Anjing Berusia 22 Tahun Diduga Menyadari Ajalnya Sudah Dekat, Ia Diam-Diam Meninggalkan Rumah! Kisahnya Mengharukan Banyak Orang

EtIndonesia.com Baru-baru ini, seekor anjing berusia 22 tahun di Provinsi Jiangxi, Tiongkok, yang diduga menyadari bahwa hidupnya telah mendekati akhir, berjalan perlahan meninggalkan rumah dengan tubuh yang sudah sangat lemah. Respons sang pemilik yang memahami maksud anjing tersebut, serta momen ketika anjing itu menoleh ke belakang, membuat banyak warganet tersentuh.

Anjing Tua Berusaha Pergi dari Rumah

Di Tiongkok, terdapat kepercayaan yang diwariskan turun-temurun bahwa anjing memiliki naluri yang kuat. Konon, ketika merasa ajalnya sudah dekat, mereka akan memilih bersembunyi atau pergi meninggalkan rumah agar pemiliknya tidak melihat mereka meninggal.

Baru-baru ini di Jiangxi, seekor anjing berusia 22 tahun—usia yang dianggap setara dengan manusia berumur lebih dari 100 tahun—tampaknya menunjukkan tanda-tanda seperti itu. Alih-alih beristirahat di tempat tidurnya seperti biasa, anjing tersebut menyeret tubuhnya yang hampir tak mampu berdiri dan bersikeras berjalan ke arah luar rumah.

Setiap melangkah beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke belakang, seolah ingin memastikan sesuatu atau mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.

Sang Pemilik Memanggilnya Pulang

Melihat pemandangan itu, sang pemilik merasa memahami apa yang sedang terjadi dan berulang kali memanggil dengan lembut:

“Masuklah! Jangan keluar. Jangan mati di luar rumah. Kalau memang waktunya tiba, matilah di rumah saja. Tidak ada yang akan membencimu.”

Mendengar suara yang dikenalnya, anjing tua itu berhenti berjalan dan menoleh ke arah pemiliknya. Tatapan matanya yang penuh rasa sayang dan enggan berpisah menyentuh hati banyak orang yang menyaksikan video tersebut.

Topik ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial Tiongkok. Banyak warganet berkomentar, “Melihat tatapannya saat menoleh, rasanya ia benar-benar memahami apa yang dikatakan pemiliknya.”

Banyak Warganet Terharu

Sejumlah komentar yang muncul antara lain:

  • “Anjing tua berusia 22 tahun itu seolah tahu bahwa hidupnya akan segera berakhir, lalu diam-diam ingin pergi. Tatapan terakhirnya membuat banyak orang menangis. Seumur hidup ia menjaga rumah ini, tetapi di akhir hidupnya justru ingin menghadapi kematian sendirian agar pemiliknya tidak bersedih. Kasih sayang dan kelembutan seperti ini terasa begitu tulus.”
  • “Semua makhluk hidup memiliki perasaan. Ikatan emosional lintas spesies seperti ini sangat menyentuh. Semoga semua hewan peliharaan diperlakukan dengan penuh kasih sayang, dan terima kasih kepada mereka yang telah menemani hidup kita selama bertahun-tahun.”
  • “Ketika anjing kami menua, suatu hari ia pergi diam-diam saat tidak ada yang memperhatikan dan tidak pernah ditemukan lagi. Mungkin ia merasa tugasnya menjaga rumah telah selesai dan tidak ingin merepotkan keluarga.”

Ada Pula Pendapat yang Berbeda

Di sisi lain, sebagian warganet menganggap bahwa anggapan bahwa anjing sengaja pergi agar pemiliknya tidak sedih mungkin merupakan penafsiran emosional manusia.

Mereka berpendapat bahwa:

  • Perilaku meninggalkan kelompok atau mencari tempat tersembunyi saat kondisi fisik melemah bisa merupakan naluri alami pada hewan dari keluarga anjing (canidae). Di alam liar, hewan yang sakit atau lemah cenderung mencari tempat yang aman agar tidak mudah menjadi sasaran predator.
  • Pada anjing yang sangat tua, tubuh yang semakin lemah mungkin secara naluriah mendorong mereka untuk mencari tempat yang tenang dan tersembunyi.

Ada juga komentar yang menyebut hasil sebuah survei di Amerika Serikat yang mengindikasikan banyak anjing menunjukkan tanda-tanda ketakutan atau kecemasan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perilaku menjauh saat mendekati kematian bisa saja berkaitan dengan rasa takut atau stres, bukan semata-mata keinginan untuk melindungi perasaan pemiliknya.

Dilaporkan oleh Li Yun/ Xia He

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine