Pekan lalu, sebuah pesawat ringan buatan Tiongkok menabrak gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, CITIC Tower (China Zun). Insiden ini masih menyisakan banyak tanda tanya sekaligus menyoroti dugaan celah keamanan di wilayah udara sekitar Zhongnanhai, kompleks pusat kepemimpinan Tiongkok. Menurut sejumlah sumber yang mengaku mengetahui situasi tersebut, peristiwa ini diduga memiliki latar belakang politik dan berkaitan dengan perebutan kekuasaan di kalangan elite Partai Komunis Tiongkok (PKT).
EtIndonesia.com Pada 26 Juni (Jumat), sebuah pesawat ringan menabrak CITIC Tower, gedung tertinggi di Beijing yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Zhongnanhai.
Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa insiden tersebut mengakibatkan satu orang tewas dan 13 orang terluka, tetapi tidak menjelaskan penyebab kecelakaan maupun mengungkap identitas pilot. Hingga kini, pembahasan mengenai insiden tersebut di internet Tiongkok masih dibatasi.
Seorang ahli hukum yang tinggal di Australia, Yuan Hongbing, yang mengatakan dirinya memiliki hubungan dengan sumber-sumber di dalam sistem PKT, menyatakan bahwa CITIC Group merupakan konglomerat keuangan besar di Tiongkok yang memiliki hubungan erat dengan kalangan pemerintah dan dunia usaha.
Menurut Yuan, insiden tabrakan di CITIC Tower mencerminkan krisis politik yang sedang dihadapi pemimpin PKT, Xi Jinping.
Mengutip informasi dari sumber di dalam sistem pemerintahan, Yuan mengatakan bahwa sekolah penerbangan tempat pesawat tersebut berasal memiliki hubungan yang kuat dengan kalangan elite PKT.
“Di internal, perusahaan penerbangan Dongshi Shuangyue General Aviation dikategorikan sebagai unit semi-militer dan dikelola dengan sistem semi-militer. Pada dasarnya, hanya orang-orang yang berasal dari keluarga berpengaruh atau kalangan elite Partai Komunis yang dapat masuk ke sekolah penerbangan tersebut,” ujarnya.
Yuan juga mengklaim bahwa di kalangan pejabat Beijing beredar kabar bahwa selama penerbangan, pesawat tersebut sebenarnya terus dipantau melalui radar. Namun, tidak ada pejabat yang berani mengeluarkan perintah untuk menembaknya.
Ia menambahkan bahwa menurut aturan internal PKT, pesawat hanya boleh ditembak jatuh tanpa memerlukan persetujuan lebih lanjut apabila telah memasuki radius 5 kilometer dari kawasan Zhongnanhai, Balai Agung Rakyat, atau markas komando Komisi Militer Pusat di kawasan Xishan.
“Hal ini menunjukkan adanya masalah yang lebih serius daripada sekadar kelemahan teknis atau fisik dalam sistem pertahanan udara PKT, yaitu korupsi politik. Tidak ada seorang pun yang bersedia memikul tanggung jawab,” katanya.
“Semua orang khawatir, bagaimana jika pesawat yang ditembak ternyata berkaitan dengan keluarga berpengaruh yang memiliki hubungan dengan Peng Liyuan, Cai Qi, atau pejabat tinggi Angkatan Udara dan pertahanan udara PKT. Karena itulah tidak ada yang berani mengambil keputusan. Inilah krisis politik paling serius yang dihadapi Xi Jinping dan yang terungkap melalui insiden ini,” ujarnya.
Karena pemerintah PKT membatasi penyebaran informasi mengenai insiden tersebut, klaim-klaim yang disampaikan Yuan Hongbing belum dapat diverifikasi secara independen.
Sementara itu, sejumlah laporan lain menyebutkan bahwa perusahaan Dongshi Shuangyue General Aviation, pemilik pesawat yang mengalami kecelakaan, kini tercantum sebagai “menghentikan sementara operasional” pada platform ulasan bisnis Dazhong Dianping.
Selain penerbangan untuk keperluan tanggap darurat, sejumlah klub penerbangan di Tiongkok juga dilaporkan telah menghentikan sementara seluruh layanan penerbangan umum.
Laporan oleh reporter NTD Television, Guo Yuexi dan Luo Ya.


