Pendiri perusahaan e-commerce besar Tiongkok JD.com (Jingdong), Liu Qiangdong, memprediksi bahwa di masa depan pekerjaan kurir pada akhirnya akan digantikan oleh robot. JD.com juga meluncurkan “Proyek Nirwana (Nirvana Plan)”, yang bertujuan melatih sekitar 700.000 pekerja kurir dan pekerja kerah biru lainnya untuk beralih ke profesi baru. Pernyataan tersebut memicu perbincangan luas di tengah meningkatnya angka pengangguran di Tiongkok dan jumlah pekerja dengan status yang disebut sebagai “pekerjaan fleksibel”, yang diklaim telah mencapai 320 juta orang.
EtIndonesia.com Pada 21 Juni, Pendiri perusahaan e-commerce besar Tiongkok JD.com Liu Qiangdong menyampaikan pidato dalam Forum Pemimpin Bisnis APEC Tiongkok 2026. Ia memperkirakan bahwa seiring kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), kendaraan pengiriman tanpa pengemudi, robot, dan sistem logistik pintar, proses distribusi barang di masa depan akan didominasi oleh robot.
“Cepat atau lambat, kurir tidak akan lagi dibutuhkan,” katanya.
Saat ini, JD.com mempekerjakan sekitar 700.000 pekerja kerah biru, sebagian besar merupakan kurir. Liu menyatakan bahwa jika kurir tidak lagi dibutuhkan, maka “700.000 saudara kami tidak akan memiliki pekerjaan maupun sumber penghasilan.”
Karena itu, perusahaan meluncurkan “Proyek Nirwana”, yaitu program pelatihan yang bekerja sama dengan 124 lembaga pendidikan untuk meningkatkan keterampilan para pekerja tersebut agar nantinya dapat beralih menjadi teknisi perawatan dan pemeliharaan robot.
Strategi Robot JD.com Sudah Berjalan Hampir Satu Dekade
JD.com telah mengembangkan strategi otomatisasi selama hampir sepuluh tahun. Pada 2016, perusahaan mulai menguji penggunaan drone untuk mengirim barang ke daerah pedesaan di Tiongkok. Saat penutupan wilayah (lockdown) di Wuhan pada 2020, JD.com juga mulai menggunakan kendaraan pengiriman tanpa pengemudi.
Pada 2025, divisi logistik JD.com mengumumkan rencana lima tahun yang mencakup penggunaan:
- 3 juta unit robot,
- 1 juta kendaraan tanpa pengemudi, dan
- 100.000 drone,
untuk mendukung seluruh rantai pasok logistiknya.
Analis: Otomatisasi Sulit Dihentikan
Kolumnis Epoch Times, Wang He, berpendapat bahwa jika melihat perkembangan teknologi dan kepentingan ekonomi perusahaan, tren menggantikan kurir dengan robot sangat sulit dibalikkan dan hanya tinggal menunggu waktu.
“Ini merupakan konsekuensi berantai yang tak terhindarkan dari perubahan pasar tenaga kerja dan penyesuaian strategi perusahaan akibat kemajuan kecerdasan buatan. Dampaknya bisa sangat besar. Saat ini sekitar 44 persen tenaga kerja di Tiongkok berada dalam kategori pekerjaan fleksibel, yang tidak memiliki jaminan kerja. Ketika ekonomi berubah dan AI berkembang pesat, kehidupan mereka akan menjadi semakin tidak stabil,” katanya.
Kurir dan Pengemudi Daring Juga Menghadapi Persaingan Ketat
Pekerjaan sebagai kurir makanan maupun pengemudi layanan transportasi daring selama ini dianggap sebagai pilihan terakhir bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan.
Namun, menurut data terbaru yang dikutip artikel tersebut, jumlah pengantar makanan di Tiongkok sudah melebihi kebutuhan sekitar 16 juta orang, sehingga rata-rata lima kurir harus bersaing memperebutkan satu pesanan, yang menyebabkan pendapatan mereka menurun. Pasar transportasi daring juga menghadapi persaingan yang sangat ketat dan diperkirakan akan menghadapi tantangan tambahan dari otomatisasi di masa depan.
Robot Belum Akan Menggantikan Kurir Sepenuhnya
Peneliti dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi, memperkirakan bahwa tingkat kematangan teknologi robot saat ini masih belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan kurir dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Namun, ia mengingatkan bahwa jika jumlah pengangguran terus meningkat, daya beli masyarakat juga akan ikut melemah.
“Pengangguran dalam skala besar tentu akan menekan konsumsi. Ketika masyarakat tidak memiliki uang, mereka akan mengurangi pengeluaran, mungkin gagal membayar cicilan rumah dan menunda pembelian barang yang tidak mendesak. Kondisi ini dapat memperburuk deflasi dan membuat aktivitas ekonomi menjadi lesu, sehingga perputaran uang di pasar melambat. Dalam situasi seperti itu, berbagai bentuk subsidi pemerintah pun mungkin tidak cukup untuk mengatasinya,” ujarnya.
Tantangan Alih Profesi
Liu Qiangdong menegaskan bahwa perkembangan teknologi seharusnya tidak menyebabkan orang kehilangan pekerjaan dan karena itu pekerja kerah biru perlu diberikan pelatihan ulang.
Namun demikian, seberapa banyak kurir yang nantinya benar-benar mampu beralih profesi menjadi teknisi pemeliharaan robot masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Kebijakan Pemerintah Dipertanyakan
Artikel tersebut juga menanyakan apakah pemerintah memiliki langkah untuk mengatasi potensi pengangguran akibat otomatisasi.
Shen Mingshi menyatakan bahwa sejauh ini belum terlihat adanya kebijakan pemerintah pusat Tiongkok yang secara khusus mampu menyelesaikan persoalan tersebut. Ia juga menyinggung keluarnya sejumlah perusahaan asing dan perusahaan Taiwan dari Tiongkok, serta ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat yang menurutnya membuat banyak perusahaan enggan kembali berinvestasi sebelum persaingan strategis antara AS dan Tiongkok menjadi lebih jelas.
Sejumlah ekonom Tiongkok, termasuk Gao Shanwen, Yu Yongding, dan Liu Shijin, juga pernah menyampaikan pandangan serupa bahwa kebijakan pemerintah selama ini lebih berfokus pada investasi, produksi, dan subsidi bagi perusahaan. Mereka berpendapat bahwa lebih banyak sumber daya sebaiknya dialokasikan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, kesejahteraan sosial, dan konsumsi domestik.
Namun, menurut artikel tersebut, rancangan Rencana Lima Tahun ke-15 terbaru masih menempatkan pengembangan manufaktur maju, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan kemandirian teknologi sebagai prioritas utama.
Sumber : NTDTV.com


