Di panggung industri cokelat global, Indonesia dikenal sebagai penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia. Namun, ironisnya, nama bangsa ini hampir tak pernah disebut sebagai produsen cokelat premium. Dari keresahan inilah, Irena Surosoputra, sang pemilik, menggagas sebuah visi besar: mendirikan PT Anugerah Cokelat Indonesia atau yang kita kenal dengan brand Cokelatin Signature pada tahun 2016.
“Indonesia pernah menjadi negara penghasil kakao ke 3 terbesar di dunia, produk olahan cokelatnya tidak pernah benar-benar dikenal atau diakui di panggung global. Selama ini, biji kakao Indonesia lebih banyak dijual mentah ke luar negeri, sementara nilai tambah dan reputasi cokelat premium justru diambil oleh negara lain. Dari situlah, pada tahun 2016, kami memulai langkah menghadirkan Cokelatin Signature.” Jelas Irena Surosoputro kepada The Epoch Times
Bermula dari misi sosial yang kuat, Irena tidak hanya ingin menciptakan bisnis, tetapi juga legacy. Cokelatin Signature lahir untuk memberdayakan petani lokal, menciptakan ekonomi sirkular, dan yang paling utama, membawa citra cokelat Indonesia ke kancah internasional. Bagi Irena, cokelat bukan sekadar komoditas, melainkan sebuah cerita tentang warisan dan dampak. Moto hidupnya, “Chocolate with Legacy, Impact with Purpose,” (kesuksesan bukan hanya soal angka atau popularitas, tetapi bagaimana usaha ini bisa memberi manfaat nyata terutama bagi petani, komunitas, dan juga citra Indonesia di mata dunia), menjadi DNA dalam setiap langkah perusahaannya.
” Sejak awal, brand kami mengusung misi sosial: memberdayakan petani, menciptakan circular economy, dan membawa cokelat Indonesia ke pasar global.”
Cokelatin Signature bukan sekadar brand cokelat biasa. Mereka adalah pelopor lokal pertama yang berani menggunakan biji kakao langka Java Criollo sebagai produk unggulannya. Hanya 5% dari total kakao dunia yang termasuk varietas Criollo, yang dikenal dengan rasa halus, rendah kepahitan, dan kaya antioksidan. Keberanian ini menjadi diferensiasi utama yang mengantarkan produknya ke gerai-gerai premium seperti Grand Hyatt Jakarta, Pullman Jakarta Thamrin, dan DoubleTree by Hilton.
Proses produksinya menjaga integritas dari hulu ke hilir. Biji kakao dipetik dari kebun di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, lalu diproses dengan standar ketat menjadi bubuk cokelat premium, sebelum akhirnya dikemas sebagai minuman cokelat siap seduh yang memikat.
Strategi pemasaran Cokelatin Signature dibangun melalui kualitas premium, storytelling yang autentik, dan komitmen pada keberlanjutan. Produknya telah menjangkau pasar baik B2C melalui e-commerce dan retail, maupun B2B melalui kerja sama dengan hotel, kafe, dan corporate hamper.
Kendala terbesarnya adalah mengedukasi pasar tentang nilai cokelat Indonesia yang selama ini hanya dipandang sebagai pemasok bahan mentah. Namun, Irena dan tim terus berkolaborasi dengan petani, Puslitkoka, berbagai instansi dan kementerian serta Retail dan Horeca untuk mengubah narasi tersebut.
Ke depan, Cokelatin Signature tidak berhenti berekspansi. Targetnya adalah go international sambil tetap konsisten pada membawa nilai keberlanjutan dan pemberdayaan lokal serta perluasan dampak social, baik melalui proyek rehabilitasi kakao maupun program CSR. Melalui Cokelatin Signature, Irena Surosoputra membuktikan bahwa cokelat Indonesia punya cerita, punya kualitas, dan yang terpenting—punya hati.
Criollo: Sang “Raja” di Dunia Kakao

Biji kakao secara umum diklasifikasikan menjadi tiga varietas utama: Forastero, Trinitario, dan yang paling elit adalah Criollo.
Criollo, yang dalam bahasa Spanyol berarti “pribumi”, sering dijuluki sebagai “The Prince of Cacao” atau “Raja Kakao”. Julukan ini tidak berlebihan, mengingat karakteristiknya yang luar biasa:
Rasa yang Lembut dan Kompleks: Criollo memiliki rasa yang tidak terlalu pahit dan kurang astringen dibandingkan varietas lainnya. Ia menawarkan profil rasa yang halus, elegan, dan bernuansa, seringkali dengan notas kacang, buah-buahan merah, karamel, dan rempah-rempah.
Kulit Biji yang Tipis dan Aroma yang Khas: Criollo memiliki kulit biji yang tipis dan warna biji yang lebih terang, membuatnya lebih rentan terhadap hama dan penyakit.
Kelangkaan dan Nilai Tinggi: Karena kerentanannya, Criollo sangat sulit dibudidayakan dan hasil panennya sangat rendah. Diperkirakan hanya 1-5% dari total produksi kakao dunia yang merupakan varietas Criollo murni. Kelangkaan inilah yang menjadikannya sangat berharga.
Mengapa Cokelat Criollo Signature Begitu Istimewa?
Ketika seorang chocolatier atau produsen bean-to-bar memilih untuk membuat cokelat signature dari biji Criollo, mereka sedang menciptakan sebuah mahakarya. Cokelat ini bukan untuk dinikmati dalam jumlah banyak, tetapi untuk di-savor dan dihargai setiap gigitannya.
Pengalaman Rasa yang Unik: Cokelat Criollo signature akan memberikan ledakan rasa yang halus dan berlapis di lidah. Rasa pahit yang biasa diasosiasikan dengan cokelat dark hampir tidak ada, digantikan oleh kompleksitas rasa yang mengagumkan.
Penghargaan terhadap Budidaya: Dengan membeli cokelat signature Criollo, kita juga mendukung para petani yang dengan susah payah mempertahankan budidaya varietas langka ini, seringkali dengan metode organik dan berkelanjutan.
Karya Seni yang Dapat Dimakan: Setiap batang cokelat Criollo signature adalah hasil dari rantai pasokan yang penuh perhatian, mulai dari fermentasi dan pengeringan biji yang tepat, hingga proses sangrai dan conching yang dilakukan dengan presisi untuk mengeluarkan potensi rasa terbaiknya.


