Tiga Krisis Sekaligus! Iran Rekrut Diaspora, AS Kepung Ekonomi, Israel Gempur Lebanon

EtIndonesia. Situasi geopolitik global kembali memanas pada 27 April 2026, setelah muncul serangkaian perkembangan yang saling berkaitan—mulai dari pesan rekrutmen kontroversial Iran di Inggris, tekanan ekonomi Amerika Serikat yang semakin agresif, hingga eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Peristiwa-peristiwa ini terjadi dalam waktu hampir bersamaan, memicu kekhawatiran luas bahwa ketegangan global tengah bergerak menuju fase yang lebih berbahaya.


Pesan Rekrutmen Iran di London Picu Kekhawatiran

Pada 27 April 2026, sejumlah media Inggris melaporkan bahwa sebuah akun resmi yang terkait dengan Konsulat Kedutaan Besar Iran di London merilis pesan rekrutmen melalui kanal Telegram resminya.

Pesan tersebut berjudul “Muncul”, dan secara langsung ditujukan kepada warga Iran yang tinggal di Inggris. Dalam isi pesannya, mereka diajak untuk mendaftarkan diri dalam sebuah program yang disebut sebagai bentuk loyalitas dan pengabdian kepada Iran.

Namun, yang membuat publik Inggris waspada adalah nuansa pesan tersebut yang dianggap tidak biasa. Banyak pengamat menilai bahwa ajakan tersebut mengandung unsur mobilisasi, bahkan berpotensi mendorong pengorbanan ekstrem.

Dalam hitungan jam, pesan itu langsung menyebar luas dan menjadi sorotan media internasional.

Sejumlah analis keamanan di Inggris memperingatkan bahwa langkah ini bisa menjadi indikasi upaya Iran untuk mengaktifkan jaringan diaspora di luar negeri, terutama di tengah meningkatnya konflik dengan negara-negara Barat.

Pemerintah Inggris sendiri disebut sedang melakukan peninjauan keamanan terkait aktivitas tersebut, meskipun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi yang dirilis ke publik.


Amerika Serikat Perketat Tekanan Ekonomi Global

Masih pada hari yang sama, 27 April 2026, Amerika Serikat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui langkah-langkah yang lebih tegas dan terarah.

Menteri Keuangan AS mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap pihak yang masih bekerja sama dengan maskapai Iran yang telah dikenai sanksi, berisiko terkena sanksi sekunder dari Washington.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas, di mana Departemen Keuangan AS kini menargetkan jaringan aset global yang diduga menjadi tulang punggung perdagangan minyak Iran.

Dalam perkembangan penting lainnya, pemerintah AS juga telah mengirimkan surat resmi kepada sejumlah bank di Tiongkok. Surat tersebut berisi peringatan bahwa:

  • Jika bank-bank tersebut terus memfasilitasi transaksi minyak Iran
  • Maka mereka akan langsung dikenai sanksi sekunder

Kebijakan ini secara efektif memperluas tekanan Amerika ke sistem keuangan global, dengan tujuan memutus akses Iran terhadap jalur perdagangan energi internasional.


Lebih dari 80 Negara Kecam Iran

Tekanan terhadap Iran tidak hanya datang dari Amerika Serikat. Pada 27 April 2026, lebih dari 80 negara, yang dipimpin oleh Bahrain, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan Iran di kawasan.

Pernyataan tersebut menyoroti dugaan gangguan Iran terhadap jalur pelayaran internasional, khususnya di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.

Dalam dokumen tersebut, negara-negara penandatangan menegaskan bahwa:

  • Kebebasan navigasi adalah prinsip fundamental hukum internasional
  • Tidak boleh ada pihak yang menghambat lalu lintas kapal
  • Termasuk dengan cara membatasi akses atau memungut biaya pelayaran

Langkah kolektif ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Iran kini telah berkembang menjadi konsensus internasional yang lebih luas, bukan hanya konflik bilateral dengan Amerika Serikat.


Iran Ajukan Proposal: Siap Buka Selat Hormuz

Di tengah tekanan yang semakin besar, sejumlah media internasional mengutip sumber internal yang menyebut bahwa Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat melalui jalur mediasi.

Isi utama proposal tersebut meliputi:

  • Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz
  • Sebagai imbalannya, Amerika Serikat diminta:
    • Mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran
    • Mengakhiri konflik yang sedang berlangsung

Namun, terdapat satu poin penting yang menjadi perhatian Washington:
pembahasan mengenai program nuklir Iran akan ditunda ke tahap berikutnya.

Pada Senin, 27 April 2026, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah menggelar rapat bersama tim keamanan nasional untuk membahas proposal tersebut.

Dalam pernyataannya, Leavitt menegaskan bahwa:

“Garis merah Presiden terkait Iran sudah sangat jelas dan tidak akan berubah.”

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada peluang diplomasi, posisi Amerika tetap keras—terutama dalam isu nuklir.


Israel Perluas Serangan ke Lebanon

Sementara itu, di front militer, konflik di Timur Tengah terus mengalami eskalasi.

Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sejak 26 April 2026 memang telah diperpanjang selama tiga minggu. Namun, di lapangan, bentrokan antara Israel dan kelompok Hezbollah masih terus terjadi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya dalam rapat tingkat tinggi pada 21 April 2026, memuji kinerja militer negaranya.

Ia menyatakan bahwa pasukan Israel menunjukkan kemampuan tempur yang unggul di darat, laut, dan udara.

Pada 27 April 2026, militer Israel secara resmi memperluas operasi militernya dengan melancarkan serangan udara ke:

  • Lembah Bekaa
  • Lebanon bagian selatan

Media lokal Lebanon melaporkan bahwa serangan terjadi di berbagai titik strategis, memicu kepanikan di kalangan warga sipil.

Tidak hanya itu, Israel juga mengeluarkan peringatan kepada warga sipil Lebanon untuk segera meninggalkan tujuh kota di utara Sungai Litani, wilayah yang berada di luar zona penyangga yang sebelumnya dikuasai Israel.

Pihak militer Israel menyatakan bahwa langkah ini diambil setelah:

  • Hezbollah diduga melanggar kesepakatan gencatan senjata
  • Aktivitas militer kelompok tersebut meningkat

Target serangan Israel mencakup:

  • Personel bersenjata
  • Peluncur roket
  • Gudang senjata

Dunia di Ambang Ketegangan Besar

Rangkaian peristiwa yang terjadi dalam satu hari ini—27 April 2026—menunjukkan betapa cepatnya situasi global dapat berubah.

Dari pesan rekrutmen yang memicu kecurigaan di Eropa, tekanan ekonomi yang meluas ke sistem keuangan global, hingga eskalasi konflik militer di Timur Tengah—semuanya mengarah pada satu kesimpulan:

ketegangan global saat ini tidak hanya meningkat, tetapi juga semakin kompleks dan saling terhubung.

Jika tidak dikelola dengan hati-hati, perkembangan ini berpotensi memicu krisis yang jauh lebih besar dalam waktu dekat. (***)

Seluruh Korban Selamat dan Meninggal Dunia Dievakuasi, Kurang dari 12 Jam Operasi SAR Kecelakaan KRL Commuter Line vs KA Argo Bromo Anggrek Dinyatakan Selesai 

EtIndonesia — Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan dua kereta api yang melibatkan rangkaian kereta Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di stasiun Bekasi Timur secara resmi dinyatakan ditutup dan selesai pada Selasa (28/4/2026). 

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa operasi SAR berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 12 jam sejak kejadian yang dilaporkan pada Senin malam sekitar pukul 20.57 WIB. Seluruh korban telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan melalui proses evakuasi dan ekstrikasi dengan penanganan khusus.

Suasana doorstop usai operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan dua kereta api yang melibatkan rangkaian kereta Commuter Line dan KA Argo Anggrek di stasiun Bekasi Timur secara resmi dinyatakan ditutup dan selesai pada Selasa (28/4/2026) – Dok BASARNAS

“Alhamdulillah, seluruh korban telah berhasil kita evakuasi. Dalam prosesnya, terdapat beberapa korban yang memerlukan penanganan khusus karena posisi terjepit material rangkaian kereta, sehingga evakuasi harus dilakukan secara hati-hati dan tidak memungkinkan penarikan lokomotif secara langsung,” ujar Kepala Basarnas dalam keterangannya. 

Ia menambahkan, tim SAR gabungan menghadapi tantangan cukup berat mengingat kondisi benturan yang menyebabkan deformasi parah pada rangkaian kereta, bahkan hingga bagian lokomotif masuk ke badan gerbong. Hal tersebut mengakibatkan sebagian korban terjebak di dalam material, sehingga proses evakuasi memerlukan peralatan khusus, baik manual maupun hidrolik.

Seluruh korban yang berhasil dievakuasi, baik dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia, telah diserahkan kepada pihak medis dan dirujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk. Proses identifikasi korban selanjutnya menjadi kewenangan pihak berwenang.

Dengan telah selesainya proses evakuasi dan tidak ditemukannya korban tambahan, operasi SAR resmi dihentikan dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke satuan masing-masing.

Meski demikian, Basarnas menegaskan bahwa apabila dalam proses lanjutan ditemukan bagian tubuh korban atau indikasi lainnya, maka tindakan evakuasi tetap akan dilakukan sesuai prosedur.

Basarnas juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan, termasuk TNI, Polri, PT KAI, tenaga medis, relawan, serta dukungan masyarakat dan media yang turut membantu kelancaran operasi.

“Operasi berjalan lancar berkat sinergi seluruh pihak. Ini merupakan kejadian luar biasa dengan tingkat kesulitan tinggi, namun dapat kita tangani bersama secara optimal,” tutup Kabasarnas.

Batalkan Agenda Perundingan di Pakistan, Trump: Tidak Berarti Perang Akan Segera Dimulai Kembali

EIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 25 April membatalkan rencana pertemuan antara perwakilan AS dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di ibu kota Pakistan, Islamabad. Ia menegaskan bahwa keputusan ini tidak berarti Amerika Serikat dan Israel akan segera melanjutkan perang terhadap Iran.

Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bersama menantunya Jared Kushner, dijadwalkan berangkat ke Islamabad untuk mengadakan “pertemuan tatap muka” dengan perwakilan Iran, dengan harapan mendorong kemajuan kesepakatan.

Menurut laporan Fox News, dalam wawancara telepon, Trump mengatakan:
“Saya sudah memberi tahu tim saya, mereka sebenarnya sudah siap berangkat. Saya bilang: ‘Tidak, kalian tidak perlu terbang 18 jam ke sana.’ Kami memegang semua kartu. Mereka bisa menghubungi kami kapan saja, tapi kalian tidak perlu menempuh perjalanan 18 jam hanya untuk duduk di sana tanpa hasil.”

Ketika ditanya oleh Axios apakah langkah ini berarti kembali ke aksi permusuhan, Trump menjawab: “Tidak, bukan itu maksudnya. Kami belum sampai pada tahap itu.”

Tak lama sebelum Trump mengumumkan pembatalan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru saja menyelesaikan kunjungan diplomatiknya di Islamabad.

Araghchi sebelumnya telah bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Dalam pernyataannya di Telegram, ia mengatakan bahwa pembicaraan mencakup perkembangan situasi regional, termasuk batasan Iran dalam negosiasi, serta menegaskan bahwa Iran akan terus berpartisipasi dalam upaya mediasi Pakistan “hingga mencapai hasil.”

Sementara itu, televisi pemerintah Iran menyebutkan bahwa Araghchi tidak memiliki agenda pertemuan dengan pihak Amerika, dan Islamabad akan bertindak sebagai perantara untuk “menyampaikan” proposal Iran kepada pihak terkait.

Trump pekan ini juga mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu dengan Iran. Saat ini, Iran masih mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dan awal pekan ini dilaporkan menyerang tiga kapal. Di saat yang sama, Amerika Serikat terus memblokade pelabuhan Iran dan melakukan tindakan tembakan terhadap kapal yang diduga memasang ranjau laut. 

Sumber : NTDTV.com

Sejarah Berulang? Penembakan di Jamuan Jurnalis Gedung Putih Memiliki Fakta Mengejutkan: Presiden Reagan Pernah Ditembak di Lokasi yang Sama 45 Tahun Lalu

EtIndonesia. Saat jamuan tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih pada 25 April, tiba-tiba terjadi insiden penembakan, dan Presiden Donald Trump yang hadir segera dievakuasi. Hal mengejutkan, lokasi kejadian adalah hotel yang sama dengan tempat Presiden Ronald Reagan pernah ditembak 45 tahun lalu.

Pada Sabtu (25 April), ketika acara berlangsung di Washington Hilton, terjadi penembakan. Presiden Trump kemudian dievakuasi dengan aman oleh Dinas Rahasia. Wakil Presiden J. D. Vance dan anggota kabinet juga selamat.

Pelaku penembakan ditangkap di tempat. Ia disebut sebagai pria berusia 31 tahun, Cole Tomas Allen, dari Torrance, California, dan merupakan lulusan California Institute of Technology.

Dalam konferensi pers setelah kejadian, Trump mengungkapkan bahwa Allen membawa banyak senjata dan mencoba menerobos pos pemeriksaan keamanan, namun berhasil dilumpuhkan oleh petugas Dinas Rahasia. Trump juga menyebut Allen sebagai “orang sakit” dengan kondisi yang sangat serius, dan aparat penegak hukum telah bersiap untuk menggeledah tempat tinggalnya.

Kebetulan yang mencolok adalah bahwa lokasi penembakan kali ini sama dengan tempat Presiden Reagan pernah ditembak dan mengalami luka berat.

Pada 30 Maret 1981, Presiden Reagan menghadiri makan siang bersama perwakilan serikat pekerja di hotel tersebut dan menyampaikan pidato. Saat meninggalkan hotel, ia ditembak oleh seorang penderita gangguan mental, John Warnock Hinckley Jr.. Peluru menembus paru-parunya dan menyebabkan pendarahan internal serius, namun ia berhasil diselamatkan melalui operasi darurat.

Sumber : ntdtv.com

Bentrokan dengan Hezbollah, Militer Israel Cegat Roket dan Minta Warga Jauhi Lebanon Selatan

EtIndonesia. Di tengah perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 25 April menyatakan akan meningkatkan serangan dengan menargetkan Hezbollah. Sebelumnya, militer Israel menuduh Hezbollah menembakkan roket ke wilayah Israel, menambah ketidakpastian pada gencatan senjata yang rapuh.

Menurut laporan Reuters, militer Israel meminta warga Lebanon untuk tidak mendekati wilayah selatan Sungai Litani River, karena pasukan Israel sedang bertempur dengan Hezbollah di daerah tersebut.

Militer Israel menyatakan bahwa di wilayah yang saat ini mereka kendalikan, mereka telah mencegat satu “target udara mencurigakan”. Selain itu, Hezbollah disebut menembakkan dua roket ke Israel utara, salah satunya berhasil dicegat, dan tidak ada laporan korban.

Sementara itu, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, serangan udara Israel pada 25 April di Lebanon selatan menyebabkan empat orang tewas, meski belum jelas apakah korban tersebut terkait langsung dengan serangan tersebut.

Sehari sebelumnya, pasukan Israel terlibat bentrokan dengan Hezbollah di kota Bint Jbeil di Lebanon selatan, dan menewaskan enam anggota kelompok tersebut. Wilayah ini sebelumnya mengalami pertempuran sengit sebelum gencatan senjata diumumkan pekan lalu.

Perdana Menteri Netanyahu mengatakan bahwa setelah menyetujui perpanjangan gencatan senjata, Hezbollah berusaha “merusak” upaya perdamaian antara Israel dan Lebanon.

Sejak tahun 1948, Israel dan Lebanon berada dalam kondisi konflik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berharap dapat mendorong perdamaian yang lebih luas antara kedua negara.

Perjanjian gencatan senjata Israel-Lebanon yang semula berakhir pada 26 April, diumumkan diperpanjang selama tiga minggu oleh Trump pada 23 April setelah pembicaraan di Gedung Putih. Namun, seorang anggota parlemen Hezbollah pada 24 April menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tidak memiliki arti. 

Sumber : ntdtv.com

Penembakan di Jamuan Jurnalis Gedung Putih, Media Resmi Partai Komunis Tiongkok Diduga Sebarkan Informasi Salah dengan Menyebut Penembak Tewas

Saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih pada malam 25 April, tiba-tiba terdengar suara tembakan di luar aula. Pelaku penembakan berusia 31 tahun, Cole Tomas Allen, berhasil ditangkap. Namun, media resmi Partai Komunis Tiongkok, CCTV News, justru melaporkan bahwa pelaku telah tewas.

EtIndonesia. Pada 26 April, topik “penembak dalam insiden jamuan Gedung Putih tewas” menjadi trending nomor satu di Weibo. Kontennya berasal dari laporan singkat CCTV yang menyebutkan bahwa “pada 25 April waktu setempat, terjadi penembakan di aula jamuan Koresponden Gedung Putih di Amerika Serikat, dan pelaku telah meninggal dunia.”

Selanjutnya, sejumlah media daring Tiongkok lainnya ikut menyebarkan laporan tersebut, dan topik itu bertahan lama di posisi teratas trending Weibo.

Namun, tak lama setelah insiden terjadi, Presiden Trump mengunggah foto di platform Truth Social yang menunjukkan pelaku Allen ditangkap dalam keadaan hidup.

Selain itu, kepolisian Washington juga menyatakan bahwa pelaku tidak mengalami luka.

(Tangkapan layar dari Weibo)

Menurut laporan CNN, tersangka saat ini masih ditahan di pusat penahanan Washington, D.C., dan diperkirakan paling cepat akan dibawa ke pengadilan federal pada Senin (27 April waktu setempat) untuk sidang awal. Aparat penegak hukum berencana mengajukan sejumlah dakwaan berat, termasuk “upaya pembunuhan terhadap presiden” dan “penyerangan terhadap pejabat federal dengan senjata mematikan.”

Berdasarkan hukum Amerika Serikat, jika terbukti bersalah atas upaya pembunuhan presiden, Allen dapat menghadapi hukuman maksimal berupa penjara seumur hidup. (Hui)

Sumber : ntdtv.com

Laporan NTD di Lokasi Kejadian : Terdengar Tembakan di Jamuan Koresponden Gedung Putih, Penembak Ditangkap, Presiden Selamat

EtIndonesia. Pada Sabtu malam (25 April), terjadi insiden penembakan di jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih yang digelar di hotel Washington Hilton, Amerika Serikat. Beruntung, Presiden Donald Trump dan sejumlah anggota kabinet berhasil dievakuasi dengan selamat, sementara pelaku langsung ditangkap di tempat. Berikut laporan dari reporter Gedung Putih.

Reporter NTD di Gedung Putih, Tao Ming:  “Sekitar 10–15 menit setelah acara dimulai, terdengar rentetan tembakan. Semua orang langsung tiarap dan berusaha mencari perlindungan. Presiden Trump, Wakil Presiden J. D. Vance, serta anggota kabinet segera dievakuasi.”

Jamuan tersebut merupakan pertama kalinya Presiden Trump dan Ibu Negara Melania hadir sebagai presiden yang sedang menjabat. Saat hidangan pertama baru disajikan, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar. Petugas Dinas Rahasia berteriak “tiarap!”, dan semua orang segera berlindung.

“Ini adalah lingkungan yang sangat tertutup, dengan ribuan orang berada dalam satu ruangan. Kami melihat petugas keamanan berlari masuk dari bagian belakang untuk mengevakuasi pejabat tinggi dan anggota kabinet yang berada di dalam ruangan bersama kami.”

Reporter NTD di Gedung Putih, Tao Ming

Saat itu, seorang penyerang bersenjata mencoba menerobos pos pemeriksaan keamanan, namun berhasil segera dilumpuhkan oleh Dinas Rahasia. Setelah itu, seluruh peserta dievakuasi dengan aman.

Tao Ming:  “Di luar, terlihat banyak mobil polisi, dan helikopter juga berpatroli di udara. Anda bisa melihat cahaya di langit—itu helikopter yang terus berjaga. Area sekitar tetap dalam kondisi siaga.”

Presiden Trump awalnya ingin melanjutkan acara, namun karena belum dapat dipastikan apakah hanya ada satu pelaku, Dinas Rahasia memutuskan untuk melakukan evakuasi demi keamanan. Presiden kemudian kembali ke Gedung Putih dan menggelar konferensi pers.

Tao Ming menambahkan:  “Bagi banyak jurnalis, ini adalah malam yang tak terlupakan. Bahkan sekarang kami masih mengenakan pakaian formal dan tetap berada di Gedung Putih untuk terus melaporkan perkembangan. Kami akan terus memberikan informasi terbaru.”

Reporter NTD Television Tao Ming dan Zhang Ruiqi melaporkan dari Gedung Putih, Amerika Serikat.

Viral Video Wanita 32 Tahun dan Lansia 66 Tahun Saling Jambak dan Berkelahi di MRT Shanghai

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang wanita berusia 32 tahun dan seorang lansia berusia 66 tahun terlibat perkelahian sengit di dalam kereta Shanghai Metro. Rekaman kejadian tersebut viral di internet dan memicu perbincangan luas.

Pada 25 April, seorang netizen mengungkap bahwa seorang wanita dan lansia bertengkar di Jalur 1 MRT Shanghai, yang kemudian berujung pada perkelahian.

Video yang beredar menunjukkan seorang wanita mengenakan jaket merah muda dan seorang wanita lain mengenakan kaus lengan pendek terlibat konflik fisik hebat di dalam gerbong. Keduanya saling tarik dan jambak tanpa mau mengalah, dari kursi hingga jatuh ke lantai, terus bergulat satu sama lain, menarik perhatian penumpang lain dan membuat suasana menjadi kacau.

Netizen di Tiongkok berkomentar:
“Siapa yang mulai duluan? Harusnya yang memulai dihukum.”
“Kalau yang muda yang mulai, juga harus dihukum berat.”
“Ada terdengar wanita muda itu berteriak: kamu yang pukul duluan.”
“Semoga diselidiki dengan jelas. Kalau memang lansia yang mulai, jangan dimaafkan hanya karena usianya. Dari video terlihat lansia yang lebih dulu memukul.”

Ada juga yang berkomentar:
“Dulu orang selalu memberikan tempat duduk kepada lansia, sekarang bukan hanya tidak memberi, malah sampai berkelahi memperebutkan kursi, benar-benar luar biasa…”
“Susah membedakan mana yang 66 tahun, kelihatannya sama-sama muda.”
“Akhirnya semua kursi kosong, tapi tidak ada yang melerai.”
“Sekarang orang-orang emosinya terlalu tinggi, tidak ada yang mau mengalah.”

Pada 26 April, pihak kepolisian dari unit transportasi umum kota Shanghai melaporkan bahwa pada sore 25 April, Zeng (wanita, 32 tahun) dan Wu (wanita, 66 tahun) terlibat konflik fisik di dalam gerbong Jalur 1 karena berebut tempat duduk. Saat ini, kasus tersebut telah diproses secara administratif oleh polisi.

Ini merupakan insiden kedua dalam kurang dari 10 hari di MRT Shanghai yang dipicu oleh hal sepele namun berujung pada kekerasan fisik.

Sebelumnya, pada 17 April di Stasiun Jiangsu Road Jalur 11, dua penumpang wanita bersenggolan saat naik kereta karena berdesakan, kemudian bertengkar, dan dengan cepat meningkat menjadi perkelahian di dalam gerbong.

Setelah kejadian itu, keduanya dikenai penahanan administratif oleh polisi.

Sumber : NTDTV.com

Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Tarif Listrik di Banyak Provinsi Tiongkok

EtIndonesia. Dampak ketegangan di Timur Tengah kini mulai merambat ke pasar listrik di Tiongkok bagian selatan. Karena wilayah selatan seperti Guangdong sangat bergantung pada impor gas alam dan batu bara untuk pembangkit listrik, kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz belakangan ini mendorong naiknya tarif listrik di wilayah tersebut.

Menurut data yang dirilis oleh pusat perdagangan listrik Guangzhou, dari 1 hingga 23 April, harga rata-rata transaksi harian di pasar spot kawasan selatan mencapai 468 yuan per megawatt-jam, naik 38% dibandingkan Maret. Di Guangdong, harga listrik pada April beberapa kali mendekati 1 yuan per kWh, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Para ahli menyebut Guangdong merupakan pusat manufaktur penting sekaligus wilayah dengan konsumsi listrik besar di Tiongkok, serta sangat bergantung pada impor bahan bakar melalui jalur laut. Ketika Selat Hormuz terganggu, pasokan energi global seperti gas alam dan batu bara ikut tertekan, dan biaya tersebut cepat diteruskan ke sektor pembangkit listrik lokal.

Hingga pertengahan April, harga impor LNG (gas alam cair) Tiongkok secara keseluruhan naik 9,38% dibandingkan periode sebelumnya. Wakil profesor ekonomi dan manajemen dari North China Electric Power University, Xu Chuanbo, mengatakan bahwa dalam pasar listrik spot, kenaikan biaya bahan bakar akan langsung mendorong kenaikan harga melalui mekanisme penetapan harga pembangkit marginal.

Laporan tahunan “Pasar Listrik Guangdong 2025” yang dirilis oleh pusat perdagangan listrik Guangdong juga menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, harga spot di sisi pembangkit telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Tiongkok merupakan importir LNG terbesar di dunia, dan Guangdong adalah salah satu provinsi dengan terminal penerimaan LNG paling padat. Hal ini membuat pasokan listrik di wilayah tersebut sangat sensitif terhadap perubahan jalur pelayaran internasional dan harga energi impor.

Analisis menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz kali ini tidak hanya berdampak pada logistik laut, tetapi juga secara langsung mengguncang mekanisme ketahanan energi jangka panjang di Guangdong.

Sumber : ntdtv.com

Penembakan di Jamuan Makan Malam Koresponden Gedung Putih, Tersangka Diduga Menargetkan Trump dan Pejabat Pemerintah

EtIndonesia. Pejabat Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche pada 26 April menyatakan bahwa hasil penyelidikan awal atas penembakan di jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih menunjukkan tersangka diduga menargetkan pejabat pemerintahan Donald Trump.

Tersangka dijadwalkan menghadapi dua dakwaan federal pada Senin (27 April). Sementara itu, sebuah dokumen terkait tersangka juga telah terungkap ke publik. Presiden Trump menyebut malam itu sebagai malam yang menyedihkan dan mengecam kebencian dalam diri pelaku. Dalam insiden tersebut, seorang petugas penegak hukum yang mengenakan rompi antipeluru dan tertembak kini telah keluar dari rumah sakit.

Blanche menyebut, tersangka berusia 31 tahun, Cole Allen, diduga menargetkan Presiden Trump dan para pejabat pemerintah.

“Kami masih dalam tahap awal penyelidikan untuk memahami motifnya, namun memang terlihat bahwa tersangka tampaknya menargetkan pejabat pemerintah,” katanya. 

Menurut laporan The Wall Street Journal, bukti terkait berasal dari sebuah dokumen sekitar 1.000 kata yang telah dikonfirmasi berkaitan dengan tersangka. Dalam dokumen tersebut, tersangka menyebut dirinya sebagai “pembunuh federal yang ramah” dan menganggap adanya celah keamanan di hotel, yang memungkinkannya membawa senjata api ke dalam lokasi jamuan makan malam tempat Presiden Trump dijadwalkan berpidato.

Blanche menambahkan, “Dia adalah terdakwa, dan besok pagi akan didakwa dengan dua tuduhan: menyerang petugas penegak hukum federal, serta menggunakan senjata api dalam tindak kejahatan kekerasan. Tindak kejahatan dasar dalam kasus ini adalah penyerangan. Apakah akan ada dakwaan tambahan dalam beberapa hari atau minggu ke depan masih harus dilihat, tergantung pada bukti yang kami kumpulkan sejak semalam dan yang akan terus dikumpulkan.”

Penyidik mengungkapkan bahwa tersangka berasal dari Torrance, California. Ia melakukan perjalanan dari Los Angeles dengan kereta, melalui Chicago, menuju Washington, dan pada 24 April menginap di hotel Washington Hilton tempat jamuan makan malam tersebut berlangsung. Polisi menemukan dua senjata api dan beberapa pisau dari dirinya.

Presiden Donald Trump pada 26 April mengatakan bahwa dirinya dan Ibu Negara dalam keadaan selamat, namun insiden penembakan itu menjadikan malam tersebut penuh kesedihan.

Trump mengatakan, “Dia (Ibu Negara) baik-baik saja, saya juga tidak apa-apa. Ini adalah malam yang sangat menyedihkan dalam banyak hal.”

Trump juga menyatakan bahwa tersangka telah lama menyimpan kebencian, dan menyebut “manifesto” pelaku menunjukkan kebencian terhadap umat Kristen.

Trump berkata, “Jika Anda membaca manifestonya, Anda akan melihat dia membenci umat Kristen. Itu sangat jelas. Dia membenci umat Kristen… jadi dia adalah orang dengan masalah yang sangat serius.”

Selain itu, Trump juga menulis bahwa insiden ini menyoroti pentingnya membangun ruang perjamuan dengan tingkat keamanan tinggi di Gedung Putih, serta meminta agar proses hukum tidak menghambat pembangunan tersebut.

Setelah kejadian, para pemimpin dunia turut menyampaikan dukungan kepada Trump dan mengecam aksi kekerasan pelaku.

Reporter NTD Television Zheng Shengxun melaporkan dari Amerika Serikat.

Mali Diserang Secara Gabungan, Menteri Pertahanan Tewas, Kota Penting di Wilayah Utara Dikabarkan Direbut Pemberontak

EtIndonesia. Pemerintahan militer Mali menghadapi krisis keamanan besar pada 26 April. Setelah serangan gabungan oleh kelompok jihadis dan pemberontak separatis di berbagai wilayah pada 25 April, sebuah kota penting di wilayah utara dilaporkan jatuh ke tangan pemberontak. Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas dalam serangan tersebut. Sehari sebelumnya, bandara utama di ibu kota Bamako sempat ditutup.

Pemerintah Mali saat ini dipimpin oleh militer dan telah lama berperang melawan cabang-cabang Al-Qaeda dan ISIS. Kini mereka menghadapi salah satu serangan terbesar sejauh ini.

Menurut laporan AFP, seorang pejabat serta keluarga Camara mengungkapkan bahwa rumah Camara diserang dengan bom mobil pada 25 April. Camara, istrinya, serta dua cucunya tewas dalam insiden tersebut. Kediamannya berada di Kati, kawasan militer penting di pinggiran Bamako.

Pemerintah militer dalam pernyataan pada 26 April menyebutkan bahwa Camara terluka dalam baku tembak dengan para penyerang, lalu meninggal dunia di rumah sakit. “Ia berhasil menewaskan sebagian pelaku,” demikian pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa ia akan dimakamkan secara kenegaraan.

Saat ini, pasukan pemerintah masih terus bertempur di beberapa wilayah. Reuters pada 25 April, mengutip laporan keamanan PBB, menyebutkan bahwa terjadi “serangan kompleks dan terkoordinasi” di berbagai lokasi, termasuk dekat bandara Bamako dan di Kati. Baku tembak juga dilaporkan terjadi di Mopti, Gao, dan Kidal di wilayah utara, serta di kota tengah Sevare, di mana saksi mata mengatakan “suara tembakan terdengar di mana-mana.”

Kedutaan Besar Amerika Serikat mengimbau warganya untuk berlindung di tempat, sementara Inggris menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Mali. Hingga saat ini, pemimpin militer Mali, Assimi Goita, belum muncul di hadapan publik maupun mengeluarkan pernyataan resmi.

Menurut sumber, dua kelompok yang melancarkan serangan gabungan ini adalah pemberontak Tuareg yang bersekutu dengan Front Pembebasan Azawad (FLA), serta kelompok jihadis Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM). Pemberontak Tuareg juga mengumumkan telah mencapai kesepakatan yang memungkinkan pasukan Rusia yang mendukung militer Mali untuk mundur dari kota Kidal di utara. Mereka mengklaim kota tersebut kini “sepenuhnya” berada di bawah kendali mereka.

Para analis menyebut ini sebagai tantangan terbesar bagi pemerintahan Mali sejak Maret 2012, ketika Prancis sempat melakukan intervensi militer untuk menahan serangan serupa. Sejak itu, pasukan Prancis telah ditarik.

Ulf Laessing dari lembaga think tank Jerman Konrad Adenauer Foundation mengatakan, “Ini tampaknya merupakan serangan terkoordinasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.” 

Sumber : NTDTV.com

Kapal Tanker Pertama Pembawa Minyak Mentah AS Tiba di Jepang, Iran Ajukan Syarat Baru Hingga Israel Kirim Sistem “Iron Dome” ke UEA

EtIndonesia. Pada 25 April, perang Iran memasuki hari ke-57, blokade laut hari ke-13, dan gencatan senjata Israel–Lebanon hari ke-10. Pada 24 April, negosiasi AS–Iran menunjukkan perkembangan baru, dengan rencana pertemuan pada 25 April di Islamabad, Pakistan.

Di saat yang sama, konflik Iran mulai mengarah pada dugaan keterlibatan pendukung di belakangnya, termasuk Tiongkok, dengan Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap kilang besar di sana. AS juga telah menyita tiga kapal dagang di berbagai perairan dunia.

Namun pada 25 April, pertemuan AS–Iran akhirnya tidak terlaksana. Iran disebut bersiap menghadapi masa sulit bersama rakyatnya. Sejumlah negara menyatakan akan ikut serta dalam operasi pembersihan ranjau jika kesepakatan damai tercapai. Harapan damai Israel–Lebanon mulai terlihat, meski Hezbollah masih menghambat. Pada malam hari waktu AS, terjadi penembakan di jamuan Koresponden Gedung Putih.

Pada 26 April, perang memasuki hari ke-58, blokade hari ke-14, dan gencatan senjata Israel–Lebanon hari ke-11. Menteri Luar Negeri Iran kembali dari Oman ke Pakistan, mengajukan daftar baru untuk mengakhiri perang, lalu melanjutkan perjalanan ke Rusia. Israel terus menyerang Hezbollah. Blokade laut AS telah memaksa 38 kapal berbalik arah.

Pada 27 April, perang memasuki hari ke-59, blokade hari ke-15, dan gencatan senjata Israel–Lebanon hari ke-12.

Militer Israel: Temukan Senjata di Kamar Anak

Pasukan Israel Defense Forces merilis video di platform X yang menunjukkan penemuan sejumlah besar senjata di sebuah kamar anak di wilayah selatan Lebanon, Adshit al-Qusayr. Senjata yang ditemukan meliputi bahan peledak, senapan Kalashnikov, granat, peluncur roket, senapan mesin, amunisi, dan perlengkapan tempur.

Sebelumnya, IDF juga menyatakan terus menyerang target Hezbollah di utara garis depan, termasuk tim peluncur roket, peluncur siap tembak, gudang senjata, dan fasilitas militer.

Militer AS: 38 Kapal Dipaksa Berbalik

United States Central Command merilis gambar terbaru yang menunjukkan seorang pelaut AS mengawasi kapal dagang. Disebutkan bahwa militer AS terus memblokade pelabuhan Iran dan telah memerintahkan 38 kapal untuk berbalik.

Tanker Minyak AS Pertama Tiba di Jepang

Pada Minggu (26 April), kapal tanker pertama yang membawa minyak mentah AS sejak pecahnya perang Iran tiba di Jepang. Kapal tersebut berangkat dari Texas pada 22 Maret dan melewati Terusan Panama.

Perusahaan Cosmo Energy Holdings Co. menyatakan kapal itu membawa 145.000 kiloliter minyak mentah, setara dengan setengah hari konsumsi domestik Jepang.

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang memperkirakan impor minyak dari AS pada Mei akan mencapai empat kali lipat dibandingkan tahun lalu. Pemerintah juga menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasokan energi.

Lebih dari 90% impor minyak Jepang berasal dari Timur Tengah, sebagian besar melalui Selat Hormuz, yang kini terganggu akibat perang.

Iran Ajukan Syarat Baru

Menurut Tasnim News Agency, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah mengajukan daftar syarat baru kepada Pakistan untuk mengakhiri perang, termasuk:

  • Mekanisme hukum baru untuk Selat Hormuz
  • Kompensasi
  • Jaminan tidak ada agresi militer lagi
  • Penghentian blokade laut

Iran juga menegaskan isu nuklir tidak termasuk dalam negosiasi ini.

Araghchi ke Rusia

Menurut IRNA, Araghchi telah meninggalkan Pakistan menuju Moskow, Rusia, dan dijadwalkan bertemu Presiden Vladimir Putin untuk membahas perkembangan terbaru, gencatan senjata, dan situasi regional.

Trump dan Starmer Bahas Pembukaan Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer membahas “kebutuhan mendesak” membuka kembali jalur pelayaran. Ribuan pelaut masih terjebak di kawasan Teluk.

Israel Kirim Sistem “Iron Dome” ke UEA

Menurut laporan Axios, Israel mengirim sistem pertahanan udara “Iron Dome” ke Uni Emirat Arab pada awal perang, lengkap dengan operatornya. Ini merupakan kerja sama yang sebelumnya tidak pernah diungkap.

UEA dilaporkan menerima lebih dari 550 rudal dan 2.200 drone dari Iran, meski sebagian besar berhasil dicegat.

Peringatan untuk Warga Lebanon Selatan

Militer Israel menyebarkan selebaran di wilayah Tyre, memperingatkan warga agar tidak kembali ke desa-desa di Lebanon selatan karena ancaman berkelanjutan dari Hezbollah.

Kontroversi di Iran

Akun intelijen sumber terbuka membagikan video dari kota Mashhad yang menunjukkan mural baru memperingati tokoh revolusi Iran. Mural tersebut memicu kebingungan karena menampilkan sosok Mojtaba Khamenei bersama para pemimpin yang telah meninggal dunia.

Trump: Tidak Menganggap Insiden Penembakan Terkait dengan Perang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers menanggapi hubungan antara insiden penembakan dan perang Iran dengan mengatakan:  “Penembakan ini tidak akan menghentikan saya untuk memenangkan perang melawan Iran. Saya tidak tahu apakah ini ada kaitannya dengan perang, tetapi saya benar-benar tidak berpikir demikian—setidaknya berdasarkan apa yang kita ketahui saat ini.”

Pada 25 April malam, Trump menghadiri jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih yang digelar di Washington Hilton, ketika insiden penembakan terjadi. Seorang pria berusia 31 tahun dari California, Cole Allen, ditangkap di tempat. Menurut laporan CBS News, setelah ditangkap ia mengaku kepada aparat penegak hukum bahwa ia ingin menembak pejabat pemerintah Trump.

Militer AS: 37 Kapal Dipaksa Mengubah Rute, Kapal “Sevan” Dicegat

United States Central Command mengumumkan bahwa pada 24 April, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap 19 kapal “armada bayangan”, termasuk kapal “M/V Sevan”, karena diduga mengangkut energi Iran senilai miliaran dolar ke pasar luar negeri, termasuk propana dan butana.

Pada 25 April pagi, kapal “Sevan” dicegat di Laut Arab oleh helikopter dari kapal perusak rudal USS Pinckney milik Angkatan Laut AS. Saat ini kapal tersebut sedang kembali ke Iran di bawah pengawalan sesuai instruksi militer AS.

Militer AS terus menegakkan sanksi dan memblokade kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Sejak blokade dimulai, sebanyak 37 kapal telah dipaksa mengubah rute.

Pejabat Menteri Angkatan Laut AS: “Saya Selalu Berdiri di Samping Kalian”

Pejabat Menteri Angkatan Laut AS yang baru, Hung Cao, dalam pidato video pertamanya menyatakan:

“Pertama dan yang paling penting adalah menjaga kalian. Kami akan memenuhi kebutuhan kalian dan memastikan kalian dapat menyelesaikan misi. Kedua, kita harus membangun kapal. Kita membutuhkan platform yang diperlukan untuk mempertahankan negara. Terakhir, adalah melindungi tanah air. Misi kita tidak pernah berubah.”

Ia menambahkan:  “Saya tidak akan pernah berada di atas kalian, juga tidak di bawah kalian. Saya akan selalu berdiri di samping kalian. Selalu setia! Hoorah!”

Dalam unggahan videonya di platform X, ia juga menulis:  “Mari kita mulai bekerja! Para pelaut dan marinir kita saat ini berada dalam bahaya. Maju penuh!”

Trump: Sepuluh Menit Setelah Membatalkan Perjalanan, Kami Menerima Dokumen Baru yang Lebih Baik

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 25 April mengatakan bahwa setelah ia membatalkan rencana perjalanan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan, Iran “memberikan banyak, tetapi masih belum cukup.”

Ia mengatakan kepada wartawan sebelum menaiki Air Force One menuju Washington, D.C.:
“Dokumen yang mereka berikan seharusnya bisa lebih baik. Menariknya, kurang dari sepuluh menit setelah saya membatalkan perjalanan, kami menerima dokumen baru yang lebih baik.”

Trump juga menyebut adanya “pertikaian besar” di dalam kepemimpinan Iran, namun menambahkan bahwa ia siap “berurusan dengan siapa pun yang berkuasa.”

“Mereka mungkin sedang berebut kekuasaan,” kata Trump. “Dalam banyak kasus, saya rasa mereka saling memperebutkan posisi, karena kami telah menyingkirkan dua tingkat pimpinan mereka. Tapi saya akan berurusan dengan siapa pun yang harus kami hadapi.”

Ketika ditanya apakah gencatan senjata akan dilanjutkan, Trump menjawab: “Saya bahkan belum memikirkan hal itu.”

Netanyahu Perintahkan Serangan Keras ke Target Hezbollah

Saat Trump mengumumkan pembatalan perjalanan delegasi ke Pakistan, situasi di pihak Israel kembali memanas. Media Israel Channel 12 mengutip Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mengatakan:
“Saya telah memerintahkan militer untuk melancarkan serangan keras terhadap target Hezbollah di Lebanon.”

Trump: Kami Memegang Semua Kartu, Iran Tidak Punya Apa-apa

Trump kembali menegaskan pembatalan perjalanan delegasi melalui platform Truth Social:

“Saya baru saja membatalkan perjalanan perwakilan saya ke Islamabad untuk bertemu Iran. Terlalu banyak waktu terbuang dalam perjalanan, dan pekerjaannya juga terlalu berat!”

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan Iran sedang kacau:
“Tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar berkuasa, termasuk mereka sendiri.”

Trump menutup dengan mengatakan bahwa AS “memegang semua kartu,” sementara Iran “tidak punya apa-apa!”
“Jika mereka ingin berbicara, cukup telepon kami!!!”

Menurut laporan intelijen sumber terbuka, Trump juga mengirim pesan langsung kepada seorang reporter New York Post yang berada di Islamabad:
“Pulang!!!”

Ia kemudian menambahkan kepada media:
“Kami tidak akan terus-menerus menghabiskan 15 jam terbang bolak-balik hanya untuk mendapatkan dokumen yang tidak memadai.”

Militer AS: Jet Tempur Lepas Landas dari Kapal Serbu Amfibi

United States Central Command merilis foto yang menunjukkan jet tempur F-35B “Lightning II” milik Korps Marinir AS lepas landas dari kapal serbu amfibi USS Tripoli di Laut Arab.

Trump: Tidak Perlu Perjalanan untuk “Pembicaraan Kosong”

Trump juga mengatakan kepada reporter Fox News bahwa Witkoff dan Kushner tidak lagi akan pergi ke Pakistan untuk bertemu Iran:

“Saya bilang kepada tim saya—mereka sudah siap berangkat—‘Tidak, kalian tidak perlu terbang 18 jam ke sana. Kami memegang semua kartu. Mereka bisa menghubungi kami kapan saja, tapi kalian tidak akan pergi jauh-jauh hanya untuk duduk dan berbicara tanpa hasil.’”

Iran: Hasil Kunjungan Positif, Tapi Sikap AS Diragukan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah meninggalkan Islamabad setelah bertemu Perdana Menteri Pakistan. Dalam pernyataannya di platform X, ia menyebut kunjungannya membuahkan hasil positif, namun sikap tulus Amerika Serikat dalam diplomasi “masih perlu dilihat.”

Presiden Iran Ajak Rakyat Berhemat Listrik

Menurut laporan Associated Press, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengimbau rakyat untuk menghemat listrik.

Dalam pidato di televisi nasional, ia mengatakan:
“Daripada menyalakan 10 lampu di rumah, lebih baik hanya menyalakan dua. Itu tidak masalah.”

Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Israel “telah menghancurkan infrastruktur kami,” serta menyebut bahwa AS memblokade pelabuhan Iran.

Iran: Ledakan dan Kebakaran di Sebuah Pabrik

Seorang warga keturunan Yahudi Iran, Nioh Berg, pada 25 April membagikan informasi dari dalam Iran. Video yang ia unggah menunjukkan sebuah pabrik di Provinsi Alborz mengalami ledakan lalu terbakar. Ia menyebut kemungkinan ini merupakan aksi sabotase oleh warga.

PM Pakistan Bertemu Menlu Iran, Tidak Bahas Negosiasi AS–Iran

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif membagikan foto pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di platform X. Ia menyatakan kedua pihak bertukar pandangan secara “sangat ramah” mengenai situasi regional serta membahas penguatan hubungan bilateral, tanpa menyinggung negosiasi AS–Iran.

Anggota DPR AS: Ancaman Iran Terlalu Lama Diabaikan

Anggota DPR AS Gary Palmer mengatakan ancaman dari rezim Iran telah terlalu lama diabaikan. Ia menegaskan AS tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, serta menyebut rezim tersebut telah menyebabkan kematian “lebih dari 1.000 warga Amerika.”

Netanyahu dan Presiden Lebanon Mungkin Bertemu Mei

Media i24NEWS melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan akan bertemu Presiden Lebanon Joseph Aoun pada pertengahan Mei di Washington, jika situasi keamanan memungkinkan.

Militer AS: Kapal Induk “Bush” di Samudra Hindia

United States Central Command menyatakan bahwa pada 23 April, kelompok tempur kapal induk USS George H.W. Bush beroperasi di Samudra Hindia.

Lebanon: Pisahkan Isu Israel–Lebanon dari AS–Iran

Menurut Al Jazeera, Lebanon dan Israel telah menggelar dua putaran pembicaraan tingkat duta besar di AS. Pemerintah Lebanon mendorong dialog langsung demi penarikan pasukan Israel dan perdamaian jangka panjang.

Presiden Lebanon menegaskan tidak ingin Hezbollah dan Iran mengaitkan negosiasi Lebanon dengan perang AS–Israel melawan Iran. Namun Hezbollah berpendapat ancaman Iran terhadap Israel justru menjadi faktor penahan serangan Israel.

Turki Pertimbangkan Ikut Operasi Pembersihan Ranjau

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan negaranya mungkin akan ikut serta dalam operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz jika tercapai kesepakatan damai. Ia menyebut ini sebagai tanggung jawab kemanusiaan.

Ketua Komite Militer Senat AS: Era Negosiasi Sudah Berakhir

Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Roger Wicker menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran harus dihentikan dan diganti dengan tindakan militer.

Ia menulis bahwa kepemimpinan Iran tidak dapat dipercaya dan menyerukan penghancuran kemampuan militer serta sisa program nuklir Iran demi stabilitas kawasan.

Industri Pelayaran: Pelaut Sipil Tidak Boleh Ditahan

Menurut International Chamber of Shipping, para pelaut sipil harus dapat bekerja tanpa ancaman penahanan.

Direktur maritimnya, John Stawpert, mengatakan bahwa pelaut hanyalah pengangkut barang dan tidak boleh dijadikan alat politik. Ia menyerukan pembebasan segera awak kapal yang ditahan, karena mereka adalah “orang-orang tak bersalah.”

Jerman Akan Ikut Operasi di Selat: Kirim Kapal Penyapu Ranjau

Menurut laporan Al Jazeera, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyatakan bahwa Angkatan Laut Jerman akan mengirim kapal penyapu ranjau ke kawasan Mediterania sebagai persiapan kemungkinan penempatan di Selat Hormuz.

Ia mengatakan kepada media Jerman bahwa kapal tersebut akan dikerahkan bersama kapal komando dan logistik.

Mesir dan Pakistan: Dukung Perundingan AS–Iran untuk Perkuat Gencatan Senjata

Meski Iran membantah adanya pembicaraan dengan AS, Pakistan tetap mendorong upaya diplomatik. Al Jazeera melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty berbicara melalui telepon dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menlu Pakistan Ishaq Dar.

Keduanya membahas cara mendorong dialog diplomatik AS–Iran. Dalam pernyataan resmi, mereka berharap dapat digelar “putaran kedua perundingan” guna mencapai kesepakatan yang membantu menstabilkan gencatan senjata, mengurangi eskalasi, dan membuka jalan mengakhiri konflik.

AS: Kapal Iran yang Pulang pun Dicegat

United States Central Command menyatakan bahwa bahkan kapal berbendera Iran yang kembali dari luar negeri juga tidak diizinkan masuk pelabuhan.

Disebutkan bahwa pada 24 April, kapal perusak rudal USS Rafael Peralta mencegat sebuah kapal berbendera Iran yang mencoba memasuki pelabuhan Iran.

Iran: Tidak Ada Rencana Pertemuan dengan AS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan melalui platform X bahwa delegasi Iran telah tiba di Islamabad untuk kunjungan resmi.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu pejabat tinggi Pakistan sebagai bagian dari upaya mediasi untuk mengakhiri perang dan memulihkan perdamaian kawasan.

Ia menegaskan:  “Tidak ada pengaturan pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat. Pandangan Iran akan disampaikan melalui Pakistan.”

Unggahan tersebut kemudian dibagikan ulang oleh Ishaq Dar. (***)

KAI Sampaikan Duka Mendalam atas Insiden di Stasiun Bekasi Timur, 240 Penumpang KA Argo Bromo Anggrek Selamat

EtIndonesia. PT KAI menyampaikan duka mendalam atas insiden operasional di wilayah Stasiun Bekasi Timur, Daerah Operasi 1 Jakarta. KAI menyampaikan situasi ini membawa kesedihan bagi pelanggan serta keluarga yang menanti kabar. Saat ini, seluruh upaya difokuskan pada evakuasi dan penanganan korban dengan prioritas utama keselamatan dan kondisi setiap penumpang.

Seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir- Surabaya Pasar Turi yang berjumlah 240 orang telah berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Sementara itu, penanganan difokuskan kepada penumpang KRL yang terdampak. Hingga saat ini, sebanyak 38 penumpang KRL telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Mereka dirujuk ke beberapa fasilitas kesehatan terdekat, di antaranya RSUD Bekasi, Primaya Hospital Bekasi Timur, Mitra Plumbon Cibitung, dan RSU Bella Bekasi.

Dalam proses penanganan, KAI bersama Basarnas, TNI, Polri, serta tim medis bergerak cepat untuk memberikan pertolongan dan memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan.

“Kami menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf atas kejadian ini. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik. Kami memahami kesedihan yang dirasakan keluarga, dan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar proses penanganan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Seiring dengan penanganan di lokasi, KAI melakukan penyesuaian pola operasi perjalanan KRL menyesuaikan kondisi jalur, agar layanan kepada pelanggan tetap dapat berjalan secara bertahap.

Untuk pelanggan KA 4 Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasar Turi – Gambir, KAI menyiapkan layanan bus guna melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Gambir sebagai bagian dari pelayanan lanjutan.

Seluruh perjalanan Kereta Api Jarak Jauh yang berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasarsenen untuk sementara dihentikan guna mendukung proses penanganan dan memastikan keselamatan perjalanan.

KA Jarak Jauh Batal – 27 April 2026

1. KA 120B Gunungjati (Gambir – Cirebon)

2. KA 139B Parahyangan (Kiaracondong – Gambir)

3. KA 140B Parahyangan (Gambir – Kiaracondong)

4. KA 22 Argo Muria (Gambir – Semarang Tawang)

KA Jarak Jauh Batal – 28 April 2026

1. KA 117B Gunungjati (Cirebon – Gambir)

2. KA 56F–53F Purwojaya (Cilacap – Gambir)

3. KA 58F–59F Purwojaya (Gambir – Cilacap)

4. KA 143B Madiun Jaya (Madiun – Pasarsenen)

5. KA 17 Argo Sindoro (Semarang Tawang – Gambir)

Pelanggan dan keluarga yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi layanan resmi KAI melalui WhatsApp 0811-2223-3121 atau Call Center 121.

Trump Batalkan Negosiasi Iran—Ternyata Ada ‘Permainan Besar’ di Balik Ledakan Ekspor Energi AS

EtIndonesia — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan pembatalan rencana pengiriman delegasi Amerika Serikat ke Islamabad, Pakistan, yang sebelumnya dijadwalkan untuk menghadiri pembicaraan dengan Iran.

Keputusan ini langsung memicu berbagai spekulasi terkait arah kebijakan luar negeri AS di tengah ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Pembatalan Mendadak: Dinilai Tidak Efisien

Dalam pernyataan resminya pada 25 April, Trump menyebut bahwa perjalanan delegasi tersebut dinilai tidak efisien dan tidak produktif, terutama karena kondisi internal kepemimpinan Iran yang dianggap belum stabil untuk melakukan negosiasi serius.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump menegaskan bahwa keputusan ini bukan sinyal eskalasi militer.

“Pembatalan ini tidak berarti Amerika Serikat akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi penting, mengingat kekhawatiran global terhadap kemungkinan konflik berskala besar di kawasan tersebut masih tinggi.


Diplomasi Tetap Bergerak: Iran Aktif Cari Jalan Damai

Di sisi lain, laporan dari Reuters mengungkap bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, justru tengah aktif melakukan manuver diplomatik.

Ia diketahui melakukan kunjungan ke Islamabad, Pakistan, untuk membahas peluang dimulainya kembali perundingan damai dengan mediasi pemerintah Pakistan.

Namun hingga kini, belum ada kejelasan apakah pembatalan delegasi AS berkaitan langsung dengan langkah diplomatik Iran tersebut.

Setelah pertemuan di Pakistan:

  • Sebagian delegasi Iran kembali ke Teheran untuk menerima arahan lanjutan
  • Araghchi melanjutkan perjalanan ke Oman
  • Kemudian kembali lagi ke Islamabad
  • Dan dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Rusia

Rangkaian perjalanan ini menunjukkan bahwa Iran masih berupaya membuka jalur negosiasi melalui berbagai kanal internasional.


Analisis: Konflik Justru Menguntungkan AS

Di tengah kebuntuan diplomasi, analis politik Fang Wei menilai bahwa pihak yang justru paling diuntungkan dari situasi ini adalah Amerika Serikat—khususnya sektor energi.

Menurutnya, konflik yang berkepanjangan telah mendorong lonjakan signifikan dalam ekspor energi AS:

  • Ekspor minyak mentah AS mendekati 12,9 juta barel per hari
  • Ekspor gas alam cair (LNG) meningkat tajam
  • Lebih dari 60 kapal tanker kosong menuju Teluk Meksiko—tiga kali lipat dibanding sebelum konflik

Lonjakan ini menandakan meningkatnya permintaan global terhadap energi Amerika, terutama ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu.


Perubahan Peta Energi Global

Dampak konflik juga terlihat pada perubahan pola ketergantungan energi global:

  • Jepang, yang sebelumnya mengimpor sekitar 95% minyaknya dari Timur Tengah, kini menandatangani kesepakatan energi senilai 56 miliar dolar AS dengan perusahaan Amerika
  • Eropa kini memperoleh sekitar 60% pasokan LNG dari Amerika Serikat

Perubahan ini menciptakan apa yang disebut sebagai ketergantungan struktural baru terhadap energi AS.


Ancaman di Balik Keuntungan

Meski demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya stabil.

Para analis mengingatkan bahwa jika jalur strategis seperti Selat Hormuz kembali dibuka secara penuh dan normal:

  • Minyak dari kawasan Teluk Persia akan kembali lebih kompetitif
  • Harga energi global bisa turun
  • Daya tarik ekspor energi AS berpotensi melemah

Namun dalam jangka pendek, ketergantungan yang sudah terbentuk ini diyakini akan tetap bertahan—dan bahkan bisa mengubah lanskap energi global dalam jangka panjang.


Kesimpulan

Pembatalan delegasi AS ke Pakistan bukan sekadar keputusan diplomatik biasa. Di baliknya, tersimpan dinamika yang jauh lebih kompleks:

  • Negosiasi damai yang belum menemukan titik terang
  • Manuver diplomatik Iran yang terus berjalan
  • Serta keuntungan strategis yang diam-diam diraih Amerika Serikat di sektor energi

Situasi ini menunjukkan bahwa dalam konflik global, yang terlihat sebagai ketegangan di permukaan sering kali menyembunyikan pergeseran kekuatan yang lebih besar di balik layar. (***)

Satu Serangan, Banyak Ledakan: Timur Tengah Memanas, Kapal Induk AS Sudah Siaga Tempur

EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, setelah serangkaian insiden militer dan kejadian misterius terjadi hampir bersamaan di berbagai titik strategis, mulai dari kawasan Teluk hingga Eropa.

Serangan Mengejutkan Iran: F-5 Tua Tembus Pertahanan Modern AS

Pada 25 April 2026, laporan eksklusif dari NBC News mengungkap sebuah fakta yang mengejutkan: pesawat tempur tua milik Iran, F-5 Tiger II, berhasil menembus sistem pertahanan udara berlapis milik militer Amerika Serikat.

Pesawat yang telah berusia puluhan tahun itu digunakan dalam fase awal konflik dengan taktik terbang sangat rendah (low-altitude penetration), sehingga mampu menghindari radar dan sistem pertahanan modern.

Dua pejabat Amerika mengonfirmasi bahwa pesawat tersebut berhasil:

  • Menembus pertahanan udara AS di pangkalan Kuwait
  • Melancarkan serangan udara secara langsung
  • Menjadi kasus pertama dalam beberapa tahun terakhir di mana pesawat musuh berhasil menyerang instalasi militer Amerika

Peristiwa ini menandai celah serius dalam sistem pertahanan yang selama ini dianggap hampir tak tertembus.


Respons Cepat AS: Kapal Induk Mendekat ke Iran

Hanya dalam waktu singkat, Amerika Serikat merespons dengan pengerahan kekuatan militer besar-besaran.

Menurut analisis citra satelit pada 26 April 2026, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln terdeteksi berada sekitar 200 mil dari pantai Iran di utara Laut Arab.

Kapal induk ini membawa:

  • Jet tempur F/A-18 Super Hornet
  • Pesawat siluman F-35C
  • Ribuan senjata presisi tinggi

Dalam jarak tersebut, pesawat tempur AS hanya membutuhkan waktu singkat untuk menjangkau wilayah Iran.

Selain itu, kapal perusak kelas Arleigh Burke turut mengawal dan bergerak menuju Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.


Kekuatan Amfibi Dikerahkan: USS Tripoli Ikut Bergerak

Tidak hanya dari laut dan udara, AS juga memperkuat kemampuan serangan darat.

Kapal serbu amfibi USS Tripoli terpantau berada di lepas pantai Oman, sekitar 130–140 mil laut dari USS Abraham Lincoln.

Kapal ini membawa:

  • Pesawat F-35B dengan kemampuan lepas landas vertikal
  • Helikopter dan MV-22 Osprey
  • Pasukan Marinir dalam jumlah besar

Pergerakan ini menunjukkan bahwa strategi militer AS telah berubah dari sekadar pencegahan menjadi operasi tempur terpadu (udara–laut–darat).


Kebakaran Misterius di Pangkalan Strategis Inggris

Di tengah eskalasi tersebut, insiden lain terjadi di Eropa.

Pada 26 April 2026 pukul 01.25 waktu setempat, sebuah fasilitas penyimpanan industri di RAF Fairford terbakar hebat.

Pangkalan ini dikenal sebagai:

  • Titik strategis untuk operasi pengebom jarak jauh AS
  • Lokasi dukungan bagi pesawat B-52 dan B-1
  • Basis yang sejak Maret 2026 digunakan dalam operasi terkait Iran

Api dengan cepat melalap bangunan hingga menyebabkan sebagian atap runtuh.

Meski tidak ada korban jiwa dan api berhasil dipadamkan dalam beberapa jam, insiden ini memicu spekulasi luas.

Beberapa analis menduga:

  • Kemungkinan kecelakaan teknis
  • Atau bahkan aksi sabotase di tengah konflik

Namun hingga kini, pemerintah AS dan Inggris menegaskan tidak ada bukti ancaman lanjutan.


Ledakan di Iran: Dugaan Sabotase Internal

Sementara itu, di dalam Iran sendiri, sebuah insiden besar juga terjadi.

Pada 25 April 2026, sebuah video yang beredar menunjukkan ledakan hebat di sebuah pabrik di Provinsi Alborz—wilayah penting di sekitar Teheran yang berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan distribusi bahan bakar.

Ledakan tersebut:

  • Memicu kebakaran besar
  • Menghasilkan asap tebal yang terlihat dari jarak jauh

Seorang pengusaha Yahudi Iran yang membagikan video tersebut menduga:

  • Kemungkinan adanya sabotase internal
  • Atau konflik di dalam negeri Iran sendiri

Namun seperti insiden di Inggris, belum ada konfirmasi resmi terkait penyebab pasti kejadian ini.


Situasi di Titik Kritis

Serangkaian peristiwa dalam rentang 25–26 April 2026 ini memperlihatkan satu pola yang mengkhawatirkan:

  • Iran mulai menunjukkan kemampuan menyerang balik, bahkan dengan teknologi lama
  • Amerika Serikat meningkatkan tekanan militer secara langsung di garis depan
  • Insiden misterius terjadi di titik-titik strategis, baik di Eropa maupun Iran

Kombinasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah pada titik paling kritis dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam kondisi seperti ini, satu kesalahan kecil—baik di udara, laut, maupun darat—berpotensi memicu konflik yang jauh lebih besar dan sulit dikendalikan. (***)