Saham AS Melejit, Harga Emas Pecah Rekor – Pasar Fokus pada Gejolak di The Fed

Pada  Selasa (22 April), pasar saham AS melonjak tajam. Dipimpin oleh saham teknologi dan industri, indeks Dow Jones naik lebih dari 1.000 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq juga mengalami kenaikan signifikan. Fokus investor kini beralih ke kinerja laporan keuangan perusahaan, dan pasar mulai stabil kembali setelah gelombang penjualan yang dipicu oleh kritik Presiden Trump terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.

EtIndonesia. Setelah akhir pekan yang cukup tegang, suasana pasar tampak jauh lebih tenang pada hari Selasa. Dow Jones Industrial Average sempat melonjak lebih dari 1.000 poin dengan kenaikan hampir 2,83%, indeks Nasdaq naik lebih dari 520 poin pada satu titik, S&P 500 naik 2,38%, dan indeks semikonduktor Philadelphia meningkat hampir 2,7%. Meskipun indeks-indeks utama sedikit turun saat penutupan, secara keseluruhan tren tetap kuat.

Harga emas terus menanjak, bahkan sempat menembus angka US$3.500 per ons selama perdagangan sebelum sedikit terkoreksi.

Pada hari yang sama, nilai tukar dolar AS terhadap euro naik menjadi 98,64, sementara terhadap yen Jepang turun tipis 0,06% menjadi 140,69.

Menurut data dari Coin Metrics, harga Bitcoin naik lebih dari 3% pada hari Selasa, mencapai US$90.282.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,377%.

Di pasar energi, minyak mentah AS naik 0,89% menjadi US$63,64 per barel, sementara minyak Brent dari Laut Utara naik 0,8% menjadi US$66,79 per barel.

Saat ini, pasar bergejolak karena rumor bahwa Presiden Trump mungkin berusaha mengganti Ketua The Fed Powell dengan seseorang yang lebih pro-penurunan suku bunga.

Pekan lalu, Presiden Trump secara terbuka menekan Powell, mengatakan bahwa inflasi di AS saat ini tergolong rendah, dan jika tidak segera menurunkan suku bunga, hal itu akan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.

Adam Button, Kepala Analis Mata Uang di ForexLive, menyatakan: “Sebagian besar bank sentral akan senang jika dolar AS turun 10% hingga 20%.” Ia menjelaskan bahwa kekuatan dolar yang bertahan selama bertahun-tahun menjadi masalah, terutama bagi negara-negara yang menambatkan mata uang mereka secara ketat atau longgar terhadap dolar.

Ia juga menyebutkan bahwa banyak negara berkembang memiliki utang dalam jumlah besar yang dihitung dalam dolar. Jika dolar melemah, beban utang mereka akan berkurang. Selain itu, penguatan mata uang lokal akan membuat barang impor menjadi lebih murah, menurunkan inflasi, dan memberi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga demi mendorong pertumbuhan ekonomi. Button menilai bahwa penurunan dolar baru-baru ini memberi ruang tambahan bagi bank sentral di seluruh dunia untuk menyesuaikan kebijakan mereka. (Hui)

Sumber : NTDTV.com  

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine