【Laporan Khusus】Kebijakan Baru Trump Mendorong Perusahaan Tiongkok Keluar dari AS, tetapi Pabrik dan Teknologinya Tetap Tinggal

Persaingan ekonomi, perdagangan, dan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok terus meningkat. Di bawah kebijakan baru pemerintahan Presiden Donald Trump, semakin banyak perusahaan Tiongkok mulai menarik diri dari pasar Amerika, terutama di sektor-sektor sensitif seperti energi bersih.

EtIndonesia.com Sebuah laporan menyebutkan bahwa meskipun sebagian perusahaan Tiongkok memilih meninggalkan Amerika Serikat, pabrik, peralatan, serta teknologi produksi yang telah mereka bangun justru diambil alih oleh investor AS.

Menurut laporan majalah The Economist, setelah Amerika Serikat mengesahkan One Big Beautiful Bill Act pada tahun 2025, perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan Tiongkok tidak lagi berhak menerima subsidi dari pemerintah AS. Akibatnya, banyak perusahaan Tiongkok di berbagai wilayah Amerika menjual aset energi bersih mereka dengan harga murah.

Seorang pembeli mengungkapkan bahwa beberapa aset dijual dengan potongan harga hingga 40%.

Aset yang dijual bukan hanya berupa pabrik dan peralatan, tetapi juga mencakup teknologi produksi serta know-how (pengetahuan teknis dan pengalaman operasional) yang telah dikembangkan perusahaan selama bertahun-tahun.

Salah satu contohnya adalah perusahaan energi surya Tiongkok Trina Solar, yang membangun pabrik panel surya berkapasitas 5 gigawatt di Dallas, Texas. Sebelumnya pabrik tersebut diperkirakan dapat menerima subsidi pemerintah AS hingga US$350 juta per tahun. Namun setelah One Big Beautiful Bill Act diberlakukan, subsidi tersebut dihentikan.

Trina Solar membangun pabrik itu pada tahun 2024. Hanya beberapa hari setelah mulai beroperasi, hak kekayaan intelektual terkait dijual kepada sebuah perusahaan di Singapura, yang kemudian melisensikannya kepada perusahaan energi Amerika T1 Energy.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejak tahun 2025, hampir US$9 miliar investasi Tiongkok di sektor energi terbarukan di Amerika Serikat telah dibatalkan, ditangguhkan, atau dijual kepada investor lokal Amerika. Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 dan 2023 nilainya disebut hampir nol.

Profesor Sun Guoxiang menyebut fenomena ini sebagai: “Dekapitalisasi Tiongkok, tetapi tetap mempertahankan warisan teknologinya.”

“Amerika Serikat sedang beralih dari sekadar melarang teknologi Tiongkok menjadi menyerap teknologinya sambil menghilangkan kendali perusahaan Tiongkok. Ini bukan sekadar kemunduran perusahaan Tiongkok, tetapi menunjukkan bahwa persaingan industri antara AS dan Tiongkok telah memasuki tahap baru. Di permukaan terlihat sebagai pemisahan ekonomi (decoupling), tetapi pada kenyataannya merupakan decoupling yang selektif disertai penyerapan teknologi secara selektif,” ujarnya. 

Kolumnis The Epoch Times, Wang He, berpendapat bahwa kesulitan perusahaan Tiongkok di sektor energi bersih Amerika berakar pada memburuknya hubungan strategis antara kedua negara.

“Investasi perusahaan Tiongkok di Amerika pada dasarnya merupakan akibat dari penilaian yang keliru terhadap arah hubungan AS-Tiongkok. Kedua negara saling tidak percaya secara strategis. Sulit membayangkan Amerika mengizinkan perusahaan dari negara yang dianggap sebagai pesaing strategis membangun fasilitas energi dalam skala besar di wilayahnya. Faktor utama yang memicu situasi saat ini adalah kebijakan luar negeri Beijing yang memicu langkah balasan dari Amerika Serikat,” ujarnya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok membangun rantai industri energi baru melalui subsidi dan berbagai kebijakan pendukung, serta mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk berekspansi ke luar negeri.

The Economist mencatat bahwa subsidi besar-besaran pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden sempat menarik banyak perusahaan Tiongkok berinvestasi di Amerika Serikat, sehingga mereka untuk sementara dapat mengurangi tekanan persaingan yang sangat ketat di pasar domestik Tiongkok.

Namun Wang He menilai bahwa kebijakan pemerintahan Trump saat ini bukan sekadar penyesuaian kebijakan industri.

“Selain mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja pada era kecerdasan buatan (AI), jaringan listrik juga merupakan infrastruktur yang sangat penting. Jika perusahaan Tiongkok memasang banyak fasilitas dan produknya ke dalam jaringan listrik Amerika, muncul kekhawatiran adanya risiko keamanan atau ‘kuda Troya,” ujarnya. 

“Oleh karena itu, perubahan kebijakan Trump juga didorong oleh pertimbangan keamanan nasional. Dalam bidang ini, pemisahan antara kedua negara hampir pasti akan terus berlangsung,” katanya. 

Sementara itu, Profesor Xie Tian berpendapat bahwa industri energi baru Tiongkok pada awalnya berkembang dengan mempelajari teknologi Amerika. Kini sebagian teknologi dan kapasitas produksi tersebut kembali ke Amerika dalam bentuk yang berbeda.

“Begitu teknologi ini kembali ke Amerika dan diproduksi secara besar-besaran berdasarkan fondasi teknologi Amerika sendiri, sangat mungkin biaya produksinya akan turun hingga lebih murah daripada di Tiongkok. Hal ini dapat menjadi ancaman besar bagi masa depan perusahaan-perusahaan Tiongkok,” ujarnya. 

“Jika perusahaan Amerika kemudian berkembang lebih jauh dan kembali bersaing di pasar global melawan perusahaan Tiongkok, maka Tiongkok bisa mengalami kerugian ganda,” katanya. 

Profesor Sun Guoxiang juga menilai bahwa tantangan terbesar bagi Beijing adalah kenyataan bahwa industri energi baru, yang sebelumnya merupakan salah satu sektor strategis Tiongkok dengan daya saing global, kini justru semakin sering dipandang oleh Amerika Serikat dan sebagian negara Barat sebagai risiko terhadap keamanan nasional.

“Akibatnya, ekspansi perusahaan Tiongkok ke luar negeri tidak lagi sekadar persoalan bisnis, tetapi juga menjadi objek penilaian geopolitik. Dengan kata lain, bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena daya saing itu sendiri kini dipandang sebagai isu keamanan,” ujarnya. 

Sun menambahkan bahwa model bisnis perusahaan energi baru Tiongkok yang selama ini mengandalkan pembangunan pabrik di luar negeri dan memperoleh subsidi untuk memasuki pasar Amerika kini menghadapi tantangan yang semakin besar.

Disunting oleh Wang Ziqi; Wawancara oleh Yi Ru,  Zhong Yuan

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Suku Pejuang Perbatasan Membangun Kekaisaran Kushan—dan Mengirim Misionaris Buddha Pertama ke Tiongkok

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Sekitar 2.200 tahun silam, sebuah suku bernama Yuezhi (月氏) yang berasal dari utara Pegunungan Qilian di wilayah perbatasan Tiongkok terpaksa meninggalkan...

Membangun Nostalgia Hari Ini: Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Anda di Masa Depan?

Perjalanan berkemah tahunan, buku cerita favorit, atau tradisi hari raya dapat menjadi kenangan emosional yang melekat sepanjang masa kanak-kanak. oleh Walker Larson Kata nostalgia berasal dari...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine