AS Tiba-tiba Latihan Pemakaman 2.400 Tentara Sehari! Perang Besar dengan Tiongkok Sudah di Depan Mata?

EtIndonesia.com Ketegangan internasional kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran. Pada saat bersamaan, Angkatan Darat Amerika Serikat juga menggelar latihan yang mensimulasikan penanganan ribuan tentara gugur dalam waktu hanya satu hari.

Dua perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan besar. Apakah Washington sedang mempersiapkan serangan terbatas terhadap Iran, atau justru mengantisipasi kemungkinan perang berskala besar dengan Tiongkok di kawasan Asia Pasifik?

Menurut laporan media Amerika Serikat, MS NOW, sejumlah negara Teluk dikabarkan telah menerima pemberitahuan mengenai kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Operasi tersebut disebut berpotensi dimulai paling cepat pada 4 November 2026, sehari setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.

Namun, informasi tersebut masih berupa laporan yang belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat. Karena itu, tanggal 4 November belum dapat dipastikan sebagai jadwal pelaksanaan operasi militer.

Sementara itu, Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago, Robert Pape, dilaporkan memperhatikan adanya perubahan penempatan pesawat militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurut laporan yang mengutip penilaiannya, sejumlah pesawat pengisi bahan bakar di udara telah dipindahkan dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.

Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas militer terpenting Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, terutama dalam mendukung operasi udara jarak jauh.

Perpindahan pesawat pengisi bahan bakar dinilai dapat menjadi indikasi meningkatnya kesiapan militer. Namun, pergerakan tersebut juga dapat berkaitan dengan langkah perlindungan aset maupun penyesuaian penempatan pasukan.

Dengan demikian, belum dapat dipastikan bahwa aktivitas tersebut merupakan persiapan langsung untuk menyerang Iran.

Di tengah perkembangan tersebut, perhatian internasional juga tertuju pada sebuah latihan militer Amerika Serikat yang berlangsung di Fort Bragg, Carolina Utara.

Latihan bernama Dragon Covenant tersebut mencakup simulasi penanganan korban perang dalam jumlah sangat besar.

Salah satu skenario yang paling menarik perhatian adalah kemampuan satu kompi zeni Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menangani pemakaman sementara hingga 2.400 personel militer yang gugur dalam waktu 24 jam.

Angka tersebut tentu mengundang pertanyaan. Mengapa Amerika Serikat perlu mempersiapkan skenario dengan jumlah korban sedemikian besar?

Menurut laporan Angkatan Darat Amerika Serikat yang diterbitkan pada 26 Oktober 2026, tahap kedua latihan Dragon Covenant dilaksanakan pada 21 Oktober 2026.

Latihan tersebut menggunakan peralatan berat dan model kerangka manusia untuk menguji prosedur penanganan jenazah dalam kondisi peperangan berskala besar.

Tujuannya adalah memastikan personel yang gugur tetap dapat diidentifikasi, dicatat, dan pada akhirnya dipulangkan kepada keluarga mereka setelah situasi memungkinkan.

Dalam kondisi perang, terutama ketika pertempuran berlangsung intensif, proses pemulangan jenazah tidak selalu dapat dilakukan secara langsung.

Karena itu, militer harus memiliki kemampuan membangun fasilitas pemakaman sementara yang aman dan terorganisasi.

Namun, angka 2.400 personel dalam latihan tersebut merupakan ukuran kapasitas penanganan korban, bukan perkiraan resmi mengenai jumlah tentara Amerika Serikat yang akan gugur dalam peperangan mendatang.

Yang menarik, Angkatan Darat Amerika Serikat juga menghubungkan latihan tersebut dengan pengalaman sejarah pada masa Perang Korea, antara tahun 1950 hingga 1953.

Ketika itu, pasukan Amerika Serikat menghadapi pertempuran sengit melawan Korea Utara dan pasukan Tiongkok yang turut terlibat dalam konflik.

Besarnya jumlah korban perang membuat militer harus melaksanakan operasi penanganan jenazah dalam skala luas.

Perbandingan sejarah tersebut kemudian memunculkan spekulasi bahwa latihan terbaru Amerika Serikat mungkin berkaitan dengan kemungkinan konflik di kawasan Asia Timur.

Namun, hubungan dengan Perang Korea tidak membuktikan bahwa latihan Dragon Covenant secara khusus ditujukan untuk menghadapi Tiongkok.

Perhatian terhadap kawasan Asia Pasifik semakin meningkat setelah Panglima Angkatan Darat Amerika Serikat di Pasifik, Jenderal Ronald P. Clark, menyampaikan pernyataan dalam konferensi TechNet Indo-Pacific di Honolulu, Hawaii, pada 27 Oktober 2026.

Clark menjelaskan bahwa militer Amerika Serikat terus meningkatkan kesiapan berdasarkan kemungkinan Tiongkok memiliki kemampuan untuk melaksanakan operasi militer terhadap Taiwan pada 2027.

Tahun tersebut telah lama menjadi perhatian dalam perencanaan pertahanan Amerika Serikat.

Penilaian mengenai 2027 berkaitan dengan target modernisasi militer Tiongkok dan kemungkinan meningkatnya kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat untuk melaksanakan operasi militer berskala besar.

Namun, memiliki kemampuan militer tidak berarti Beijing telah mengambil keputusan untuk menyerang Taiwan pada tahun tersebut.

Menurut Clark, Amerika Serikat sedang memperkuat penempatan pasukan, perlengkapan, dan dukungan logistik di kawasan Indo-Pasifik.

Langkah tersebut bertujuan memastikan pasukan Amerika Serikat dapat merespons berbagai kemungkinan krisis secara cepat.

Sementara itu, tahap berikutnya dari latihan Dragon Covenant direncanakan berlangsung pada musim semi 2027.

Tahap tersebut akan mencakup pengujian tambahan, termasuk pelaksanaan operasi pada malam hari, pengamanan lokasi, dan koordinasi dukungan medis.

Jika seluruh perkembangan tersebut dilihat secara bersamaan, tampak bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi tantangan keamanan di dua kawasan strategis.

Di Timur Tengah, Washington harus mempertimbangkan risiko meningkatnya konflik dengan Iran.

Sementara di Asia Pasifik, Amerika Serikat berupaya mempertahankan kemampuan penangkalan terhadap Tiongkok dan menjaga stabilitas di sekitar Taiwan.

Menghadapi kemungkinan krisis di dua kawasan secara bersamaan tentu membutuhkan kesiapan militer dan logistik yang sangat besar.

Amerika Serikat harus memastikan ketersediaan pesawat tempur, kapal perang, amunisi, bahan bakar, sistem pertahanan, hingga kemampuan menangani korban perang.

Dalam konteks inilah latihan Dragon Covenant menjadi penting.

Latihan tersebut menunjukkan bahwa persiapan militer tidak hanya berfokus pada kemampuan menyerang dan mempertahankan wilayah, tetapi juga menghadapi konsekuensi paling berat dari sebuah peperangan.

Meski demikian, belum terdapat bukti bahwa latihan tersebut merupakan persiapan langsung untuk perang melawan Iran ataupun Tiongkok.

Persiapan menghadapi skenario terburuk juga merupakan bagian dari strategi penangkalan militer, yaitu menunjukkan kemampuan pertahanan yang kuat agar pihak lawan tidak mengambil tindakan agresif.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Amerika Serikat sedang mempersiapkan diri menghadapi perang, melainkan apakah persiapan tersebut mampu mencegah perang benar-benar terjadi.

Sebab, apabila konflik besar pecah di Timur Tengah maupun Asia Pasifik, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh negara-negara yang terlibat, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas keamanan, perdagangan, dan perekonomian dunia. (***)

INSPIRASI ERABARU

Cara Menaklukkan Rasa Takut

Menghadapi ketakutan secara langsung, berulang kali, dapat menguranginya hingga ke tingkat yang bisa dikendalikan atau bahkan menghilangkannya.Mike DonghiaTidak ada yang salah dengan merasa takut....

Jangan Biarkan Hal Sepele Merusak Harimu

Tiga perubahan sudut pandang untuk menyikapi kembali situasi yang berpotensi menjengkelkan.Mike DonghiaSalah satu keyakinan saya yang mungkin cukup kontroversial adalah bahwa rasa kesal merupakan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine