EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump melalui utusannya untuk isu Rusia-Ukraina, Keith Kellogg, menyatakan bahwa opsi bagi Ukraina untuk bergabung dengan NATO tidak lagi dipertimbangkan. Pernyataan ini segera mendapat respons positif dari Kremlin yang menyebut posisi Amerika tersebut sebagai “memuaskan”.
Menurut laporan Reuters, pada tanggal 20 April, Keith Kellogg, utusan khusus Presiden Trump untuk konflik Rusia-Ukraina, menyatakan bahwa rencana keanggotaan Ukraina di NATO “tidak lagi berada dalam daftar opsi yang dipertimbangkan”. Trump sendiri sebelumnya telah beberapa kali menyatakan bahwa niat Ukraina untuk bergabung dengan NATO merupakan salah satu penyebab utama meletusnya perang.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada tanggal 21 April menyampaikan kepada media bahwa: “Kami mendengar dari berbagai lapisan pemerintahan di Washington bahwa Ukraina dikeluarkan dari kemungkinan keanggotaan NATO. Tentu saja ini membuat kami puas dan sesuai dengan posisi kami.”
Peskov menegaskan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO akan mengancam kepentingan strategis Rusia, dan bahkan menyatakan: “Faktanya, ini adalah salah satu akar utama dari konflik ini.”
Pada tahun 2022, Presiden Rusia, Vladimir Putin memerintahkan pasukannya untuk menyerang Ukraina, yang kemudian memicu konflik paling serius antara Rusia dan Barat sejak berakhirnya Perang Dingin.
Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden, serta negara-negara Eropa Barat, menyebut tindakan tersebut sebagai agresi terang-terangan. Sebaliknya, pihak Rusia berpendapat bahwa perluasan pengaruh NATO ke arah timur merupakan ancaman langsung terhadap zona pengaruh Moskow.
Isu keanggotaan Ukraina di NATO sendiri telah bergulir sejak KTT NATO di Bukares pada tahun 2008, ketika para pemimpin NATO menyatakan bahwa Ukraina dan Georgia suatu hari nanti akan menjadi anggota aliansi tersebut. Kemudian pada tahun 2019, Ukraina mengubah konstitusinya sebagai bentuk komitmen untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Presiden Putin secara terbuka menyatakan bahwa jika Ukraina mau meninggalkan ambisinya bergabung dengan NATO, dan menarik pasukan dari empat wilayah timur Ukraina yang diklaim Rusia sebagai wilayahnya, maka Rusia bersedia mengakhiri perang.
Trump pada tanggal 20 April lalu juga menyampaikan harapannya agar Rusia dan Ukraina dapat mencapai kesepakatan damai dalam pekan ini.
Menanggapi pernyataan tersebut, Peskov menegaskan bahwa Rusia tetap terbuka untuk solusi damai dan saat ini masih menjalin komunikasi dengan pihak AS. Namun, ia enggan memberikan komentar khusus mengenai pernyataan Trump. (jhn/yn)


