Sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi di Kota Guangzhou, Tiongkok. Setelah sebuah kawasan perdagangan melarang penggunaan sepeda motor listrik dan kendaraan listrik untuk mengangkut barang, para pedagang di pasar kain mulai menggunakan sapi, kuda, dan keledai sebagai alat transportasi. Tindakan tersebut diduga merupakan bentuk protes simbolis terhadap kebijakan tersebut. Polisi lalu lintas yang berada di lokasi dilaporkan sempat kebingungan menghadapi situasi itu.
EtIndonesia.com Kampanye penertiban kendaraan listrik di Guangzhou dan sejumlah daerah lain masih terus berlangsung. Menurut media setempat, pada 17 Juni, Kantor Jalan Fengyang di Distrik Haizhu mengeluarkan pemberitahuan bahwa mulai keesokan harinya, seluruh pasar di kawasan perdagangan Zhongda dilarang mengizinkan kendaraan listrik masuk, parkir, maupun melakukan pengisian daya.
Alasan resmi yang diberikan adalah untuk “mengambil pelajaran dari sejumlah insiden kebakaran yang terjadi belakangan ini.”
Pedagang mengeluhkan larangan total
Kebijakan tersebut memicu ketidakpuasan di Pasar Tekstil Internasional Zhongda. Banyak pedagang mengeluhkan bahwa pelarangan total penggunaan kendaraan listrik dilakukan tanpa menyediakan sarana transportasi alternatif, sehingga mereka kesulitan memindahkan gulungan kain yang berat.
Kuda digunakan untuk mengangkut kain
Pada 24 Juni, beredar video di internet yang memperlihatkan seorang pedagang sengaja membawa dua ekor kuda dari luar daerah. Salah satu kuda memikul gulungan kain dan berjalan mengelilingi pasar, sementara kuda lainnya mengikuti di belakang.
Banyak pengamat menduga tindakan tersebut merupakan bentuk “seni pertunjukan” (performance art) atau protes simbolis terhadap larangan penggunaan kendaraan listrik. Para pedagang dan warga sekitar berhenti untuk menyaksikan dan merekam kejadian tersebut.
Menurut video yang beredar, polisi lalu lintas awalnya hanya mengikuti pergerakan kuda tersebut. Belakangan, beberapa petugas kepolisian tambahan datang dan menghentikan pedagang beserta kudanya untuk kemudian dibawa pergi. Namun, belum diketahui apakah akan ada sanksi, mengingat tampaknya tidak ada aturan khusus yang melarang penggunaan kuda sebagai alat angkut di kawasan tersebut.
Protes meluas dengan sapi dan keledai
Pada 25 Juni, video lain menunjukkan semakin banyak pedagang ikut menggunakan cara serupa.
- Seorang pedagang terlihat menuntun seekor sapi menyusuri jalan.
- Beberapa pedagang lainnya menggunakan gerobak yang ditarik sapi untuk mengangkut gulungan kain.
- Dalam salah satu rekaman, seekor keledai diikat di samping sapi yang memimpin rombongan gerobak, sehingga menarik perhatian banyak orang.
Reaksi warganet
Peristiwa tersebut memicu berbagai komentar di media sosial. Sebagian warganet menyindir kebijakan pemerintah dengan komentar satir, misalnya:
“Di satu sisi mengklaim mampu membuat chip sendiri, teknologinya mengungguli Amerika Serikat, dan militernya nomor dua di dunia. Di sisi lain, alat transportasi justru kembali menggunakan sapi dan kuda. Rasanya seperti melihat Korea Utara.”
Sumber : NTDTV.com


