Setelah Presiden Putin menyetujui tahap pertama gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat, ia kembali mengumumkan perekrutan besar-besaran, yang semakin memicu rasa jenuh dan penolakan terhadap perang di kalangan rakyat Rusia. Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa 50% warga Rusia mendukung gencatan senjata.
EtIndonesia. Sejak Rusia dan Ukraina mencapai kesepakatan sebagian mengenai gencatan senjata, kedua belah pihak saling menuduh telah melanggar perjanjian. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun mengungkapkan ketidakpuasan terhadap langkah Putin. Pada Rabu, Putin mengirim utusannya ke Washington untuk mendorong kelanjutan negosiasi damai.
Menurut survei terbaru dari Levada Center, sekitar 50% responden Rusia mendukung gencatan senjata sementara, dengan 26% sangat mendukung dan 24% cukup mendukung. Sebaliknya, 41% menyatakan menolak, dengan alasan bahwa gencatan senjata hanya akan memberi Ukraina waktu untuk memperkuat persenjataan mereka.
Sejak invasi besar-besaran ke Ukraina dimulai, pemerintah Rusia meningkatkan propaganda domestik dengan menggambarkan perang ini sebagai perang defensif melawan Barat, serta memuliakan militer melalui acara televisi dan menyebut konflik ini sebagai pertarungan untuk kelangsungan hidup bangsa.
Kini, di tengah titik balik penting perang Rusia-Ukraina, Putin secara resmi menandatangani perintah untuk merekrut 160.000 tentara baru dalam wajib militer musim semi ini. Tiga tahun lalu, jumlah tentara Rusia sekitar 1 juta orang—sekarang telah meningkat menjadi 1,5 juta.
Undang-undang Rusia menyatakan bahwa tentara wajib militer tidak boleh dikirim ke zona perang tanpa pelatihan yang memadai. Namun, ada laporan bahwa sebagian dari mereka dipaksa atau disesatkan untuk menandatangani kontrak, lalu dikirim ke garis depan di Ukraina.
Menurut lembaga pemantau medan perang DeepState, sejak musim dingin, laju serangan Rusia melambat—pada bulan Maret, mereka hanya menguasai 133 kilometer persegi, angka terendah sejak Juni tahun lalu. Di sisi lain, Ukraina mencatat kemajuan dalam serangan drone, termasuk uji coba sukses drone baru dengan jangkauan hingga 3.000 kilometer, memperluas jangkauan serangan mereka secara signifikan.
Setelah Rusia, Ukraina, dan AS mencapai kesepakatan gencatan senjata sebagian minggu lalu, kedua pihak kembali saling menyalahkan atas pelanggaran larangan serangan terhadap infrastruktur energi. Pihak Rusia menyatakan bahwa gencatan senjata di Laut Hitam baru akan berlaku setelah sanksi dari AS dan negara Barat dicabut.
Selain itu, utusan khusus Putin, Kiril Dmitriyev, berkunjung ke Washington pada Rabu (2 April) dan bertemu dengan utusan Presiden Trump, Witkoff. Ia menuduh bahwa ada pihak-pihak tertentu yang mencoba memprovokasi ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat. Trump pun memperingatkan bahwa perang ini berisiko meningkat menjadi Perang Dunia Ketiga. (Hui)
Laporan dari Liu Jiajia – NTD Television, Amerika Serikat