Di balik semangkuk pecel dan rawon yang menggugah selera, seringkali tersimpan sebuah cerita tentang ketekunan, pengorbanan, dan cinta pada warisan keluarga. Inilah kisah nyata yang terangkum dalam perjalanan UMKM legendaris, Warung Pecel Ponorogo Bu Pardi Djojo di daerah Nginden, Surabaya. Diteruskan oleh sang anak, Mimin Haryani atau akrab disapa Mimin, warung ini bukan sekadar tempat makan, melainkan sebuah living heritage yang telah melewati berapa generasi.
Merintis dari Nol di Kegelapan Subuh
Cerita bermula pada 1985. Sang ayah yang asli Ponorogo dan ibu dari Banyuwangi memutuskan untuk mencoba peruntungan di dunia kuliner dengan membuka warung pecel. Awalnya, Bu Pardi yang merupakan seorang penjahit profesional, hanya mencoba-coba ikut bazar. Dengan semangat pantang menyerah, beliau memulai usahanya sendiri.
Mimin mengenang betapa berat perjuangan orang tuanya di masa awal. “Ibu buka jam subuh, masih sendiri. Gelap-gelap, kok nggak ada yang beli,” ujarnya kepada The Epoch Times. Namun, kesabaran dan konsistensi membuahkan hasil. Keberanian Bu Pardi berjualan di pagi buta justru memancing rasa penasaran warga. “Orang pada penasaran, jualan apa kok pagi-pagi banget? Pecel? Oh dari situ akhirnya luar biasa,” tutur Mimin. Dari situlah pelanggan mulai berdatangan dan kesetiaan mereka terbangun.
Sebuah Panggilan Hati: Meninggalkan Zona Nyaman demi Meneruskan Warisan
Kisah peralihan kepemilikan warung ini pun sarat dengan dilema. Mimin, anak dari Bu Pardi, menghabiskan 20 tahun hidupnya di Jakarta untuk bersekolah dan bekerja (bergelut sebagai desainer). Hidupnya sudah mapan, relasi banyak, dan nyaman. Namun, panggilan hati untuk melestarikan warisan keluarga ternyata lebih kuat.
“Sebetulnya sudah nyaman di Jakarta, tapi tiba-tiba masuk ke dunia kuliner ini?” kenang Mimin. Motivasi terbesarnya adalah rasa tidak tega melihat warisan orang tua hilang dan para pelanggan setia yang kecewa. Pernah suatu ketika warung ini dicoba untuk ditutup oleh adiknya selama tiga minggu. Respons pelanggan luar biasa. Mereka berdatangan mencari-cari warung kesayangan mereka. “Nggak tega soalnya. Pelanggan banyak, masa ditinggal gitu?” ujarnya. Akhirnya, dengan tekad bulat, Mimin memutuskan pulang ke Surabaya dan mengambil alih warung ini.
Menjaga Cita Rasa di Tengah Persaingan
Meneruskan warisan bukanlah hal mudah. Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi cita rasa khas yang telah dibangun sejak 1985. Mimin mengakui, kunci kelezatan Pecel Ponorogo Bu Pardi masih terletak pada racikan bumbu turun-temurun. Meski proses belanja dan sebagian masak sudah didelegasikan kepada pegawai, Mimin tetap melakukan quality control secara ketat.
“Kadang saya seleksi. Saya coba, masuk sama nggak rasanya. Kalau ada yang kurang, saya tambah-tambahin,” jelasnya. Komitmen ini penting karena sedikit saja perubahan rasa, langsung dirasakan oleh pelanggan setia. Dalam sehari, warung ini bisa menghabiskan 10 kg daging rawon setiap 3 hari dan 25 kg kacang untuk bumbu pecel yang bertahan hingga satu minggu, sebuah bukti bahwa omzetnya tetap stabil.
Namun, Mimin menyadari tantangan zaman sekarang berbeda. Persaingan semakin ketat dengan banyaknya pedagang baru. Sayangnya, promosi secara digital masih menjadi kendala. “Saya kurang bisa mengolah sosial media,” akunya. Warung yang mengandalkan kekuatan promosi dari mulut ke mulut ini kini mulai membuka diri untuk bekerja sama dengan komunitas kuliner agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Visi ke Depan: Antara Ekspansi dan Menjadi Ikon Lokal
Mimin pernah mencoba melakukan ekspansi dengan membuka cabang di Gresik. Cabang itu sempat ramai, namun akhirnya tutup karena kendala sumber daya manusia. Pengalaman itu memberinya pelajaran berharga. Saat ini, fokusnya adalah mengonsolidasikan warung utama sambil memikirkan strategi ekspansi yang lebih matang.
Di balik semua tantangan, Mimin merasakan kebebasan dan kepuasan tersendiri dibandingkan ketika bekerja di kantoran. “Kalau ini kita bebas. Kalau mau namanya rezeki ya bisa naik, turun juga bisa. Tapi kalau kerja di kantor, waktunya terikat,” ujarnya. Semangat inilah yang terus mendorongnya untuk mempertahankan warung yang tidak hanya sekadar sumber penghidupan, tetapi juga menjadi bagian dari memori dan identitas kuliner warga Surabaya.
Warung Pecel Ponorogo Bu Pardi Djojo adalah bukti nyata bahwa UMKM bisa menjadi legenda bukan karena modal besar, tetapi karena ketekunan, cita rasa autentik, dan hubungan emosional yang erat dengan pelanggan. Di tangan Mimin, semangkuk pecel dan rawon itu tetap hangat, menyajikan cerita dan kenangan dari generasi ke generasi.(et)


