EtIndonesia. Fenomena bahwa makhluk hidup dapat saling bertukar perasaan/kontak batin melalui “hubungan jarak jauh” dan “sensor pikiran” telah lama menarik perhatian para akademisi. Sejumlah penelitian telah dilakukan, dan mencapai beberapa hasil yang mencengangkan.
“Hubungan Jarak Jauh” Antara Makhluk Hidup
Sejak abad yang lalu, Profesor Gregory dari Universitas Edinburgh pernah memperkenalkan eksperimen yang dilakukan oleh Benoît (Transliterasi-red). Benoît berhipotesis bahwa makhluk hidup dapat menjalin “hubungan jarak jauh”, lalu dia melakukan eksperimen menggunakan siput.
Dalam eksperimen tersebut, dia mengambil 50 ekor siput, kemudian membaginya menjadi 25 pasang. Setiap pasangan dibiarkan bersama untuk beberapa waktu, hingga mereka memiliki ikatan yang erat. Setelah itu, setiap siput dalam pasangan diberi tanda huruf yang sama, lalu satu siput dibawa ke Amerika Serikat, sementara yang lainnya tetap di Paris, Prancis.
Kemudian, pada waktu yang telah disepakati, siput yang berada di Paris diberikan rangsangan listrik. Secara mengejutkan, pada saat yang sama, siput pasangannya yang berada di Amerika Serikat menunjukkan reaksi yang sama terhadap rangsangan listrik tersebut. Hasil eksperimen ini membuktikan bahwa hipotesis Benoît tentang hubungan jarak jauh antar makhluk hidup itu benar adanya.
Eksperimen Lain: “Radar Biologis” pada Kutu Asia
Seorang entomolog terkenal dari Uni Soviet, Malikovsky, menemukan bahwa kutu kaca Asia (Haemaphysalis asiatica) memiliki “radar biologis”.
Dalam salah satu eksperimennya, Malikovsky memelihara seekor kutu kaca untuk beberapa waktu, hingga kutu itu terbiasa dengan keberadaannya. Kemudian, dia mulai bermain petak umpet dengan kutu tersebut.
Tak peduli di mana Malikovsky bersembunyi, kutu itu selalu dapat menemukannya dengan cepat. Namun, ketika dia berbaring di dalam mobil dengan lapisan logam sebagai penghalang, kutu tersebut menjadi kebingungan dan tidak bisa menemukannya. Namun, saat Malikovsky menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil, kutu itu segera terbang ke arahnya.
Setelah penyelidikan lebih lanjut, Malikovsky menemukan bahwa kutu kaca Asia memiliki organ khusus yang disebut “Organ Haller” di setiap kaki depannya. Organ ini berbentuk lubang kecil dengan tonjolan berbentuk pilar di dasarnya. Ketika kutu ini mencari mangsa, dia akan naik ke tempat tinggi dan mengangkat kaki depannya seperti menggunakan radar, kemudian mulai memindai lingkungannya. Jika semua kaki depannya dipotong, maka dia kehilangan kemampuannya untuk menemukan mangsanya.
Fenomena Hewan yang Dapat Kembali ke Tempat Asalnya
Beberapa hewan memiliki kemampuan untuk kembali ke tempat asalnya dari jarak jauh. Fenomena ini telah mendorong para ilmuwan untuk meneliti radiasi gelombang otak sebagai penjelasannya.
Dulu, para ilmuwan menjelaskan fenomena ini sebagai “orientasi berdasarkan medan magnet bumi”. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kasus yang lebih kompleks, seperti merpati yang bukan hanya kembali ke sarangnya, tetapi juga ke lokasi pemiliknya.
Sebagai contoh, seorang pemuda melakukan eksperimen pelepasan merpati, dengan menerbangkan merpati dari jarak 100 km. Namun, secara tidak terduga, pemuda ini mendadak sakit dan dirawat di rumah sakit. Yang mengejutkan, merpati tidak kembali ke rumahnya, melainkan terbang langsung ke rumah sakit tempat pemiliknya dirawat, dan hinggap di jendela kamar rawatannya.
Eksperimen serupa dilakukan di Prancis menggunakan anjing. Anjing-anjing itu ditempatkan di dalam kotak tertutup dan dibawa ratusan kilometer jauhnya. Namun, mereka berhasil kembali ke pemiliknya, bahkan setelah pemiliknya pindah rumah. Fenomena ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan navigasi berdasarkan medan magnet bumi.
Kemampuan “Sensor Pikiran” yang Luar Biasa
Amusement Journal dalam sebuah laporan retrospektif, menceritakan tentang pelatih hewan legendaris, Durov, yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan hewan hanya dengan pikirannya.
Dalam salah satu eksperimennya, Durov memerintahkan seekor anjing hanya melalui pikirannya, tanpa kata-kata atau gerakan tubuh: “Pergi ke piano dan tekan tombol putih dengan cakarmu!”
Ajaibnya, anjing itu melakukan perintahnya dengan tepat.
Dalam eksperimen lain, Durov mengundang ilmuwan dan jurnalis ke kebun binatangnya. Salah satu pengunjung meminta Durov untuk mengarahkan seekor singa jantan agar menyerang singa betina.
Durov mengalihkan pandangannya ke singa jantan, lalu membayangkan sebuah adegan di mana singa betina perlahan-lahan mencuri sepotong daging dari dekat cakar singa jantan.
Tiba-tiba, singa jantan mengaum keras, lalu langsung melompat ke arah singa betina dan berusaha menggigitnya. Durov segera menghentikan serangan itu, sebelum situasi semakin memburuk. Yang luar biasa, kedua singa ini telah hidup bersama dengan damai selama tiga tahun.
Eksperimen Lain, Menguji “Sensor Pikiran”
Suatu ketika, Durov sedang dalam perjalanan dengan kapal dari Odessa ke Yalta. Dia membawa anjing kesayangannya. Di kapal tersebut, dia bertemu dengan sastrawan terkenal, termasuk Anton Chekhov, Fyodorov, dan Mirolyulev.
Chekhov, penasaran dengan kemampuan Durov, meminta agar anjingnya mengambil kacamatanya.
Durov hanya menggunakan pikirannya, dan anjingnya langsung berjalan mendekati Chekhov, melompat ke pangkuannya, dan dengan lembut mengambil kacamatanya.
Terkesan dengan fenomena ini, Chekhov mencoba sendiri memberikan perintah mental kepada anjing itu. Yang mengejutkan, sang anjing mampu menafsirkan setiap perintahnya dengan benar.
Eksperimen pada Manusia
Seorang peneliti bernama Karensky meminta Durov untuk mengarahkan dirinya sendiri dengan sensor pikiran.
Durov lalu meminta Karensky duduk diam, kemudian dia menulis sebuah pesan rahasia di selembar kertas. Setelah selesai, dia membalik kertas itu dan menutupinya dengan tangan, lalu mulai menatap Karensky.
Karensky tidak merasakan sesuatu yang aneh, tetapi secara refleks menggaruk bagian belakang telinga kanannya.
Saat itu juga, Durov mengangkat kertas dan menyerahkannya kepada Karensky. Ketika Karensky membacanya, ia terkejut karena di atas kertas itu tertulis: “Garuk bagian belakang telinga kananmu!”.
Kesimpulan: Sensor Pikiran Adalah Kemampuan Alami Manusia
Dari eksperimen di atas, jelas bahwa baik hewan maupun manusia memiliki kemampuan untuk merasakan dan berkomunikasi melalui sensor pikiran.
Beberapa ilmuwan percaya bahwa ini adalah kemampuan alami yang dimiliki manusia sejak lama untuk menerima informasi jarak jauh.
Namun, seiring berkembangnya teknologi komunikasi, kebutuhan akan kemampuan ini semakin berkurang. Kemampuan ini berubah menjadi potensi laten dalam tubuh, yang hanya muncul dalam keadaan tertentu, dan dikenal sebagai kemampuan ESP – Extra Sensory Perception atau Indra Keenam. (jhn/yn)