oleh Qiao An
Ketika Barat terus meningkatkan sanksi terhadap Rusia, propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) tentang masalah invasi Rusia ke Ukraina tampaknya telah berubah. Hal mana terlihat dari beberapa laporan tentang Ukraina yang lebih positif ketimbang di waktu sebelumnya
Setelah Rusia menginvasi Ukraina selama lebih dari 2 bulan, tampaknya pemerintah komunis Tiongkok semakin tidak tahan terhadap ancaman sanksi dan mulai melunakkan sikapnya terhadap Ukraina.
Pada 30 April, Kantor Berita corong PKT ‘Xinhua’ menerbitkan sebuah artikel wawancara eksklusif dengan Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba, di mana Kuleba menggunakan istilah invasi atas serangan Rusia sebanyak 4 kali di Ukraina.
Pada 3 Mei, “Reference News” dari Kantor Berita Xinhua menerbitkan sebuah artikel berjudul ‘Bagaimana Zelensky Memerintah Negara dari dalam Bunker ?’ untuk pertama kalinya artikel menggunakan istilah invasi untuk menggambarkan perang yang dilakukan oleh tentara Rusia di Ukraina. Artikel tersebut melukiskan Zelensky dengan menggunakan kata-kata yang cukup positif, bertentangan dengan sikap PKT sebelumnya yang cenderung mendukung Rusia dan merendahkan Ukraina. Selain itu, artikel tersebut secara implisit menggunakan kata pembantaian, dan mengakui kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Rusia di wilayah Bucha, Ukraina.
Dalam hal ini, Feng Chongyi, seorang ahli masalah Tiongkok dan profesor di Universitas Teknologi Sydney menjelaskan bahwa situasi ekonomi Tiongkok belakangan ini terus memburuk. Dalam internal PKT sekarang sedang terjadi diskusi panas mengenai masalah Rusia-Ukraina ini. Mereka khawatir jika terus mendukung Rusia, maka Tiongkok juga akan terkena sanksi ekonomi dari Barat, yang akan menyebabkan runtuhnya ekonomi Tiongkok. Hal ini jelas tidak menguntung Xi Jinping yang berusaha terpilih kembali di Kongres Nasional ke-20, jadi Xi harus menyesuaikan sikapnya.
Namun, Feng Chongyi juga mengatakan bahwa sebenarnya, pada hari yang sama dimana Kantor Berita Xinhua menerbitkan wawancara eksklusif dengan menteri luar negeri Ukraina, Xinhua juga menerbitkan wawancara eksklusif dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, sehingga dapat dikatakan bahwa PKT sama sekali tidak mengubah strategi, tetapi masih terus bertahan dengan sikap dua muka, masih dengan sepasang kaki menginjak 2 kapal. Tidak ada perubahan substansial di pihak PKT kecuali hanya menyesuaikan sikap. (sin)