oleh: Fadjar Pratikto
PEKALONGAN – Ketulusan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus membawa Angga Pratama Armadi Putra melangkah dari ruang kelas di Kota Pekalongan menuju panggung internasional. Melalui akun Armaddilo_, Guru Pendamping Khusus (GPK) tersebut berhasil meraih Bronze Prize (Hadiah Perunggu) pada ajang #BeKindBeCool 2025–2026 Gan Jing World Kindness Video Awards, berkat konten-konten edukatif yang mengangkat kisah keseharian pendidikan anak berkebutuhan khusus dan nilai-nilai kebaikan.
Penghargaan yang baru saja diumumkan itu diraih setelah karya Angga bersaing dengan lebih dari 34.000 konten dari 6.200 kanal dalam 11 bahasa yang berasal dari puluhan negara. Video para pemenang akan ditampilkan di billboard ikonik Times Square, New York, pada acara penghargaan yang digelar Juli mendatang.
Panitia memberikan Bronze Prize kepada Armaddilo_ atas rangkaian video pendek yang merekam keseharian pembelajaran di kelas anak berkebutuhan khusus. Konten-konten tersebut memperlihatkan kesabaran guru dalam membantu anak belajar fokus, mengenalkan tata krama melalui wayang tradisional, mengajarkan batasan tubuh, hingga merayakan ulang tahun peserta didik sebagai bentuk penghargaan terhadap setiap individu.
Bagi Angga, penghargaan internasional itu bukan sekadar pengakuan atas karya digital, melainkan kesempatan untuk memperkenalkan dunia pendidikan khusus kepada masyarakat luas.
“Saya tentu senang dan bersyukur. Bagi saya, ini bukan hanya tentang memenangkan lomba, tetapi juga kesempatan untuk menyuarakan dunia pendidikan khusus yang selama ini saya jalani,” ujarnya.

Guru yang Terus Belajar
Pria kelahiran Pekalongan, 8 Mei 1992, itu sehari-hari bertugas sebagai Guru Pendamping Khusus (GPK) di Unit Layanan Disabilitas (ULD) bidang pendidikan sekaligus mengajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan.
Dedikasinya sebagai pendidik tidak hanya terlihat di ruang kelas. Ia juga dikenal sebagai sosok yang terus meningkatkan kompetensi diri melalui berbagai pelatihan, seminar, workshop, hingga pendidikan formal.
Komitmen tersebut membuahkan hasil ketika ia berhasil meraih gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Semarang (UNNES). Angga lulus dengan predikat cum laude, meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, dan diwisuda pada 18 April 2026.
Namun baginya, keberhasilan akademik itu bukanlah tujuan akhir.
“Bagi saya, gelar ini bukan garis akhir, tapi titik awal untuk bekerja lebih serius. Ilmu yang saya dapat harus benar-benar terasa di kelas,” katanya.
Ia meyakini Sanggar Kegiatan Belajar memiliki peran strategis sebagai lembaga pendidikan nonformal yang melayani peserta didik dengan latar belakang sangat beragam. Karena itu, pendekatan pembelajaran tidak boleh disamaratakan.
Angga mendorong penerapan student-centered learning, yaitu pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
“Belajar tidak lagi sekadar duduk dan mendengar, tapi mengalami, mencoba, dan terlibat. Karena di SKB, setiap murid punya kebutuhan yang berbeda,” ujarnya.
Ia juga menerapkan prinsip student is a friend, yakni membangun hubungan yang hangat antara tutor dan peserta didik. “Ketika murid merasa dekat dan diterima, mereka akan bertahan. Dari situ muncul rasa memiliki terhadap sekolah, dan mereka tidak mudah menyerah.”
Di lingkungan SKB, ia mulai mendorong berbagai perubahan, mulai dari metode pembelajaran yang lebih fleksibel, peningkatan keterlibatan peserta didik, hingga membuka kerja sama dengan berbagai pihak. Selain itu, ia aktif berbagi pengetahuan kepada sesama tutor melalui diskusi dan pelatihan internal.
Tidak hanya menekankan aspek akademik, Angga juga mendorong peserta didik menguasai keterampilan praktis seperti public speaking dan pembuatan konten kreatif sebagai bekal menghadapi dunia kerja.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia di SKB akan berdampak langsung terhadap kepercayaan masyarakat.
“Kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata, tetapi dari kompetensi dan dampak yang bisa dirasakan. Ketika pendidik terus belajar, masyarakat akan melihat keseriusan itu.”
Ia berharap masyarakat memandang SKB bukan sebagai pilihan kedua, melainkan kesempatan kedua yang mampu membuka akses pendidikan yang inklusif, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Berawal dari Video Sederhana
Perjalanan Angga sebagai kreator konten justru berawal dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia pernah membagikan video saat mengajarkan seorang anak tuna rungu belajar bahasa Inggris menggunakan metode sederhana, yakni merasakan getaran suara dengan menempelkan tangan di leher guru.
Video tersebut mendapat perhatian luas dan membuka mata banyak orang bahwa anak berkebutuhan khusus juga mampu belajar dengan metode yang sesuai.
“Dari situ saya menyadari bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengenal dunia pendidikan khusus secara dekat.”
Sejak saat itu, ia aktif membuat konten edukasi mengenai pendidikan inklusif, pengasuhan anak berkebutuhan khusus, perubahan perilaku, hingga berbagai praktik baik yang dapat diterapkan guru maupun orang tua.
Baginya, media sosial bukan sekadar tempat berbagi video, tetapi menjadi jembatan untuk menghapus stigma terhadap anak berkebutuhan khusus.
“Konten bukan hanya sarana berbagi cerita, tetapi juga cara menjembatani pemahaman masyarakat tentang anak berkebutuhan khusus dan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang ketika mendapatkan dukungan yang tepat.”
Menebarkan Kebaikan yang Menginspirasi
Dalam setiap konten yang dibuatnya, Angga selalu menyampaikan pesan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang sesuai kemampuannya masing-masing.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih memahami daripada menghakimi, lebih mendukung daripada membandingkan, dan lebih menghargai proses daripada hanya mengejar hasil.
Menurutnya, teknologi digital memiliki peran penting dalam menyebarkan praktik-praktik baik di dunia pendidikan.
Melalui Gan Jing World, ia menemukan ruang yang memungkinkan proses belajar dan berbagi berlangsung secara bersamaan. Fitur video pendek menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan edukatif kepada masyarakat yang lebih luas.
Jika diminta menggambarkan Gan Jing World dalam tiga kata, ia memilih Belajar, Berbagi, Bertumbuh.
Baginya, siapa pun dapat memperoleh manfaat dari platform tersebut, baik guru, pelajar, mahasiswa, orang tua, maupun masyarakat umum yang memiliki semangat untuk terus belajar.
Di akhir wawancara, Angga menyampaikan pesan sederhana yang menjadi prinsip hidupnya.
“Jangan terlalu berfokus pada hadiah atau penghargaan. Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita berikan, apa yang bisa kita bagikan, dan manfaat apa yang bisa dirasakan orang lain.”
Ia percaya perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil. “Kebaikan itu keren, dan energi baik selalu menular.”
Penghargaan Bronze Prize yang diraihnya menjadi bukti bahwa dedikasi seorang guru dari ruang kelas anak berkebutuhan khusus di Kota Pekalongan mampu menginspirasi dunia.
Bagi Angga, penghargaan internasional hanyalah bonus. Misi utamanya tetap sama, yakni menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan membuka kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.
* April Gunawan berkontribusi dalam laporan ini


