Saat tanah longsor mulai mengancam daerah sekitar, para ahli mulai memperingatkan bahwa ledakan tersebut dapat merusak lempeng tektonik di bawah gunung tempat pengujian dilakukan.
Citra satelit yang diambil oleh Planet Labs, telah mengungkapkan tanah longsor dan gempa susulan seismik telah mempengaruhi gunung di atas lokasi uji coba.
Ahli geologi telah memperingatkan, daerah yang biasanya tidak rentan terhadap gempa, bisa jadi terlalu tidak stabil untuk uji coba di masa depan.
Awal bulan ini, kepala badan Meteorologi Korea Selatan dalam sebuah pertemuan parlemen mengatakan ledakan nuklir lainnya dapat memicu keruntuhan lokasi uji coba di pegunungan Utara dan kebocoran bahan radioaktif.
Perhatian itu telah memicu kekhawatiran tentang puncak gunung bisa runtuh, melepaskan puing-puing nuklir dari uji bom yang akan menciptakan awan debu nuklir.
Jika bahan radioaktif berbahaya keluar dari tempat uji coba di bawah tanah dan menyebar ke Tiongkok. Jika terjadi, Beijing akan melihatnya sebagai serangan di wilayahnya.
Hal demikian disampaikan Jenny Town selaku asisten direktur Institut AS-Korea kepada Business Insider.
Sumber Korea Selatan sebelumnya berspekulasi tentang gempa yang terdeteksi setelah uji coba nuklir bisa menjadikan terowongan yang ambruk.
“Ledakan dari tes 3 September memiliki kekuatan sedemikian rupa sehingga terowongan yang ada di dalam lokasi pengujian bawah tanah mungkin telah hilang,” Kim So-gu, kepala peneliti di Institut Seismologi Korea mengatakan kepada Reuters.
“Saya pikir wilayah Punggye-ri sekarang cukup jenuh. Jika terus berlanjut dengan tes lain di bidang ini, bisa menimbulkan polusi radioaktif. ”
Korea Utara telah mengancam untuk menguji perangkat nuklir berikutnya di atas Samudera Pasifik, yang memicu teguran keras dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. (asr)
Sumber : The Epochtimes