EtIndonesia.com Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Pada 26 Juni, sebuah kapal dagang di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di perairan lepas pantai Oman dan mengalami kerusakan. Meski ada laporan yang menyebut kemungkinan serangan berasal dari pihak Iran, hingga kini rincian pasti insiden tersebut masih belum jelas.
Di saat yang sama, setelah perundingan awal antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih secara bertahap. Namun, masih terdapat ratusan kapal yang belum dapat berlayar karena lambungnya dipenuhi organisme laut.
Kapal Dagang Rusak Akibat Serangan Misterius
Kantor Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil yang tidak diketahui identitasnya di Selat Hormuz. Kapal tersebut mengalami kerusakan di perairan tenggara kota Dahit, Oman, dengan bagian anjungan kapal mengalami kerusakan. Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan.
Pihak berwenang kemudian mengimbau kapal-kapal dagang yang melintas di wilayah tersebut agar meningkatkan kewaspadaan.
Menurut laporan Gulf News, sebelum serangan terjadi, sedikitnya tiga kapal dagang yang mencoba meninggalkan Selat Hormuz memutuskan berbalik arah. Saat itu mereka sedang berlayar di jalur dekat pantai Oman yang disebut berada di bawah perlindungan Amerika Serikat.
Selain itu, dua perusahaan intelijen maritim merilis siaran radio yang diduga berasal dari Angkatan Laut Iran, berisi ancaman untuk menghentikan kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran tersebut. Sementara media Iran melaporkan bahwa pemerintah di Teheran sedang menegaskan kembali kendalinya atas jalur perairan itu.
Lalu Lintas Mulai Pulih, tetapi Ratusan Kapal Masih Terjebak
Platform pelacakan kapal MarineTraffic menyebutkan bahwa berkat kemajuan operasi penyapuan ranjau dan semakin banyak kapal dagang yang menggunakan jalur melalui Oman, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz meningkat tajam. Pada hari Kamis tercatat sekitar 70 kali pelayaran melintasi selat tersebut.
Meskipun kemajuan perundingan AS-Iran sempat memunculkan harapan bahwa pelayaran akan segera kembali normal, kenyataannya sekitar 600 kapal tanker raksasa masih tertahan di laut dan belum dapat beroperasi secara normal.
Bukan Karena Ranjau, tetapi Karena Organisme Laut
Media bisnis Moneycontrol dan beberapa media lainnya melaporkan bahwa penyebab kapal-kapal tersebut masih tertahan bukanlah operasi penyapuan ranjau, melainkan karena bagian bawah kapal telah dipenuhi organisme laut.
Selama sekitar empat bulan berhenti di perairan hangat Teluk Persia, lambung kapal-kapal itu ditumbuhi berbagai organisme seperti teritip (barnacle), kerang, remis, dan alga dalam jumlah besar. Kondisinya disebut cukup parah hingga menghambat kemampuan kapal untuk berlayar.
Rubio: Dunia Memasuki Tahap Baru yang Diharapkan Membawa Perdamaian
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengatakan: “Kini kita memasuki tahap baru, dan kami berharap tahap ini akan membawa perdamaian. Itulah harapan kita semua.”
Dalam kunjungannya ke Bahrain, Rubio menegaskan kepada para sekutu bahwa setiap kesepakatan dengan Iran akan mempertimbangkan keamanan dan kemakmuran mereka.
Ia juga memperingatkan bahwa apabila Selat Hormuz mulai memberlakukan biaya transit bagi kapal yang melintas, praktik serupa dapat menyebar ke jalur pelayaran internasional lainnya.
Rubio menyatakan: “Jika dunia menerima gagasan bahwa suatu negara boleh mengenakan biaya hanya karena sebuah jalur air internasional berada di dekat wilayahnya, maka praktik itu akan menyebar ke seluruh dunia seperti wabah.”
Peringatan kepada NATO dan Sikap terhadap Iran
Rubio juga memperingatkan negara-negara anggota NATO bahwa Iran memiliki kemampuan rudal yang dapat menjangkau wilayah Eropa. Demi menjaga keamanan internasional, menurutnya, negara-negara sekutu tidak seharusnya membatasi penggunaan pangkalan militer oleh Amerika Serikat.
Ia menambahkan bahwa banyak pihak menyatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, tetapi ketika Amerika mengambil tindakan, justru muncul hambatan dari sebagian sekutu terkait penggunaan fasilitas militer.
Israel dan Senat AS
Sementara itu, juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menyatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan selama kelompok Hizbullah belum melucuti senjatanya.
Di Amerika Serikat, Senat dengan hasil pemungutan suara 50 berbanding 47 menolak rancangan resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan Presiden Donald Trump untuk melancarkan perang terhadap Iran.
Setelah pemungutan suara tersebut, Trump mengucapkan terima kasih kepada para senator yang menolak usulan itu dan menyatakan bahwa hasil pemungutan suara tersebut memberinya posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi Iran. Ia juga menegaskan bahwa “pemungutan suara ini merupakan peringatan bagi Iran.”
Sumber : NTDTV.com


