Lima Alasan Utama Harga Emas Mungkin Mencapai 3.000 Dolar Tahun Depan

EtIndonesia. Harga emas terus mencetak rekor baru sepanjang tahun ini, menjadi salah satu pilihan investasi dengan performa terbaik. Wall Street memprediksi bahwa harga emas akan semakin naik pada tahun 2025.

Pada tahun 2024, harga emas naik 27% hingga mencapai 2.617,20 dolar AS per ons, melampaui kenaikan indeks S&P 500 sebesar 25% dan hampir setara dengan kenaikan 31% pada indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi.

Menurut laporan The Wall Street Journal, para analis dari JPMorgan, Goldman Sachs, dan Citigroup memperkirakan bahwa harga emas akan mencapai 3.000 dolar AS pada tahun 2025.

David Tait, CEO World Gold Council, mengatakan kepada CNBC tv18 bahwa harga emas kemungkinan akan mencapai 3.000 dolar AS per ons pada tahun 2025, mencerminkan permintaan yang kuat dari ekonomi utama seperti Jepang, Tiongkok, dan India. Dia memperkirakan, kenaikan harga emas akan didorong oleh kebijakan bank sentral dan faktor geopolitik.

Patrick Yip, Direktur Senior Pengembangan Bisnis di American Precious Metals Exchange, pada akhir Juli lalu mengatakan kepada CBS News dalam rubrik Money Watch bahwa jika ketidakpastian geopolitik, pemotongan suku bunga, atau pembelian emas oleh bank sentral global terus berlanjut, harga emas mungkin mencapai 3.000 dolar AS per ons secepat tahun depan.

The Wall Street Journal merangkum lima alasan utama yang mendorong kenaikan harga emas tahun depan, termasuk penurunan suku bunga Federal Reserve dan risiko geopolitik.

Federal Reserve Diperkirakan Akan Menurunkan Suku Bunga Lebih Lanjut

Meskipun Federal Reserve belum secara terbuka mengumumkan rencana penurunan suku bunga untuk tahun 2025, investor secara luas memperkirakan bahwa penurunan lebih lanjut akan dilakukan pada tahun depan. Penurunan suku bunga biasanya melemahkan dolar AS, dan melemahnya dolar membuat biaya pembelian emas bagi pembeli internasional menjadi lebih murah, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan. Permintaan yang meningkat ini akan mendorong harga emas lebih tinggi.

Para analis memprediksi bahwa ketika investor kecewa dengan penurunan imbal hasil, sebagian dari 6,7 triliun dolar AS yang saat ini dipegang oleh dana pasar uang akan mengalir ke dana yang diperdagangkan di bursa emas (ETF), seperti SPDR Gold Shares. Greg Shearer, Kepala Strategi Logam Mulia di JPMorgan, mengatakan, “Ini adalah bagian paling optimis atas kenaikan harga dari siklus emas.”

Risiko Geopolitik Meningkatkan Permintaan Emas

Selain potensi penurunan suku bunga Federal Reserve, risiko geopolitik juga akan mendorong kenaikan harga emas pada tahun 2025. Selama periode meningkatnya konflik global, investor cenderung beralih ke emas sebagai aset perlindungan.

Menuju tahun 2025, ada ketidakpastian besar apakah perang Rusia-Ukraina di Eropa dan konflik Israel-Hamas di Timur Tengah akan segera berakhir. Selain itu, risiko inflasi yang dipicu oleh tarif Trump juga dapat membuat investor khawatir.

Ekonomi Tiongkok yang melambat secara berkepanjangan dan lesunya pasar saham, ditambah ancaman Trump untuk memberlakukan tarif baru pada produk Tiongkok saat kembali berkuasa tahun depan, mendorong investor Tiongkok untuk semakin antusias membeli emas.

Bank Sentral akan Meningkatkan Cadangan Emas

Menurut The Wall Street Journal, bank sentral di seluruh dunia, terutama negara-negara yang memiliki hubungan tegang dengan Barat, terus membeli emas dalam jumlah besar. Goldman Sachs menyebutkan bahwa Tiongkok adalah salah satu sumber permintaan yang kuat, dengan cadangan emas resminya meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2008.

Setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, sanksi Barat mendorong beberapa bank sentral untuk meninggalkan aset berbasis dolar dan lebih beralih ke emas.

Laporan survei cadangan emas bank sentral yang dirilis oleh World Gold Council pada bulan Juni tahun ini menunjukkan bahwa dalam survei yang dilakukan dari Februari hingga akhir April 2024, 29% bank sentral yang disurvei berencana untuk meningkatkan cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan. Angka ini adalah yang tertinggi sejak survei dimulai pada tahun 2018.

Tren Kenaikan Harga Emas

The Wall Street Journal mencatat bahwa tren kenaikan harga emas sering kali bertahan lama. Dalam enam tahun terakhir, harga emas berjangka naik setidaknya 20% dalam lima tahun di antaranya, dan harga terus naik di tahun berikutnya. Menurut analis Citigroup, rata-rata kenaikan harga selama lima tahun tersebut lebih dari 15%.

Rendahnya Permintaan Emas untuk Industri

Keunggulan lain dari emas adalah rendahnya permintaan untuk keperluan industri. Ini berarti bahwa dalam kondisi perlambatan aktivitas ekonomi (seperti potensi perang dagang antara Tiongkok dan AS), dampak terhadap permintaan emas tidak akan sebesar logam mulia lain yang memiliki penggunaan industri, seperti perak dan platina. Hal ini semakin meningkatkan daya tarik emas sebagai investasi.

Dengan kombinasi penurunan suku bunga, risiko geopolitik, peningkatan pembelian emas oleh bank sentral, tren kenaikan yang konsisten, dan rendahnya ketergantungan emas pada industri, para ahli memperkirakan bahwa harga emas akan terus meningkat dan berpotensi mencapai 3.000 dolar AS per ons pada tahun 2025.(jhn/yn)

FOKUS DUNIA

NEWS