Heboh! Unit Rahasia Iran Dikabarkan Siap Memburu Trump, Tapi Elite Teheran Justru Sedang Terpecah

EtIndonesia.com – Situasi politik dan keamanan di Iran kembali menjadi sorotan internasional setelah muncul laporan yang menyebut Teheran membentuk sebuah satuan rahasia lintas negara yang diduga memiliki misi untuk melakukan aksi balasan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di saat yang sama, berbagai laporan juga mengindikasikan adanya dinamika internal yang semakin rumit di dalam struktur kekuasaan Iran, terutama ketika negara itu masih menggelar rangkaian prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

Di tengah suasana duka nasional, pemerintah Iran menampilkan citra persatuan dan kekuatan di hadapan dunia. Namun di balik prosesi yang berlangsung megah tersebut, sejumlah laporan media dan analis justru menyoroti adanya indikasi ketegangan di dalam elite politik dan militer Iran.

Prosesi Pemakaman Khamenei Berlangsung di Tengah Pengamanan Ketat

Pada 6 Juli 2026, pemerintah Iran masih melanjutkan prosesi pemakaman kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Jalan-jalan utama ibu kota dipenuhi lautan manusia yang datang untuk mengikuti upacara penghormatan terakhir.

Demi menjamin keamanan acara, pemerintah menutup seluruh wilayah udara Teheran selama prosesi berlangsung. Langkah tersebut menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan aparat keamanan terhadap berbagai kemungkinan ancaman.

Meskipun pemerintah Iran menampilkan kerumunan massa sebagai bukti kuatnya dukungan rakyat kepada pemimpin tertinggi mereka, sejumlah pengamat menilai besarnya jumlah peserta belum tentu sepenuhnya mencerminkan dukungan spontan masyarakat. Mereka menilai pemerintah memiliki kepentingan politik untuk mempertontonkan citra persatuan nasional di tengah tekanan yang sedang dihadapi negara tersebut.

Seruan Terbuka untuk Menyerang Donald Trump

Dalam salah satu momen prosesi pemakaman, pembawa acara di panggung utama memimpin massa meneriakkan slogan yang menyerukan agar Donald Trump diserang. Seruan tersebut kemudian diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan peserta yang hadir di lokasi.

Bagi sebagian orang, teriakan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai luapan emosi massa dalam suasana berkabung. Namun, kemunculan laporan intelijen pada waktu yang hampir bersamaan membuat slogan tersebut memperoleh perhatian yang jauh lebih besar.

Laporan Intelijen Israel: Iran Bentuk Unit Rahasia “Mukhtar”

Media Israel, Channel 14, melaporkan adanya informasi intelijen yang menyebut Pasukan Quds, bagian dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), telah membentuk sebuah unit rahasia baru dengan nama sandi “Mukhtar.”

Menurut laporan tersebut, unit ini disebut memiliki satu misi utama, yakni melakukan operasi terhadap Donald Trump beserta sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat.

Laporan itu juga menyatakan bahwa unit tersebut tidak berencana mengirim personelnya secara langsung ke wilayah Amerika Serikat. Sebaliknya, operasi disebut akan dijalankan melalui jaringan perantara yang berada di luar Iran.

Dugaan Pemanfaatan Kartel Meksiko dan Jaringan Diaspora Iran

Masih berdasarkan laporan yang sama, terdapat dua kelompok yang disebut akan dimanfaatkan sebagai pendukung operasi.

Kelompok pertama adalah kartel kriminal di Meksiko yang dinilai memiliki pengalaman dalam penyelundupan manusia maupun barang melintasi perbatasan Amerika Serikat.

Sementara kelompok kedua adalah sebagian warga keturunan Iran yang tinggal di berbagai negara. Mereka diduga akan berperan dalam penyediaan logistik, pengintaian, pembangunan jaringan komunikasi, hingga membantu persiapan operasional.

Hingga kini, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi independen maupun pengakuan resmi dari pemerintah Iran.

Dugaan Ancaman terhadap Trump Pernah Muncul Sebelumnya

Terlepas dari benar atau tidaknya laporan terbaru tersebut, tuduhan mengenai upaya Iran menargetkan Donald Trump bukanlah isu yang sepenuhnya baru.

Pada 2024, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan dakwaan terhadap sejumlah individu yang dituduh terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap Donald Trump. Para terdakwa diduga bertindak atas nama pemerintah Iran, meskipun Teheran membantah tuduhan tersebut.

Kasus tersebut menjadi salah satu alasan mengapa laporan terbaru mengenai pembentukan unit “Mukhtar” langsung menarik perhatian berbagai kalangan.

Pengamanan Pemakaman Diduga Melibatkan Milisi Afghanistan

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, muncul pula laporan lain mengenai sistem pengamanan prosesi pemakaman.

Akun X Iran Observer, yang dikenal kerap mengunggah informasi mengenai perkembangan internal Iran, mengklaim bahwa pengamanan inti di kompleks utama Mosalla tidak sepenuhnya dilakukan oleh personel Garda Revolusi Iran.

Menurut laporan tersebut, tugas pengamanan utama justru dipercayakan kepada Brigade Fatemiyoun, yaitu kelompok milisi yang mayoritas anggotanya berasal dari Afghanistan dan selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok yang didukung Iran.

Apabila informasi tersebut benar, hal itu menunjukkan bahwa pemerintah Iran memilih mengandalkan unsur milisi sekutu dalam mengamankan salah satu acara paling penting dalam sejarah politik negara tersebut.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran mengenai klaim tersebut.

Penembak Jitu Ditempatkan di Berbagai Titik Strategis

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan keberadaan penembak jitu di berbagai bangunan dan titik strategis sepanjang jalur prosesi pemakaman.

Pengamanan berlapis seperti itu dinilai memiliki pola yang serupa dengan langkah-langkah keamanan ketika pemerintah Iran menghadapi aksi demonstrasi besar beberapa waktu sebelumnya.

Besarnya pengerahan aparat menunjukkan bahwa pemerintah tampaknya berupaya mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan selama berlangsungnya prosesi kenegaraan tersebut.

Pernyataan Esmail Qaani Memicu Berbagai Spekulasi

Perhatian publik juga tertuju pada laporan mengenai pernyataan yang dikaitkan dengan Komandan Pasukan Quds, Esmail Qaani.

Menurut laporan yang beredar, Qaani disebut mengatakan bahwa wafatnya Khamenei merupakan “hasil terbaik baginya.”

Ungkapan tersebut memicu berbagai spekulasi karena berbeda dari istilah yang lazim digunakan pemerintah Iran ketika menyampaikan kabar meninggalnya tokoh penting negara.

Selama ini, pejabat Iran umumnya menggunakan istilah seperti “syahid”, “gugur sebagai martir”, atau “berkorban di jalan Tuhan”. Karena itu, apabila kutipan tersebut benar adanya, banyak analis menilai pilihan kata tersebut terasa tidak biasa.

Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat verifikasi independen yang dapat memastikan keaslian maupun konteks lengkap dari pernyataan tersebut.

Muncul Dugaan Retaknya Hubungan Elite Politik dan Garda Revolusi

Berkembangnya berbagai laporan tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya perbedaan pandangan di antara elite politik Iran dan pimpinan Garda Revolusi.

Sebagian pengamat menilai dinamika yang muncul selama prosesi pemakaman dapat menjadi indikasi bahwa hubungan antarkelompok berpengaruh di dalam struktur kekuasaan Iran sedang mengalami tekanan.

Namun demikian, hingga kini belum terdapat bukti resmi yang dapat memastikan adanya keretakan internal tersebut.

Keith Kellogg Bandingkan Perang Ukraina dengan Afghanistan Era Uni Soviet

Sementara Iran menghadapi berbagai tantangan internal, sekutunya, Rusia, juga terus berada di bawah tekanan akibat perang di Ukraina.

Dalam wawancara dengan PBS, mantan utusan khusus Donald Trump untuk urusan Rusia, Keith Kellogg, menyampaikan perbandingan yang cukup tajam mengenai besarnya kerugian yang dialami Rusia.

Menurut Kellogg, ketika Uni Soviet berperang di Afghanistan, jumlah korban tewas tentaranya diperkirakan sekitar 18.000 orang, dan beban perang tersebut pada akhirnya memaksa Moskow menarik seluruh pasukannya.

Ia kemudian menyatakan bahwa total korban tewas maupun luka di pihak Rusia selama perang Ukraina diperkirakan telah mencapai sekitar 1,2 hingga 1,4 juta orang, meskipun angka tersebut masih menjadi bahan perdebatan dan memiliki perbedaan estimasi di berbagai sumber internasional.

Peringatan agar Putin Tidak Mengulangi Sejarah Nikolay II

Dalam wawancara yang sama, Kellogg mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin perlu menyadari bahwa Rusia belum benar-benar memenangkan perang.

Ia mengingatkan agar Putin tidak mengulangi nasib Tsar Nikolay II, penguasa terakhir Kekaisaran Rusia.

Menurut Kellogg, keputusan Nikolay II membawa Rusia masuk ke dalam Perang Dunia I memicu krisis ekonomi yang semakin parah, meningkatnya kemarahan rakyat, hingga akhirnya melahirkan Revolusi Februari yang menjatuhkan kekuasaannya. Beberapa waktu kemudian, Nikolay II beserta keluarganya kehilangan nyawa setelah revolusi tersebut.

Seruan untuk Menempuh Jalur Diplomasi

Kellogg menegaskan bahwa pesannya tidak hanya ditujukan kepada Kremlin, tetapi juga kepada negara-negara Barat.

Menurutnya, penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan mendorong Rusia ke situasi di mana kepemimpinan Putin hanya memiliki dua pilihan ekstrem, yakni memenangkan perang atau menghadapi risiko kehilangan kekuasaan.

Ia menilai bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula biaya kemanusiaan, ekonomi, dan politik yang harus ditanggung semua pihak yang terlibat.

Situasi di Iran maupun Rusia menunjukkan bahwa tekanan eksternal sering kali berjalan beriringan dengan tantangan internal. Di satu sisi, Teheran menghadapi sorotan terkait dugaan ancaman terhadap Amerika Serikat dan berbagai spekulasi mengenai dinamika elite politiknya. Di sisi lain, Moskow terus menghadapi beban perang yang semakin besar, sementara komunitas internasional masih berupaya mencari peluang bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. (***)

INSPIRASI ERABARU

Membangun Nostalgia Hari Ini: Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Anda di Masa Depan?

Perjalanan berkemah tahunan, buku cerita favorit, atau tradisi hari raya dapat menjadi kenangan emosional yang melekat sepanjang masa kanak-kanak.oleh Walker LarsonKata nostalgia berasal dari...

Cara Mengurangi Ketergantungan Anak pada Layar dan Mengajak Mereka Kembali Bermain di Alam Terbuka

Sekarang waktu di depan layar telah menjadi bagian utama masa kanak-kanak bagi jutaan keluarga. Perangkat digital dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian jauh lebih...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine