Israel Cegah Serangan, Tapi Ketegangan Global Semakin Memuncak – Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

EtIndonesia. Sistem pertahanan udara Israel berhasil mencegat dua rudal yang ditembakkan dari Beit Hanoun, Gaza, menuju Yerusalem, lapor The Times of Israel pada 28 Desember. Kejadian ini tergolong langka mengingat jumlah serangan rudal jarak jauh dari Gaza semakin menurun seiring berlanjutnya konflik. Hamas telah lebih dari setahun tidak meluncurkan rudal ke wilayah Yerusalem, dengan serangan rudal jarak jauh terakhir ke Tel Aviv terjadi pada Agustus lalu.

Tidak lama setelah itu, kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, menargetkan Pangkalan Udara Nevatim di Israel selatan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa selama setahun terakhir, Houthi telah menembakkan lebih dari 200 rudal dan 170 drone ke arah Israel. Sebagian besar serangan ini tidak berhasil mencapai wilayah target atau berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel. Dalam sepuluh hari terakhir, serangan rudal dan drone hampir terjadi setiap malam, mengganggu jutaan warga Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pemerintah akan “memburu semua pemimpin Houthi” untuk menghentikan serangan tersebut.

Serangan Balasan Israel ke Yaman

Pada Kamis, Israel melancarkan serangan udara ke Bandara Sanaa yang kini dikuasai oleh Houthi. Seorang saksi mata bernama Tedros Tandesai menceritakan pengalamannya kepada media pada Sabtu. Dia sedang dalam perjalanan dinas dan bersiap naik pesawat di Bandara Sanaa ketika tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat yang memekakkan telinga. Meski sudah 24 jam berlalu, Tedros masih mengalami dengungan di telinganya dan belum mengetahui apakah ada kerusakan permanen. Serangan tersebut menghantam terminal keberangkatan dan menara pengawas bandara. Tedros menyebutkan bahwa jika rudal sedikit melenceng, dia mungkin sudah menjadi korban.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada hari Kamis 26 Desember memperingatkan bahwa Israel akan terus menghantam kelompok Houthi dan menghancurkan infrastruktur pemberontak tersebut. Netanyahu juga menegaskan komitmen Israel untuk memutus rantai “poros kejahatan” yang dipimpin oleh Iran. Houthi yang menguasai ibu kota Yaman dan sebagian besar wilayah negara tersebut terus menerima dukungan dari Iran, musuh bebuyutan Israel.

Potensi Kebijakan Sanksi Keras AS terhadap Iran

Media melaporkan bahwa pada masa jabatan pertamanya, Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap Iran yang menyebabkan penghentian ekspor minyak Iran ke India, Jepang, dan Korea Selatan. Jika Trump kembali menjabat, dia diperkirakan akan memperketat sanksi terkait kemampuan nuklir Iran serta menerapkan kembali kebijakan “tekanan maksimum” terhadap industri minyak Iran. Hal ini akan meningkatkan biaya impor minyak Iran bagi Tiongkok.

Pada 28 Desember, Reuters melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok di Beijing, menyatakan bahwa Iran sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan “gelombang baru” kebijakan tekanan maksimum dari AS. 

Tahun 2025 diprediksi menjadi tahun penting bagi isu nuklir Iran. Dalam kesepakatan nuklir 2015, Iran setuju membatasi pengayaan uranium sebagai imbalan pelonggaran sanksi ekonomi. Namun, dengan kemungkinan Trump kembali, Iran khawatir AS akan menerapkan sanksi keras atau bahkan mendukung aksi militer Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Teheran berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan Tiongkok dan mitra internasional lainnya dalam menyelesaikan persoalan nuklir melalui jalur diplomatik.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, pekan lalu mengungkapkan bahwa pemerintahan Biden khawatir Iran mungkin akan memproduksi senjata nuklir. Pemerintah AS tengah memberi informasi risiko ini kepada tim Trump. Sullivan menyebutkan bahwa serangan Israel terhadap fasilitas Iran, termasuk pabrik rudal dan sistem pertahanan udara, telah melemahkan kemampuan militer konvensional Iran namun justru mendorong sebagian pihak di Iran untuk mempertimbangkan pembuatan senjata nuklir dan meninjau kembali doktrin nuklir mereka.

Sejak pemerintahan Trump sebelumnya menarik diri dari perjanjian pembatasan aktivitas nuklir Iran, Teheran telah memperluas program pengayaan uraniumnya. Sullivan menambahkan bahwa AS telah berkonsultasi dengan sekutunya, termasuk Israel, dan jika Trump kembali, kemungkinan akan dilakukan pengetatan sanksi di sektor minyak Iran demi memperbarui kebijakan keras terhadap Teheran. Dengan melemahnya posisi Iran, Trump mungkin dapat memanfaatkan situasi ini untuk meraih kesepakatan nuklir jangka panjang yang mengendalikan ambisi nuklir Iran.

Perkembangan di Timur Tengah dan Afrika Utara

Pada 28 Desember, media Arab melaporkan bahwa menurut sumber di dinas keamanan Lebanon, sekitar 70 mantan perwira dan prajurit tentara pemerintah Suriah yang masuk secara ilegal ke Lebanon telah dideportasi. Mereka dideportasi melalui pos pemeriksaan Al-Arida di wilayah utara Lebanon dan diserahkan kepada wakil Departemen Operasi Militer Pemerintahan Transisi Damaskus. Sebanyak 70 orang tersebut sebelumnya ditangkap pada 27 Desember di Kota Byblos karena masuk secara ilegal. Ini merupakan kali pertama sejak rezim Assad tumbang pada 8 Desember, mantan perwira Suriah diserahkan kepada pemerintahan baru di Damaskus.

Selain itu, pada 27 Desember, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyampaikan bahwa Ukraina telah memberikan bantuan gandum pertama untuk Suriah, berupa 500 ton tepung gandum. Bantuan ini, yang terdiri dari bungkus seberat 15 kg, cukup untuk memberi makan satu keluarga beranggotakan lima orang selama sebulan. Program ini merupakan bagian dari “Inisiatif Ekspor Gandum untuk Kemanusiaan” yang digagas Ukraina bekerja sama dengan Program Pangan Dunia (WFP) PBB. Sebelumnya, Ukraina biasanya mengekspor gandum dan jagung ke negara-negara Timur Tengah, namun tidak ke Suriah karena Suriah selalu mengimpor gandum dari Rusia. Sumber dari Rusia dan Suriah menyebutkan bahwa pada awal bulan ini, Rusia menghentikan sementara pengiriman gandum ke Suriah akibat ketidakpastian situasi.

Sementara itu, Menteri Energi Turki, Alparslan Bayraktar, menyatakan bahwa Turki berencana memasok listrik dan memperkuat infrastruktur kelistrikan Suriah. Selain itu, Turki juga berencana bekerja sama dengan pemerintahan baru di Suriah di bidang minyak dan gas, sebagai bagian dari upaya stabilisasi ekonomi dan energi di negara tersebut.

Kesimpulan

Konflik di Timur Tengah terus berkembang dengan dinamika baru yang muncul dari serangan rudal oleh Houthi, kebijakan sanksi AS terhadap Iran, serta perubahan konstelasi politik global jika Trump kembali menjabat. Di sisi lain, bantuan kemanusiaan dan upaya stabilisasi di Suriah menunjukkan langkah-langkah penting menuju perdamaian dan pembangunan di wilayah yang dilanda konflik ini.

FOKUS DUNIA

NEWS