EtIndonesia.com – Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran terus memasuki fase yang semakin luas setelah Presiden Donald Trump memerintahkan gelombang kedua serangan udara pada Rabu, 8 Juli 2026.
Hingga Kamis, 9 Juli 2026, operasi tersebut dilaporkan masih berlangsung tanpa jeda selama kurang lebih 18 jam, menjadikannya salah satu kampanye udara terbesar yang dilakukan Washington terhadap Iran sejak diberlakukannya gencatan senjata pada April 2026.
Berbeda dengan operasi-operasi sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada sasaran militer konvensional, gelombang serangan terbaru menunjukkan perluasan target secara signifikan. Selain menghantam pangkalan militer, sistem pertahanan udara, dan fasilitas komando, serangan kali ini juga dilaporkan menyasar fasilitas nuklir bawah tanah, pangkalan udara, pelabuhan militer, jalur logistik strategis, hingga infrastruktur transportasi yang selama ini menjadi penghubung penting Iran dengan Rusia dan Tiongkok.
Perkembangan tersebut memunculkan penilaian dari sejumlah analis bahwa strategi Amerika Serikat telah bergeser dari sekadar melemahkan kemampuan tempur Iran menjadi upaya yang lebih luas untuk melumpuhkan jaringan logistik, mobilitas militer, serta infrastruktur strategis yang menopang kekuatan nasional Iran.
Di saat yang sama, berbagai laporan juga mengindikasikan meningkatnya aktivitas militer di sejumlah wilayah perbatasan Iran. Sementara itu, sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Gedung Putih tengah menyiapkan berbagai skenario apabila konflik berkembang menjadi operasi militer yang berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.
Dugaan Penggunaan Kembali Bom Penghancur Bunker di Bushehr
Salah satu perkembangan yang paling menyita perhatian internasional adalah munculnya laporan mengenai dugaan penggunaan kembali bom penghancur bunker (bunker buster) oleh militer Amerika Serikat.
Berdasarkan berbagai laporan yang beredar pada 9 Juli 2026, sebuah kompleks yang diduga merupakan fasilitas pengayaan nuklir bawah tanah di sekitar Kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, Iran selatan, menjadi sasaran serangan presisi Angkatan Udara Amerika Serikat.
Bom penghancur bunker merupakan amunisi khusus yang dirancang untuk menembus lapisan beton bertulang, batuan keras, maupun struktur bawah tanah sebelum meledak di dalam target.
Senjata jenis ini umumnya digunakan untuk menghancurkan bunker komando, gudang penyimpanan senjata bawah tanah, pusat komando militer, maupun fasilitas nuklir yang dibangun jauh di bawah permukaan tanah.
Menurut sejumlah laporan awal, sesaat setelah serangan berlangsung terdengar ledakan berkekuatan besar dari kawasan tersebut. Beberapa saksi juga melaporkan munculnya guncangan yang dirasakan hingga beberapa kilometer dari lokasi.
Namun demikian, hingga 10 Juli 2026, belum terdapat konfirmasi resmi mengenai tingkat kerusakan fasilitas yang menjadi sasaran maupun jenis amunisi yang benar-benar digunakan dalam operasi tersebut. Pemerintah Amerika Serikat juga belum memberikan rincian teknis mengenai serangan tersebut.
Rudal Tomahawk Dilaporkan Menghantam Pangkalan Udara Iran
Selain mengerahkan pesawat tempur, militer Amerika Serikat juga dilaporkan menggunakan rudal jelajah Tomahawk dalam operasi lanjutan yang berlangsung pada dini hari 9 Juli 2026.
Laporan yang beredar menyebutkan bahwa sasaran utama serangan tersebut adalah sejumlah hanggar pesawat tempur yang sedang dibangun dan diperkuat oleh Angkatan Udara Iran.
Salah satu lokasi yang dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat adalah Pangkalan Tempur Taktis Ketiga di dekat Hamadan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu fasilitas penting Angkatan Udara Iran.
Tidak hanya itu, Pangkalan Angkatan Laut Iran di Konarak, yang berada di pesisir Laut Oman, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan presisi.
Para pengamat militer menilai bahwa pemilihan kedua target tersebut bukanlah kebetulan. Pangkalan udara berperan penting dalam mempertahankan superioritas udara, sedangkan pangkalan laut menjadi pusat pengoperasian kapal perang, kapal patroli, serta berbagai sistem pertahanan maritim Iran.
Apabila kedua fasilitas tersebut benar mengalami kerusakan signifikan, kemampuan Iran dalam mengoperasikan pesawat tempur maupun armada lautnya diperkirakan dapat menurun apabila konflik berkembang menjadi perang berkepanjangan.
Gelombang Serangan Sebelumnya Menghantam Sekitar 90 Sasaran Militer
Operasi terbaru merupakan kelanjutan dari serangan besar yang telah dimulai sehari sebelumnya, yakni pada 8 Juli 2026.
Dalam gelombang pertama tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang sekitar 90 sasaran militer yang tersebar di berbagai wilayah Iran.
Berdasarkan berbagai laporan yang beredar, sasaran operasi meliputi:
- Sistem pertahanan udara.
- Radar pengawasan pesisir.
- Gudang penyimpanan rudal.
- Basis operasi drone militer.
- Instalasi Angkatan Laut Iran.
- Pusat komando dan kendali militer.
- Sejumlah pangkalan dan bandara militer.
- Pelabuhan strategis.
- Infrastruktur pendukung fasilitas tenaga nuklir.
Skala operasi tersebut menunjukkan pola serangan yang dirancang secara bertahap. Pada tahap awal, sasaran difokuskan pada sistem pertahanan udara dan radar untuk mengurangi kemampuan deteksi Iran. Setelah itu, serangan diperluas ke pusat komando, fasilitas logistik, hingga pangkalan udara dan pelabuhan militer.
Menurut sejumlah analis pertahanan, pola tersebut merupakan pendekatan yang lazim digunakan dalam operasi udara berskala besar untuk menciptakan keunggulan operasional sebelum memasuki tahap berikutnya.
Infrastruktur Transportasi Strategis Iran Ikut Menjadi Sasaran
Salah satu perkembangan yang paling mengejutkan dalam operasi kali ini adalah masuknya infrastruktur transportasi strategis ke dalam daftar target serangan.
Menurut laporan yang dimuat The Times of Israel, militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang dua jalur kereta api penting di wilayah utara Iran, yaitu:
- Jembatan Aktekhan di Provinsi Golestan.
- Jalur rel kereta api Gorgan.
Apabila laporan tersebut akurat, maka ini menjadi pertama kalinya sejak gencatan senjata April 2026 Amerika Serikat secara langsung menyasar infrastruktur transportasi strategis Iran.
Berbeda dengan pangkalan militer atau fasilitas pertahanan, jaringan rel kereta api memiliki fungsi yang jauh lebih luas karena digunakan untuk mobilisasi pasukan, distribusi logistik, pengangkutan peralatan berat, serta aktivitas perdagangan antarkawasan.
Penghancuran jalur tersebut berpotensi memperlambat pergerakan logistik militer sekaligus mengganggu distribusi barang ke berbagai wilayah Iran.
Koridor Dagang Iran–Rusia–Tiongkok Ikut Terdampak
Nilai strategis kedua jalur kereta tersebut tidak hanya terbatas pada kepentingan domestik Iran.
Selama bertahun-tahun, jaringan rel tersebut telah berkembang menjadi salah satu koridor perdagangan utama yang menghubungkan Iran dengan Rusia dan Tiongkok.
Koridor ini memiliki panjang lebih dari 10.000 kilometer, membentang dari kawasan Aprin, dekat Teheran, menuju berbagai kota di pedalaman Tiongkok, termasuk Xi’an dan Yiwu. Jalur tersebut juga merupakan bagian penting dari proyek Belt and Road Initiative (BRI) atau Sabuk dan Jalan, program infrastruktur global yang dipromosikan pemerintah Tiongkok untuk memperkuat konektivitas perdagangan lintas benua.
Karena itu, apabila infrastruktur tersebut mengalami kerusakan serius, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh Iran, tetapi juga berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi barang dan rantai pasok regional yang menghubungkan Timur Tengah dengan Asia Tengah dan Asia Timur.
Sejumlah analis menilai bahwa pemilihan sasaran tersebut mencerminkan strategi Washington yang tidak hanya berupaya menekan kemampuan militer Iran, tetapi juga mempersempit ruang gerak logistik dan ekonomi negara tersebut melalui gangguan terhadap jalur perdagangan strategis yang selama ini menjadi penghubung utama Iran dengan mitra-mitra internasionalnya.
Konflik Memasuki Fase yang Lebih Kompleks
Hingga 10 Juli 2026, belum ada tanda-tanda bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan segera berakhir. Dengan semakin luasnya daftar sasaran yang mencakup fasilitas nuklir, pangkalan udara, pelabuhan militer, jaringan transportasi, hingga koridor perdagangan internasional, konflik kini memasuki fase yang jauh lebih kompleks dibandingkan tahap awal operasi.
Para pengamat menilai bahwa perluasan target tersebut menunjukkan adanya perubahan strategi dari sekadar operasi penghancuran kemampuan tempur menuju upaya menekan infrastruktur strategis yang menopang kekuatan militer, logistik, dan ekonomi Iran.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas militer di sejumlah wilayah perbatasan serta belum adanya sinyal deeskalasi dari kedua belah pihak memperbesar kekhawatiran bahwa konfrontasi dapat berkembang menjadi konflik yang lebih panjang dan berdampak luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. (***)


