat—tanpa beban dari Eropa dan bersekutu dengan Jepang, Taiwan, Korea Selatan, serta Australia—akan menghadapi rezim Tiongkok. Kekuatan terbesar di dunia akan mencoba menekan dan menahan yang paling berbahaya. Yang kedua adalah Eropa, di mana Uni Eropa yang telah direformasi dan diperkuat akan menghadapi Rusia. Kekuatan kelas dua akan mencoba menahan kekuatan kelas tiga. Ini akan menjadi konfigurasi konflik yang jauh lebih rasional dan pembagian tugas yang lebih mudah dikelola bagi Barat dibandingkan situasi saat ini.

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Profesor Lian lahir dan besar di Hong Kong. Ia memperoleh gelar B.A. dalam bidang matematika dari Carleton College dan Ph.D. dalam bidang ekonomi dari University of Minnesota. Lian telah banyak menulis dalam publikasi akademik dan profesional, serta merupakan penulis dari banyak buku, termasuk sebuah catatan perjalanan dari perjalanannya mengelilingi Taiwan dengan sepeda.

Menhan AS Pete Hegseth Yakinkan Sekutu Indo-Pasifik, Termasuk Australia, atas Dukungan AS

Dalam kunjungan singkatnya ke kawasan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menjanjikan bahwa pemerintahan Trump akan “benar-benar memprioritaskan dan beralih ke kawasan ini.”

EtIndonesia. Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menunjukkan bahwa, meskipun Pentagon mungkin mengurangi dukungannya terhadap sekutu di Eropa, komitmen terhadap sekutu di Indo-Pasifik, termasuk Australia, tetap kuat.

Berbicara dalam konferensi pers di Manila pada 28 Maret, ia berjanji bahwa pemerintahan Trump akan “benar-benar memprioritaskan dan beralih ke kawasan dunia ini dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

“Hari ini, kami berada di Filipina. Besok, Jepang. Selanjutnya, Australia, Korea Selatan, dan negara-negara lain di kawasan ini,” katanya.

Dalam pertemuan dengan Presiden Filipina Bongbong Marcos dan Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro, Hegseth mengatakan bahwa mereka telah “menyetujui langkah-langkah berikutnya untuk membangun kembali—dan ini kuncinya, membangun kembali—pencegahan di kawasan Indo-Pasifik.”

Teodoro mencatat bahwa Filipina sedang “menggabungkan dan menyelaraskan kapabilitas dengan Australia dengan kecepatan yang belum pernah kita lihat dalam waktu yang sangat lama.”

“Kita menghadapi ancaman bersama, yaitu ekspansi berlebihan Partai Komunis Tiongkok. Jadi, di Indo-Pasifik, aturan hukum internasional, kebebasan navigasi, dan kebebasan individu semuanya dipertaruhkan di sini.”

AS untuk Perdamaian

Meskipun Jepang terkena dampak besar dari tarif Trump, negara ini tetap menjadi sekutu strategis utama. Hegseth menegaskan kembali komitmen sekitar 50.000 tentara Amerika di Jepang untuk berpartisipasi, bersama dengan pasukan Filipina, dalam komando operasional gabungan yang baru dibentuk di bawah Jenderal Nagumo Kenichiro.

“Semakin luas aliansi kita, semakin baik. Semakin banyak kerja sama keamanan, semakin baik. Semakin tinggi interoperabilitas, semakin baik. Semakin banyak skenario kontingensi, semakin baik. Dan semakin besar dilema strategis bagi musuh kita, semakin baik,” ujar Hegseth.

Teodoro juga mengkritik klaim teritorial Beijing, dengan mengatakan, “Garis Sepuluh Putus-Putus lebih mencerminkan diri mereka sendiri daripada orang lain.”

“Itu adalah produk dari pandangan dunia yang terbatas, dari masyarakat yang tertutup. Kami tidak melakukan propaganda di negara ini. Kami mempraktikkan kebebasan berbicara dan demokrasi. Jadi Filipina bukan corong propaganda, tidak seperti mereka sendiri yang menjadi corong Xi Jinping,” kata Teodoro.

“Masalahnya adalah, Anda akan mendengar saya. Amerika Serikat akan mendengar saya. Orang Filipina akan mendengar saya. Tetapi lebih dari satu miliar warga Tiongkok tidak akan bisa mendengar apa yang saya katakan.”

Hegseth juga menegaskan sikap tegasnya, dengan menyatakan, “Sejarah mencatat banyak negara yang mencoba menguji keteguhan AS. Saat ini, kami bertekad untuk bekerja sama dengan mitra kami, membangun kembali etos pejuang, memperkuat militer kami, dan mengembalikan pencegahan.”

“Jangan salah mengartikan keyakinan kami pada perdamaian dan keinginan kami untuk perdamaian sebagai kurangnya ketegasan,” katanya. “Presiden Trump menginginkan perdamaian. Itu juga pesan saya di sini. Namun, untuk mencapai perdamaian itu, kami akan tetap kuat. Sekutu kami akan tahu bahwa kami berdiri bersama mereka.”

Namun, ia juga menyampaikan peringatan tersirat bagi Australia dan sekutu lainnya di kawasan mengenai pengeluaran pertahanan, dengan mengatakan bahwa AS akan terus “mendorong mitra dan sekutu lainnya di kawasan ini untuk meningkatkan upaya dan kerja sama mereka guna memperkuat kapabilitas pertahanan dan meningkatkan pencegahan.”

Sumber : Theepochtimes.com