Setelah menghilang selama setengah bulan dan kembali muncul di hadapan publik, pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping menunjukkan berbagai kejanggalan dalam sepekan terakhir. Bukan hanya media partai menunjukkan pelaporan yang aneh, tapi media Belarus juga membocorkan bahwa kantor pemimpin Partai Komunis Tiongkok kemungkinan telah dibubarkan. Para analis menilai hal ini mengindikasikan bahwa Xi mungkin telah kehilangan kekuasaan, dan kemunculannya hanya bagian dari sandiwara politik yang sedang dimainkan oleh rezim di Zhongnanhai.
EtIndonesia. Setelah terakhir terlihat di Henan pada 20 Mei lalu, Xi Jinping menghilang dari publik selama 15 hari, memicu spekulasi bahwa kekuasaannya telah melemah. Pada 5 Juni, ia melakukan percakapan via telepon dengan Presiden AS Donald Trump, tetapi laporan awal oleh Xinhua News (kantor berita resmi Partai Komunis Tiongkok) tidak mencantumkan gelar resminya.
Tiga menit kemudian, Xinhua menerbitkan ulang berita tersebut dan menambahkan gelarnya. Namun, video yang dirilis tetap memakai versi awal. Kejanggalan ini memicu spekulasi bahwa ada masalah serius di balik layar.
Komentator politik Tang Jingyuan mengatakan: “Ini pasti dilakukan dengan sengaja. Kalau mereka tidak sadar ada kesalahan di versi pertama, maka tidak akan ada versi kedua yang memperbaiki. Jadi ini sangat tidak biasa dan sebenarnya merupakan sinyal politik yang jelas: Xi Jinping sedang mengalami masalah besar. Baik saat bertemu Lukashenko maupun berbicara dengan Trump, dia sedang menjalankan perintah dan sekadar mengikuti skenario.”
Lebih lanjut, saat Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengunjungi Tiongkok pada 2 Juni, baik pemerintah maupun media partai sangat minim meliput. Xinhua baru melaporkan pertemuan itu dua hari kemudian, menyebutkan bahwa Xi bertemu Lukashenko di Zhongnanhai.1
Namun diketahui umum bahwa Zhongnanhai adalah kantor pusat Dewan Negara dan Komite Sentral PKT, sedangkan pertemuan dengan pemimpin asing biasanya digelar di Wisma Negara Diaoyutai. Misalnya, pada 4 Desember 2023, Xi menerima Lukashenko di Wisma Negara tersebut.
Menariknya, foto dari Kantor Berita Negara Belarusia menunjukkan gedung tempat pertemuan itu berlabel “Chun Yizhai” (純一齋), dan dalam laporan itu disebutkan Xi memberitahukan kepada Lukashenko bahwa kantornya berada di sebelah ruangan tersebut. Namun, berdasarkan data publik, kantor pemimpin PKT sejak lama berada di pulau Yingtai di tengah Danau Selatan (Nanhai). Hal ini memicu spekulasi bahwa kantor Xi telah dipindahkan atau dibubarkan.
Shen Mingshi, peneliti dari Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, mengatakan: “Kalau yang datang adalah presiden dari negara sahabat, biasanya memang pemimpin tertinggi yang menyambut. Tapi kali ini, dari lokasi pertemuan, tingkat penyambutan, hingga isi percakapan, semuanya terasa tidak biasa. Terlebih, dalam pidato Lukashenko sama sekali tidak disebutkan nama Xi Jinping.”
Sumber internal yang terpercaya sebelumnya juga mengungkap bahwa meskipun Xi masih muncul di panggung politik, pada kenyataannya ia telah kehilangan kekuasaan, dan sekarang hanya menjalankan peran sesuai skenario dari elite di Zhongnanhai.
Shen menambahkan: “Ada kekuatan tertinggi di dalam Partai Komunis Tiongkok yang melebihi Xi Jinping. Bahkan fenomena tak biasa di kalangan jenderal tinggi dari faksi Xi bisa menjadi bukti bahwa Xi tak lagi memiliki kendali penuh atas arah perkembangan besar di Tiongkok, atau tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengatur jalannya negara.” (Hui)
Laporan oleh Tang Rui dan Luo Ya, kontributor khusus NTDTV


