Teroris Ditembak Mati Setelah Tewaskan Tiga Korban di Belgia

EpochTimesId – Hanya beberapa jam setelah pembebasan bersyarat, seorang narapidana di Belgia, Benjamin Herman menewaskan dua polisi wanita dan seorang guru pada hari Selasa, 29 Mei 2018. Dia kemudian ditembak mati dalam sebuah aksi serangan teror.

Polisi juga mencurigai, bahwa pria 36 tahun itu melakukan pembunuhan terhadap seorang mantan rekannya. Korban ditemukan tewas di rumahnya.

Otoritas Belgia membantah bahwa pelaku adalah seorang terpidana teroris, Rabu (30/5/2018). Pelaku adalah narapidana kriminal yang diduga menjalani radikalisasi di dalam penjara.

Dalam aksinya, terpidana dipastikan menewaskan tiga orang di kota Liege Belgia, dan diduga membunuh mantan kerabatnya di tempat lain.

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1599832010140126&id=324132514376755

Dua polisi wanita yang tewas diidentifikasi sebagai Lucile Garcia yang berusia 45 tahun dan Soraya Belkacemi berusia 53 tahun, seperti dikutip dari news.com.au. Belkacemi adalah ibu dari anak perempuan kembar berusia 13 tahun yang sebelumnya kehilangan ayah mereka, yang juga seorang petugas polisi.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=878132952274740&set=a.101343569953686.2240.100002341294691&type=3

Seorang pria 22 tahun, Cyril Vangriecken, ditembak mati oleh pelaku saat duduk di sebuah mobil yang sedang diparkir. Empat polisi lainnya dilaporkan terluka dalam serangan teror itu.

Pelaku, masuk dan keluar dari penjara karena berbagai kejahatan sejak 2003. Herman diduga menemukan jalan menuju kekerasan di dalam penjara. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa penjara Eropa adalah inkubator untuk radikalisme.

Dia masuk Islam saat dalam tahanan, sumber keamanan Belgia mengatakan kepada Reuters. Dia dicurigai menjalani radikalisasi di dalam penjara.

Di Belgia, inklusi seorang tahanan dalam daftar keamanan negara sebagai seorang tersangka radikal tidak secara otomatis dikomunikasikan kepada semua polisi atau layanan penjara, menurut para ahli.

“Cuti kali ini bagi pelaku adalah yang keempat belas sejak penahanannya. Dia diberikan cuti berupa kebebasan sementara, dalam rangka membantu terpidana mempersiapkan reintegrasi kembali ke masyarakat pada 2020,” kata Menteri Kehakiman Koen Geens kepada wartawan.

“Semua orang di Belgia mengajukan pertanyaan yang sama: Bagaimana mungkin seseorang yang dihukum karena tindakan serius semacam itu diizinkan meninggalkan penjara?” Wakil perdana menteri Belgia, Alexander de Croo mengatakan kepada para wartawan media lokal.

Herman menikam polisi wanita dari belakang sekitar pukul 10.30 pagi di jalan raya di pusat kota terbesar ketiga di Belgia. Dia kemudian merampas pistol, dan digunakan untuk menembak mati kedua polwan.

Dia kemudian menembak mati seorang guru olahraga berusia 22 tahun yang duduk di dalam mobil di depan sekolah menengah. Pelaku kemudian menyandera dua perempuan pegawai sekolah.

Aksi itu kemudian memicu perburuan dan pengepungan besar-besaran oleh polisi bersenjata. Pelajar sekolah dievakuasi ke tempat aman saat terjadi baku tembak yang membuat orang-orang di jalanan berhamburan mencari tempat perlindungan.

Sejumlah saksi mengatakan pelaku sempat berteriak “Allahu Akbar”, yang berarti Tuhan maha besar dalam bahasa Arab. Empat petugas polisi dikabarkan terluka ketika baku tembak, dimana pelaku akhirnya berhasil ditembak mati.

Pusat Krisis Nasional, yang waspada tinggi sejak serangan-serangan masa lalu oleh Negara Islam (ISIS) di Paris dan Brussels dalam tiga tahun terakhir, mengatakan memantau peristiwa tersebut. Akan tetapi mereka tidak menaikkan tingkat siaga, karena tidak ada indikasi serangan lanjutan.

“Saya pikir itu hanya satu individu yang benar-benar tertekan dan melakukan pembunuhan,” kata Pieter Van Ostaeyen, seorang spesialis jihadis yang telah mempertahankan kontak dengan Belgia yang bertempur di Suriah. “Saya pikir itu bukan serangan terorganisir.”

Profil penyerang menarik perhatian tentang risiko para penjahat kecil, termasuk mereka yang bukan dari latar belakang Muslim, yang terinspirasi oleh kekerasan Islam saat dipenjara.

Narapidana telah berada di belakang beberapa serangan baru-baru ini di Eropa. Ratusan tahanan yang dianggap radikal oleh pihak berwenang akan dibebaskan dalam beberapa tahun mendatang, parlemen Belgia memperingatkan dalam laporan akhir tahun lalu.

“Mereka datang sebagai pengedar narkoba dan pergi sebagai jihadis Salafi,” kata sumber keamanan.

Menteri Kehakiman Koen Geens membela keputusan untuk memberikan cuti penjara atau kebebasan bersyarat. Dia mengatakan tidak ada alasan untuk mencurigai terpidana pada waktu dibebaskan, karena cuti sebelum-sebelumnya berjalan lancar.

“Saya pikir itu bukan kesalahan,” katanya. “Ini bukan kasus radikalisasi yang (diketahui dengan) jelas, jika tidak dia akan ditandai oleh semua layanan (lembaga keamanan).”

Perdana Menteri Belgia, Charles Michel juga mengatakan bahwa Herman tidak berpotensi secara langsung masuk dalam daftar ancaman nasional utama.

Akan tetapi, media Belgia melaporkan bahwa pelaku ditandai sebagai radikal sejak tahun lalu. Sehingga bebas bersyarat itu menimbulkan perdebatan.

“Jika itu saya, saya tidak akan membiarkan dia pergi,” kata konsultan keamanan Brussels, Claude Moniquet, mantan agen Prancis.

Departemen Keamanan di Belgia dan Prancis telah menghadapi kritik di dalam dan luar negeri. Mereka dikritik karena kegagalan intelijen dan tanggapan mereka terhadap serangan di Brussels, Paris dan Nice.

Sel ISIS yang berbasis di Brussels terlibat dalam serangan terhadap Paris pada tahun 2015 dan menewaskan 130 orang di Paris. Mereka juga melakukan serangan teror di Brussels pada tahun 2016, dan menewaskan 32 orang. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :
https://youtu.be/0x2fRjqhmTA