Blokade Masih Berlaku, Tapi Operasi Dihentikan! Ada Apa di Balik Negosiasi Rahasia AS-Iran

EtIndonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki babak yang sangat menegangkan pada 5 Mei 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak mengumumkan penghentian sementara operasi militer “Project Freedom” atau “Rencana Kebebasan”, yaitu operasi pengawalan kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Keputusan tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional karena diambil di tengah konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran yang selama beberapa hari terakhir telah mengguncang jalur perdagangan energi global.

Trump menyatakan bahwa penghentian sementara operasi itu dilakukan karena Washington dan Teheran disebut hampir mencapai sebuah nota kesepahaman besar yang terdiri dari 14 poin penting. Namun di saat yang sama, Trump menegaskan bahwa blokade militer Amerika terhadap Iran masih tetap berlaku dan belum dicabut sedikit pun.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai dibuka, Amerika Serikat masih mempertahankan tekanan militer penuh terhadap Iran sebagai alat tawar dalam negosiasi.

Isi Kesepakatan Rahasia AS-Iran Mulai Terungkap

Menurut berbagai informasi yang beredar di Washington pada 5 Mei 2026, rancangan kesepakatan yang sedang dibahas antara Amerika Serikat dan Iran mencakup sejumlah poin strategis yang dapat mengubah situasi Timur Tengah secara drastis.

Beberapa poin utama yang disebut sedang dinegosiasikan antara lain:

  1. Iran bersedia menghentikan aktivitas pengayaan uranium.
  2. Amerika Serikat akan mencabut sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran.
  3. Dana Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri akan mulai dibebaskan.
  4. Pembatasan pelayaran di Selat Hormuz akan dihapus secara bertahap.
  5. Penghentian program pengayaan uranium Iran akan berlangsung selama 12 hingga 15 tahun.
  6. Kedua pihak akan menghentikan aksi perang dan memasuki masa negosiasi selama 30 hari.

Dalam wawancara dengan jurnalis PBS, Laura Landers, Trump bahkan mengungkap syarat paling sensitif dari pihak Amerika.

Menurut Trump, Iran diwajibkan mengirim seluruh stok uranium berkadar tinggi mereka ke Amerika Serikat serta tidak lagi memiliki fasilitas nuklir bawah tanah.

Pernyataan ini dianggap sebagai tuntutan terbesar Washington sejak konflik terbaru pecah di kawasan Teluk Persia.

Trump mengaku optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.

Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat kini “mengendalikan situasi Iran” dan sedang menghadapi pihak yang “sangat ingin mencapai kesepakatan”.

Gedung Putih: Kesepakatan Tinggal Selangkah Lagi

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 5 Mei 2026, Trump kembali menegaskan bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir.

Pejabat Amerika memperkirakan Teheran akan memberikan jawaban resmi dalam waktu 24 hingga 48 jam berikutnya.

Washington bahkan menyebut kesepakatan tersebut “sangat dekat”, meskipun belum benar-benar final.

Pemerintahan Trump dikabarkan menargetkan terobosan diplomatik sebelum kunjungan Trump ke Tiongkok berakhir pada Jumat mendatang.

Namun di balik optimisme tersebut, Gedung Putih juga disebut telah menyiapkan opsi militer jika perundingan kembali gagal di menit-menit terakhir.

Sumber di Washington menyebut bahwa Trump siap melanjutkan pemboman terhadap target-target Iran apabila Teheran menolak menandatangani kesepakatan akhir.

Negosiasi Berlangsung, Serangan Militer Tetap Terjadi

Meski pembicaraan diplomatik terus berjalan, ketegangan militer di kawasan ternyata belum mereda.

Pada 6 Mei 2026 pagi, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan bahwa militer AS mendeteksi sebuah kapal tanker bernama Hasna sedang bergerak menuju pelabuhan Iran melalui jalur internasional.

Menurut pihak Amerika, kapal tersebut telah beberapa kali diperingatkan karena dianggap melanggar blokade maritim AS terhadap Iran.

Namun karena tidak memberikan respons, jet tempur F/A-18 Super Hornet yang diterbangkan dari kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) akhirnya menembakkan beberapa proyektil ke arah kapal tanker tersebut hingga membuatnya lumpuh.

Insiden ini memperlihatkan bahwa Washington tetap mempertahankan strategi tekanan maksimum meskipun proses negosiasi sedang berlangsung.

Amerika tampaknya ingin menunjukkan bahwa tidak akan ada kelonggaran apa pun sebelum kesepakatan benar-benar resmi ditandatangani.

Iran Bantah Isi Kesepakatan, Sebut Negosiasi Sudah Gagal

Di pihak lain, respons Iran justru memperlihatkan situasi yang sangat berbeda.

Juru bicara parlemen Iran yang juga menjadi kepala delegasi negosiasi, Li Saiyi, menyatakan bahwa laporan media Axios mengenai isi kesepakatan hanyalah “daftar keinginan Amerika”.

Ia bahkan menegaskan bahwa proses negosiasi sebenarnya telah gagal.

Pernyataan yang lebih keras datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Ia menyerukan mobilisasi rakyat Iran, kelompok milisi Pakistan, dan diaspora Iran di luar negeri.

Menurutnya, perang telah memasuki fase baru dan musuh sedang berusaha memaksa Iran menyerah melalui tekanan ekonomi serta blokade laut.

Ghalibaf juga memperingatkan bahwa serangan militer besar masih bisa terjadi kapan saja.

Peran Tiongkok Mulai Terlihat dalam Krisis Hormuz

Menariknya, sehari sebelum kemajuan negosiasi kembali muncul ke publik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, diketahui melakukan kunjungan ke Beijing dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.

Tak lama setelah pertemuan itu, perkembangan positif dalam negosiasi AS-Iran kembali mencuat.

Banyak analis menilai Washington kini sedang menekan Beijing agar membantu membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, secara terbuka meminta Wang Yi menyampaikan pesan Washington kepada Iran.

Abbas Araghchi juga mengungkap bahwa Wang Yi mendorong Iran dan Amerika untuk kembali membuka Selat Hormuz demi menstabilkan perdagangan global.

Drone Buatan Tiongkok Jatuh di Teheran

Di tengah ketegangan tersebut, sumber lokal Iran melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran sedang melakukan uji coba penerbangan militer.

Namun dalam proses itu, sebuah drone buatan Tiongkok dilaporkan mengalami kegagalan sistem dan jatuh ke sebuah pusat perbelanjaan di Teheran.

Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya delapan orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa ini kembali memunculkan sorotan terhadap kualitas peralatan militer buatan Tiongkok yang digunakan Iran selama konflik berlangsung. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Biksu Menyapu Halaman yang Sama Setiap Hari

Menyapu halaman, mengepel lantai: bagaimana pekerjaan sehari-hari di biara menjadi salah satu praktik meditasi tertua di dunia. Masuklah ke hampir setiap biara Buddha, dan Anda...

Berawal dari Ruang Kelas, Guru Anak Berkebutuhan Khusus Ini Sabet Penghargaan Internasional

oleh: Fadjar Pratikto PEKALONGAN – Ketulusan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus membawa Angga Pratama Armadi Putra melangkah dari ruang kelas di Kota Pekalongan menuju panggung internasional....

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine