Banjir besar yang dipicu oleh jebolnya beberapa bendungan di Kota Hengzhou, Daerah Otonom Guangxi, telah menyebabkan kerusakan parah. Sejumlah korban banjir mengaku bahwa upaya penyelamatan oleh pemerintah tidak memadai sehingga sebagian besar warga harus menyelamatkan diri sendiri. Seorang relawan juga mengklaim bahwa bantuan resmi hanya dibagikan di jalan-jalan utama, sementara gang-gang permukiman tidak terjangkau. Ia mengatakan sempat melihat seorang lansia yang telah kelaparan selama beberapa hari berlutut meminta roti kukus.
EtIndonesia.com Pada 6 Juli, beberapa bendungan, termasuk Bendungan Liulan, dilaporkan meluap atau jebol sehingga banjir menerjang sejumlah desa dan kota di Hengzhou.
Menurut laporan, hingga 9 Juli, masih terdapat beberapa desa yang terisolasi oleh banjir. Sebagian besar warga bertahan hidup melalui upaya mandiri dan saling membantu antar tetangga, sementara beberapa keluarga dilaporkan telah mengalami kekurangan makanan selama beberapa hari.
Warga Masih Terisolasi
Seorang warga Desa Huashan, Kecamatan Mengcun, bermarga Lin, mengatakan bahwa lebih dari 500 penduduk di desanya masih terjebak tanpa pasokan listrik dan air bersih.
Karena bantuan dari luar sangat terbatas, persediaan makanan utama hanyalah mi instan dan biskuit. Lansia serta anak-anak secara bertahap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Banyak keluarga membuat perahu sederhana sendiri untuk keluar membeli kebutuhan pokok.
Sementara itu, seorang warga yang membantu mengangkut bantuan di Kecamatan Yunbiao mengatakan bahwa sebuah jalur baru melalui daerah pegunungan akhirnya berhasil dibuka sehingga distribusi bantuan mulai membaik.
Namun, ia menegaskan bahwa sebagian besar warga berhasil melewati masa tersulit terutama berkat upaya mereka sendiri.
Menurutnya, saat banjir datang, kenaikan air berlangsung sangat cepat. “Di beberapa desa, permukaan air naik sekitar setengah meter hanya dalam satu menit. Air datang dari dua arah sehingga warga sama sekali tidak sempat bersiap.” Ia menambahkan bahwa saat ini air telah surut sekitar setengahnya.


Bertahan Hidup dengan Saling Berbagi Makanan
Seorang warga Desa Shan’erzhuang, Kecamatan Baiwei, Kabupaten Shanglin, mengatakan desanya masih terisolasi banjir.
Tim penyelamat baru berhasil memasuki desa sehari sebelumnya untuk mengevakuasi seorang lansia yang sakit.
“Air masih belum surut. Jalan menuju desa hanya bisa dilalui dengan perahu. Kami sudah terisolasi selama empat hari,” katanya.
Ia mengatakan warga hanya bisa bertahan dengan saling membantu.
“Kalau ada keluarga yang punya makanan atau air, semuanya dibagi bersama. Tidak ada pilihan lain.”
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian keluarga mulai mengalami kekurangan air minum.
“Untuk makan kami menangkap ikan. Tapi air minum hampir tidak ada. Sudah empat hari.”
Tuduhan Bantuan Hanya Bersifat Simbolis
Menurut laporan tersebut, meskipun banjir telah memasuki hari keempat, masih banyak desa yang belum mendapatkan bantuan memadai.
Artikel tersebut menyatakan bahwa pemerintah Tiongkok telah menyebarkan banyak video mengenai operasi penyelamatan, tetapi sejumlah warga mengklaim masih banyak korban yang belum memperoleh bantuan. Laporan itu juga mengklaim bahwa sebagian permintaan bantuan yang diunggah ke media sosial mengalami pembatasan penyebaran atau dihapus.
Seorang pengguna internet mengaku ibunya terjebak di Kecamatan Yunbiao. Ia mengatakan drone yang mengirim makanan hanya menjangkau jalan utama.
“Dua gang di bagian dalam sama sekali tidak mendapat kiriman makanan.”
Pengguna lain menanggapi:”Bahkan bantuan pun hanya dijadikan formalitas. Benar-benar mengecewakan.”
不抓紧时间救灾,竟去摆拍向共产党宣誓效忠,这到底是在帮受灾群众救灾,还是在帮共产党做宣传?
— YiFeng Su (@sam51824016070) July 10, 2026
这种救灾方式,分明是借灾“救党”,为中共做虚假宣传,群众要的是救援队,不是你们这些宣传队。真救灾靠双手,假救灾靠表演,灾民在哭,你们在秀,演得真好👏 https://t.co/rQQxoys3vh pic.twitter.com/RPav2wZ1u0
Relawan Mengaku Menyaksikan Lansia Berlutut Meminta Makanan
Seorang relawan yang mengaku ikut mengirim bantuan mengatakan bahwa sebelum berangkat ia diberi tahu oleh koordinator bahwa persediaan bantuan di Yunbiao sudah mencukupi.
Namun setelah tiba di lokasi, ia mengaku menyaksikan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan.
Menurutnya, beberapa relawan bahkan menangis ketika melihat keadaan para korban.
Ia mengatakan: “Ada beberapa daerah yang tidak bisa dievakuasi, sementara air kembali naik. Kami melihat lansia berusia sekitar 60 hingga 70 tahun berlutut memohon roti kukus kepada para relawan.”
直接上演员,讲好中国故事! pic.twitter.com/a6c8yCqMVI
— Finding🇨🇦🇺🇸 (@Freedominc20631) July 9, 2026
Klaim Mengenai Pembatasan Tim Penyelamat Sipil
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Tiongkok mewajibkan seluruh operasi penyelamatan dikoordinasikan oleh pemerintah dan mengharuskan tim penyelamat sipil melapor terlebih dahulu sebelum memasuki daerah bencana.
Menurut unggahan sejumlah warganet di Guangxi, lalu lintas menuju daerah terdampak dikendalikan oleh pihak berwenang sehingga tim penyelamat yang tidak memperoleh izin resmi sulit memasuki lokasi bencana.
Media sosial Tiongkok dipenuhi video yang menampilkan operasi penyelamatan pemerintah, sementara sebagian warganet menuduh sejumlah video tersebut dibuat untuk kepentingan pencitraan.
Dilaporkan oleh Chen Zhenjin / Diedit Xu Gengwen


