Serangan Besar-besaran Rusia Terhadap Fasilitas Sipil di Kharkiv Menyebabkan 6 Orang Tewas dan 55 Terluka

oleh Wartawan New Tang Dynasty TV, Chen Yue

Militer Rusia pada Jumat (30/8/2024) menyerang fasilitas sipil di kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, menyebabkan banyak korban tewas dan terluka.

Walikota Kharkiv, Ihor Terekhov, menyatakan di media sosial Telegram bahwa rudal “bom luncur” Rusia menghantam sebuah gedung apartemen dan taman bermain di kota Kharkiv.

Sebuah gedung apartemen 12 lantai terkena serangan, menyebabkan kebakaran besar dengan api yang menyala dan asap hitam tebal, beberapa mobil terbakar, dan seorang pemuda berlumuran darah, sementara petugas pemadam kebakaran sedang melakukan penyelamatan darurat.

Di taman bermain anak-anak di Kharkiv, ada bercak darah di bawah bangku taman, dan jendela kafe di dekatnya hancur oleh ledakan. Pihak berwenang menyatakan bahwa setidaknya seorang gadis kecil tewas.

Kepala Kepolisian Kota Kharkiv, Volodymyr Tymoshko, menyatakan, “Ada tempat-tempat sipil, dan taman di Jalan Yuryev terkena serangan langsung, di mana ada anak-anak. Taman bermain anak-anak terkena, seorang anak tewas, menurut informasi awal, dia adalah seorang gadis berusia 13-14 tahun.”

Hingga Jumat saat berita ini dilaporkan, jumlah korban tewas akibat serangan ini telah meningkat menjadi 6 orang, dan setidaknya 55 orang terluka, dengan sekitar 20 di antaranya mengalami luka serius.

Sementara itu, pasukan Ukraina bertempur hebat di Kursk, pasukan Rusia juga terus maju ke arah wilayah timur Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia pada  Jumat mengumumkan bahwa mereka telah merebut tiga desa di wilayah timur Ukraina.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, menyatakan, “Berkat tindakan aktif ‘Pasukan Pusat’, pemukiman Orlivka, Kameshivka, Nikolaevka, dan Novozhelanne di wilayah Donetsk telah dibebaskan.”

Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Rusia terus maju stabil menuju kota logistik utama Pokrovsk, yang pernah dihuni oleh 60.000 orang.

Selain itu, pendiri dan CEO aplikasi pesan terenkripsi Telegram, Pavel Durov, ditangkap di Paris, Prancis, pekan lalu. Kremlin mengkritik pemerintah Prancis karena mencoba membatasi kebebasan komunikasi. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Telegram telah menjadi alat komunikasi penting bagi militer Rusia, serta alat untuk mengarahkan perang Rusia-Ukraina dan berkomunikasi dengan kelompok pro-Rusia. (Hui)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine