EtIndonesia.com — Pemerintah Israel mengirimkan sinyal baru mengenai arah kebijakan pertahanannya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel ingin mempercepat upaya untuk mengakhiri ketergantungan terhadap bantuan militer Amerika Serikat, jauh lebih cepat dibandingkan rencana yang pernah ia sampaikan sebelumnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kepercayaan diri pemerintah Israel terhadap kemampuan industri pertahanan nasional, sekaligus meningkatnya ketegangan dengan Iran dan kelompok-kelompok proksi yang didukung Teheran di kawasan Timur Tengah.
Di saat yang hampir bersamaan, Amerika Serikat juga memperlihatkan kemampuan militer terbaru yang dinilai dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik. Angkatan Udara Pasifik Amerika Serikat (PACAF) mengumumkan bahwa pesawat pembom siluman B-2 Spirit kini mampu membawa serta meluncurkan rudal antikapal jarak jauh (Long Range Anti-Ship Missile/LRASM), sebuah kemampuan yang dipandang akan memperbesar ancaman terhadap armada laut lawan, khususnya dalam skenario konflik di kawasan Asia-Pasifik.
Netanyahu Percepat Target Mengakhiri Bantuan Militer Amerika
Gagasan untuk mengurangi ketergantungan Israel terhadap bantuan pertahanan Amerika Serikat sebenarnya bukan hal baru.
Dalam wawancara bersama The Economist yang dipublikasikan pada awal 2026, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel memiliki target untuk sepenuhnya menghentikan ketergantungan terhadap bantuan militer Amerika Serikat dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun.
Namun, dalam pidato terbarunya yang disampaikan pada Selasa, 30 Juni 2026, Netanyahu menunjukkan perubahan sikap yang cukup signifikan.
Ia mengisyaratkan bahwa proses tersebut tidak perlu lagi menunggu satu dekade.
Menurut Netanyahu, Israel sudah berada pada tahap di mana negara itu mampu berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya.
Dalam pidatonya, ia mengatakan: “Saya ingin menghentikan bantuan dari Amerika Serikat. Bantuan itu ibarat sebuah tunjangan kesejahteraan. Saya tidak membutuhkannya lagi.”
Netanyahu menjelaskan bahwa Israel selama puluhan tahun memperoleh manfaat besar dari dukungan keamanan Amerika Serikat. Namun menurutnya, kemampuan teknologi, industri pertahanan, dan kekuatan ekonomi Israel kini telah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan masa lalu.
Oleh karena itu, ia berharap proses penghentian bantuan tersebut dapat mulai dijalankan bahkan sejak tahun 2026.
Pernyataan ini dipandang sebagai salah satu sinyal paling jelas bahwa pemerintah Israel ingin memperkuat posisi sebagai negara yang mampu mempertahankan dirinya tanpa bergantung pada dukungan militer langsung dari negara lain.
Israel Tegaskan Siap Menghadapi Iran Tanpa Bantuan Negara Lain
Sikap serupa juga ditegaskan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Pada 29 Juni 2026, Katz kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran mengenai meningkatnya kesiapan militer Israel.
Menurutnya, Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) telah berada dalam kondisi siap penuh apabila sewaktu-waktu diperlukan operasi militer terhadap Iran.
Katz menegaskan bahwa apabila operasi tersebut benar-benar dilaksanakan, maka seluruh misi akan dijalankan sepenuhnya oleh Israel.
Ia menyatakan bahwa Israel tidak bergantung kepada dukungan militer negara mana pun untuk mempertahankan keamanan nasionalnya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperkuat pesan politik Netanyahu bahwa Israel ingin menjadi negara yang mampu mengambil keputusan strategis secara independen, termasuk dalam menghadapi ancaman dari Iran.
Selain Iran, Katz juga menegaskan bahwa kesiapan tersebut berlaku terhadap seluruh kelompok bersenjata pro-Iran di kawasan Timur Tengah, termasuk Hezbollah di Lebanon, Hamas di Jalur Gaza, maupun kelompok-kelompok milisi lainnya yang selama ini mendapat dukungan dari Teheran.
Netanyahu Klaim Kekuatan Hezbollah Tinggal Delapan Persen
Dalam perkembangan lain, Benjamin Netanyahu juga melakukan kunjungan langsung ke wilayah selatan Lebanon untuk bertemu dengan prajurit Israel yang masih bertugas di garis depan.
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan moral pasukan sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap kondisi para personel militer.
Dalam pidatonya di hadapan para prajurit, Netanyahu menilai bahwa operasi militer Israel selama beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak besar terhadap kemampuan tempur Hezbollah.
Menurut Netanyahu, pada masa puncak kekuatannya, Hezbollah memiliki sekitar 150.000 roket dan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel.
Persenjataan tersebut selama bertahun-tahun dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap keamanan nasional Israel.
Namun kini, menurut klaim Netanyahu, kemampuan organisasi tersebut telah mengalami penurunan yang sangat drastis.
Ia menyebut bahwa kekuatan Hezbollah saat ini hanya tersisa sekitar 8 persen dibandingkan kapasitas yang pernah dimilikinya.
Meskipun angka tersebut merupakan penilaian pemerintah Israel dan belum dapat diverifikasi secara independen, Netanyahu menggunakan data tersebut untuk menunjukkan bahwa strategi militernya telah berhasil melemahkan salah satu sekutu utama Iran di kawasan.
Pesan Langsung kepada Iran dan Hezbollah
Dalam pidato yang sama, Netanyahu juga menyampaikan pesan yang sangat tegas kepada pemerintah Iran dan kelompok Hezbollah.
Ia mengatakan:
“Pesan kami kepada Iran dan Hezbollah sangat sederhana. Kalian tidak memiliki tempat lagi di sini.”
Menurut Netanyahu, masa depan Lebanon seharusnya ditentukan oleh rakyat Lebanon sendiri, bukan oleh pemerintah Iran maupun kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Teheran.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama Israel bukan sekadar memenangkan konflik militer, tetapi menciptakan stabilitas keamanan jangka panjang di kawasan perbatasan.
Netanyahu juga menyatakan bahwa keamanan yang berkelanjutan akan membuka peluang terciptanya kemakmuran ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di kedua sisi perbatasan Israel-Lebanon.
Ia kembali menekankan bahwa Israel siap menghadapi Iran beserta seluruh jaringan proksinya secara mandiri, sehingga ketergantungan terhadap dukungan militer Amerika Serikat dapat terus dikurangi.
Amerika Serikat Perlihatkan Kemampuan Baru Pesawat Siluman B-2 Spirit
Sementara Israel memperkuat pesan mengenai kemandirian militernya, Amerika Serikat juga mengumumkan perkembangan penting dalam kemampuan tempur strategisnya.
Pada 29 Juni 2026, Angkatan Udara Pasifik Amerika Serikat (Pacific Air Forces/PACAF) mengumumkan bahwa pesawat pembom siluman B-2 Spirit kini secara resmi memiliki kemampuan untuk membawa dan meluncurkan rudal antikapal jarak jauh Long Range Anti-Ship Missile (LRASM).
Kemampuan baru ini dinilai akan meningkatkan fleksibilitas operasi pembom siluman tersebut, terutama dalam menghadapi armada laut musuh di kawasan Indo-Pasifik.
Pengumuman tersebut dilakukan setelah keberhasilan uji coba yang berlangsung dua hari sebelumnya.
Uji Coba Berhasil Tenggelamkan Kapal Target
Menurut keterangan PACAF, pada 27 Juni 2026, sebuah pesawat B-2 Spirit lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam menuju kawasan Laut Filipina.
Dalam latihan tersebut, pesawat meluncurkan satu rudal LRASM dari jarak sekitar 380 kilometer menuju sasaran.
Target rudal adalah USS Juneau, kapal angkut amfibi milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang telah dipensiunkan dan sengaja dijadikan sasaran latihan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa rudal berhasil menghantam sasaran secara tepat.
USS Juneau akhirnya tenggelam setelah terkena serangan tersebut, menandai keberhasilan demonstrasi kemampuan baru pesawat pembom siluman Amerika Serikat dalam menjalankan misi penghancuran target laut dari jarak jauh.
Dinilai Perkuat Daya Gentar terhadap Tiongkok
Komandan Angkatan Udara Pasifik menyatakan bahwa integrasi rudal LRASM dengan pesawat B-2 Spirit akan memberikan keuntungan strategis yang sangat besar bagi Amerika Serikat.
Menurutnya, kombinasi teknologi siluman B-2 dengan rudal antikapal berjangkauan jauh memungkinkan Amerika menyerang kapal perang musuh dari luar jangkauan sebagian besar sistem pertahanan udara lawan.
Kemampuan tersebut dinilai akan meningkatkan efektivitas operasi militer Amerika Serikat apabila terjadi konflik maritim di kawasan Indo-Pasifik.
Sejumlah analis pertahanan juga menilai bahwa perkembangan ini terutama ditujukan untuk memperkuat kemampuan pencegahan (deterrence) terhadap meningkatnya kekuatan angkatan laut Tiongkok, khususnya dalam skenario yang melibatkan Laut Filipina, Laut Cina Selatan, maupun kawasan sekitar Taiwan.
Di tengah meningkatnya persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, kemampuan baru pesawat B-2 Spirit dipandang sebagai salah satu langkah penting Washington untuk mempertahankan keunggulan militernya di kawasan Asia-Pasifik sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi berbagai potensi konflik maritim di masa mendatang. (***)


