Coba Sekali Lagi

EtIndonesia. Dua bersaudari dari desa datang ke kota untuk mencari nafkah. Setelah melamar kerja ke sana ke mari, akhirnya mereka diterima bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan suvenir.

Mereka tidak memiliki pelanggan tetap, tidak punya koneksi, dan tidak mengenal siapa pun. Setiap hari, mereka hanya bisa menenteng contoh barang yang berat—jam dinding, album foto, cangkir, lampu meja, serta berbagai kerajinan tangan—menyusuri jalan-jalan kota, masuk dari satu kantor ke kantor lain untuk mencari pembeli.

Lima bulan lebih berlalu. Kaki mereka hampir tak sanggup berjalan lagi, mulut mereka lelah karena terlalu sering berbicara. Namun hasilnya nol besar—bahkan satu gantungan kunci pun tak berhasil terjual.

Kekecewaan yang berulang-ulang akhirnya menghabiskan kesabaran sang adik. Dia mengajak kakaknya mengundurkan diri bersama dan mencari jalan lain. 

Kakaknya berkata dengan tenang :  “Setiap awal memang sulit. Bertahanlah sedikit lagi. Siapa tahu, kesempatan berikutnya justru membawa hasil.”

Namun sang adik tak menghiraukan. Dia tetap pergi dan berpamitan dengan perusahaan itu.

Keesokan harinya, keduanya keluar rumah bersama. Sang adik berkeliling kota mencari pekerjaan baru berdasarkan iklan lowongan. Sang kakak, seperti biasa, tetap membawa contoh barang dan mencari pelanggan.

Malam harinya, mereka kembali ke kamar kontrakan dengan perasaan yang sangat berbeda. Sang adik pulang dengan tangan kosong—lagi-lagi gagal mendapatkan pekerjaan. Sang kakak justru membawa pesanan pertamanya.

Sebuah perusahaan yang sebelumnya telah dia datangi empat kali akan mengadakan konferensi besar. Perusahaan itu memesan 250 set kerajinan tangan mewah sebagai cenderamata bagi para peserta, dengan total nilai lebih dari 200 ribu yuan. Dari pesanan itu, sang kakak memperoleh komisi 20 ribu yuan—penghasilan pertamanya sebagai pekerja perantau.

Sejak saat itu, pesanan datang silih berganti, dan prestasinya terus meningkat.

Enam tahun berlalu. Sang kakak kini memiliki mobil, rumah lebih dari 100 meter persegi, dan perusahaan suvenir miliknya sendiri. Sementara itu, sang adik terus berpindah-pindah pekerjaan. Bahkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari—pakaian dan makanan—dia masih harus dibantu oleh kakaknya.

Suatu hari, sang adik bertanya tentang rahasia kesuksesan.

Kakaknya menjawab sederhana: “Sebenarnya, seluruh rahasia kesuksesanku hanya satu—
aku berusaha satu kali lebih banyak darimu.”

Hanya selisih satu kali usaha. Padahal bakat hampir sama, peluang pun serupa. Namun sejak saat itu, kedua saudari tersebut menapaki jalan hidup yang sepenuhnya berbeda.

Dan bukan hanya kisah kakak ini. Begitu banyak tokoh sukses dengan prestasi gemilang— keberhasilan awal mereka pun sering kali berawal dari satu usaha tambahan.

Renungan Penutup

Sering kali, yang memisahkan gagal dan berhasil, bukan kecerdasan, bukan keberuntungan,  melainkan kesediaan untuk mencoba satu kali lagi.

Satu langkah lagi. Satu usaha lagi. Satu hari lebih lama bertahan. Dan hidup pun akan berubah arah.(jhn/yn)

Lewat Sketsa Pensil, Stefanus Nuradhi Hidupkan Kembali Surabaya Tempo Dulu

Surabaya, 22 Desember 2025 – Kekayaan sejarah dan arsitektur Surabaya kembali dihadirkan melalui goresan pensil dalam pameran sketsa bertajuk “Urban Echoes: Sketches from Surabaya’s Old Streets” karya seniman Stefanus Nuradhi. Pameran ini resmi dibuka di The Arch Bistro, Kokoon Hotel Surabaya, dan akan berlangsung hingga 28 Desember 2025.

Sebanyak 15 karya sketsa ditampilkan, sebagian besar menggambarkan Surabaya tempo dulu dengan fokus pada bangunan dan sudut kota bersejarah. Meski beberapa objek menampilkan kondisi Surabaya masa kini, ruh utama karya tetap berpijak pada jejak peninggalan yang patut dijaga dan dilestarikan.

“Tujuan saya sederhana, ingin warga Surabaya tahu bahwa kota ini sangat kaya dengan warisan yang berharga. Ada banyak bangunan dan sudut kota yang mungkin kita lewati setiap hari, tapi sesungguhnya punya cerita besar,” ujar Stefanus Nuradhi saat sesi bincang santai pembukaan pameran.

Cinta pada Surabaya Lama

Stefanus mengaku ketertarikannya pada Surabaya tempo dulu berangkat dari kecintaan personal terhadap kota ini. Menurutnya, Surabaya tidak kalah dengan kota lain seperti Semarang dalam hal bangunan bersejarah dan daya tarik visual.

“Surabaya memang punya bangunan kolonial, tapi justru itu yang menjadi daya tarik tersendiri. Saya ingin membangkitkan minat generasi muda dan warga Surabaya agar lebih peduli pada warisan kotanya,” katanya.

Berbeda dari kebanyakan seniman pensil yang fokus pada potret wajah atau karya pesanan komersial, Stefanus memilih objek bangunan kota lama. Ia menilai tema tersebut masih jarang digarap secara serius, khususnya di Surabaya.

Proses Detail dari Foto Lama

Dalam proses kreatifnya, Stefanus banyak menggunakan foto-foto lama yang kerap memiliki resolusi rendah atau detail yang buram. Namun keterbatasan itu justru menjadi tantangan tersendiri.

“Saya ambil garis besarnya dari foto lama, lalu detail yang tidak terlihat saya cari dari berbagai referensi lain. Misalnya Jembatan Merah, saya cari banyak gambar pembanding agar detailnya mendekati aslinya,” jelasnya.

Teknik tersebut menghasilkan sketsa dengan detail tinggi, kontras gelap terang yang kuat, dan kesan hidup, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu Surabaya.

Dari Dunia Usaha ke Seni

Menariknya, Stefanus bukan berlatar belakang seni rupa murni. Ia sempat berkecimpung sebagai pengusaha percetakan sejak 1967 hingga krisis ekonomi 1998, kemudian mendukung usaha kursus kecantikan milik sang istri hingga 2020. Kecintaannya pada menggambar mulai ia tekuni secara serius sejak sekitar 2005–2010.

“Seni ini menjadi ruang ekspresi. Harapan saya, siapapun dengan minat di bidangnya masing-masing bisa mengekspresikan kecintaan pada kotanya,” ujarnya.

Hotel sebagai Ruang Apresiasi Seni

Assistant Marcomm Manager Kokoon Hotel Surabaya, Tegar Kanugran, menyampaikan bahwa pameran ini sejalan dengan karakter heritage hotel yang berada di kawasan Kota Lama Surabaya.

“Kami ingin Kokoon Hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga ruang apresiasi seni dan budaya. Pameran ini diharapkan bisa menambah daya tarik wisata Surabaya sekaligus memperkuat identitas heritage hotel kami,” kata Tegar.

Pameran “Urban Echoes” terbuka untuk umum tanpa biaya masuk. Selain menikmati karya, pengunjung juga dapat membeli sketsa yang dipamerkan sebagai bentuk dukungan terhadap seniman lokal dan pelestarian ingatan Kota Surabaya.

Indosat Siagakan Jaringan dan AI Hadapi Lonjakan Trafik Nataru 2025/2026

Surabaya, 22 Desember 2025 – Indosat Ooredoo Hutchison memastikan kesiapan penuh jaringan telekomunikasi di wilayah Jawa, khususnya Jawa Timur, guna mengantisipasi lonjakan trafik data selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Dalam pemaparan media yang digelar di Surabaya, Indosat memproyeksikan kenaikan trafik data nasional sebesar 15–16 persen dibandingkan hari normal, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat ke pusat wisata, transportasi, dan area publik.

“Kami memahami momen Natal dan Tahun Baru adalah waktu penting bagi masyarakat untuk tetap terhubung. Karena itu, kesiapan jaringan kami lakukan secara menyeluruh, bukan hanya di Desember, tetapi melalui persiapan panjang sejak Oktober,” ujar Fath Yudhonegoro, perwakilan manajemen Indosat Ooredoo Hutchison.

Puluhan Ribu BTS Siap Siaga

Secara regional Jawa, Indosat mengoperasikan lebih dari 58.600 BTS 4G dan 5G, sementara di Jawa Timur terdapat sekitar 24.600 BTS yang siap melayani pelanggan. Total trafik data di Jawa Timur diperkirakan mencapai 35,6 ribu TB per hari selama periode libur Nataru.

Penguatan jaringan dilakukan melalui peningkatan kapasitas, optimalisasi berbasis Artificial Intelligence (AI), hingga penggelaran BTS baru dan mobile BTS di titik-titik strategis.

Fokus Area Wisata dan Jalur Mudik

Indosat telah mengidentifikasi 175 titik keramaian (Point of Interest) dan 26 rute utama, termasuk jalan tol, non-tol, dan jalur kereta api. Di Jawa Timur, wilayah seperti Surabaya, Malang, Gresik, Sidoarjo, dan Sampang diprediksi menjadi penyumbang trafik tertinggi.

Destinasi wisata seperti Jatim Park 1, 2, dan 3, Alun-Alun Kota Batu, Simpang Lima Gumul Kediri, bandara, terminal, pusat perbelanjaan, serta tempat ibadah juga menjadi fokus penguatan jaringan.

Posko 24 Jam dan Tim Lapangan

Untuk menjaga kualitas layanan, Indosat mengoperasikan empat posko Network & Service Operation Center di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya yang beroperasi 24 jam sehari. Puluhan tim lapangan disiagakan untuk memastikan respons cepat jika terjadi gangguan, termasuk saat kondisi cuaca ekstrem.

“Kami menyiapkan skenario terburuk, termasuk pemadaman listrik. Prinsip kami adalah last man standing, jaringan Indosat harus tetap hidup,” jelas Yosep, perwakilan tim teknologi Indosat.

Trafik Didominasi Media Sosial

Berdasarkan proyeksi, lonjakan trafik didominasi oleh penggunaan WhatsApp, YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook, yang meningkat signifikan selama periode liburan.

Indosat juga terus memperluas jaringan 5G berbasis AI di Surabaya dan Sidoarjo, dengan lebih dari 400 ribu pengguna 5G aktif di Surabaya. Meski demikian, pemanfaatan 5G dinilai masih memiliki ruang besar untuk tumbuh.

Produk dan Layanan Pendukung

Selain jaringan, Indosat menghadirkan berbagai paket data fleksibel untuk pelanggan selama liburan, mulai dari paket harian, mingguan, hingga bulanan. Distribusi layanan didukung oleh lebih dari 37.400 titik penjualan, termasuk IM3 Store dan 3Kiosk, yang tersebar hingga tingkat kecamatan.

“Dengan jaringan yang andal dan produk yang mudah dijangkau, kami ingin pelanggan menikmati liburan dengan nyaman dan tanpa khawatir konektivitas,” ujar Sigit, perwakilan tim komersial Indosat.

Melalui tema “Ada Nyata di Setiap Langkah”, Indosat menegaskan komitmennya untuk hadir dan menemani masyarakat Indonesia tetap terhubung di setiap momen penting, termasuk saat merayakan Natal dan Tahun Baru.

Serangan Pisau di MRT Taipei: Pahlawan yang Melawan Tersangka Meninggal Dunia, Pramuniaga Berhasil Menyelamatkan Puluhan Orang dengan Membuka Gudang

EtIndonesia. Pada 19 Desember 2025 malam, di sekitar Stasiun MRT Taipei dan Stasiun Zhongshan terjadi serangkaian insiden pelemparan bom asap dan penusukan acak, yang menyebabkan 3 warga meninggal dunia. Tersangka Zhang Wen terjatuh dari gedung dan meninggal dunia. Kewaspadaan di stasiun kereta api, MRT, dan bandara ditingkatkan secara menyeluruh, sementara jaksa dan polisi melakukan penyelidikan sepanjang malam untuk mengungkap motif kejahatan.

Tersangka Zhang Wen Pernah Masuk Daftar Buronan Terkait Penghindaran Wajib Militer

Hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa tersangka adalah Chang Wen, 27 tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, berasal dari Taoyuan, dan pernah bekerja sebagai petugas keamanan. Ia terlibat kasus pelanggaran undang-undang wajib militer dan sejak Juli telah ditetapkan sebagai buronan oleh Kejaksaan Taoyuan.

Polisi Kota Taipei menyebutkan bahwa Chang Wen pada Januari tahun ini menyewa tempat tinggal di Distrik Zhongzheng, Taipei, yang lokasinya berdekatan dengan kantor polisi. Namun, beberapa hari sebelum kejadian, ia menginap di sebuah hotel di sekitar kawasan perbelanjaan Eslite Nanxi dekat Stasiun Zhongshan, dan diketahui telah menginap selama tiga hari.

Polisi telah menggeledah tempat tinggal sewaan Chang Wen di Distrik Zhongzheng, hotel tempat ia menginap di sekitar Stasiun Zhongshan, serta rumahnya di Kota Taoyuan. Di lokasi sewaan ditemukan bahan-bahan yang diduga untuk merakit bom molotov. Polisi juga mewawancarai anggota keluarga untuk mengetahui pergaulan dan kondisi kesehatan Chang Wen.

Pada 19 Desember, Chang Wen yang berusia 27 tahun melemparkan bom asap di lorong bawah tanah Stasiun Utama Taipei dan di luar Stasiun Zhongshan, kemudian menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, menikam orang-orang sebelum jatuh hingga tewas. Polisi menggeledah apartemen sewaan Chang Wen di Distrik Zhongzheng malam itu. (CNA)

Pelaku Kembali ke Hotel Mengambil Senjata Lalu Beraksi Lagi

Sekitar pukul 17.30 pada 19 Desember, Zhang Wen mengenakan masker gas dan melemparkan beberapa bom asap di pintu keluar M7 dan M8 Stasiun Taipei, bahkan terdapat benda yang diduga bahan bakar bom molotov yang sempat terbakar.

Dalam proses tersebut, seorang pria yang melintas di pintu keluar M7 melihat kejadian dan segera berusaha menghentikan pelaku, namun malang ia justru diserang hingga meninggal dunia.

Pada 19 Desember, sebuah bom asap dilemparkan ke Stasiun Utama Taipei. Walikota Taipei Chiang Wan-an (tengah) segera memimpin tim ke lokasi kejadian untuk melakukan investigasi. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa meskipun MRT telah beroperasi kembali, keamanan dan patroli akan terus diperkuat. (CNA)

Menurut penyelidikan, setelah melempar bom asap di terowongan bawah tanah dekat pintu keluar M7 Stasiun Taipei, Chang Wen berjalan kaki melalui pusat perbelanjaan bawah tanah menuju hotel dekat Stasiun Zhongshan untuk mengambil senjata tajam. Ia hanya berada di kamar hotel sekitar 30 detik, lalu sekitar pukul 18.00 kembali ke luar Stasiun Zhongshan, melempar bom asap sambil membawa pisau sepanjang 30 cm, dan melakukan penusukan secara acak di sepanjang jalan. Warga yang berada di lokasi berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Polisi berjaga-jaga di pintu masuk dan keluar stasiun MRT Zhongshan setelah insiden pada 19 Desember. (CNA)

Pelaku kemudian menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan dan menyerang pengunjung, menyebabkan dua orang mengalami henti jantung sebelum tiba di rumah sakit (OHCA). Dua korban lainnya ditikam di lantai 1 dan lantai 4, dengan luka yang terkonsentrasi di bagian leher. Chang Wen akhirnya terjatuh dari lantai 6 pusat perbelanjaan dan dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.

Petugas polisi bersenjata lengkap siaga tinggi di luar Stasiun Zhongshan pada malam 19 Desember. (CNA)

Wali Kota Taipei Chiang Wan-an menyatakan bahwa saat mengunjungi pasien OHCA yang kritis di Rumah Sakit NTU, ia mengetahui bahwa seorang korban pria yang berusaha menghentikan pelaku telah meninggal dunia. Ia menyampaikan duka mendalam dan menyatakan bahwa pemerintah kota bersama perusahaan MRT dan instansi terkait akan memberikan pendampingan dan santunan penuh kepada keluarga korban.

Menurut data terbaru dari Kantor Penanggulangan Bencana Kota Taipei pada pukul 22.30 malam itu, total korban yang dibawa ambulans 119 ke rumah sakit berjumlah 9 orang, sementara 4 orang lainnya berobat sendiri. Total 13 korban terdiri dari 8 pria dan 5 wanita, dengan rincian 4 orang meninggal dunia (termasuk pelaku Chang Wen), 1 luka berat, 1 luka sedang, dan 7 luka ringan.

Bom asap dilemparkan ke Stasiun Utama Taipei pada malam 19 Desember. Tersangka, Zhang Wen, kemudian secara acak menyerang orang-orang di Toko Buku Eslite (cabang Nanxi) di distrik perbelanjaan Zhongshan, menyebabkan banyak luka, beberapa ringan dan beberapa serius. Bercak darah terlihat di tempat kejadian. Foto menunjukkan polisi menutup lokasi kejadian di Toko Buku Eslite (cabang Nanxi) pada malam tanggal 19, dengan tim forensik mengumpulkan bukti. (CNA)

Pramuniaga Sigap Membuka Gudang, Melindungi Banyak Orang

Setelah kejadian, lokasi kejadian dipenuhi bercak darah. Seorang saksi merekam momen pelaku melakukan penusukan dan warga yang panik melarikan diri. Polisi segera memasang garis pembatas, tim forensik melakukan olah TKP, serta mengamankan sisa-sisa bahan peledak yang diduga digunakan pelaku. Kepolisian Kota Taipei bahkan sempat mengerahkan unit khusus SWAT ke lokasi.

Serangan acak terjadi di luar stasiun MRT Zhongshan pada malam 19 Desember, mengakibatkan banyak kematian dan luka-luka. Polisi menemukan sisa-sisa yang tampaknya merupakan bahan peledak yang digunakan oleh tersangka di jalan di luar pintu keluar MRT, mengambil foto sebagai bukti, dan membawanya untuk penyelidikan. (CNA)

Diketahui, saat pelaku membawa pisau panjang dan menerobos masuk ke Eslite Life Nanxi, warga panik berlarian. Ketika pelaku naik ke lantai 4, seorang pramuniaga perempuan yang hendak mengisi ulang stok barang dengan sigap menarik pelanggan masuk ke gudang dan menguncinya, sehingga melindungi banyak orang dan membantu meminimalkan jumlah korban.

Dalam pesan internal, manajemen Eslite Life Nanxi menyampaikan terima kasih kepada seluruh tenant dan karyawan yang bekerja sama dalam mengatur evakuasi, memberikan perlindungan darurat, menenangkan pelanggan dan pembaca, serta secara aktif membantu orang tua dengan anak kecil dan penyandang disabilitas. Pesan tersebut berbunyi:
“Ini adalah saat yang gelap. Terima kasih kepada semua orang, kita bersama-sama merasakan kekuatan keberanian dan cinta.”
“Setelah menata kembali perasaan, mari kita melangkah lagi. Hari ini seluruh rekan toko diminta untuk beristirahat satu hari penuh.” (Hui)

Intelijen AS Bongkar Ambisi Putin: Targetnya Bukan Donbas, Melainkan Seluruh Ukraina

EtIndonesia. Washington kembali membunyikan alarm yang sama—dan kali ini nadanya semakin tegas. Penilaian terbaru badan intelijen Amerika Serikat menyimpulkan bahwa tujuan Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam melancarkan perang Rusia–Ukraina sejak awal hingga kini tidak pernah berubah.

Perang ini, menurut intelijen AS, bukan sekadar alat tawar-menawar diplomatik, dan juga bukan semata untuk mengamankan wilayah yang saat ini telah dikuasai Rusia. Sasaran strategis Kremlin dinilai jauh lebih besar: menguasai seluruh Ukraina, serta membuka kembali ruang pengaruh Rusia atas wilayah-wilayah Eropa yang pernah berada di bawah Uni Soviet.

Evaluasi Intelijen AS: 20% Wilayah Ukraina Bukan Tujuan Akhir

Laporan Reuters pada 19 Desember 2025 mengungkapkan bahwa kesimpulan tersebut berasal dari sebuah evaluasi intelijen komprehensif yang telah diselesaikan sejak September 2025.

Dalam penilaian itu, badan intelijen AS secara eksplisit menyatakan bahwa sekitar 20% wilayah Ukraina yang saat ini diduduki Rusia hanyalah pencapaian sementara, bukan tujuan akhir perang.

Kesimpulan ini segera mendapat perhatian serius di tingkat legislatif. Anggota Demokrat dari Komite Intelijen DPR AS, Mike Quigley, menegaskan bahwa informasi intelijen yang terus diterima Washington secara konsisten menunjukkan ambisi Putin jauh melampaui apa yang tampak di medan tempur saat ini.

Eropa Lebih Merasakan Ancaman Langsung

Kekhawatiran ini tidak hanya hidup di Washington. Para pemimpin Eropa justru merasakannya secara lebih konkret dan mendesak.

Polandia disebut sebagai negara yang paling yakin bahwa Rusia menyimpan ambisi ekspansionis jangka panjang. Negara-negara Baltik—Estonia, Latvia, dan Lituania—meski bersikap lebih tenang, secara realistis mengakui bahwa mereka berpotensi menjadi garis depan pertama jika konflik meluas.

Karena itu, meskipun di medan perang muncul fase tarik-ulur dan wacana perundingan semakin sering terdengar, kewaspadaan Barat terhadap Rusia sama sekali tidak mengendur.

“Pembebasan Historis”: Pernyataan Putin yang Mengubah Makna Konflik

Kecemasan Barat semakin diperkuat oleh pernyataan langsung dari Moskow. Pada 18 Desember 2025, kantor berita Sputnik melaporkan bahwa Putin, dalam rapat perluasan Dewan Keamanan Nasional Rusia, menyatakan bahwa jika pihak luar menolak dialog substantif, Rusia akan mencapai “pembebasan historis” melalui cara militer.

Istilah ini segera memicu tafsir luas. Dalam pembacaan konservatif, pernyataan tersebut menandakan perluasan target militer Rusia dari Donbas ke seluruh Ukraina. Namun, skenario yang lebih mengkhawatirkan adalah jika istilah itu digunakan untuk membenarkan pencaplokan paksa Ukraina secara penuh—sebuah negara berdaulat yang memiliki kursi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Jika logika ini diterima, maka preseden berbahaya akan tercipta: hari ini Ukraina, besok Asia Tengah, lalu Belarus, dan pada akhirnya negara-negara Baltik.

Inilah sebabnya, bagi Washington dan Eropa, pernyataan tersebut bukan sekadar retorika keras, melainkan sinyal strategis tingkat tinggi.

Perundingan Miami Dimulai di Tengah Nada Keras Moskow

Dalam konteks ini, putaran baru dialog dan konsultasi terkait perang Ukraina resmi dimulai pada akhir pekan 20–21 Desember 2025 di Miami, Amerika Serikat.

Utusan ekonomi Rusia, Dmitriev mengonfirmasi keberangkatannya ke Miami melalui platform X pada 20 Desember, hampir bersamaan dengan tibanya delegasi Ukraina dan perwakilan negara-negara Eropa.

Namun, tepat sehari sebelum perundingan, Putin lebih dulu “menentukan nada”. Pada 19 Desember 2025, dalam konferensi pers tahunan berdurasi berjam-jam yang disiarkan langsung, dia kembali menolak tanggung jawab atas perang, mengulang narasi lama bahwa konflik bukan dimulai oleh Rusia.

Putin tetap menyebut perang ini sebagai “operasi militer khusus”, memuji kemajuan pasukan Rusia, dan menyatakan keyakinannya bahwa Rusia akan meraih kemenangan baru sebelum akhir tahun.

Ketika ditanya langsung oleh jurnalis Amerika mengenai tanggung jawab atas korban jiwa yang sangat besar, Putin menegaskan bahwa Rusia tidak perlu memikul tanggung jawab tersebut, dan kembali menyalahkan Ukraina.

Dia bahkan menyampaikan syarat terselubung: jika Ukraina menggelar pemilihan presiden, Rusia akan menghentikan serangan terhadap target strategis pada hari pemungutan suara.

Bagi banyak pengamat, pernyataan ini menunjukkan bahwa rezim Putin tidak memberikan ruang kompromi, bahkan secara simbolis.

Sikap AS Lebih Realistis, Optimisme Diturunkan

Di sisi lain, sikap Amerika Serikat menunjukkan perubahan halus. Dalam konferensi pers akhir tahun pada 20 Desember 2025, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menurunkan ekspektasi publik terhadap hasil perundingan.

Rubio menegaskan bahwa AS tidak akan memaksa Ukraina maupun Rusia untuk menerima perdamaian. Peran Washington, katanya, adalah memahami batas kompromi masing-masing pihak dan melihat apakah kesenjangan dapat dipersempit.

Pernyataan ini mencerminkan pendekatan yang lebih realistis: perundingan Miami lebih menyerupai uji coba diplomatik, bukan jalan pintas menuju akhir perang.

Perang Memasuki Hari ke-1.397, Medan Tempur Tetap Brutal

Per 21 Desember 2025, perang Rusia–Ukraina telah memasuki hari ke-1.397. Pertempuran masih berlangsung intens di berbagai sektor.

  • Svatove–Kreminna: serangan Rusia gagal menembus pertahanan Ukraina
  • Pokrovsk: medan paling brutal; Ukraina bertahan dan menekan balik, Rusia menanggung kerugian besar
  • Kupiansk: Ukraina unggul secara taktis dan mempersempit lebar front Rusia
  • Zaporizhzhia – Huliaipole: situasi kritis, namun Ukraina melancarkan serangan balik
  • Chasiv Yar & Konstantynivka: Ukraina merebut kembali wilayah dengan dukungan tank

Pada 19 Desember, Ukraina melancarkan serangan besar terhadap Divisi Lintas Udara ke-76 Rusia di Pokrovsk, menghancurkan sekitar 20 kendaraan lapis baja dengan kombinasi drone, HIMARS, robot darat, dan rudal antitank.

Serangan drone jarak jauh Ukraina juga menghantam fasilitas minyak Rusia dan menghancurkan dua jet Su-27 di Pangkalan Udara Belbek, Krimea—menandai perubahan signifikan dalam wajah peperangan modern.

Eropa Menginstitusionalisasikan Ketakutan Keamanan

Setelah Rusia menolak tiga tuntutan utama Uni Eropa, sikap Brussel berubah drastis. Pada 17 Desember 2025, Uni Eropa meloloskan undang-undang yang mempercepat mobilisasi pasukan dan peralatan berat lintas negara.

Delapan negara Eropa garis depan NATO segera berkoordinasi di Finlandia untuk membahas peningkatan anggaran pertahanan dan ancaman non-konvensional Rusia, termasuk serangan siber dan operasi abu-abu.

Eropa kini tidak lagi menunggu perdamaian datang dengan sendirinya. Dari hukum hingga anggaran, dari koordinasi militer hingga kebijakan industri pertahanan, Eropa sedang bersiap menghadapi kemungkinan konflik besar di masa depan.

Ketidakpastian terbesar bukan lagi apakah Eropa siap menghadapi konfrontasi—melainkan kapan dan dalam bentuk apa ketegangan ini akan diuji oleh kenyataan.

Peristiwa Langka Abad Ini: Salju Turun di Arab Saudi, Padang Gurun Tak Lagi Gersang Hingga Tertutup Salju Putih 

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, wilayah utara Arab Saudi dilanda turunnya salju dengan intensitas yang cukup besar. Salju putih menutupi hamparan gurun, sementara unta berjalan di atas salju—video dan foto pemandangan langka ini beredar luas di internet dan menarik perhatian banyak orang.

Sejumlah media lokal mempublikasikan video dan foto yang mengkonfirmasi bahwa pada 18 Desember, wilayah Tabuk di utara Arab Saudi serta Gunung Lawz mengalami badai salju yang jarang terjadi, dengan suhu turun hingga minus 4 derajat Celsius.

Turunnya salju di kawasan gurun membuat warga setempat sangat antusias. 

Menurut laporan Gulf News, salju menghiasi pegunungan di wilayah Tabuk hingga tampak berkilauan bak diselimuti perak, menarik warga dan wisatawan untuk keluar menikmati pemandangan. Karena salju di Gunung Lawz turun cukup lebat, pihak pertahanan sipil memperketat langkah-langkah keamanan di lokasi.

Di media sosial, banyak warganet yang terkejut dan berseru, “Ternyata gurun juga bisa turun salju.” 

Namun faktanya, turunnya salju di wilayah utara Arab Saudi bukanlah hal yang langka. Bahkan, lokasi penyelenggaraan Asian Winter Games 2029 berada di Trojena, wilayah barat laut Arab Saudi.

Menurut laporan Gulf News, seorang astronom terkemuka Arab Saudi menjelaskan bahwa wilayah utara Arab Saudi memang mengalami salju secara berkala pada musim dingin, meskipun tidak terjadi secara teratur dan sangat bergantung pada perubahan iklim serta kondisi atmosfer. Ia menambahkan bahwa salju paling sering terjadi di wilayah Tabuk dan Al-Jouf. (Hui)

Laporan terjemahan oleh wartawan Jin Jing / Zhu Xinrui

Ledakan Dihapus dari Berita: Terowongan Beijing Berubah Jadi Neraka

EtIndonesia. Sebuah ledakan besar yang sangat jarang terjadi dilaporkan mengguncang Terowongan Duyuan pada ruas Jalan Tol Qihuang di sekitar Beijing. Informasi yang beredar di internet menyebutkan 29 orang terluka dan 10 orang meninggal dunia. Namun hingga kini, tidak ada laporan resmi dari media Pemerintah Tiongkok terkait insiden tersebut.

Kronologi Awal dan Lokasi Kejadian

Berdasarkan berbagai unggahan video dan kesaksian warganet di platform Douyin dan X, kecelakaan terjadi pada sore hari, 17 Desember, di wilayah Baoding, Hebei—tepatnya di Terowongan Duyuan pada ruas Jalan Tol Lingkar Ibu Kota arah Zhuozhou.

Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa sebuah truk tangki gas alam mengalami kebakaran di dalam terowongan, lalu meledak hebat, memicu kecelakaan beruntun dan kebakaran lanjutan.

Kondisi di Dalam Terowongan: “Hampir Tidak Ada Jalan Keluar”

Seorang saksi yang mengaku mengetahui kejadian menyatakan bahwa puluhan kendaraan terjebak di dalam terowongan pada saat ledakan terjadi, dan nyaris tidak ada orang yang berhasil melarikan diri. Rekaman pembersihan pascakecelakaan memperlihatkan kerusakan parah:

  • Truk-truk gandeng besar menumpuk di satu sisi terowongan.
  • Bagian depan kendaraan hangus terbakar, rangka terpelintir dan runtuh.
  • Banyak roda kendaraan rusak dan terlepas.
  • Puing beton dan komponen kendaraan berserakan, menutupi lantai terowongan.

Video lain di Douyin menunjukkan api berkobar hebat di pintu masuk terowongan, disertai asap hitam pekat yang terus menyembur keluar. Lalu lintas terhenti total. 

Papan informasi elektronik jalan tol menampilkan peringatan: “Terjadi kebakaran kendaraan di dalam Terowongan Duyuan, dilarang melintas.”

Beberapa pengemudi melaporkan bahwa hingga dua hari dua malam setelah kejadian, masih ada truk-truk berat terjebak dan antrean panjang di sekitar lokasi.

Karakteristik Terowongan dan Risiko Berlipat

Data publik menunjukkan bahwa Terowongan Duyuan berada di Jalan Tol Lingkar Ketujuh Beijing—salah satu jalur tersibuk di kawasan tersebut. Para ahli keselamatan menjelaskan, terowongan merupakan ruang tertutup. Jika terjadi ledakan atau kebakaran, panas dan gelombang kejut sulit menyebar, sehingga energi terakumulasi dan membesar. Selain itu, asap dan gas beracun cepat terkumpul, menyebabkan kekurangan oksigen. Akibatnya, waktu evakuasi sangat terbatas, dan dampak kecelakaan mudah berlipat ganda.

Kesaksian Penyintas: “Semua Metode Evakuasi Tidak Ada Gunanya”

Dalam sebuah video di Douyin, seorang penyintas mengungkapkan bahwa media resmi tidak berani memberitakan insiden ini. Saat ditanya mengenai rekaman kamera dasbor, ia menegaskan bahwa rekaman tersebut telah dihapus.

Penyintas lain menceritakan pengalaman mencekamnya:

  • Panjang terowongan sekitar 3,5 kilometer.
  • Jarak pandang nol, asap dan debu pekat.
  • Sesak napas ekstrem.
  • Terjebak lebih dari satu jam di dalam terowongan.

“Begitu turun dari mobil, dua menit saja orang bisa mati. Kalau tidak kehabisan napas, bisa mati karena ledakan,” tuturnya. Ia menyebut kejadian berlangsung sekitar pukul 18.00, dan sekitar pukul 18.30 menjadi momen ketika banyak hal “terhenti”.

Sejumlah netizen mengingatkan bahwa pintu dan tirai tahan api di terowongan semestinya dapat dibuka, dan jalur berlawanan bisa digunakan untuk menghindari bahaya. 

Namun penyintas menanggapi tegas: “Kalau sudah mengalaminya sendiri, baru tahu. Semua metode evakuasi saat itu tidak ada gunanya.”

Tuduhan Penutupan Informasi dan Tekanan Penghapusan Video

Sejak awal, warganet menuding adanya penekanan informasi. Seorang netizen mengaku melihat tujuh ambulans dan satu mobil pemadam memasuki lokasi. Sepanjang malam, asap dan debu juga dilaporkan memenuhi terowongan di sisi berlawanan, sementara alat berat dan petugas penyelamat terus bekerja.

Menurut laporan NetEase, seorang netizen yang membagikan video lokasi untuk memberi kabar kepada kerabat mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai petugas Polisi Jalan Tol Hebei Cabang Baoding, Brigade Yesanpo, dan meminta video tersebut dihapus.

Dalam rekaman percakapan yang kemudian beredar, penelpon menolak menyebutkan nama dan nomor identitas, serta tidak menjelaskan bagaimana memperoleh nomor telepon si netizen. Saat tak mampu menjawab pertanyaan, penelpon disebut mengumpat dan menutup telepon, memicu kemarahan publik.

Pernyataan Resmi Masih Minim

Hingga laporan ini disusun, tanggapan resmi dari pihak berwenang sangat terbatas. Otoritas hanya menyatakan bahwa “instansi terkait sedang menangani” kejadian tersebut, tanpa merinci korban, penyebab pasti, maupun hasil penyelidikan.

Insiden di Terowongan Duyuan kembali menyoroti kerentanan keselamatan di ruang tertutup berintensitas lalu lintas tinggi, sekaligus memunculkan pertanyaan publik tentang transparansi informasi dan penanganan krisis pada kecelakaan besar di Tiongkok.

Tak Ada Gencatan, Tak Ada Ampun: Thailand Terus Gempur Target di Kamboja

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, Angkatan Udara Thailand terus melancarkan serangan udara intensif terhadap sejumlah pusat penipuan daring dan kasino di wilayah perbatasan Kamboja. Operasi ini merupakan bagian dari rangkaian aksi militer terpadu—udara dan darat—yang bertujuan melemahkan jaringan penipuan internasional sekaligus mengamankan titik-titik strategis di garis perbatasan Thailand–Kamboja.

Serangan Udara Presisi: F-16 dan Bom Pemandu Laser

Rekaman yang dirilis 20 Desember memperlihatkan sebuah jet tempur F-16 Thailand menjatuhkan bom berpemandu laser GBU-12 Paveway II ke sebuah kasino di kawasan perbatasan Kamboja. Dalam tayangan tersebut, asap hitam pekat membumbung tinggi sementara beberapa bangunan kasino hancur total akibat hantaman presisi.

Serangan serupa juga terekam di lokasi lain di sepanjang perbatasan. Dalam satu video lain bertanggal 20 Desember, terlihat tiga bom dijatuhkan ke sebuah kasino di area perbatasan dekat Provinsi Pursat, disertai kehadiran drone militer berukuran besar yang melakukan pengintaian udara.

Gerak Maju Pasukan Darat dan Penguasaan Wilayah

Setelah serangan udara, Korps Marinir Kerajaan Thailand bergerak cepat dengan dukungan kendaraan serbu amfibi AAVP, berhasil menguasai Desa Bantasen di perbatasan Thailand–Kamboja serta area sekitar Kasino Tamoda. Rekaman lapangan diambil oleh seorang warga setempat asal Tiongkok; suaranya terdengar jelas mengatakan: “Tiga unit dari belakang juga datang,” merujuk pada kendaraan amfibi Thailand yang menyusul.

Di dalam video yang sama, tampak papan nama berbahasa Mandarin bertuliskan “Klub Rumah Tamu Nomor 5”. Keberadaan papan tersebut menguatkan indikasi bahwa kawasan ini dihuni banyak warga Tiongkok—yang, berdasarkan temuan lapangan, bekerja di pusat-pusat penipuan.

Pola Geografis Pusat Penipuan di Kamboja

Penelusuran peta menunjukkan Kasino Tamoda hanya berjarak beberapa ratus meter dari perbatasan Thailand, namun jauh dari kota-kota besar Kamboja seperti Sihanoukville (Kampong Som) dan Phnom Penh. Pola ini konsisten dengan sebaran pusat penipuan di Kamboja:

  • Phnom Penh: jumlahnya ada, namun relatif terbatas dan tersebar di gedung perkantoran/apartemen.
  • Sihanoukville: konsentrasi terbesar; kawasan yang kerap dilabeli “taman teknologi” atau “kota Tiongkok” justru menjadi episentrum penipuan.
  • Koh Kong, Poipet, dan Oddar Meanchey: zona perbatasan yang menjadi fokus operasi Thailand dalam periode ini.

Pada 20 Desember, sebuah video dari Poipet menunjukkan warga Tiongkok di atap gedung pusat penipuan mengibarkan tiga bendera—Indonesia, Kamboja, dan Tiongkok—yang memicu perhatian luas di media sosial.

Pernyataan Resmi Militer Thailand

Masih pada 20 Desember, Angkatan Darat Kerajaan Thailand menyatakan bahwa operasi di perbatasan secara signifikan melemahkan jaringan penipuan internasional, membatasi ruang gerak mereka, dan memaksa relokasi. Thailand juga mengakui bahwa sejumlah fasilitas militer Kamboja turut menjadi sasaran karena digunakan berdekatan atau bersama dengan kawasan penipuan.

Pertempuran Darat: Perebutan Bukit 350

Di darat, eskalasi mencapai puncaknya pada 21 Desember ketika Thailand mengumumkan penguasaan penuh Bukit 350—penamaan militer yang merujuk pada ketinggian 350 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini berada di kawasan bergunung yang menghadap jalan utama, berdekatan dengan Candi Ta Krabei, sebuah situs bersejarah.

Penguasaan Bukit 350 memberikan keunggulan taktis untuk mengendalikan wilayah puluhan kilometer persegi. Operasi darat dimulai 16 Desember dengan tiga target utama; sebelum menyerbu Bukit 350, pasukan Thailand membersihkan Candi Ta Krabei dan satu pos militer Kamboja di sekitarnya.

Menurut laporan lapangan, Kamboja mengirim pasukan tambahan untuk mempertahankan bukit. Pertempuran sempat mereda pada Kamis malam, lalu kembali memanas sekitar pukul 06.00 pagi keesokan harinya.

Pemutusan Logistik: Jembatan O Chik Dihancurkan

Untuk memutus suplai ke garis depan Kamboja, pada malam 19 Desember Angkatan Udara Thailand menghancurkan Jembatan O Chik di Jalan Raya Nomor 68, Provinsi Oddar Meanchey. Jembatan yang berjarak sekitar 62 km dari perbatasan Thailand ini merupakan jalur logistik vital. Rekaman warga menunjukkan dek beton berlubang besar, tulangan baja terekspos, dan jembatan tak lagi layak dilalui.

Korban dan Penghormatan

Dalam rangkaian operasi tersebut, Thailand melaporkan keberhasilan taktis lain—termasuk penguasaan Bukit 250 pada 20 Desember. Namun, pertempuran ini juga menelan korban: Wakil Komandan Batalyon III Resimen Infanteri ke-23, Prakon, bersama satu prajurit lainnya gugur.

Pada 21 Desember, Pemerintah Provinsi Surin menggelar upacara penghormatan terakhir. Jenazah dipulangkan; prajurit, keluarga, dan warga berbaris di sepanjang jalan sambil mengibarkan bendera nasional, dalam suasana khidmat dan duka mendalam.

Serangan Balasan, Drone, dan Temuan Senjata

Komando Wilayah Militer Kedua Thailand melaporkan bahwa pada 21 Desember pasukan Kamboja masih menggunakan artileri roket dan meriam untuk menyerang posisi Thailand di Dong Trua, Sam Ta Phip, dan Celah Gunung Ta Tao, merusak bunker dan menimbulkan korban. Thailand membalas dengan tembakan artileri, memaksa Kamboja memindahkan posisi tembak.

Menjelang malam, drone digunakan secara masif oleh kedua pihak untuk pengintaian dan serangan. Rekaman 20 Desember juga menunjukkan pasukan Thailand memasuki wilayah Torda, Provinsi Pursat, dengan patroli infanteri dan kendaraan lapis baja. Persenjataan yang terlihat meliputi M16A3, pelontar granat M203, dan senapan mesin FN MAG standar NATO.

Di posisi yang direbut, Thailand mengklaim menemukan senjata buatan Vietnam dan Tiongkok, termasuk RPG versi Vietnam, amunisi mortir 60 mm, serta senapan mesin Tipe 80. Dari pihak Kamboja, video garis depan memperlihatkan drone rakitan dengan hulu ledak RPG antitank Tipe 69 buatan Tiongkok. Rekaman lain menunjukkan pelontar granat 40 mm LG4 buatan Tiongkok macet saat digunakan, serta mortir Tipe 31 (desain lama yang meniru Soviet) dengan hulu ledak HE 60 mm buatan Vietnam.

Isu Situs Bersejarah dan Warga Sipil

Thailand menuduh Kamboja memanfaatkan situs bersejarah sebagai basis militer. Foto-foto yang dirilis memperlihatkan bunker dan pos militer didirikan di dalam kompleks Candi Ta Krabei, dengan dugaan pelibatan warga sipil tanpa memperhatikan keselamatan.

Reaksi Publik dan Dukungan Daring

Seiring beredarnya video yang menunjukkan bendera Tiongkok dikibarkan di pusat-pusat penipuan perbatasan, dukungan terhadap operasi Thailand menguat di media sosial. Banyak warganet Tiongkok menyatakan dukungan di akun Weibo Kedutaan Besar Thailand—memuji upaya pemberantasan penipuan, mendoakan keselamatan pasukan, bahkan menyebut penurunan panggilan penipuan dalam beberapa hari terakhir.

Kesimpulan

Hingga 21 Desember, konflik di perbatasan Thailand–Kamboja masih sangat sengit tanpa tanda gencatan senjata yang jelas. Thailand telah menguasai titik-titik kunci (Bukit 350 dan kawasan sekitar Candi Ta Krabei), memutus logistik, dan menggempur pusat-pusat penipuan yang selama ini beroperasi di zona perbatasan. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons Kamboja serta dinamika politik-keamanan regional dalam beberapa hari ke depan.

Kebaikan yang Tersembunyi di Balik Pakaian Lusuh

EtIndonesia. Rumah baru kami baru saja selesai direnovasi. Sampah sisa renovasi menumpuk di dalam rumah, dan hanya dengan melihatnya saja sudah membuat hati terasa kesal. Saya pun pergi ke pasar tenaga kerja di dekat jembatan untuk mencari orang yang bisa membantu mengangkut dan membersihkan sampah tersebut.

Baru saja saya tiba, belum sempat membuka mulut, sekelompok orang langsung mengerumuni saya, berebut bertanya apakah saya sedang mencari orang untuk bekerja.

Akhirnya, saya memilih dua orang. Yang satu adalah pemuda dengan wajah yang masih menyisakan kepolosan, satunya lagi pria paruh baya yang terlihat sederhana dan jujur. Setelah sepakat dengan bayaran lima puluh yuan, mereka langsung bekerja tanpa banyak bicara.

Mereka memang pekerja berpengalaman. Tak sampai satu jam, sampah yang berantakan sudah dibersihkan seluruhnya dan dimasukkan ke dalam karung. Pria paruh baya itu jelas lebih cekatan—pengalamannya membuat cara kerjanya jauh lebih efisien dibanding si pemuda. Bahkan, menjelang selesai, dia sempat membersihkan lantai rumah saya.

Sesuai kesepakatan, saya membagi upah: masing-masing dua puluh lima yuan. Namun setelah menerima uang, pria paruh baya itu tampak tidak puas. Dia mengatakan bahwa dirinya bekerja lebih banyak, sehingga seharusnya mendapat tiga puluh yuan, sementara si pemuda cukup dua puluh.

Saya tidak banyak berdebat. Saya tidak mengurangi bagian si pemuda, dan akhirnya menambah uang dari kantong saya sendiri.

Sebulan kemudian, rumah baru kami benar-benar selesai. Seluruh rumah perlu dibersihkan dari dalam hingga ke luar. Saya kembali lagi ke pasar tenaga kerja. Tak disangka, pria paruh baya itu langsung mengenali saya.

Meski sikapnya sebelumnya sempat membuat saya sedikit kurang simpatik, saya tetap memilihnya. Alasannya sederhana: kualitas kerjanya memang bagus. Satu orang lagi yang ikut kali ini adalah seorang perempuan paruh baya.

Namun yang tak saya duga, setelah berkeliling melihat rumah, pria itu justru mengatakan bahwa dia tidak ingin mengerjakan pekerjaan ini.

Saya langsung mengerti alasannya—pekerjaannya sedikit, dan jika dibagi dua, masing-masing hanya mendapat sepuluh yuan. Dalam hati, rasa tidak suka saya padanya bertambah.

Melihat raut wajah saya, pria itu menarik saya ke luar rumah dan menjelaskan. Dia mengatakan bahwa sebelumnya dia meminta bagian lebih besar karena memang mengerjakan porsi kerja yang lebih banyak. Selain itu, pemuda yang bersamanya masih muda, belum menikah, dan beban hidupnya belum seberat dirinya.

Penjelasan itu sudah cukup membuat saya heran. Namun kali ini, dia melanjutkan, pekerjaan memang sedikit dan uangnya pun kecil, tetapi sebenarnya bisa selesai dengan cepat. Bukan karena pekerjaan ini terlalu kecil atau bayarannya terlalu sedikit dia menolak, melainkan karena kondisi ekonomi perempuan itu jauh lebih sulit dibanding dirinya. Uang sekecil itu, menurutnya, lebih baik diberikan sepenuhnya kepada perempuan tersebut.

Saat itulah saya benar-benar memahami maksudnya.

“Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja kamu membantunya mengerjakan pekerjaan ini tanpa mengambil bayaran sama sekali? Bukankah itu lebih menunjukkan kebesaran hatimu?” tanya saya setengah bercanda.

Dia tersenyum kikuk. 

“Itu tidak bisa,” katanya. “Kalau begitu, itu justru akan melukai harga dirinya.”

Setelah itu, dia berpamitan singkat dan segera turun dari rumah.

Di dunia ini, ternyata masih banyak orang seperti dirinya. Karena tekanan hidup dan kesulitan ekonomi, mereka sering terlihat perhitungan demi keuntungan kecil, seolah mengenakan pakaian luar yang kusam dan penuh noda. Namun di balik lapisan itu, jauh di dalam hati mereka, kebaikan tetap hidup—dan terus memancarkan cahaya. (jhn/yn)

Praktisi Falun Dafa Memeriahkan Pawai Budaya Hari Jadi Kota Batam ke-196

BATAM — Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196 yang diselenggarakan di Dataran Engku Putri, Batamcentre, Kota Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (20/12/2025) pagi. 

Sejak pukul 07.00 WIB, para praktisi telah berkumpul di depan Gedung DPRD Kota Batam, bergabung dan menyatu dengan barisan peserta pawai lainnya yang telah berjejer rapi sepanjang jalan.

Dalam kegiatan ini, praktisi Falun Dafa dari berbagai negara, yakni Malaysia, Singapura, dan Taiwan, hadir atas undangan Pemerintah Kota Batam. Masing-masing negara mengirimkan sejumlah praktisi untuk berpartisipasi dan memeriahkan pawai budaya tersebut, bersama dengan praktisi Falun Dafa dari Indonesia.

Barisan Falun Dafa tampil menonjol dan menarik perhatian masyarakat dengan formasi empat barisan utama. Barisan tersebut terdiri dari Marching Band Tian Guo, barisan bidadari, barisan praktisi dengan pakaian kuning dan putih, serta barisan genderang pinggang. Harmoni musik, warna, dan gerakan yang ditampilkan memberikan nuansa budaya yang khas dan penuh semangat.

Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196 yang diselenggarakan di Dataran Engku Putri, Batamcentre, Sabtu (20/12/2025) pagi
Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196 yang diselenggarakan di Dataran Engku Putri, Batamcentre, Sabtu (20/12/2025) pagi
Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196
Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196
Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196
Praktisi Falun Dafa turut memeriahkan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196
Praktisi Falun Dafa menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Batam. Piagam tersebut diserahkan melalui Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Batam,  Zulkarnain

Setelah seluruh peserta berkumpul sejak pagi, pawai budaya resmi dimulai pada pukul 08.30 WIB. Ribuan peserta berjalan beriringan menuju Lapangan Dataran Engku Putri di depan Gedung Pemerintah Kota Batam. Sepanjang rute, masyarakat tampak antusias menyaksikan kemeriahan pawai.

Saat tiba di lokasi utama, pembawa acara memperkenalkan barisan Falun Dafa kepada para hadirin, yang terdiri dari Wali Kota Batam, Amsakar Achmad,  Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, Ketua DPRD kota Batam, Muhammad Kamaluddin, para kepala dinas dan tamu undangan lainnya, serta masyarakat yang memadati area acara. Penampilan Falun Dafa mendapat sambutan hangat dari para pejabat dan penonton.

Pada hari yang sama, praktisi Falun Dafa dari berbagai negara dan Indonesia juga menerima piagam penghargaan dari Pemerintah Kota Batam. Piagam tersebut diserahkan melalui Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Batam,  Zulkarnain HN, S.S.T., sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam Pawai Budaya Hari Jadi Kota Batam ke-196.

Kemeriahan berlanjut pada sore hari dengan pawai sesi kedua yang digelar  oleh praktisi Falun Dafa di sepanjang Jalan Golden City, Bengkong, Batam, yang dikenal sebagai kawasan pusat kuliner dan wisata. 

Pawai dimulai pada pukul 16.00 WIB dengan pengawalan dan pengaturan lalu lintas oleh pihak kepolisian setempat. Masyarakat dan pengunjung tampak sangat antusias, banyak di antaranya merekam, mengambil foto, serta menerima brosur pengenalan Falun Dafa dengan penuh sukacita.

Rangkaian acara sore hari dilanjutkan dengan penampilan Marching Band Tian Guo dan tarian genderang dari praktisi Falun Dafa di panggung Restoran Seafood Golden Prawn 933, Bengkong, Batam. Pada kesempatan tersebut, praktisi juga memperkenalkan latihan Falun Dafa kepada para tamu yang hadir.

Apakah Falun Dafa itu?

Untuk diketahui, Falun Dafa, yang juga dikenal sebagai Falun Gong, adalah sebuah disiplin spiritual yang memadukan latihan meditasi dengan falsafah yang berpusat pada prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini telah dipraktikkan oleh jutaan orang di Tiongkok dan di seluruh dunia sejak diperkenalkan kepada publik pada tahun 1992 oleh pendirinya, Master Li Hongzhi.

Master Li pertama kali mengajarkan latihan ini kepada masyarakat pada 13 Mei 1992 di kota Changchun, Tiongkok timur laut, dengan membimbing sekitar 200 peserta dalam latihan meditasi serta peningkatan moral diri.

Pilar lain dari praktik ini menitikberatkan pada peningkatan karakter pribadi dan perilaku moral para praktisi dalam kehidupan sehari-hari serta dalam menghadapi konflik antarmanusia—dengan menekankan pentingnya bersikap baik hati dan penuh perhatian terhadap orang lain dalam segala hal.

Tak lama setelah diperkenalkan, Falun Gong dengan cepat meraih popularitas yang luar biasa dan mendapatkan dukungan dari lebih dari 100 juta warga Tiongkok, termasuk banyak kalangan profesional serta bahkan anggota Partai Komunis tingkat tinggi. Kini juga menyebar ke seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Falun Gong menjadi populer pada masa ketika Tiongkok sedang mengalami perubahan besar. Negara tersebut mulai memasuki sistem ekonomi global setelah puluhan tahun terisolasi di bawah kediktatoran komunis Mao Zedong, seiring dengan keputusan Partai untuk menjalankan kebijakan “reformasi dan keterbukaan” pada dekade 1980-an.

Namun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) tetap berpegang kuat pada kekuasaan politiknya. Pada tahun 1989, ribuan mahasiswa yang memprotes tuntutan demokrasi ditembaki hingga tewas di jalanan Lapangan Tiananmen. Menjelang tahun 1999, pemimpin Partai saat itu, Jiang Zemin—yang sebelumnya juga mengambil sikap garis keras terhadap gerakan demokrasi ketika menjabat sebagai wali kota Shanghai—merasa bahwa Falun Gong dan para penganutnya menimbulkan ancaman yang bahkan lebih besar bagi rezim komunis.

Jiang mengklaim bahwa sebuah keyakinan spiritual yang begitu populer dan menyebar luas di seluruh Tiongkok merupakan tantangan serius terhadap Marxisme ateis yang dianut PKT, dan akan mengarah pada “runtuhnya Partai dan runtuhnya negara,” sebagaimana disampaikan oleh sumber-sumber dari kalangan elite pada masa itu.

Pada Juni 1999, dengan mengabaikan pimpinan senior Partai komunis lainnya, Jiang memerintahkan pembentukan sebuah kelompok tugas khusus untuk menangani apa yang disebut sebagai “masalah” Falun Gong. Pada Juli, kepolisian di seluruh Tiongkok serentak bergerak, menangkap dan memenjarakan ribuan orang.

Pada tahun-tahun berikutnya, jutaan orang dipenjarakan hanya karena mempraktikkan Falun Gong. Ribuan orang telah dikonfirmasi meninggal dunia akibat penganiayaan yang kini telah berlangsung selama 26 tahun, sementara jumlah sebenarnya masih mustahil ditentukan karena kontrol ketat PKT terhadap informasi. Bukti-bukti yang terus bertambah menunjukkan keterlibatan Partai Komunis dalam pembunuhan massal terhadap praktisi Falun Gong dan tahanan nurani lainnya demi mengambil dan memperjualbelikan organ mereka.(KS)

Platinum Drivers Giveaway inDrive Untuk Pengemudi Berprestasi Resmi Ditutup

BANDUNG — inDrive resmi menutup rangkaian Platinum Drivers Giveaway di Bandung melalui acara penghargaan bagi pengemudi mobil dan motor berprestasi. Program yang berlangsung sepanjang Oktober–November 2025 ini digelar untuk mendorong peningkatan aktivitas pengemudi di tengah tingginya permintaan perjalanan.

Business Growth & Development inDrive Indonesia, Ryan Rwanda menyatakan program ini menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi pengemudi dalam menjaga kelancaran mobilitas warga Bandung. “Platinum Drivers Giveaway terbukti mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas layanan selama periode permintaan tinggi,” katanya.

Melalui penutupan kampanye ini, inDrive menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program berdampak positif bagi pengemudi, memperkuat hubungan dengan komunitas lokal, serta mendukung ekosistem transportasi yang lebih efisien ke depan.

Acara penutupan dibuka oleh Ryan Rwanda, Business Growth & Development inDrive Indonesia, bersama AKBP Ety H. S.H., Kepala Subdirektorat Keamanan & Keselamatan Lalu Lintas. inDrive mengumumkan pengemudi dengan performa terbaik berdasarkan jumlah perjalanan dan konsistensi layanan selama periode tantangan.

Dua hadiah utama diberikan kepada pemenang masing-masing kategori. Handy Husada terpilih sebagai pengemudi mobil terbaik dan berhak atas satu unit BYD Atto 1, sementara Rizky Aminul meraih gelar pengemudi motor terbaik dengan hadiah Yamaha NMAX.

Selain hadiah utama, puluhan pengemudi lainnya menerima apresiasi berupa paket liburan keluarga, kamera dashboard, serta voucher bahan bakar. Seluruh pemenang menerima penghargaan langsung di panggung utama, disaksikan oleh komunitas pengemudi dan perwakilan inDrive.

Guru Menyembunyikan Kematian Murid dengan ‘Kebohongan Pindah Sekolah’, Meminta Para Murid Menulis Surat Perpisahan

EtIndonesia. “Kami semua merindukanmu” – Inilah pesan yang terkandung dalam surat perpisahan tulisan tangan siswa sekolah dasar di Tiongkok untuk teman sekelas mereka, yang sudah tidak mereka temui lagi.

Sang guru mengatakan bahwa muridnya telah pindah ke sekolah lain. Ini adalah kebohongan halus untuk melindungi anak-anak dari kebenaran yang pahit – teman mereka telah meninggal.

Seorang siswa kelas tiga di Distrik Tianjia’an, Huainan, Provinsi Anhui, Tiongkok, meninggal karena sakit, membuat guru wali kelasnya, yang telah mengajarinya selama dua tahun, menangis. Sang guru mengenang muridnya sebagai seseorang yang selalu berkumpul di sekitarnya setelah kelas, berbagi senyuman dan cerita-cerita lucu, seperti yang dilaporkan oleh South China Morning Post.

“Saat-saat terakhir anak itu tanpa rasa sakit. Karena khawatir anak itu akan ketakutan, kami memilih untuk membawanya kembali dari Shanghai tidak dengan ambulans. Keluarga itu bersama; sang ayah yang mengemudi, dan anak itu meninggal dalam pelukan ibunya. Saat-saat terakhirnya bahagia, dengan senyum di wajahnya,” tulis guru itu dalam sebuah unggahan di media sosial.

Dengan hati yang hancur, guru itu memutuskan untuk melindungi murid-muridnya yang lain dari berita yang menyedihkan ini dan memberi tahu mereka bahwa murid tersebut harus pindah sekolah. Guru itu meminta murid-muridnya untuk menulis surat kepada teman mereka yang telah pindah.

“Kamu selalu menjawab pertanyaan di kelas dan bermain game bersama kami setelahnya,” tulis seorang anak. “Sejak kamu pindah, kami semua merindukanmu. Jika kamu merasa kesepian atau sedih di sekolah barumu, bacalah surat ini. Kami akan selalu mengingatmu.”

Anak lain menyarankan agar anak laki-laki itu membawa surat-surat mereka, berharap itu akan memberinya sedikit kehangatan, seperti yang dilaporkan sanqin.com.

“Saat kamu pergi ke sekolah barumu, pastikan untuk membawa surat ini. Jika kamu merasa sedih, bacalah isi surat ini; semoga ini akan menghangatkan hatimu…” “Saat kamu sampai di sekolah barumu, carilah teman baru. Jangan terus-menerus memikirkan kami…” “Jika kamu merindukan kami di masa depan, anggap saja kami ada tepat di depanmu…”

Seorang siswa lain mengajak temannya yang sudah lama pergi untuk bermain bersama pada hari Minggu.

“Di mana sekolah barumu? Kemarin, guru membelikan kita semua teh buah, dan kamu melewatkannya. Jangan mencari teman yang lebih baik dariku di sekolah barumu. Ayo bermain bersama hari Minggu ini,” tulis anak itu.

Beberapa anak menggunakan pinyin untuk karakter yang tidak bisa mereka tulis.

Ungkapan kasih sayang melampaui surat tulisan tangan. Seorang anak meletakkan beberapa penghapus berbentuk buah di podium, berharap dapat memberikannya kepada anak laki-laki itu. Yang lain menawarkan kartu permainan kesayangan mereka dan penghapus berbentuk pedang.

“Aku sangat merindukannya, aku harap dia kembali,” kata seorang anak laki-laki sambil menangis kepada gurunya.

Sang guru mengemas surat-surat dan hadiah-hadiah itu ke dalam sebuah kotak dan mengirimkannya kepada orangtua anak laki-laki yang telah meninggal tersebut.(yn)

Polisi Swedia Menangkap Pembunuh Bayaran Berusia 12 Tahun Setelah Menembak Orang yang Salah

EtIndonesia. Seorang bocah berusia 12 tahun baru-baru ini ditangkap polisi setelah diduga menembak dan membunuh seorang pria berusia 21 tahun di Malmö, Swedia.

Dijuluki “Pembunuh Cilik” oleh media Swedia, anak di bawah umur yang tidak disebutkan namanya itu dilaporkan dibayar 250.000 krona Swedia (sekitar Rp 449 juta) untuk pergi ke Kota Malmö dan membunuh seseorang, tetapi malah menembak seorang pria berusia 21 tahun yang sedang berkumpul dengan beberapa temannya. 

Tidak jelas siapa yang memerintahkan pembunuhan itu dan mengapa, tetapi pihak berwenang memiliki alasan untuk percaya bahwa ini bukan pekerjaan pembunuhan bayaran pertama bocah berusia 12 tahun itu.

Surat kabar Swedia Expressen melaporkan bahwa tersangka muda itu ditangkap pada hari Selasa, 16 Desember, setelah laporan saksi mata tentang penembakan tersebut. Anak di bawah umur itu melarikan diri dari rumah neneknya di kota lain, tempat dia tinggal sejak berusia 7 tahun, dan diyakini telah terlibat dengan geng-geng kekerasan.

Polisi percaya bahwa target pembunuhan itu adalah penumpang lain di mobil yang sama. Semua penumpang memiliki catatan kriminal, termasuk korban, yang telah menjalani hukuman penjara selama lebih dari dua tahun karena perampokan, ancaman terhadap pejabat, dan tuduhan lainnya.

Anak-anak berusia dua belas tahun di Swedia telah dicurigai melakukan peledakan, menanam granat tangan, dan melakukan tugas untuk kelompok kriminal di masa lalu, tetapi ini adalah pertama kalinya dalam sejarah negara itu seseorang yang begitu muda dicurigai melakukan penembakan yang mematikan.

“Kita melihat bahwa usia pelaku semakin muda. Kita pernah memiliki beberapa pelaku yang sangat muda, terutama dalam aksi dengan granat tangan… Lalu kita berpikir bagaimana hal itu bisa terjadi seperti ini, dan bagaimana kita dapat menghentikan perkembangan ini,” kata Rasem Chebil, petugas yang bertanggung jawab atas penyelidikan di Kepolisian Malmö, kepada wartawan.

Chebil menambahkan bahwa sebagian besar pelaku kejahatan anak direkrut oleh penjahat profesional melalui media sosial, dan kemudian digunakan untuk melakukan kejahatan serius karena di Swedia, anak-anak di bawah usia 15 tahun tidak dapat dipenjara. Namun, dalam kasus khusus ini, karena beratnya kejahatan, jaksa memutuskan untuk memulai proses pidana terhadap anak di bawah umur tersebut.(jhn/yn)