EtIndonesia.com – Militer Israel mengumumkan telah menyelesaikan salah satu operasi teknik militer terbesar yang pernah dilakukan di Jalur Gaza. Setelah berlangsung selama sekitar tiga bulan, Korps Zeni Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) berhasil menutup secara permanen jaringan terowongan bawah tanah milik Hamas sepanjang sekitar 16 kilometer menggunakan lebih dari 30.000 meter kubik beton.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh IDF pada Senin, 29 Juni 2026, sementara rincian operasi dipublikasikan secara lebih luas pada 30 Juni 2026. Menurut militer Israel, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk melumpuhkan infrastruktur bawah tanah Hamas tanpa menimbulkan kerusakan besar terhadap kawasan permukiman yang berada di atasnya.
Operasi Rekayasa Militer Berskala Besar
Berdasarkan laporan yang dikutip dari The Jerusalem Post, jaringan terowongan tersebut berada di sekitar Kota Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, tidak jauh dari perbatasan dengan Semenanjung Sinai, Mesir.
Menurut IDF, kompleks bawah tanah tersebut merupakan salah satu fasilitas terbesar yang pernah ditemukan selama operasi militer di Gaza.
Jaringan itu memiliki karakteristik sebagai berikut:
- panjang sekitar 16 kilometer;
- berada pada kedalaman sekitar 25 meter di bawah permukaan tanah;
- terdiri atas sekitar 80 ruangan, lorong, serta area yang diduga digunakan sebagai tempat tinggal maupun pusat aktivitas militer;
- selama bertahun-tahun diyakini berfungsi sebagai salah satu pusat komando dan pengendalian (command and control center) terpenting milik Hamas.
Militer Israel menyebut fasilitas tersebut memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan operasi, menyimpan perlengkapan tempur, serta menjadi jalur mobilisasi personel Hamas di wilayah Rafah.
Berada Tepat di Bawah Fasilitas Sipil
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah lokasi jaringan terowongan yang berada tepat di bawah berbagai fasilitas sipil.
Menurut IDF, sebagian jalur terowongan membentang di bawah:
- kawasan permukiman warga;
- masjid;
- taman kanak-kanak;
- klinik kesehatan;
- sekolah;
- fasilitas milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Kondisi tersebut membuat Israel menilai penggunaan bahan peledak dalam skala besar berpotensi menyebabkan runtuhnya bangunan di permukaan serta meningkatkan risiko jatuhnya korban sipil.
Atas pertimbangan tersebut, militer Israel memilih pendekatan teknik sipil dibandingkan penghancuran secara langsung.
Ribuan Truk Beton Dipompa ke Dalam Terowongan
Sebagai alternatif peledakan, Korps Zeni IDF memutuskan untuk mengisi seluruh sistem terowongan dengan beton dalam jumlah sangat besar.
Lebih dari 30.000 meter kubik beton dipompa secara bertahap ke seluruh jaringan lorong bawah tanah hingga seluruh ruang kosong terisi sepenuhnya.
Menurut IDF, metode ini dirancang agar:
- seluruh lorong tertutup permanen;
- struktur bawah tanah tidak lagi dapat digunakan;
- risiko kerusakan terhadap bangunan di permukaan dapat diminimalkan;
- kemampuan Hamas membangun kembali jaringan tersebut menjadi jauh lebih sulit.
Militer Israel menyebut operasi tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga bulan karena volume beton yang sangat besar serta kompleksitas jaringan terowongan yang saling terhubung.
Rekaman Video Tunjukkan Beton Mengalir Seperti Sungai
Bersamaan dengan pengumuman tersebut, IDF juga merilis rekaman video yang memperlihatkan jalannya operasi.
Dalam video itu tampak beton cair dipompa ke dalam berbagai titik akses menuju jaringan bawah tanah.
Aliran beton terlihat memenuhi lorong demi lorong hingga akhirnya seluruh ruang bawah tanah tertutup rapat.
Menurut militer Israel, metode tersebut memungkinkan penghancuran infrastruktur Hamas tanpa harus melakukan pemboman besar-besaran terhadap kawasan padat penduduk.
Terowongan Disebut Pernah Menyimpan Jenazah Letnan Hadar Goldin
Selain memiliki nilai strategis, jaringan terowongan tersebut juga memiliki arti simbolis bagi Israel.
Menurut laporan yang disampaikan IDF, kompleks bawah tanah itu merupakan salah satu lokasi yang selama bertahun-tahun dikaitkan dengan penyimpanan jenazah Letnan Hadar Goldin, seorang perwira Israel yang gugur dalam Operasi Protective Edge pada tahun 2014.
Militer Israel menyatakan bahwa setelah Goldin tewas dalam pertempuran, jenazahnya dibawa oleh Hamas ke jaringan terowongan bawah tanah tersebut.
Selama lebih dari sebelas tahun, keberadaan jenazah Goldin menjadi salah satu isu kemanusiaan yang terus menjadi perhatian pemerintah Israel.
Menurut laporan tersebut, jenazah Goldin akhirnya dipulangkan ke Israel pada November 2025 setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas melalui mediasi Amerika Serikat.
Setelah dipulangkan, jenazahnya dimakamkan secara resmi di Israel.
Israel Tuduh Hamas Mulai Membangun Kembali Infrastruktur Bawah Tanah
Dalam pernyataan terpisah, IDF juga mengklaim bahwa dalam beberapa pekan terakhir pihaknya kembali menemukan indikasi aktivitas Hamas di bawah tanah.
Menurut militer Israel, kelompok tersebut diduga mulai:
- memperbaiki lorong-lorong yang rusak;
- mengaktifkan kembali sejumlah fasilitas bawah tanah;
- membangun ulang infrastruktur militer yang sebelumnya telah dihancurkan.
Israel menilai aktivitas tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.
Operasi Militer di Deir al-Balah
Sebagai respons atas dugaan aktivitas tersebut, pada Sabtu, 27 Juni 2026, pasukan Israel melancarkan operasi militer ke wilayah Deir al-Balah, Gaza bagian tengah.
IDF menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu “kota bawah tanah” Hamas karena memiliki jaringan lorong yang luas.
Dalam operasi itu, Israel mengklaim berhasil menghancurkan tiga sasaran utama yang berada di bawah tanah dan digunakan sebagai bagian dari infrastruktur militer Hamas.
Hingga saat ini, belum terdapat verifikasi independen mengenai klaim tersebut.
Operasi Berlanjut hingga Perbatasan Lebanon
Selain melanjutkan operasi di Jalur Gaza, militer Israel juga mengintensifkan operasi di wilayah utara yang berbatasan dengan Lebanon.
Pada 28 Juni 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz mengumumkan bahwa IDF mengerahkan Brigade ke-511 beserta satuan zeni tempur untuk menghancurkan sebuah jaringan terowongan milik Hizbullah.
Menurut militer Israel, terowongan tersebut memiliki:
- panjang sekitar 200 meter;
- kedalaman lebih dari 25 meter;
- lokasi sekitar 6 mil atau hampir 10 kilometer dari kawasan permukiman Israel di wilayah utara.
Ratusan Senjata Ditemukan di Dalam Terowongan
Selama operasi berlangsung, pasukan Israel mengaku menemukan berbagai perlengkapan militer di dalam jaringan bawah tanah tersebut.
Barang-barang yang diklaim berhasil ditemukan antara lain:
- ratusan senjata berbagai jenis;
- amunisi dalam jumlah besar;
- sejumlah lokasi peluncuran roket;
- rudal antitank;
- pesawat nirawak (drone);
- bahan peledak;
- perlengkapan tempur lainnya.
Menurut IDF, keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa jaringan bawah tanah masih menjadi bagian penting dari strategi pertahanan dan serangan Hizbullah.
Militer Israel juga menegaskan bahwa fasilitas seperti ini tidak dapat dihancurkan hanya melalui serangan udara sehingga pasukan darat harus memasuki sistem terowongan secara langsung sebelum menghancurkannya dari bagian dalam.
Israel Klaim Puluhan Anggota Hizbullah Tewas
Selama operasi berlangsung, IDF menyatakan terjadi baku tembak sengit dengan kelompok Hizbullah.
Militer Israel mengklaim sekitar 20 anggota Hizbullah tewas dalam pertempuran tersebut.
Di antara mereka, menurut Israel, terdapat sekitar 10 anggota Pasukan Radwan, yaitu unit elite Hizbullah yang dikenal memiliki kemampuan operasi khusus dan infiltrasi lintas perbatasan.
Selain korban jiwa, Israel juga menyebut telah memusnahkan seluruh perlengkapan militer yang ditemukan di dalam jaringan terowongan untuk mencegah penggunaannya kembali.
Bagian dari Strategi Jangka Panjang
Menurut IDF, operasi di Gaza maupun di perbatasan Lebanon merupakan bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk menghancurkan seluruh infrastruktur bawah tanah yang digunakan kelompok bersenjata.
Militer Israel menilai jaringan terowongan selama ini dimanfaatkan sebagai pusat komando, tempat penyimpanan senjata, jalur pergerakan pasukan, hingga rute infiltrasi menuju wilayah Israel.
Di sisi lain, berbagai klaim mengenai keberhasilan operasi militer, jumlah korban, maupun fungsi fasilitas bawah tanah tersebut masih terus menjadi perhatian komunitas internasional dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. Konflik yang masih berlangsung juga menyebabkan informasi dari kedua belah pihak sering kali sulit dipastikan secara menyeluruh. (***)


