Tokoh Senior Media Tiongkok Cheng Wanjun Melarikan Diri ke Taiwan 

Pada 3 November, Cheng Wanjun, seorang tokoh senior media Tiongkok yang pernah dipenjara selama enam tahun karena mengomentari Xi Jinping sebagai “penguasa yang kehilangan negaranya”, melarikan diri ke Taiwan dan meminta perlindungan kemanusiaan sementara kepada pemerintah Taiwan.

EtIndonesia.com Jielijian, Ketua Aliansi Internasional Partai Demokrat Tiongkok yang menetap di Amerika Serikat, membagikan video permintaan bantuan Cheng Wanjun melalui platform X.

Ia mengatakan bahwa teman-teman di Taiwan telah menghubungi Badan Imigrasi setempat. Namun, menurut informasi yang diterimanya, jika kasus ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup, Cheng Wanjun berpotensi dideportasi.

Cheng Wanjun pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Hukum dan Kehidupan di Tiongkok serta menjadi pembawa acara kolom Kuliah Hukum di CCTV.

Pada 3 November, ia tiba di Bandara Internasional Taoyuan, Taiwan, dari Thailand. Ia meminta perlindungan kemanusiaan sementara kepada pemerintah Taiwan dan merekam sebuah video di bandara untuk memohon bantuan kepada masyarakat internasional.

Dalam video tersebut, ia menceritakan pengalaman persekusi yang dialaminya di Tiongkok.

“Pada 2019, karena dalam rapat rutin di tempat kerja saya mengomentari Xi Jinping sebagai ‘penguasa yang kehilangan negaranya’, saya direkam dan dilaporkan oleh seseorang. Pemimpin tertinggi PKT (Xi Jinping) kemudian memerintahkan penyelidikan menyeluruh. Seluruh institusi tempat saya bekerja mengalami penindakan, dan saya sendiri harus menjalani hukuman penjara selama enam tahun.”

Setelah dibebaskan dari penjara pada 2025, Cheng Wanjun melarikan diri ke luar negeri untuk menerbitkan karya-karyanya tentang pengalaman di penjara.

Ia mengatakan bahwa saat ini dirinya telah dimasukkan oleh kantor Komisariat Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Thailand ke dalam kategori penanganan dengan tingkat risiko tertinggi.

Namun, kantor tersebut juga memberitahunya bahwa mereka tidak dapat menjamin keselamatan dirinya selama menunggu proses penempatan kembali di Thailand.

Cheng Wanjun mengatakan: “Setelah kesaksian saya mengenai pengalaman di penjara diterbitkan oleh media luar negeri, demi menghindari persekusi politik kedua kalinya oleh otoritas PKT, saya terpaksa pindah ke Taiwan untuk mencari perlindungan kemanusiaan sementara.

“Saya berharap dapat memperoleh bantuan untuk proses penempatan kembali dari Thailand, sehingga selama sisa hidup saya masih bisa terus berkarya dan menyuarakan pendapat secara bebas.”

Pada 1 November, tulisannya berjudul Jiwa Kebebasan yang Terus Hidup: Kesaksian Seorang Tahanan Politik Tiongkok telah diterbitkan di media Yibao.

Dalam tulisannya, ia menggambarkan momen ketika ditangkap oleh otoritas PKT:

“7 November 2019, hari awal musim dingin. Pagi hari di Beijing masih diselimuti kegelapan sebelum fajar. Di salah satu gerbang keberangkatan Terminal 3 Bandara Ibu Kota Beijing, ketika saya sedang menunggu penerbangan menuju selatan, tiba-tiba lebih dari sepuluh petugas polisi khusus mengepung dan menangkap saya.

Di hadapan banyak orang, mereka menggiring saya keluar dari ruang tunggu, memasangkan borgol di belakang punggung, menutup kepala saya dengan tudung, lalu mendorong saya masuk ke mobil polisi. Kendaraan itu melaju menuju tempat penahanan rahasia yang tidak diketahui tujuannya, dan dimulailah perjalanan panjang penderitaan saya di penjara.”

Cheng Wanjun menulis: “Saya, seorang ‘Beipiao’ (perantau yang datang ke Beijing untuk bekerja), yang telah berjuang selama 18 tahun di ibu kota sebagai jurnalis sekaligus akademisi, tiba-tiba berubah menjadi tahanan politik kelas berat yang ditetapkan langsung oleh pemimpin tertinggi PKT (Xi Jinping).”

Cheng Wanjun juga diwawancarai oleh Radio Free Asia di Bandara Taoyuan.

Ia mengatakan: “Petugas Badan Imigrasi sudah mengambil keterangan saya dan melaporkannya kepada Dewan Urusan Daratan. Sekarang saya sedang menunggu hasil penanganannya. Namun, kemungkinan saya sewaktu-waktu dipaksa untuk dideportasi kembali ke Thailand, tempat keberangkatan saya, tidak dapat dikesampingkan.”

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya dibatasi di ruang pengawasan bandara dan tidak diperbolehkan keluar masuk dengan bebas. Karena itu, ia segera meminta perhatian media dan menyerukan bantuan kemanusiaan dari masyarakat internasional.

Menanggapi permohonan perlindungan kemanusiaan Cheng Wanjun di Taiwan, Zeng Jianyuan, anggota dewan direksi Institut Demokrasi Tionghoa Taiwan, mengatakan bahwa Cheng memiliki pengaruh tertentu dalam opini publik.

Menurutnya, pelarian Cheng juga mencerminkan semakin tegangnya suasana politik di Tiongkok. Pengendalian terhadap kalangan intelektual, budaya, dan kebebasan berekspresi media terus diperketat, sehingga orang-orang yang bersedia menyuarakan pendapat semakin sulit mendapatkan ruang untuk bertahan di dalam negeri.

Ia menyerukan agar pemerintah Taiwan mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan berpegang pada prinsip tidak memulangkan tahanan politik.

Sebelum Cheng Wanjun mendapatkan penempatan atau perlindungan di negara ketiga, pemerintah Taiwan diharapkan mengizinkannya untuk tinggal dengan aman di Taiwan terlebih dahulu.

Reporter: Luo Tingting, berdasarkan berbagai sumber. Editor: Wen Hui – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Nasib Dinasti Berutang Kesuksesannya pada Penghormatan Kaisar dan Persembahan Kurban kepada Langit

Di Tiongkok kuno, ritual persembahan kurban bukan sekadar upacara seremonial. Ritual tersebut berlandaskan sebuah prinsip yang dipetik Dinasti Zhou dari keruntuhan dua dinasti sebelumnya:...

Memahami Bersyukur: Menemukan Kembali Keindahan Hidup yang Penuh Apresiasi

Oleh Shoba Rajamani Di dunia yang semakin terhubung secara digital dan terus mendorong kita untuk meraih lebih banyak prestasi, memperoleh lebih banyak penghasilan, serta menjadi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine